NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Sikap Tegas Sang Pemuda

Riak riuh di halaman rumah tua makin memuncak saat matahari pagi mulai naik. Puluhan warga Perumahan Asri dan kampung sekitar masih saling berdesakan, mengulurkan bingkisan makanan, parsel buah, hingga amplop tunai ke arah tangga kayu. Tatapan mereka memancarkan campuran rasa takjub, takut, dan keserakahan yang terselubung. Di mata mereka, pemuda berjaket ojol kusam yang berdiri tegap di atas teras itu bukan lagi sekadar Dirga si mantan OB, melainkan sosok peramal sakti yang sanggup melintasi ruang dan waktu.

Pak Wijaya menaikkan posisi berdirinya di anak tangga kedua, memasang raut wajah paling memelas sembari merapatkan kedua telapak tangannya di dada.

"Nak Dirga yang mahatahu," ulang Pak Wijaya dengan suara bergetar penuh pengharapan. "Saya mohon bantuan Anda sekali saja. Toko kelontong saya hancur terendam banjir semalam. Jika Anda berkenan memberikan petunjuk angka keberuntungan atau menerawang kapan usaha saya bisa bangkit kembali, saya siap membagi separuh dari hasil keuntungan itu untuk Anda!"

"Benar, Nak Dirga!" timpal seorang wanita paruh baya berkerudung merah dari barisan depan kerumunan. "Tolong terawang juga nasib anak saya yang mau mendaftar pekerjaan minggu depan! Apakah dia akan diterima atau ada musuh yang menghalangi? Kami mohon petunjuknya, Nak!"

Dirga berdiri tegap di ambang pintu kayu yang lapuk. Pandangan matanya yang dingin menyapu seluruh wajah warga di halaman. Tidak ada sedikit pun rasa bangga atau jemawa di raut wajahnya, yang tersisa hanyalah kekecewaan mendalam atas bagaimana manusia begitu cepat memperdagangkan musibah demi keuntungan pribadi dan angka perjudian.

Ia menarik napas panjang, merapikan posisi berdiri, lalu melangkah satu tapak ke depan. Suara pijakan kakinya di atas papan kayu terasa begitu berbobot hingga sanggup membungkam kerumunan dalam seketika.

"Cukup!" seru Dirga. Suaranya tidak melengking, namun memiliki artikulasi yang begitu jernih, berat, dan dipenuhi wibawa menekan yang membuat suasana halaman mendadak hening cipta.

Seluruh warga membisu, menatap Dirga dengan napas tertahan.

"Tolong ambil kembali seluruh barang, makanan, dan uang yang Anda semua letakkan di atas meja teras saya," kata Dirga dengan gaya bahasa yang sangat formal, dingin, dan tidak menerima bantahan. "Saya tidak membutuhkan imbalan, hadiah, apalagi tawaran bagi hasil dari Anda sekalian."

Pak Hendro, sang Ketua RT yang berdiri di samping Pak Wijaya, maju satu langkah dengan raut wajah serba salah.

"Nak Dirga," ucap Pak Hendro halus dan penuh rasa hormat. "Warga membawa semua ini murni sebagai bentuk rasa terima kasih yang tak terhingga. Tanpa peringatan Anda semalam, sepuluh atau belasan nyawa dari kami mungkin sudah melayang tertimbun reruntuhan tanggul. Mengapa Anda menolaknya?"

"Rasa terima kasih yang tulus tidak diwujudkan dengan mengubah rumah saya menjadi tempat praktik ramalan," balas Dirga langsung, menatap lurus ke mata Pak Hendro. "Saya menyelamatkan Anda semua semalam bukan karena saya seorang dukun, peramal, atau manusia sakti yang sanggup mempermainkan takdir Tuhan!"

Pak Wijaya menyela dengan nada terheran-heran. "Tapi... tapi peringatan Anda semalam begitu presisi, Nak Dirga! Jamnya, lokasinya, bahkan titik runtuhnya tanggul di Blok C persis seperti yang Anda ucapkan! Bagaimana mungkin itu bukan penerawangan gaib?"

Dirga menatap Pak Wijaya dengan tatapan tajam yang membuat pria gemuk itu langsung menyurutkan bahunya.

"Apa yang terjadi semalam murni adalah pengamatan intuisi cuaca dan kepekaan terhadap tanda-tanda alam," tegas Dirga tanpa mengedipkan mata. "Sejak sore kemarin, debit air sungai melampaui batas aman. Saya melihat rembesan lumpur di dasar benteng beton serta retakan struktural yang diabaikan oleh pengawas kompleks Anda. Siapa pun yang menggunakan akal sehat dan mau berjalan memeriksa fondasi sungai akan menyimpulkan hal yang sama, tanggul itu pasti runtuh!"

Beberapa warga saling berbisik dengan raut ragu. Pria berkumis tebal dari barisan belakang menyela dengan nada sedikit kecewa.

"Kalau begitu, bagaimana dengan peristiwa pembegalan Rudi ojol minggu lalu?" celetuk pria berkumis itu. "Dan bagaimana dengan insiden teko air panas di rumah Bu Marni? Apakah itu juga cuma pengamatan alam, Nak Dirga?"

Dirga memutar arah pandangnya, mengunci tatapan pada pria berkumis tersebut.

"Semua itu adalah kebetulan dan kepekaan naluri terhadap lingkungan sekitar," jawab Dirga tenang, mempertahankan alibi rasionalnya demi melindungi rahasia mata batin peninggalan Sang Leluhur. "Saya menegaskan kepada Anda semua hari ini, saya tidak memiliki kesaktian untuk menebak nomor keberuntungan, meramal jodoh, atau memprediksi nasib masa depan seseorang demi kepentingan perjudian dan keserakahan!"

"Tapi kami rela membayar mahal, Nak Dirga!" seru seorang warga lain dengan nekat. "Kami butuh petunjuk untuk mengembalikan harta kami yang hilang karena banjir!"

"Kemampuan atau naluri apa pun yang ada pada diri manusia tidak diciptakan untuk dijadikan komoditas komersial atau alat pemuas hawa nafsu judi!" potong Dirga keras, suaranya menggelegar menyapu halaman rumah panggungnya. "Jika ada di antara Anda yang datang kemari hanya untuk meminta nomor angka keberuntungan atau ramalan nasib, silakan angkat kaki dari halaman rumah saya sekarang juga!"

Sikap tegas, dingin, dan tak tergoyahkan dari pemuda itu membuat kerumunan warga terdiam seribu bahasa. Keteguhan moral Dirga memancar begitu kuat, menelanjangi keserakahan terselubung yang dibawa oleh warga-warga tersebut. Satu per satu warga mulai menundukkan kepala, merasa malu atas niat awal mereka yang ingin memanfaatkan kebaikan Dirga.

Pak Hendro menghela napas panjang, menoleh ke arah warga di belakangnya. "Dengarkan ucapan Nak Dirga! Beliau sudah menyelamatkan nyawa kita tanpa meminta imbalan sepeser pun. Jangan mengotori niat baik beliau dengan urusan judi dan ramalan yang tidak jelas! Ayo, bubar dan rapikan kembali barang-barang kalian!"

Dengan canggung dan rasa bersalah, warga mulai mengambil kembali bingkisan serta tumpukan amplop di atas meja teras. Mereka bergerak pelan meninggalkan halaman rumah panggung Dirga dengan penuh rasa segan dan rasa takut gaib yang makin menebal terhadap sosok pemuda berjaket ojol kusam tersebut.

Di saat kerumunan warga mulai terurai dan melangkah menuju jalan raya utama...

Brooammm! Brooammm!

Suara derum mesin mobil berkapasitas silinder besar terdengar memecah keheningan pagi dari arah ujung lorong jalan. Sebuah mobil sport mewah beratap terbuka (open-top) berwarna merah menyala meluncur lambat, memotong arus warga yang sedang berjalan kaki. Warna catnya yang mengilap serta suara raungan knalpotnya yang bising mendadak menyedot seluruh perhatian warga di sekitar lokasi.

Mobil sport itu berhenti tepat di pinggir jalan raya depan halaman rumah milik Dirga.

Di dalam kabin mobil mewah tersebut, duduk dua orang yang sangat dikenal dalam ingatan pahit Dirga.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!