NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENUJU LEMBAH KEGELAPAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 10: Menuju Lembah Kegelapan

Jarum jam di dinding rumah Kiki menunjukkan pukul empat sore. Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, membiarkan bayang-bayang pepohonan memanjang di halaman. Cahaya jingga yang samar perlahan terhalang oleh kabut tipis yang turun merayap dari arah atas bukit.

Kiki keluar dari kamarnya dengan pakaian serba hitam kusam, jemarinya sibuk menyisir rambutnya yang basah ke belakang.

"Yuk, Jak! Sudah jam empat nih. Kita jalan sekarang," ajak Kiki seraya menyambar jaket kusamnya.

Mendengar ajakan itu, Jaka yang tadinya duduk gelisah langsung berdiri tegak dari kursinya. Jemarinya mencengkeram erat kantong plastik hitam di tangannya—kantong yang berisi uang hasil menjual cincin ibunya, lembaran foto Dea, serta sebungkus kemenyan dan bunga tujuh rupa.

"Ayo, Ki! Jangan buang waktu lagi," sahut Jaka dengan nada suara yang dalam dan dingin, dadanya naik turun menahan ketegangan yang kian membakar.

"Oh iya, sini uang buat Mbahnya biar aku yang simpan dan serahkan nanti. Kalau aku yang kasih, kemungkinan besar bisa dapat diskon. Tapi kalau kamu yang serahkan, nggak bakal dikurangin," ujar Kiki beralasan, mengulurkan telapak tangannya tepat di hadapan Jaka.

Tanpa ragu sedikit pun, Jaka menarik lembaran uang tunai sebesar dua juta rupiah dari dalam kantong kresek, lalu menyerahkannya bulat-bulat pada Kiki. Tak ada sedikit pun rasa curiga yang terbersit di kepala Jaka terhadap temannya itu.

Mereka pun melangkah keluar menuju halaman rumah. Kiki menghentikan langkahnya sejenak di dekat parkiran motor, lalu memutar tubuhnya menghadap Jaka.

"Jak! Mau pakai motorku, atau motor kamu?" tanya Kiki seraya menggoyangkan kunci di jarinya.

"Motor aku aja, Ki! Tadi aku sudah isi bensin full, jadi nggak perlu mampir-mampir lagi buat beli bensin," jawab Jaka cepat, matanya menatap lurus penuh kepastian.

"Bagus deh kalau gitu! Berarti kamu benar-benar niat, Jak," sahut Kiki terkekeh pelan. Ia menyambar kunci motor dari tangan Jaka. "Ya udah, biar aku yang bawa. Aku kan yang tahu jalannya."

Mereka berdua naik ke atas sepeda motor. Kiki segera menarik tuas gas, membiarkan raungan mesin motor memecah kesunyian sore saat mereka melesat membelah jalanan desa yang mulai sepi. Jalan mulus beraspal perlahan berganti menjadi jalan tanah berbatu yang menanjak terjal, menerobos makin jauh ke dalam lebatnya Hutan Cemara.

Makin tinggi mereka menanjak, hawa dingin yang tak wajar mulai menyerang kulit. Suara burung-burung hutan bersahut-sahutan kian nyaring dan melengking, berpadu dengan gesekan ranting-ranting kering yang tergilas ban motor—terdengar mengerikan bagai derakan tulang tua yang patah. Kabut tebal berwarna putih keabu-abuan turun mendadak menyelimuti pandangan, memaksa Kiki menyipitkan mata karena jarak pandang yang makin terbatas.

Rasa ragu mulai menyelimuti dada Jaka. Kegelisahan makin gencar menghantuinya karena semenjak memasuki hutan ini, ia merasa ada banyak pasang mata gaib yang diam-diam sedang mengawasi setiap pergerakan mereka dari balik kegelapan.

"Ki! Kamu beneran tahu rumahnya? Kok aku mulai ragu ya..." tanya Jaka sedikit berteriak di balik helmnya, menahan gempuran angin dingin.

"Ya tentu tahu, dong! Kenapa? Kamu mau balik lagi?" tanya Kiki balik dengan nada ketus. "Tanggung, ini sudah setengah jalan! Ingat tujuan awalmu datang ke sini. Kamu ingin harga dirimu kembali, kan?"

"I-iya sih! Tapi... kok rumahnya jauh banget dari pemukiman?" gumam Jaka, matanya menyapu liar kegelapan di balik pepohonan cemara.

"Sudahlah, jangan banyak tanya lagi! Aku lagi fokus sama jalanan nih, takut jatuh!" potong Kiki cepat seraya makin mencengkeram stang motor.

Mendengar teguran telak dari Kiki, Jaka hanya bisa menelan ludah gundah. Matanya tetap celingukan menatap waswas ke sekeliling kegelapan hutan.

Setelah satu setengah jam perjalanan menembus rimbunnya pepohonan, sepeda motor yang mereka kendarai akhirnya berhenti tepat di dekat pohon beringin raksasa dan rumpunan pohon bambu yang rimbun.

Semilir hembusan angin malam menerpa gesekan batang-batang bambu, menciptakan deritan ngilu bagai alunan melodi mistis yang mencekam. Suasana kian meremangkan bulu kuduk saat suara burung hantu yang bertengger di dahan pohon pinus terdengar bersuara nyaring, memecah kesunyian malam.

"Lah Ki! Kok kita berhenti di sini? Mana rumahnya?" tanya Jaka heran, matanya menyapu liar ke sekeliling area remang-remang yang dikepung bayangan pohon-pohon raksasa.

Kiki tak langsung menjawab. Ia mematikan mesin motor, melangkahkan kakinya turun dari jok, lalu perlahan melepas helmnya seraya mengibaskan rambut.

"Nah... kita sudah sampai. Dari sini kita jalan kaki, sekitar sepuluh menit lah ke rumah Simbah. Kalau bawa motor repot, banyak akar pohon besar yang menjuntai ke jalan," jelas Kiki sembari menunjuk ke arah celah semak belukar yang gelap.

Jaka masih terpaku di atas motor, enggan bergeming karena keraguan yang kembali menyergap. Melihat kawan setianya ragu, Kiki mengulas senyum tipis lalu melangkah mendekat.

"Kenapa? Kamu takut? Atau nggak percaya sama aku? Tenang saja, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, kok. Kita kan sahabat sejati!" lanjut Kiki seraya merangkul erat bahu Jaka, menepuk-nepuknya dengan santai seolah ingin mengikis habis sisa ketakutan Jaka.

Sebelum mereka lanjut melangkah, Kiki sempat mengeluarkan sebuah senter kecil dari saku jaketnya. Cahaya kuning yang meredup itu menjadi satu-satunya penerang jalan untuk menuju rumah Simbah. Tanpa membuang waktu lagi, mereka mulai bergerak. Dengan langkah perlahan menahan tegang, keduanya menembus rimbunnya rumpun bambu dan membelah pekatnya malam yang kian mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!