NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Foto tua

Aisyah menoleh, melayangkan pandangan penuh tanya. "Hal apa, Bi?"

"Area meja kerja pribadi Pak Ayden di sudut itu," tunjuk Bi Sumi dengan jari gemetar pelan. "Pak Ayden melarang keras siapa pun menyentuh atau merapikan meja itu. Bahkan saya saja hanya diperbolehkan menyapu lantai di sekitarnya. Jangan pernah menggeser dokumen atau membuka laci-lacinya, Bu."

"Kenapa begitu?" tanya Aisyah, menghentikan lipatan selimutnya. "Bukankah itu hanya meja kerja biasa?"

"Saya kurang tahu pastinya, Bu," jawab Bi Sumi setengah berbisik, seolah takut ada dinding yang mendengarkan. "Tapi pernah ada asisten rumah tangga sebelum saya yang tidak sengaja memindahkan selembar kertas di atas meja itu saat menyeka debu. Hari itu juga dia langsung dipecat tanpa ampun oleh Pak Ayden. Wajah Pak Ayden waktu marah... betul-betul menyeramkan."

Aisyah menelan ludah. Pengakuan Bi Sumi menghadirkan riak misteri baru di kepalanya. "Sampai segitunya?"

"Iya, Bu. Jadi kalau Ibu mau merapikan kamar, biarkan saja sudut meja itu," pesan Bi Sumi penuh kehati-hatian. "Kalau begitu, saya permisi ke dapur dulu ya, Bu, mau menyiapkan bahan makan siang."

"Baik, Bi. Terima kasih ya," balas Aisyah.

Sepeninggal Bi Sumi, suasana kamar kembali hening. Namun, keheningan kali ini terasa menekan. Tatapan Aisyah tak bisa beralih dari meja kerja kayu mahoni milik suaminya. Meja itu tampak begitu dominan di sudut kamar, disoroti lampu sorot hangat dari atas plafon.

Dengan langkah perlahan, Aisyah terseret oleh rasa penasaran yang mengusik batinnya. Ia berjalan mendekati meja tersebut. Di atas permukaan kayu mahoni yang dipoles mengkilap, tertata sebuah laptop tertutup, tempat pena perak, dan sebuah wadah dokumen kecil.

Aisyah memperhatikan tiga deret laci di sisi kanan meja. Jemarinya terulur pelan, mencoba menarik gagang laci paling atas.

Klek.

Laci itu terkunci rapat. Aisyah mencoba laci kedua dan ketiga, namun semuanya sama—terkunci kokoh dari dalam.

"Kenapa harus dikunci serapat ini di dalam kamar pribadi?" gumam Aisyah heran pada dirinya sendiri. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan di sini, Ayden? Rahasia pekerjaan... atau sesuatu yang lain?"

Aisyah menghela napas panjang, memutuskan untuk mengabaikan laci-laci tersebut mengingat peringatan Bi Sumi. Namun, saat ia melangkah mundur untuk berbalik, ujung ibu jari kakinya menyenggol lipatan karpet bulu tebal berwarna krem yang membentang di bawah meja kerja.

Lipatan karpet itu tersingkap sedikit. Di bawah pinggiran karpet yang gelap, Aisyah menangkap selarik warna cokelat kusam yang kontras dengan lantai kayu polos.

"Apa ini?" bisik Aisyah.

Ia berlutut di atas lantai kayu yang dingin, lalu mengulurkan tangannya untuk menyibak lipatan karpet tebal itu lebih lebar. Jemarinya menyentuh selembar kertas tebal bertekstur kaku. Dengan hati-hati, ia menarik kertas terselip tersebut keluar dari kegelapan di bawah karpet.

Itu adalah sehelai foto cetak tua berlapis laminasi yang sudah sedikit menguning di bagian tepi-tepinya.

Aisyah membalik foto tersebut. Sepasang matanya membelalak seketika saat mengamati gambar yang tertera di sana.

Foto itu menampilkan sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang, seorang pria dewasa, seorang wanita berparas anggun, dan seorang anak laki-laki berpakaian rapi yang sangat mirip dengan Ayden sewaktu kecil. Namun, yang membuat tenggorokan Aisyah mendadak tercekat bukan kelucuan Ayden kecil, melainkan sosok pria dewasa yang berdiri di tengah foto tersebut.

Pria itu, yang Aisyah yakini sebagai ayah Ayden, menatap lurus ke arah kamera. Tatapan matanya tidak memancarkan kehangatan seorang kepala keluarga, melainkan sorot mata yang penuh kebiadaban, kebencian mendalam, dan aura kepahitan yang pekat.

Lebih mengerikan lagi, di sebelah sosok sang ayah, ada figur orang lain yang berdiri berdampingan dengannya. Namun, bagian wajah sosok tersebut telah sobek dan hancur secara sengaja. Bekas robekan itu kasar dan tidak beraturan, seolah-olah sang pemilik foto sengaja mencakar dan merobek wajah orang itu menggunakan kuku atau benda tajam dengan amarah yang meluap-luap.

"Tuhan..." bisik Aisyah gemetar, mencengkeram tepi foto tua itu. "Kenapa... kenapa foto ini disimpan di bawah karpet? Dan siapa orang yang wajahnya dirobek ini? Kenapa tatapan ayah Ayden begitu mengerikan?"

Aisyah terhipnotis oleh bayangan kelam yang terpancar dari foto tersebut. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, persis seperti rasa cemas yang menghantuinya saat memeluk Ayden tadi pagi.

Bip... Bip... Bip... Klik!

Suara ketukan nada kunci digital pintu utama penthouse mendadak bergema nyaring dari arah foyer, disusul bunyi gesekan pintu berat yang didorong terbuka.

Aisyah tersentak kaget. Langkah kaki bersepatu kulit yang berat dan cepat terdengar melangkah mantap menyeberangi area ruang tamu, menuju lurus ke arah kamar tidur utama.

Panik luar biasa menyergap Aisyah. "Ayden? Kenapa dia sudah pulang jam segini?!"

Aisyah secara refleks berdiri, berniat mengembalikan foto itu ke tempat semula di bawah karpet. Namun belum sempat ia membungkuk, gagang pintu kamar utama berputar dan pintu terdorong terbuka lebar.

Ayden berdiri di ambang pintu.

Jas hitamnya masih terpasang sempurna, dasinya sedikit dilonggarkan di leher. Namun, ekspresi di wajahnya sama sekali berbeda dari pria manis yang mengecup kening Aisyah tadi pagi. Rahangnya mengeras, matanya yang menyipit tajam bertengger tepat pada posisi Aisyah yang berdiri kaku di dekat meja kerja pribadinya.

Atmosfer di dalam kamar mendadak membeku. Udara terasa begitu pekat dan menekan.

"Aisyah?" suara Ayden terdengar dalam, dingin, dan bergetar halus—sebuah intonasi yang belum pernah Aisyah dengar sebelumnya. "Sedang apa kamu di sana?"

Aisyah menyembunyikan tangan kirinya yang memegang foto ke belakang lipatan gaunnya, mencoba menguasai suaranya yang mendadak hilang. "Ayden? Kamu... kamu sudah pulang? Bukankah katamu tadi pagi rapat direksi baru selesai sore?"

Ayden melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya dengan dentuman halus. Langkah kakinya yang tenang namun mantap mendekati Aisyah, seperti langkah predator yang mengunci mangsanya di sudut ruangan.

"Rapatnya dimajukan dan selesai lebih cepat," jawab Ayden pelan, mata hitamnya yang tajam memperhatikan setiap gerak-gerik dan perubahan raut wajah istrinya. "Aku merindukanmu, makanya aku memutuskan langsung pulang ke rumah. Tapi sepertinya... aku mengganggu aktivitasmu?"

"Tidak, sama sekali tidak mengganggu," sahut Aisyah cepat, berupaya tersenyum meski bibirnya terasa kaku. "Aku hanya... aku hanya sedang membantu Bi Sumi merapikan kamar ini."

Ayden menghentikan langkahnya persis satu meter di hadapan Aisyah. Pandangannya bergulir turun ke arah meja kerja mahoninya, lalu menatap lurus ke dalam iris mata Aisyah yang gelisah.

​"Merapikan kamar?" tanya Ayden penuh nada menyelidik. tangannya terangkat melingkar di pinggang Aisyah, merapatkannya ke tubuhnya. "Bukannya aku sudah bilang pada Bi Sumi agar kamu tidak perlu repot-repot mengerjakan apa pun? Dan bukannya Bi Sumi sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati meja kerjaku?"

​Tekanan di tangan Ayden yang melingkar di pinggangnya terasa sedikit terlalu erat, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh saraf tubuh Aisyah.

​"Bi Sumi memang memberi tahu," bisik Aisyah pelan, mencoba menahan getaran di suaranya. "Tapi aku tidak sengaja menyenggol karpet ini saat mau menyapu..."

​"Lalu?" potong Ayden cepat, matanya berjelaga pekat. "Apa yang kamu temukan di bawah karpet itu, Aisyah?"

​Aisyah tahu ia tidak bisa berbohong. Tatapan mata Ayden begitu menghujam, seolah bisa membaca setiap helai pikiran di dalam kepalanya. Dengan tangan bergetar, Aisyah perlahan mengeluarkan foto tua itu dari balik punggungnya dan menyodorkannya di antara mereka.

​"Aku melihat foto ini terselip di bawah karpet," aku Aisyah jujur, menatap suaminya dengan tatapan memohon kejelasan. "Aku hanya penasaran, Ayden. Foto siapakah ini? Kenapa wajah pria di sebelah ayahmu dirobek seperti ini? Dan kenapa tatapan mata ayahmu... terlihat sangat marah?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!