Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8.Mengenal.
Sinar matahari pagi menyelinap lembut ke celah jendela kamar Li Yun, menyentuh wajahnya yang berdiri diam di balik tirai tipis. Matanya tak lepas dari sosok gadis di halaman bawah — Li Hua, yang kini sedang berlutut di atas tanah, kedua tangannya yang telanjang mencangkul dan menata tanah yang sempat berantakan menjadi gundukan-gundukan rapi. Qiao’er berdiri di sampingnya, sesekali menyerahkan benih atau menyiram tanah yang kering, namun sebagian besar pekerjaan itu dilakukan sendiri oleh Li Hua.
Debu tanah menempel di pipinya, di ujung hidungnya, bahkan di ujung rambutnya yang terurai tak terikat. Namun bukannya terlihat kotor atau menyedihkan, cahaya matahari pagi justru menyinari wajahnya hingga bersinar lembut, menonjolkan garis rahang yang tegas namun lembut, senyum yang terukir di bibirnya saat ia menanam sesuatu dengan hati-hati.
Li Yun menatapnya, tak berkedip. Sudah berapa lama ia berdiri di sini? Ia tidak tahu. Rasa penasaran yang tak terdefinisi terus menarik pandangannya ke arah gadis itu — gadis yang dibuang keluarga ini, yang hidup sendirian di desa, yang kini kembali bukan untuk menuntut balas, melainkan untuk menyelamatkan nyawa yang bahkan belum pernah ia temui.
"Li Hua..." gumamnya pelan, namanya terasa asing namun akrab di lidahnya. "Siapa sebenarnya dirimu?"
Tiba-tiba suara langkah kaki halus terdengar di belakangnya. Sebelum ia sempat berbalik, sosok An Fu sudah berlutut di lantai, menunduk hormat.
"Pangeran..."
Li Yun tersentak, segera menarik tirai menutup rapat-rapat, memastikan tidak ada celah yang membiarkan siapa pun melihat ke dalam. Ia berbalik perlahan, menatap pengawalnya itu dengan napas yang sedikit memburu.
"Kau datang tanpa suara, An Fu," ucapnya, berusaha menenangkan diri. "Ada berita?"
An Fu mengangkat kepalanya sedikit, tatapannya serius. "Ada, pangeran. Hamba sudah mencari tahu asal-usul Nona Kedua, semuanya sudah diketahui."
Li Yun melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Katakan. Apa yang kau temukan?"
"Benar seperti dugaan Tuan," mulainya pelan namun tegas. "Li Hua dibuang sejak masih bayi oleh Keluarga Zhang. Dulu ada seorang peramal yang berkata bahwa kehadirannya akan membawa bencana bagi seluruh keluarga — kehancuran, pertumpahan darah, hilangnya kekuasaan. Karena takut, mereka memerintahkan agar bayi itu diambil jauh-jauh dari kediaman, dibesarkan oleh pengasuh kepercayaan yang tinggal terpencil di desa."
Li Yun mengernyitkan dahi. "Jadi dia tidak ditinggalkan begitu saja? Ada orang yang merawatnya?"
"Benar, pangeran. Pengasuh itu bernama pelayan kepercayaan nyonya besar, ia melayani Keluarga Zhang puluhan tahun. Ia membesarkan Li Hua dengan penuh kasih sayang, hingga beberapa bulan lalu pengasuh itu meninggal dunia. Sejak itu Li Hua hidup sendirian, sampai pengurus keluarga datang menjemputnya." An Fu berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih berat. "Alasan ia dipanggil pulang sekarang... adalah untuk menggantikan Nona Sulung, Shi Yin, menikah secara politik dengan Negeri Tang Liang."
Wajah Li Yun memucat seketika. Ia menatap An Fu tak percaya. "Menikah... dengan siapa?"
"Dengan Putra Mahkota Negeri Tang Liang," jawab An Fu perlahan. "Pangeran Li Yuan. Kakak anda pangeran."
Hening menyelimuti ruangan itu. Li Yun terdiam, matanya menatap lantai namun pikirannya berputar liar. Li Hua — gadis yang dibuang, yang diabaikan, yang diperlakukan seperti pengganti — dikirim untuk menikah dengan kakaknya, pria yang bahkan belum pernah ia temui, hanya demi kepentingan politik keluarga yang membuangnya sejak lahir.
"Jadi..." suaranya terdengar berat, "dia yang akan menjadi istri kakakku."
"Benar, pangeran. Dan kabarnya Pangeran Li Yuan sedang sakit keras. Kondisinya memburuk belakangan ini."
Li Yun berdiri perlahan, melangkah kembali ke jendela, membukanya sedikit saja agar ia bisa melihat ke luar. Di bawah sana, Li Hua masih sibuk menata tanah, tangannya mengusap keringat di dahi, meninggalkan noda tanah di pipinya. Ia tertawa kecil saat Qiao’er tergelincir sedikit di tanah yang lembap, lalu menolong gadis itu berdiri sambil tertawa bersama.
"Kakakku..." gumam Li Yun pelan, hatinya terasa sesak tak terjelaskan. "Mereka mengirim gadis yang tidak bersalah, yang bahkan tidak pernah meminta lahir ke dunia ini, untuk menikah dengan orang yang sedang sekarat. Hanya demi kekuasaan"
Ia menatap sosok itu lekat-lekat. Rasa benci pada Keluarga Zhang kembali membara, namun kali ini bercampur dengan sesuatu yang lain — rasa iba, kekaguman, dan rasa ingin melindungi yang tak ia kenal sebelumnya.
"Berikan aku kabar tentang tang liang sekarang, terutama kondisi istana beberapa tahun ini. "
"Baik, pangeran." An Fu menunduk hormat, lalu lenyap kembali ke dalam bayangan.
Beberapa hari berlalu, dan pagi itu Li Yun melangkah keluar dari kamarnya untuk pertama kalinya. Ia berjalan lurus menuju halaman tempat Li Hua sedang beristirahat di bawah pohon rindang, meletakkan cangkulnya di samping kursi rotan, menyeka keringat dengan ujung kain. Saat mendengar langkah kaki, ia mendongak, dan senyum tipis terukir di bibirnya.
"Selamat pagi, Pangeran," sapa Li Hua lembut. "Sudah cukup pulih?"
Li Yun berhenti di hadapannya, menegakkan punggung. "Ya. Aku sudah siap memenuhi janjiku. Aku pelayanmu sekarang, perintahkanlah apa saja."
Li Hua tertawa pelan, menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk kursi kosong di seberangnya, di mana tersaji dua cangkir teh hangat dan sepiring kue kering yang masih mengepul harum.
"Duduklah dulu, Pangeran," ucapnya ramah. "Itu tugasmu hari ini."
Li Yun mengernyit. "Duduk?"
"Ya. Duduk, santai, minum teh, dan makan camilan ini," jawabnya seolah itu hal yang paling wajar di dunia. "Mana bisa aku menyuruh Pangeran dari Tang Liang bekerja mengangkat tanah atau memindahkan batu? Walaupun kau di sini sebagai tawanan, kau tetaplah seorang Pangeran. Kedudukanmu jauh lebih tinggi dariku, jauh lebih tinggi dari siapa pun di kediaman ini. Jadi bersantailah. Itu perintahku."
Li Yun berdiri mematung, tak menyangka sama sekali. Sepanjang hidupnya, di mana pun ia berada — di istana, di penjara, di tempat tersembunyi — tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti ini. Tidak ada yang memandangnya sebagai Pangeran, melainkan sebagai musuh, sebagai tawanan, sebagai ancaman yang harus dijaga ketat. Namun gadis di hadapannya ini, yang seharusnya ia musuhi, justru memberinya kehormatan yang diingkari semua orang.
"Duduklah, Pangeran," ulang Li Hua lembut, menyodorkan cangkir teh ke arahnya. "Teh ini baru diseduh. Sangat menenangkan."
Li Yun duduk perlahan, menerima cangkir itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Kehangatan menyebar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Ia menatap uap yang mengepul dari cairan berwarna keemasan itu, lalu menatap wajah Li Hua yang tenang.
"Terima kasih..." ucapnya pelan, tulus tanpa sadar.
"Sama-sama," jawabnya sambil tersenyum, lalu kembali memungut benih sayur dari keranjang di sampingnya, menata satu per satu ke dalam kantong kain kecil.
Suasana hening namun damai. Angin berhembus lembut, menggerakkan dedaunan di atas mereka. Li Yun menyesap tehnya pelan, menikmati rasa hangat yang mengalir di kerongkongannya. Ia memperhatikan Li Hua bekerja — teliti, sabar, penuh ketelatenan.
"Li Hua..." panggilnya tiba-tiba.
Gadis itu mendongak. "Ya, Pangeran?"
"Tata krama putri bangsawan Ye Lu..." ucapnya pelan, "Apakah kau sudah menguasainya? Waktu seminggu yang kaujanjikan tinggal sedikit lagi."
Tangan Li Hua berhenti bergerak seketika. Ia menatapnya, lalu menoleh ke arah Qiao’er yang sedang menyiram tanaman di sudut halaman, sebelum kembali menatap Li Yun. Senyumnya tak hilang, namun ada kilatan lain di matanya.
"Apakah sekarang Pangeran sedang mengkhawatirkan aku?" tanyanya pelan, sedikit menggoda namun tulus.
Li Yun tersentak, wajahnya sedikit memerah. "Aku... bukan begitu. Hanya..." Ia berdeham, berusaha terlihat tenang. "Aku tidak ingin kau dihukum. Nyonya Besar mungkin terlihat lembut dan ramah di permukaan, tapi aku tahu tipe wanita seperti dia. Sangat tegas, tidak mentoleransi kegagalan. Jika kau tidak siap, kau bisa dihukum berat."
Li Hua tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. Ia meletakkan benih di tangannya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Jangan khawatir, Pangeran," ucapnya dengan penuh keyakinan, nada bicaranya sedikit bangga namun tidak sombong. "Semuanya sudah ada di luar kepalaku. Percayalah."
Li Yun menatapnya, melihat ketulusan dan kepercayaan diri yang memancar dari wajahnya. Entah mengapa, ia merasa tenang mendengarnya. "Baiklah. Aku percaya padamu."
Lalu Li yun mendengar suara batin Li hua sekali lagi. Mereka mau membuatku susah, jangan harap besok keinginan mereka tercapai, batin Li hua.
Mendengar itu Li yun tersenyum menatap Li hua,gadis yang percaya diri. Aku harap kamu tidak menangis di hukum jika gagal. Pikir Li yun.
Hari yang ditunggu pun tiba. Matahari pagi bersinar terang, menyinari halaman utama kediaman utama Keluarga Zhang yang dihias rapi. Di ruang penerima tamu yang luas, berlantai marmer berkilauan, Nyonya Besar duduk di kursi utama — wanita berusia lanjut namun wajahnya masih tegas, pakaiannya indah dan sederhana sekaligus mengesankan. Di sebelahnya duduk Shi Yin saudara kembar Li yun, wajahnya masih ada sedikit bekas kemerahan akibat sengatan lebah yang membuatnya terbaring beberapa hari, namun ia sudah tampak lebih segar, matanya menatap ke depan dengan tatapan penuh harap sekaligus waspada.
Bibi Niang berdiri di sisi ruangan, kedua tangannya meremas ujung kainnya, tampak sangat cemas. Pintu ruangan terbuka perlahan, dan Li Hua melangkah masuk.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya disanggul rapi namun tidak berlebihan, tanpa perhiasan yang menyolok. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, tidak gugup. Ia berhenti di tengah ruangan, lalu memberi hormat yang sempurna — punggung tegak, kepala sedikit menunduk, tangan diletakkan di depan perut, lutut sedikit menekuk.
"Hormat ibu, kakak" sapanya lembut namun jelas.
Nyonya Besar menatapnya lama, dari ujung kepala hingga kaki. "Jadi seminggu sudah berlalu, Li Hua. Bibi Niang melaporkan kau meminta waktu sendiri untuk mempelajari semuanya. Apakah kau sudah siap?"
Li Hua mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata wanita itu lurus-lurus. "Saya sudah siap, Ibu."