"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Tiga hari berlalu, kaki ku sudah mulai membaik, badanku sudah tidak panas lagi. Tiga hari ini aku dan Arin benar-benar menghabiskan waktu berdua. Setiap bangun tidur dia langsung sholat, membaca Qur'an, aku pura-pura tidur. Aku sungguh terpukau dengan lantunan bacaan Al Qur'an nya. Rasanya sejuk di hati, begitu dia selesai, aku baru pura-pura bangun tidur. Sepertinya sejak menikah dengan Arin hidupku penuh dengan ke pura-pura an.
Arin begitu telaten merawat ku, dia menyeka tubuhku, menuntun ku saat ingin ke kamar mandi,tiap jam dia selalu bertanya apa tidur ku nyaman? Apa ada yang sakit? jika aku bilang iya, dia langsung menawarkan diri untuk memijat ku . Aku sungguh di raja kan oleh nya.
Pantas saja ibu tidak bisa jauh dari Arin, ternyata Arin sangat perhatian dan telaten. Aku bahkan melupakan dendamku padanya. Aku selalu bertanya dalam hati, apa mimpi ku saat bertemu papa ada hubungan nya dengan Arin. Apa papa meminta ku agar tidak membenci Arin lagi? Apa aku akan menyesal jika aku terus membencinya? Dia memang wanita yang sangat baik dan cantik. Meski sudah aku perlakukan dengan sangat buruk, dia tetap baik padaku, dia tetap merawat ku, dia tetap perduli pada ku. Apa aku harus membuang rasa dendam ini? Apa aku terima saja Arin jadi Istriku?
Aku terus menatapnya yang tengah makan, usia menyuapi ku dan memberiku obat, dia baru makan. Wajahnya teduh, tenang dan nyaman sekali di pandang.
"Ada apa mas?" Tanya Arin padaku, mungkin karena aku terus memperhatikan dia, dia sampai mengusap bibir dan sekitar pipinya,mungkin takut ada nasi yang menempel di sana.
"Tidak ada apa-apa"
"Hanya saja.... Kamu Cantik" lanjut ku, tentu saja aku mengatakan itu dalam hati.
"Mas habis ini aku mau ke mini market sebentar, mas di sini sendiri sebentar tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa"
"Mas mau nitip sesuatu?"
"Tidak"
"Kalau begitu Arin pergi ya setelah makan"
Aku mengagguk pelan.
Begitu Arin pergi, dokter datang. Dokter mengatakan aku sudah bisa pulang, aku mengagguk senang, setelah ini, aku ingin mengajak Arin ke Restoran. Dia harus tahu tempat usaha ku itu.
Begitu dokter pergi, aku melihat ponsel Arin tergeletak di sofa, ponsel itu terus berdering. Jadi aku memutuskan turun sambil membawa infus di tangan.
Aku penasaran siapa yang sedari tadi menelfon Arin. Begitu aku lihat ternyata itu Dewa.
Saudara jauh ku dari Papa, apa Arin kenal dengan Dewa? Aku Penas jadi membuka ponsel Arin.
Aku mengepalkan tangannya dengan erat saat ku baca sebuah pesan dari Dewa.
"Pergilah dengan ku, untuk apa kamu merawat seseorang yang tidak pernah menghargai mu, tidak pernah menganggap diri mu ada. Dia mengatakan pada semua temannya jika dia sudah bertunangan, dia juga tidak mengakui mu sebagai istri, berbalik lah Arin, aku menunggu mu, Aku sangat mencintai kamu Rin, akan aku jadi kan kamu ratu ku, kamu hanya tinggal menoleh dan aku pastikan kamu akan menemukan kebahagiaan"
Aku langsung menghapus pesan itu, begitu juga riwayat panggilan tak terjawab dari Dewa. Sial dia menyukai istri ku, benari sekali dia merayu istri seorang letnan. Apa dia tidak tahu kalau aku punya senjata yang bisa menembus tubuhnya dengan mudah?
Mood ku jadi buruk, aku kembali kesal pada Arin, apa mungkin lelaki di luar IGD kemarin juga Dewa? Sejak kapan mereka kenal?
Akhhhhhh aku jadi gelisah sendiri, aku tidak bisa terima Arin berhubungan dengan lelaki lain. Dia itu istri ku, dia tidak boleh punya lelaki lain di belakang ku.
Saat Arin datang, aku mengatakan padanya kalau aku sudah boleh pulang, dia begitu senang, dia ingin memeluk ku, namun karena aku biasa saja, dia urung melakukan nya.
"Kalau begitu Arin beres-beres dulu mas"
Aku mengagguk,namun dengan wajah yang kembali mendung. Aku kesal sekali dengan Arin, meski bukan dia penyebab utamanya, tapi pesan dari Dewa benar-benar membuat ubun-ubun ku terasa terbakar. Amarah ku meluap-luap di dalam sana. Aku mencoba sebisa mungkin untuk menahan gejolak amarah ini.
'Mas nanti Ayah mau ketemu kamu, mas sudah pulang belum dari rumah sakit?" Pesan dari Rahma. Aku langsung membalas iya. Aku bahkan tidak mengatakan kalau aku baru saja ingin pulang.
"Kita bertemu dh Restoran"
"Siap"
Aku langsung mengatakan pada Arin jika kita akan ke Restoran dulu sebelum pulang. Dia nampak senang, mungkin karena sebelumnya aku tidak pernah mengajak dia kemana-mana tanpa desakan dari Ibu.
Setelah mengurus administrasi, kami pun pulang, Arin ternyata sudah menyewa supir jadi kami pulang dengan mobil ku.
Sampai di Restoran ku, aku meminta supir membelokkan mobil, Arin benar-benar nampak senang, dia terus menahan senyum kecilnya, aku bisa melihatnya karena diam-diam aku meliriknya.
Begitu sampai di meja yang di pesan Rahma,Arin terlihat kecewa lagi, aku tidak perduli dia salah faham, aku juga kesal karena dia diam-diam punya lelaki lain di luar.
Aku langsung meminta Arin pergi dan memilih meja makannya sendiri, aku tidak mau pembicaraan kami di dengar Arin.
Arin setuju meski langkah nya nampak berat.Akh tidak perduli dia menangis atau tidak, yang pasti aku masih kesal padanya karena dia akan kabur dengan lelaki lain.
"Duduk mas" Pinta Rahma
Aku menyalami Om Taufik.
Kami pun bercanda ringan sebentar, sebelum Om Taufik mengatakan apa yang ingin dia sampaikan pada ku.
"Begini nak Aga, kamu sudah besar, jadi sudah waktunya om memberikan barang ini untuk kamu"
Om Taufik memberiku sebuah kotak, aku membukanya, ternyata kotak ini milik papa.
"Dulu papa kamu meninggalkan ini untuk Ibumu, tapi ibumu tidak mau menerima, katanya dia akan teringat terus dengan suaminya jika melihat kotak ini, jadi Om simpan"
Satu persatu aku lihat isi kotak itu, ada seragam, senjata yang biasa di bawa papa, dan ada juga beberapa medali penghargaan.
Aku mengambil salah satu medali itu dan menatapnya penuh rindu.
"Itu medali yang di dapat papa mu setelah beliau meninggal"
"Maksud Om?" Tanya ku heran, apa setelah meninggal papa masih dapat medali penghargaan? Kog bisa.
"Papa mu waktu itu mendapatkan tugas penting, dia di minta menangkap pengedar narkoba internasional. Papa mu berhasil, namun saat pulang, salah satu anak buah pengedar itu mengancam papa mu, ito terjadi pada malam saat kalian kecelakaan"
'Deg'
Aku tertegun saat mendengar cerita paman, jadi malam itu kami pulang bukan karena hawatir dengan Arin? Papa ingin segera pulang karena dia memang di ancam orang.
"Papa mu tidak ingin kalian dalam bahaya, jadi saat acara keluarga itu, papa kamu langsung pamit duluan, papa kamu tidak tahu kalau rem mobilnya sudah di rusak"
Hati ku makin patah saat aku mendengar cerita lengkap kejadian pada malam itu. Dulu aku hanya mendengar dari ibu, jika mereka ingin pulang karena Arin di rumah sendirian, cuaca juga hujan lebat, jadi mereka memutuskan untuk undur diri lebih dulu. Aku tidak tahu kejadian sebenarnya seperti ini. Jadi selama ini aku sudah membenci orang yang salah? Kenapa aku bodoh sekali.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...