NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Satu Kampung Kesurupan Massal

Tulisan di dasar sumur "MANTRA GAGAL - TAPI KESURUPAN MASSAL SUDAH DIMULAI - LIHAT MASJID" itu masih menetes darah hitam.

Aku, Malik yang gendong anaknya yang pingsan habis adu mantra, Kiai Jirji yang gendong Jamil yang abu-abu setengah sadar, kami lari ke Masjid Tua Tanpa Karpet.

Retakannya sudah enam meter. Dari retakan enam meter itu keluar bukan asap lagi, tapi suara. Suara 1000 oran menangis, ketawa, mengaji salah, gamelan fals, semua bercampur jadi satu.

Dan dari arah Dusun Krajan, dari setiap rumah, terdengar jeritan yang sama.

"Ya Allah... tolong..."

Aku naik ke menara masjid tua yang miring, aku lihat pemandangan yang bikin bulu kudukku rontok semua.

Satu Kampung Kesurupan Massal. ini bukan kiasan. Semua warga kesurupan massal.

   Bu Lastri yang jualan gorengan, dia berdiri di tengah jalan, matanya putih semua seperti Sari waktu kesurupan, kepalanya muter 180 derajat ke belakang, tapi dia masih jalan, bawa wajan panas, minyak panasnya dia siram ke kepalanya sendiri sambil ketawa.

Pak Min yang jaga pos ronda, dia memukul kentongan tapi dengan kepalanya, jedug... jedug... jedug... kepalanya berdarah, tapi dia ketawa, "Tok... tok... tok... Banaspati datang... tok... tok..."

Anak-anak kecil yang kemarin main petak umpet, sekarang semua naik ke atap rumah, duduk berjajar di atas genteng, mata hitam total seperti anak bermata hitam di kaki mereka menggantung, mereka nyanyi lagu Jawa kuno yang tidak pernah diajari di sekolah.

Pak Lurah dan istrinya, yang baru saja anaknya Sari selamat dari tumbal darah perawan, sekarang mereka berdua telanjang dada, mencakar-cakar tanah di halaman, makan tanah, mulutnya penuh tanah, matanya merah.

Sari sendiri, yang baru selamat, yang darahnya sudah suci, dia satu-satunya yang tidak kesurupan di kampung itu, dia lari ke masjid, peluk kaki ku, "Kak Arga, semua... semua kesurupan... mereka minum air..."ucap Sari.

Air hitam. Aku ingat, Jin Kafir Penunggu Sungai Ulo Sowo bikin semua sumur hitam, dan warga terpaksa minum air hitam itu sebelum aku bunuh Ulo Sowo dan air jadi bening lagi.

Warga minum air hitam itu satu hari. Air kencing Jin Ulo Sowo. Di dalam air itu ada telur-telur gaib Jin Kafir. Telur itu menetas karena mantra Sangkala Ghaib yang gagal ke Rania tapi mantul ke kampung.

Mantra yang tidak bisa dilawan manusia, mantul, masuk ke perut warga lewat air hitam yang sudah mereka minum.

Satu kampung kesurupan massal bukan karena dirasuki dari luar, tapi dari dalam perut.

Malik naik ke menara, lihat pemandangan itu, wajahnya pucat.

"Arga, ini yang ditakuti Mbah Suro Joyo pada tahun 1984. Kalau satu kampung kesurupan massal, hanya satu cara: Adzan Yang Tidak Bersuara harus dibunyikan lagi, tapi kali ini bukan di masjid, di tengah kampung tapi di atas Batu Lingga."

" Azan yang tidak bersuara? tanyaku.

"Iya, azan yang tidak pakai suara manusia, tapi pakai suara Jin Islam. Azan yang hanya bisa didengar Jin, tidak bisa didengar manusia, tapi efeknya membuat Jin Kafir di dalam perut manusia kepanasan dan keluar...."jawab Malik.

Kiai Jirji yang masih gendong Jamil abu-abu, bilang, "Tapi untuk azan itu, butuh 40 Jin Islam yang masih suci baca bersamaan. Kita cuma punya 300, tapi banyak yang sudah lemah habis perang di Alam Seberang dan Jamil berkhianat bikin barisan kita bolong...."ucap Kiai Jirji.

Malik menatap anaknya yang pingsan dan Jamil yang abu-abu.

"Kita punya dua yang pernah jadi Kafir dan balik lagi. Mereka yang paling kuat untuk azan ini, karena mereka tahu rasa jadi Kafir. Anak saya dan Jamil...."ucap Malik.

Anak kecil 5 tahun itu dan Jamil 10 tahun yang abu-abu, dibangunkan, mereka masih lemas, tapi mereka menangguk.

Kami turun dari menara, kami jalan ke tengah dusun, ke perempatan jalan tempat semua warga kesurupan berkumpul.

Pemandangannya seperti neraka di dunia.

40 warga kesurupan melingkar, mata putih, mata hitam, muntah darah, muntah rambut, muntah paku seperti Sari , mereka semua menatap kami, dan mereka ngomong bareng dengan suara Banaspati dari 40 mulut:

"PENJAGA BARU... KAU MAU ADZAN? SUARAMU TIDAK AKAN DIDENGAR MANUSIA..."

Aku, manusia satu-satunya yang tidak kesurupan selain Sari, berdiri di tengah lingkaran 40 warga kesurupan itu.

Malik, Kiai Jirji, istrinya, dan semua keluarga Jin Islam, termasuk Jamil abu-abu dan anak Malik, mereka lingkari aku, mereka pegang tangan, buat lingkaran cahaya putih di tengah lingkaran kesurupan massal.

Malik bilang, "Arga, kamu yang jadi muadzinnya. Kamu manusia, tapi kamu penjaga. Kamu azan, kami yang akan ubah suara azanmu jadi Azan Yang Tidak Bersuara, azan gaib yang hanya didengar Jin di dalam perut mereka."

Aku takut. 40 warga kesurupan menatap aku, mau menerkam.

Tapi aku ingat, mereka Yang Sholat di Tengah Malam, aku pernah sholat di tengah 1300 Jin perang di Alam Seberang dan aku selamat karena satu sujud.

Sekarang aku harus azan di tengah satu kampung kesurupan massal.

Aku angkat tangan, aku tutup telinga seperti azan biasa.

"ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR..."

Begitu aku ucap Allahu Akbar pertama, 40 warga kesurupan itu menjerit keras, pegang perut mereka.

Dari mulut mereka keluar asap hitam, dari hidung mereka keluar rambut Ulo Sowo, dari telinga mereka keluar darah hitam Banaspati.

Azan yang tidak bersuara itu bekerja. Manusia di sekitar tidak dengar azanku keras, mereka hanya dengar bisikan pelan, tapi Jin Kafir di dalam perut warga dengar azan itu seperti petir 1000 kali.

Aku lanjutkan azan sampai selesai, "La ilaha illallah..."

Begitu selesai, 40 warga itu jatuh bersamaan dan pingsan, lalu muntah air hitam yang sangat banyak, air hitam yang mereka minum.

Air hitam itu di tanah membentuk genangan, dan dari genangan itu keluar 40 bayangan hitam kecil, Jin Kafir kecil-kecil, anak buah Ulo Sowo, mereka menjerit kepanasan kena azan gaib, lalu menguap hilang.

Satu Kampung Kesurupan Massal selesai dalam 7 menit azan.

Warga satu per satu siuman, bingung, mereka tidak ingat apa-apa, mereka hanya ingat minum air hitam dan tiba-tiba pusing.

Bu Lastri sadar, wajan di tangannya jatuh, kepalanya berdarah karena dipukul kentongan.

Pak Min sadar, kentongan di tangannya jatuh, kepalanya berdarah juga.

Sari peluk bapak ibunya yang sadar, yang mulutnya penuh tanah.

Kiai Jirji menangis, peluk Jamil yang abu-abu yang ikut azan tadi, cahayanya Jamil yang abu-abu, setelah ikut azan gaib, perlahan jadi putih lagi, kembali jadi Jin Islam seutuhnya.

Pengkhianat diampuni karena ikut selamatkan satu kampung.

Tapi di Masjid Tua Tanpa Karpet, retakan enam meter yang menganga, belum tertutup. Malah dari dalam retakan enam meter itu, keluar satu tangan besar, tangan kerbau Banaspati, memegang bibir retakan, mau keluar paksa ke dunia manusia, karena dia tahu pasukan kecilnya 40 Jin sudah mati kena azan.

Banaspati mau keluar sendiri.

Dan dari arah Alas Purwo, terdengar gong kematian kedua, lebih keras dari gong pertama.

Gong itu tanda Gerbang Antara Dua Dunia akan terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!