【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9- Garis Batas dan Keringat Pertama
*Nara, jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin menertawakan diriku sendiri yang begitu polos. Saat itu, aku berpikir bahwa dunia ini adil: jika aku kalah di atas lembaran kertas ujian, aku bisa menebusnya di atas matras gelanggang. Aku percaya bahwa kerja keras dan tetesan keringatku di eskul pencak silat akan cukup untuk membuatmu memandangku setara. Aku tidak pernah tahu bahwa garis batas antara anak terpintar di sekolah dan seorang murid biasa seperti aku tidak pernah benar-benar terkikis, tak peduli sekeras apa pun aku mencoba menyamainya.*
---
Aroma bau minyak urut dan lantai matras karet yang khas memenuhi seluruh penjuru aula bawah sekolah sore itu. Suara derap langkah kaki bersahut-sahutan dengan teriakan instruksi dari para senior. Di barisan paling depan, aku berdiri memasang posisi kuda-kuda tengah dengan kedua kaki melebar, menahan beban tubuh yang mulai terasa bagaikan ditindih batu raksasa.
"Tahan! Jangan ada yang turun posisinya! Tiga puluh detik lagi!" teriak Mas Teguh, senior bertubuh kekar, sambil berjalan memutari barisan anggota baru eskul pencak silat.
Keringat dingin sudah mengucur deras dari dahiku, menetes melewati alis dan menancap di ujung dagu sebelum akhirnya jatuh membasahi lantai. Otot paha dan betisku gemetar hebat, menyalurkan rasa panas yang membakar sampai ke tulang. Di sebelah kiriku, Diko sudah meringis menahan sakit, mukanya memerah padam menahan napas.
"Sat... kakiku mau lepas rasanya..." bisik Diko lirih dengan suara yang hampir habis.
"Tahan, Dik! Buka matamu, fokus ke depan!" bisikku menyemangati, walau sejujurnya rasa sakit di kakiku juga sudah berada di titik puncaknya.
Di tengah rasa lelah yang luar biasa itu, ingatan tentang kelas X IPA 2 mendadak melintas di dalam kepala. Tadi siang, saat pembagian hasil kuis singkat Matematika, nilai kertas ujianku tercetak angka merah yang cukup memprihatinkan. Sementara itu, di barisan depan, Nara meraih nilai sempurna seperti biasa. Senyum tipisnya saat menerima kertas ujian dari Pak Suryadi kembali membakar rasa gengsi di dalam dadaku.
*Kalau di atas kertas aku tidak bisa mengejarmu, maka di atas gelanggang ini aku tidak boleh kalah!* batin berseru keras.
Aku makin mengepalkan kedua tanganku di samping pinggang, mengunci posisi kuda-kuda tengahku agar tidak bergoyang seinci pun. Mas Teguh yang berjalan melewati posisiku sempat menghentikan langkahnya sejenak. Sorot matanya yang tajam mengamati ketahanan kakiku, lalu dia memberikan satu anggukan kepala pelan—sebuah pengakuan tipis yang jarang sekali diberikan oleh senior galak itu.
"Bagus, Satria! Pertahankan mentalmu!" seru Mas Teguh sebelum melangkah mengawasi anggota lainnya.
Ketika peluit panjang tanda berakhirnya sesi latihan fisik akhirnya dibunyikan, seluruh anggota baru langsung ambruk terlentang di atas matras, menatap langit-langit aula dengan napas terengah-engah. Tubuhku rasanya lelah luar biasa, seluruh otot serasa remuk, namun ada kepuasan aneh yang meletup-letup di dalam dada.
---
Keesokan harinya, suasana ruang kelas X IPA 2 terasa agak lengang saat jam istirahat kedua. Sebagian besar siswa berhamburan ke kantin atau perpustakaan, meninggalkan beberapa orang saja di dalam kelas. Di meja barisan depan, Nara tampak sedang duduk sendirian, sibuk mencoret-coret lembaran kertas kalkir dengan penggaris dan jangka.
Aku mengurut pelan paha kananku yang masih agak kaku, lalu melangkah menghampiri mejanya. Dengan gerakan pelan, aku mendaratkan duduk di kursi kosong di sebelah mejanya.
Nara tidak langsung mendongak. Dia tetap fokus pada gambar geometris di depannya, walau ujung hidungnya sedikit berkerut menyadari kehadiranku.
"Ngapain duduk di situ? Kursimu kan di belakang," tegurnya dingin tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
"Ya elah, judes amat galak. Cuma mau numpang duduk sebentar, kakiku masih pegal bekas latihan kemarin sore," jawabku santai sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Nara menghentikan gerakan jangkanya sejenak. Dia menoleh sedikit, melirik ke arahku dengan tatapan matanya yang selalu terlihat tajam dan jernih.
"Lagian kamu aneh-aneh aja. Sekolah itu tugas utamanya belajar, bukan bikin badan remuk di lapangan," cetusnya pelan, nada suaranya khas—penuh sindiran namun tidak benar-benar mengusir.
"Ya kan setiap orang beda-beda, Ra. Kamu mah enak, otak encer. Baca rumus sekali langsung paham," balasku sambil terkekeh pelan. "Kalau aku enggak latihan keras di silat, terus aku mau banggain apa di sekolah ini? Masa cuma mau dikenal sebagai anak konyol yang suka kena angka merah di Matematika?"
Mendengar ucapanku yang sejujurnya keluar dari lubuk hati yang paling dalam, gerakan tangan Nara mendadak terhenti total. Dia meletakkan jangkanya di atas meja, lalu memutar posisi duduknya menghadap ke arahku. Tidak ada lagi raut judes atau sindiran di wajah cantiknya, menggantikannya dengan sorot mata yang agak teduh.
"Siapa bilang kamu cuma anak konyol?" tanya Nara pelan, suaranya terdengar sangat serius.
Aku agak terkejut dengan perubahan nada suaranya yang mendadak. "Ya... kan kenyataannya gitu, Ra. Nilai ujianku paling buncit di kelas ini."
"Nilai angka di atas kertas itu bisa dipelajari kalau kamu mau usaha lebih keras, Satria," kata Nara tegas, menatap mataku tanpa berkedip. "Tapi punya tekad buat gak menyerah dan berani capek kayak yang kamu lakuin di silat itu gak semua orang punya. Jangan pernah ngomong rendah tentang dirimu sendiri di depanku."
Kalimat yang keluar dari mulut cewek galak di depanku ini rasanya menghantam dadaku cukup telak. Sederhana, sangat tajam, tapi menyalurkan kehangatan yang luar biasa. Di saat aku selalu merasa menjadi orang luar di kelas unggulan ini, kata-kata Nara seolah memberikanku tempat untuk berdiri tegak.
Aku tersenyum tipis, meraba bekas luka plester di bawah mata kiriku yang mulai mengering. "Ternyata selain galak dan suka melemparkan staples, kamu pinter bikin orang tersentuh ya, Ra."
Raut wajah serius Nara seketika buyar. Pipi mulusnya langsung memerah tipis karena salah tingkah. Dia dengan cepat mengambil kembali jangkanya dan berpura-pura sibuk mencoret kertasnya lagi.
"Gak usah mulai deh kumat konyolnya! Sana balik ke mejamu, aku mau lanjut ngerjain tugas!" omelnya galak, berpura-pura kesal untuk menutupi rasa canggungnya.
Aku tertawa pelan melihat respon khas darinya. Tanpa banyak bicara lagi, aku berdiri dari kursi dan berjalan kembali ke mejaku di belakang, meninggalkan Nara yang sibuk menata napasnya sendiri di depan.
---
Hari demi hari terus berlalu menyusuri rutinitas masa putih abu-abu. Hubungan kami berkembang dalam pola yang unik: aku yang selalu usil mencari perhatiannya di kelas, dan Nara yang membalasnya dengan omelan pedas namun tetap memberikan ruang bagi keberadaanku.
Setiap kali ada tugas kelompok atau diskusi pelajaran, Nara tanpa sadar selalu memasukkanku ke dalam kelompoknya. Dia galak saat mengajariku rumus-rumus yang tidak kupahami, sering mengomel kalau aku lambat mengerti, tapi dia tidak pernah sekalipun meninggalkanku atau berpaling ke anak lain saat aku kesulitan.
Di mata teman-teman sekelas, kami hanyalah dua anak yang sangat bertolak belakang yang sering terlibat percekcokan kecil. Diko sering tertawa melihat bagaimana aku rela dimarahi habis-habisan oleh Nara hanya demi bisa duduk berdekatan dengannya. Tapi bagiku, setiap bentakan dan omelan Nara adalah bahasa perhatian yang hanya bisa kupahami sendiri.
Suatu sore menjelang bel pulang, hujan deras mendadak turun mengguyur area sekolah. Genangan air mulai memenuhi pelataran depan, sementara angin kencang membuat daun-daun mahoni berjatuhan di lapangan. Sebagian besar siswa tertahan di koridor, menunggu hujan mereda.
Aku berdiri di dekat tangga aula bawah bersama Diko, memperhatikan sosok Nara yang sedang berdiri di teras depan kelasnya bersama Lina. Dia tampak memandangi hujan yang turun deras dengan raut wajah agak cemas.
"Nara kenapa tuh, Dik?" tanyaku pada Diko.
"Iya tuh, tadi aku dengar dia ada les les Matematika jam empat di daerah kota. Tapi kalau hujan deras begini, naik motor bebek merah marunnya pasti basah kuyup," jawab Diko sambil menyandarkan bahunya di tembok.
Mendengar hal itu, sebuah ide mendadak melintas di dalam kepalaku. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil jaket parasut hitam milikku dari dalam tas ransel, lalu menerobos rintik air hujan di koridor menuju tempat Nara berdiri.
"Nih," ucapku singkat sambil menyodorkan jaket parasutku yang masih kering ke hadapannya.
Nara menoleh kaget, menatap jaket di tanganku lalu beralih menatap wajahku yang agak basah oleh cipratan air hujan.
"Buat apa ini, Satria?" tanyanya heran.
"Pakai jaket ini pas naik motor nanti. Kainnya kedap air, jadi seragammu gak bakal basah kuyup di jalan," jawabku jujur, mencoba perhatian dengan caraku sendiri.
Nara menatap jaket itu cukup lama, lalu menatap mataku. Ada keraguan yang terlihat dari binar matanya, bercampur dengan keheranan atas perhatian spontan yang kuberikan.
"Terus kamu sendiri gimana? Kamu kan pulang naik motor juga sama Diko," bisik Nara pelan.
"Aku kan cowok, kedinginan dikit gak bakal bikin sakit," balasku sambil menyeringai lebar. "Lagipula, calon atlet silat masa takut sama air hujan."
Nara menghela napas pelan, merampas jaket parasut itu dari tanganku dengan gerakan cepat dan agak bersungut-sungut. "Dasar sok jagoan. Yaudah, makasih! Besok tak balikin setelah dicuci!"
Meskipun mengucapkan kata-kata itu dengan nada judes yang khas, aku bisa melihat dengan jelas ada ukiran senyum tipis yang tersembunyi di sudut bibirnya saat dia memeluk jaket parasutku di dadanya.
---
*Nara, jika aku bisa mengirimkan suara ini ke masa lalu, aku ingin memberitahu diriku yang sedang tersenyum di bawah guyuran hujan sore itu. Bahwa rasa peduli yang kuberikan dengan tulus, dan senyuman manis yang kamu berikan sebagai balasannya, adalah awal dari ikatan perasaan yang sangat kuat. Aku tidak pernah menyesali setiap jaket yang kuberikan, setiap omelan yang kuterima, atau setiap tetesan keringat yang kukeluarkan demi mengejarmu. Karena pada masa itu, aku percaya sepenuhnya bahwa kamu adalah satu-satunya tujuan akhir dari seluruh perjuanganku.*
Malamnya, hujan masih menyisakan gerimis tipis di luar kamar. Aku berbaring di atas kasur sambil menatap atap plafon yang lembab. Rasa lelah di sekujur tubuh akibat latihan silat tadi sore perlahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang memenuhi rongga dada.
HP seluler di samping bantal bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Nara:
*"Jaketmu sudah tak cuci. Besok tak bawakan ke sekolah. Makasih ya... dan jangan lupa belajar Matematika buat kuis besok, awas kalau angka merah lagi!"*
Aku tersenyum lebar membaca pesan itu, membalasnya dengan jemari yang lincah menekan tombol keypad:
*"Siap, galak! Sampai ketemu besok di kelas :)"*
Di kegelapan malam yang dingin, aku makin memantapkan tekadku. Perjalanan ini mungkin penuh dengan perbedaaan dan batasan yang nyata, tapi selama Nara memberikan ruang bagiku di sisinya, aku tidak akan pernah berhenti untuk melangkah maju