NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - PERTANYAAN TANPA JAWABAN

Mereka berdua berjalan cepat menembus gerimis kembali ke arah kontainer karatan tempat Riko disembunyikan. Kael melangkah dengan napas yang masih memburu. Darah segar terus merembes dari bahu kanannya, bercampur dengan air hujan dan darah musuh yang menempel di sekujur wajah dan kemejanya.

"Biar aku yang bawa Riko. Tanganmu udah hancur begitu," cegah Valeria saat melihat Kael bersiap mengangkat tubuh anak buah mereka yang masih pingsan.

"Saya masih punya tangan kiri, Val. Anda bertugas mengawasi area sekitar," tolak Kael mutlak.

Dengan satu lengan kirinya yang berotot besar, Kael mengangkat tubuh Riko dan memanggulnya ke bahu kiri seolah pria itu cuma sekarung kapas. Otot rahang Kael mengeras menahan ngilu yang menjalar dari bahu kanannya akibat pergerakan tubuhnya, tapi dia sama sekali nggak ngeluarin suara erangan.

"Kita ambil salah satu mobil mereka," ucap Kael memberi isyarat ke arah tiga SUV hitam milik Viper yang terparkir dengan mesin masih menyala di dekat gerbang.

Valeria mengangguk setuju. Sambil berjalan mengendap-endap, wanita itu mengambil kunci mobil yang masih menggantung di pinggang pria bercodet yang tadi dibikin pingsan sama Kael.

Mereka bergegas menuju SUV Viper yang paling depan. Kael melemparkan tubuh Riko ke kursi belakang dengan hati-hati, lalu langsung mengambil alih kursi kemudi. Valeria duduk di sebelahnya di kursi penumpang.

"Tundukkan kepala, Val. Kita terobos gerbangnya," peringat Kael serak.

Kael menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV hitam itu melesat membelah sisa kabut, menghantam sisa-sisa pagar seng pabrik yang udah reyot, lalu melompat masuk kembali ke jalanan tanah berbatu menuju jalan raya. Dari kaca spion, Kael bisa melihat lampu-lampu senter dari sisa pasukan Viper yang baru menyadari kalau regu eksekusi mereka udah rata dengan tanah.

Tapi udah terlambat. Kael udah membawa mobil itu masuk ke jalan tol yang mengarah ke pusat kota, berbaur dengan beberapa kendaraan logistik yang mulai beroperasi di subuh hari.

Keheningan yang canggung dan tegang menyelimuti kabin SUV curian itu. AC mobil menyala cukup kencang, menetralkan bau darah yang dibawa Kael dari arena pembantaian tadi.

Valeria menyandarkan kepalanya ke kursi, memalingkan wajahnya menatap Kael dari samping. Mata tajam ratu mafia itu nggak berkedip mengamati setiap detail profil pria di sebelahnya. Pemandangan Kael yang mematahkan leher, meremukkan tulang lutut, dan melucuti senjata api dengan tangan kosong terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kamu utang penjelasan ke aku, Kael," buka Valeria pelan memecah keheningan. Suaranya nggak galak, tapi penuh dengan tuntutan yang nggak bisa dibantah.

Kael mencengkeram setir mobil dengan tangan kirinya makin erat. Matanya tetap fokus menatap jalan tol di depannya.

"Penjelasan soal apa, Val? Kita selamat. Itu yang paling penting sekarang," elak Kael dengan nada datarnya yang khas.

"Jangan pura-pura bodoh," dengus Valeria sinis, mengubah posisi duduknya jadi menyamping agar bisa menatap Kael sepenuhnya. "Gaya bertarungmu tadi... itu bukan gaya berantem preman arena bawah tanah, Kael. Aku kenal semua petarung liar di kota ini, nggak ada satupun dari mereka yang tahu cara pakai *Systema* Rusia atau *Krav Maga* militer sebersih itu."

Kael diam membisu. Rahangnya kembali mengeras.

"Kamu nangkep laras senapan serbu panas pakai tangan kosong, lalu matahin leher orang itu cuma pakai momentum badannya sendiri. Hitungan detiknya terlalu pas," cecar Valeria terus menekan. "Siapa yang ngajarin kamu ngebunuh kayak gitu, Kael? Siapa kamu sebenarnya sebelum ayahku mungut kamu dari ring judi itu?"

"Saya sudah bilang, Val. Ayah Anda menyewa banyak pelatih untuk saya," jawab Kael mengulangi alasan basi yang sama seperti saat mereka berdebat di mobil semalam.

Valeria mendecak sebal, meraup wajahnya dengan kasar. "Alasan itu udah nggak laku! Pelatih klan kita nggak ngajarin cara ngebunuh elit! Mereka ngajarin cara mukul orang sampai babak belur, bukan cara mencabut nyawa dalam tiga detik tanpa buang tenaga! Jawab pertanyaanku, Kael!"

Suara Valeria meninggi, amarah mulai merayap naik karena merasa terus-terusan dibohongi oleh orang yang paling dia percaya di dunia ini.

Kael akhirnya menginjak pedal rem perlahan, menepikan SUV hitam itu ke bahu jalan tol yang sepi. Pria itu menetralkan gigi mobil, menarik rem tangan, lalu menoleh menatap Valeria.

Di bawah cahaya lampu jalan tol yang temaram, wajah Kael terlihat sangat lelah, bukan lelah fisik, tapi lelah mental. Mata elangnya yang biasa beringas kini memancarkan sorot keputusasaan yang sangat dalam.

"Kalau saya memberitahu Anda kebenarannya, Val... Anda tidak akan bisa menatap saya dengan cara yang sama lagi," bisik Kael parau. Nada suaranya bergetar menahan emosi yang luar biasa berat.

"Kamu pikir aku bakal takut sama kamu?" balas Valeria mengerutkan kening nggak terima. "Aku ini Valeria! Aku ratu klan mafia terbesar di kota ini! Tiap hari aku ngeliat darah, nyiksa pengkhianat, dan kamu pikir cerita masa lalumu bakal bikin aku merinding ketakutan?!"

"Bukan ketakutan yang saya cemaskan, Val," bantah Kael pelan, menundukkan kepalanya menatap tangannya sendiri yang berlumuran noda merah. "Tapi rasa jijik."

Valeria tertegun. Kata 'jijik' yang keluar dari mulut Kael terdengar sangat menyayat hati.

"Saya adalah monster yang diciptakan untuk menghancurkan, Val. Jauh sebelum saya masuk ke arena judi itu, tangan saya sudah terlalu kotor," lanjut Kael dengan suara nyaris berbisik. "Ayah Anda menemukan saya di saat saya sedang berusaha membuang nyawa saya sendiri karena saya tidak sanggup lagi menanggung beban dari apa yang pernah saya lakukan. Anda memberi saya tujuan baru. Anda memberi saya alasan untuk tidak membenci diri saya sendiri."

Kael perlahan mendongak, menatap tepat ke dalam mata Valeria. Ada luka menganga yang sangat lebar di balik sorot mata mematikan pria itu.

"Saya mohon, Val. Jangan paksa saya membuka kotak pandora itu. Biarkan saya tetap menjadi Kael sang bayangan Anda. Biarkan saya melayani Anda dengan kekuatan ini, tanpa Anda harus tahu dari neraka mana kekuatan ini berasal," pinta Kael memelas.

Valeria mematung. Jantungnya berdebar sangat kencang. Pertanyaan yang mengganjal di otaknya memang nggak terjawab, tapi melihat dinding pertahanan emosional Kael yang hancur berantakan di depannya justru memberinya jawaban lain yang jauh lebih penting.

Kael tidak menutupi masa lalunya karena dia pengkhianat atau punya niat buruk. Pria ini menutupi segalanya murni karena dia membenci masa lalunya, dan takut masa lalu itu akan merusak pandangan Valeria terhadapnya. Kesetiaan Kael terlalu buta, terlalu obsesif, sampai-sampai pria itu rela mengubur identitas aslinya hidup-hidup.

Valeria menghela napas panjang. Amarahnya memudar tak berbekas, digantikan oleh perasaan aneh yang membuat dadanya terasa sesak. Ratu mafia itu mengulurkan tangan kanannya, dengan lembut menyentuh pipi Kael yang dingin dan kotor oleh darah.

"Pertanyaan tanpa jawaban, huh?" gumam Valeria pelan, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Kael.

Kael memejamkan mata merasakan sentuhan itu, menyerap kehangatannya seperti orang kehausan di tengah gurun pasir.

"Baiklah. Kalau kamu belum siap cerita, aku nggak akan maksa," ucap Valeria akhirnya mengalah. "Tapi ingat ini, Kael. Nggak peduli seberapa kotor masa lalumu, nggak peduli sebanyak apa nyawa yang udah kamu cabut sebelum kenal aku... di mataku, kamu tetap milikku. Monster atau bukan, kamu adalah bayanganku. Nggak ada yang bisa ngerubah fakta itu."

Kael membuka matanya. Kata-kata Valeria barusan seolah menjadi penawar dari semua racun masa lalu yang menggerogoti pikirannya. Pria itu mengangkat tangan kirinya, menutupi punggung tangan Valeria yang masih menempel di pipinya, lalu menggenggamnya erat.

"Nyawa saya selalu milik Anda, Val. Sampai napas terakhir saya," bisik Kael penuh pemujaan.

Mereka berdua terdiam dalam posisi itu selama beberapa detik. Udara di dalam mobil kembali memanas oleh tensi terlarang yang selalu muncul tiap kali mereka berdekatan. Batas antara atasan dan bawahan itu makin lama makin tipis, nyaris tak terlihat lagi.

Tiba-tiba, suara erangan pelan dari kursi belakang merusak momen itu.

"Agh... sakit..." rintih Riko yang mulai sadar dari pingsannya.

Valeria buru-buru menarik tangannya dari wajah Kael, berdeham canggung, lalu kembali menghadap ke depan. Kael juga langsung melepaskan genggamannya, wajahnya kembali dipasangi topeng kaku sang pengawal andalan dalam kedipan mata.

"Jalankan mobilnya, Kael. Kita harus bawa Riko ke klinik bawah tanah langganan kita, terus balik ke markas utama buat interogasi si tua bangka Haris," perintah Valeria cepat, berusaha menormalkan suaranya yang sedikit gemetar.

"Laksanakan, Nyonya," sahut Kael sigap.

Pria itu menurunkan rem tangan dan kembali menginjak pedal gas. SUV hitam curian itu kembali melaju menembus subuh menuju pusat kota. Pertanyaan Valeria memang nggak terjawab malam ini, tapi satu hal yang pasti: benang merah yang mengikat takdir mereka berdua kini terikat semakin rumit dan mematikan.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!