Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pendar senja tembaga yang membeku di udara menyambut kedatangan empat sosok yang melangkah keluar dari tangga batu terakhir Lantai 13.
Setelah mendaki tangga spiral besi selama berjam-jam melewati pilar-pilar cerobong pabrik yang panas, mereka akhirnya menginjakkan kaki di perbatasan Lantai 14. Udara kering berbau ozon menyapu keringat dingin di pelipis mereka, mengeringkan sisa darah dan jelaga yang menempel di baju zirah.
Lantai 14 Menara Abyss terbentang luas bagai reruntuhan kota suci kuno yang tenggelam di bawah hamparan gurun pasir kristal putih. Deretan pilar marmer alabaster setinggi puluhan meter berdiri miring di sela bukit pasir, sebagian besar telah terkikis oleh badai silika selama ribuan tahun.
Di atas kubah langit yang menjulang tanpa batas, sebuah matahari buatan berbahan perunggu purba menggantung tanpa bergerak. Cahaya tembaga redup memancar dari piringan logam raksasa itu, membekukan bayangan pilar-pilar marmer di atas pasir tanpa pernah mengenal siklus fajar maupun malam. Angin gurun berhembus membawa butiran debu silika yang gemerlap, menusuk kulit wajah dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di tengah dataran reruntuhan marmer putih tersebut, berdiri kompleks perkemahan militer ekspedisi kekaisaran yang tertata rapi.
Tenda-tenda sutra tebal berlapis kain penahan sihir berukir lambang keluarga Ravensburg dan Althea berdiri kokoh di balik parit pertahanan berlapis perimeter perak. Ksatria bangsawan berzirah pelat mengilap berpatroli santai seraya menikmati cawan anggur hangat, daging rusa panggang, dan roti gandum mentega dari gudang logistik kekaisaran. Pemanas kristal sihir menyala hangat di setiap sudut paviliun perwira, menyebarkan aroma dupa kayu manis yang mewah.
Sebaliknya, para pelayan kasta rendah dan prajurit pembantu berlari kecil di bawah terpaan angin dingin, mengangkut guci air bersih dan menyeka noda pasir pada jubah para perwira.
Bagi kaum aristokrat, penaklukan menara adalah panggung perburuan kehormatan militer dan relik berharga, ditopang penuh oleh kas perbendaharaan istana dan darah para prajurit pelopor yang dibuang di barisan depan.
Namun keriuhan santai di pos penjagaan gerbang luar seketika membeku saat empat sosok melangkah mendekat dari arah jalan setapak selatan.
Para pelayan yang sedang memikul guci tembaga menghentikan langkah mereka, memandang ngeri ke arah sosok-sosok yang berjalan dengan langkah kaki berat dan berirama lambat di atas pasir kristal.
"Berhenti! Tunjukkan tanda pengenal divisi kalian!" bentak dua ksatria penjaga gerbang berzirah pelat keluarga Ravensburg, ujung tombak sihir mereka terangkat waspada.
Ren melangkah di barisan terdepan regunya, menatap lurus ke arah ujung tombak perak tanpa menghentikan langkah.
Pakaian seragam infanterinya telah compang-camping, berlumur daki, jelaga mesin, dan kerak darah monster yang menghitam. Di pinggang kirinya terselip belati taring cangkang purba yang memancarkan pendar racun hijau redup.
Di belakang Ren, Vargas memanggul perisai menara yang ringsek, dililit rantai gergaji baja hitam dari bangkai Algojo Lantai 12. Shizuka memapah bahu Riku yang masih berjalan pincang, dengan busur kayu yang terikat kawat baja di pundak remaja itu.
Keempat sosok itu tampak seperti serdadu yang baru saja merangkak keluar dari liang kubur terdalam menara.
"Sisa Regu Pelopor Batalion Ketujuh," suara Ren terdengar datar dan dingin, membelah desau angin pasir kristal. "Melaporkan kembalinya unit pengintai dari palung Lantai 10."
Kedua penjaga gerbang membelalak tak percaya. Cengkeraman tangan mereka pada gagang tombak bergetar sesaat.
"Divisi pelopor Lantai 10...?" salah satu penjaga menelan ludah dengan gugup. "Mustahil. Laporan resmi dari Tuan Muda Julius menyatakan bahwa seluruh divisi umpan garis depan musnah saat lantai katedral runtuh ke jurang hampa."
"Kau bisa memeriksa denyut nadi kami sendiri jika laporan kertas itu terasa lebih nyata bagimu, Ksatria," sahut Vargas sinis seraya menghembuskan asap pipa tembakaunya ke udara. "Kami menolak mati membusuk di dasar jurang hanya demi membenarkan tulisan tinta komandanmu."
"Jaga mulut kotormu, Prajurit jelata!" bentak penjaga satunya dengan wajah memerah karena tersinggung. Ujung tombaknya terarah sejengkal dari dada Vargas. "Berani-beraninya kau menuduh Yang Mulia Julius von Ravensburg berbohong?!"
Sebelum ujung tombak itu sempat menyentuh pelat dada Vargas, suara ketukan tongkat perak bergaung anggun dari arah tenda utama komando.
"Turunkan senjata kalian sekarang juga."
Kedua penjaga gerbang tersentak kaku, buru-buru menarik tombak mereka ke samping tubuh lalu membungkuk hormat. "Nona Elise!"
Lady Elise melangkah keluar dari balik barikade sihir perkemahan. Jubah sutra putih bersulam benang perak melambai lembut mengikuti gerak langkahnya yang anggun. Rambut peraknya yang panjang terurai di bawah pendar senja perunggu, memancarkan aura wibawa bangsawan yang dingin namun tenang.
Namun saat sepasang mata perak Elise tertuju pada sosok Ren, langkah kaki sang putri bangsawan terhenti seketika.
Pupil matanya melebar. Rasa terkejut bercampur beban bersalah yang mendalam terpancar jelas di wajah cantiknya yang pucat.
"Kalian..." bisik Elise dengan suara parau yang bergetar. "Kalian berhasil selamat dari jurang itu?"
Ren menatap sang putri Althea tanpa menundukkan kepalanya secara berlebihan. "Kami berhasil kembali, Nona Elise. Melintasi dasar palung Lantai 10.5 dan bengkel mesin Lantai 12."
"Lantai 10.5 dan bengkel mesin...?" Elise terkesiap pelan, jari-jemarinya yang memegang tongkat perak mengencang.
Sebagai komandan divisi Althea yang menguasai peta topografi menara, Elise tahu persis tingkat kematian di rute bawah tanah yang runtuh tersebut. Bahkan satu kompi ksatria elit berpangkat perwira pun memiliki peluang hidup sangat kecil tanpa pasokan logistik dan sihir pemandu. Namun empat prajurit jelata tanpa perlengkapan memadai ini berhasil mendaki kembali ke permukaan tanpa kehilangan satu nyawa pun.
Elise melangkah mendekat, mengabaikan protokol aristokrasi yang melarang bangsawan menyentuh prajurit jelata yang kotor. Ia menempelkan telapak tangannya ke bahu Riku dan Shizuka, memancarkan sihir pemulihan suci dari inti mananya.
Pendar cahaya perak hangat menyelimuti tubuh Riku dan Shizuka seketika.
Rasa nyeri di persendian mereka mereda, luka robek di kaki Riku menutup rapat meninggalkan kulit halus, dan tenaga fisik mereka pulih dalam kehangatan sihir pemulih tingkat tinggi.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Nona Elise," bisik Shizuka seraya membungkuk sopan.
"Akulah yang berutang permohonan maaf pada kalian," suara Elise terdengar sarat penyesalan yang tertahan. "Sebagai salah satu perwira komando ekspedisi, aku membiarkan evakuasi sepihak itu terlaksana di Lantai 10. Aku membiarkan divisi kalian tertinggal di belakang."
"Keputusan evakuasi itu berada di tangan komando utama Ravensburg, Nona Elise," jawab Ren datar tanpa intonasi emosi. "Dan kami mendaki kembali ke tempat ini untuk menyelesaikan tugas kami, bukan untuk menuntut belas kasihan."
Mata perak Elise menatap lurus ke dalam pupil mata gelap Ren.
Di dalam tatapan pemuda pelopor itu, tidak ada dendam yang membabi buta dan tidak ada kepasrahan seorang budak. Yang terpancar hanyalah ketenangan dingin seorang penyintas yang telah berulang kali menatap maut dari jarak nol milimeter.
Tiba-tiba, suara derak pelat zirah perak berhias permata safir terdengar mendekat dari jalan setapak paviliun perwira.
"Pemandangan kemanusiaan yang sangat mengharukan dari Putri Wangsa Althea."
Julius von Ravensburg melangkah keluar dari barisan pengawalnya. Senyum tipis yang dingin terukir di wajah tampannya saat matanya menyapu penampilan kumuh Ren dan kelompoknya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Tuan Muda Julius," ucap Elise dengan nada dingin yang menegang. "Laporan gugur yang Anda kirimkan ke markas besar kekaisaran terbukti salah. Pasukan pelopor berhasil mengamankan jalur bawah tanah dan kembali dalam formasi utuh."
"Sebuah keberuntungan yang luar biasa bagi beberapa tikus parit untuk bisa merangkak keluar dari jurang menara," sahut Julius santai, sepasang mata birunya menatap Ren dengan kalkulasi dingin seorang komandan perang.
Julius melangkah maju dua tapak, berhenti tepat di hadapan Ren.
"Selamat datang kembali di barisan ekspedisi, Prajurit Ren. Namun jangan salah mengira bahwa kepulanganmu dari jurang memberimu hak untuk bersantai di pangkalan ini," lanjut Julius dengan suara teratur dan tenang. "Pintu gerbang menuju Lantai 15 dilindungi oleh koridor jebakan kinetik dan pelat sihir yang belum terpetakan. Sebagai prajurit pelopor yang terbukti memiliki daya tahan tinggi, kalian akan memimpin barisan pengintai ke koridor maut itu besok pagi."
Julius melambaikan tangannya dengan gerakan acuh tak acuh, memerintahkan penjaga gerbang untuk menempatkan mereka di area tenda terluar yang berbatasan langsung dengan gurun pasir kristal.
Vargas merapatkan rahangnya menahan geram di balik janggut kasarnya, sementara Shizuka memegang lengan Riku yang menunduk tegang.
"Kita terima tugas pengintaian itu, Komandan," sahut Ren tenang, suaranya mantap tanpa gentar.
Julius tersenyum tipis penuh kepuasan dingin. Ia berbalik memunggungi mereka dan melangkah kembali ke paviliunnya yang mewah bersama para pengawalnya, mengabaikan kehadiran para serdadu jelata itu seolah mereka hanyalah debu pasir yang terbawa angin.
Para penjaga gerbang menggiring Ren dan regunya ke tenda kain usang di sudut perimeter terluar pangkalan, jauh dari lingkaran barier pelindung utama. Di sana, di atas hamparan karpet berdebu pasir, Shizuka membagikan jatah sup jelai dingin yang mereka peroleh dari tenda logistik pembantu.
Vargas duduk bersila di dekat tiang tenda, membersihkan bilah kapaknya seraya menghembuskan napas berat. "Bocah bangsawan itu sengaja mengirim kita ke koridor Lantai 15 agar kita mati sebelum sempat membuka mulut di hadapan dewan perang kekaisaran."
"Aku tahu, Paman," sahut Ren seraya mengasah ujung belati taringnya dengan batu asah halus. Matanya menatap ke arah koridor kuil marmer di kejauhan tempat puluhan jebakan maut telah menanti mereka esok hari. "Tapi di koridor itu nanti, kitalah yang akan menentukan siapa yang bertahan hidup."