NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Dunia yang Hilang

Malam itu, hujan deras mengguyur Kota Marunda, di dalam ruang kerja bernuansa kayu mahoni yang temaram, Detektif Aris menatap selembar foto polaroid di tangannya.

Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun tersenyum ceria dengan pita merah di rambutnya. Namanya Nirmala Hadiningrat. Sudah tiga hari kamar anak itu kosong, meninggalkan teka-teki besar bagi kepolisian kota.

Aris memutar pemantik api nya, menyalakan sebatang rokok kretek, asapnya membubung, bercampur dengan aroma kopi hitam yang sudah dingin. Kasus ini bukan penculikan biasa.

Hadiningrat adalah dinasti terkaya di kota ini, namun sang penculik sama sekali tidak meminta uang tebusan.

Satu-satunya petunjuk yang tertinggal di atas ranjang Nirmala adalah sebuah talas hutan yang dibungkus kain kafan kusam, bau tanah kuburan yang pekat. "Kau yakin dengan arah ini, Aris?" tanya Januar, rekannya, sambil memutar dial radio tape di sudut ruangan, mencoba mencari siaran berita di balik suara statis yang berisik.

"Petunjuknya terlalu spesifik, Jan," jawab Aris dengan suara berat khas perokok. "Kain ini, jenis talas ini... semuanya mengarah ke satu tempat yang sudah dihapus dari peta modern. Desa Talas." Januar menghentikan gerakannya. Mendengar nama desa di kaki Gunung Kelam tersebut.

Di tahun 1989 ini, rumor tentang Desa Talas hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur yang menakutkan oleh warga kota, sebuah tempat terisolasi yang dihuni oleh komunitas misterius yang memuja tradisi kuno dan menolak segala bentuk modernisasi.

Konon, siapa pun orang asing yang berani menginjakkan kaki di sana tanpa izin, tidak akan pernah ditemukan jalan pulangnya.

Aris bangkit dari kursi kerjanya, mengambil jaket kulit cokelat dan sebuah senter National besi yang berat.

Di pinggangnya, terselip sebuah pistol revolver berkapasitas enam peluru. Dia tahu, waktu tidak berpihak padanya.

Anak perempuan sekecil Nirmala tidak akan bertahan lama di tangan warga desa yang menyimpan dendam misterius terhadap darah Hadiningrat.

Mereka berdua berjalan keluar menuju mobil milik Aris yang terparkir di bawah guyuran hujan. Saat mesin mobil batuk-batuk sebelum akhirnya menyala, Aris menatap kaca spion.

Dia merasakan firasat buruk bahwa perjalanan menuju Desa Talas malam ini akan membawanya ke dalam kegelapan yang jauh lebih pekat daripada malam tanpa bintang di luar sana.

Wiper mobil Toyota Corolla DX milik Aris berdecit keras, berjuang menyapu air hujan yang mengguyur kaca depan. Jalan aspal mulus Kota Marunda telah lama berganti menjadi jalan setapak berbatu yang dipenuhi lumpur.

Kanan kiri mereka, pohon-pohon jati tua menjulang tinggi. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul 23.45 malam. "Aris, kurasa kita harus balik arah," "Radio mati total sejak setengah jam lalu. Sinyal pemancar kota tidak sampai ke sini. Kita benar-benar buta." Aris tidak menjawabnya. Matanya fokus melihat jangkauan lampu mobil.

Rokok kretek di sela jarinya sudah mati sejak tadi, bau tembakau pekat di dalam kabin. Pikirannya tertuju pada satu hal, jika Nirmala diculik oleh warga Desa Talas, bagaimana cara mereka membawa anak itu melewati jalur seberat ini dalam waktu singkat? Ataukah ada jalan rahasia yang tidak diketahui orang luar? Tiba-tiba, lampu depan mobil menangkap sesuatu di tengah jalan. Aris menginjak pedal rem.

Ban mobil selip di atas lumpur, membuat bodi mobil berputar sedikit sebelum akhirnya berhenti hanya beberapa jengkal dari objek di depan mereka. Januar terengah-engah, wajahnya pucat. "Apa itu?!" bisik Januar, suaranya bergetar. Aris mengambil senter National besinya, lalu membuka pintu mobil. Dia menyalakan senter, mengarahkan berkas cahaya kuningnya ke depan.

Sebuah papan kayu pembatas sudah lapuk dan dipenuhi lumut. Di papan itu, tertulis huruf-huruf yang dipahat kasar dan mulai terkikis “Batas Desa Talas. Yang Tak Diundang, Jangan Melangkah.” Di bawah papan tersebut, tertancap tiga buah pasak bambu.

Pada masing-masing pasak, terikat sepotong baju anak-anak yang berlumuran lumpur merah. Aris mendekat, mengabaikan hujan yang mulai membasahi jaket kulitnya. Dia mengarahkan senter lebih dekat ke kain tersebut.

Itu adalah potongan gaun tidur berwarna merah muda, baju yang sama dengan yang dikenakan Nirmala Hadiningrat di foto polaroid yang dibawanya.

"Mereka sengaja meninggalkan ini untuk kita," gumam Aris, suaranya tenggelam di antara gemuruh petir.

Sebelum Aris sempat mengambil potongan kain itu, mesin mobil di belakangnya tiba-tiba meredup, lalu mati total. Di saat yang sama, dari balik rimbun pepohonan hutan di depan mereka, terdengar suara ketukan ritmis.

Suara itu seperti kayu yang dipukulkan ke pohon, menggema dari berbagai arah, mengepung Aris dan Januar yang kini di batas desa misterius tersebut.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!