NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Janji

##

"Mines lagi?"

Reyhan mengangguk, tersenyum miris. "Yoi. Lo enggak?"

Asep tersenyum miris. "Mana mungkin enggak, sama aja, sialan! Mana gue masih ada tunggakan kampus. Kebayang kalau gue udah nikah kaya lo, beban gue pasti makin gede."

Reyhan tertawa canggung, melirik Asep teman kerjanya membenarkan. "Jelas lah, tapi enak tiap malem ada yang bisa dipeluk."

"Lo pikir gue gak ada?" Asep tertawa mengejek. "Kosan cewek gue disebelah, minta jatah tiap malam juga dikasih.".

"Sialan!" Reyhan menonjok bahu temannya itu. "Nikah dulu bro, baru kawin kaya gue!"

Asep ngakak. "Ngapain repot-repot nikah kalau bisa kawin tiap malem."

"Emang sesat lu mah!"

Setelah itu mereka berdua tertawa.

Asep memang salah satu teman dekatnya di tempat kerja. Reyhan adalah tipe orang yang mudah bergaul dan akrab dengan siapapun. Selain Asep, ada beberapa orang lain lagi yang menjadi teman dekatnya di tempat kerja.

Hari ini dia gajian, seperti dalam obrolan tadi, gajinya seperti biasa selalu mines terpotong ini-itu. Kerja di tempat seperti ini memang banyak ruginya, siapapun yang berbuat ulah tapi tetap gaji karyawan yang selalu menjadi korban.

"Rey," panggil Caca salah satu teman kerjanya dengan malu-malu.

"Iya, apa Ca?"

"Cie .... antara diajak jalan atau mau nembak," bisik Asep yang langsung Reyhan geplak kepalanya.

Dia tidak bodo, dia peka kalau Caca selama ini suka padanya. Bukannya Reyhan selama ini jual mahal, Caca cantik kok tapi bahkan sebelum menikah, pikirannya terlalu sibuk dengan banyak beban sampai tidak terpikir untuk berpacaran dahulu. Hidupnya terasa lebih enjoy saat single waktu itu, dia tidak perlu ikut drama orang pacaran yang selalu banyak masalah itu.

Apalagi sekarang, saat dia sudah menikah. Walaupun selain Asep, tidak ada yang tahu jika dia sudah menikah. Bukannya dia menyembunyikan, tapi memang tidak ada yang bertanya. Mana mungkin kan, dia berteriak membuat pengunjung juga harus tahu jika dia sudah menikah. Memang dirinya siapa? Bukan artis juga, hanya cowok tampan yang terjebak dalam kehidupan miskin.

Ngomong-ngomong kapan sih, Bapak ngaku kalau mereka kaya seperti orang di Cina itu? Eh?

"Rey, mau nonton sama aku?" tanya Caca malu-malu lagi.

Reyhan tersenyum, kemudian menggeleng. "Sorry Ca, gue gak bisa soalnya ada acara abis ini."

Rencananya, dia akan mengajak Ayana pulang ke rumah orangtuanya untuk secara resmi memperkenalkan Ayana. Mumpung dia habis gajian, jadi bisa bawa oleh-oleh. Ini langkah awal membuat Ayana bisa diterima oleh keluarganya.

Ayana sendiri sudah tahu, gadis itu menjadi lebih gugup sedari tadi tidak tenang. Mungkin, karena dia tahu sikap ibu seperti apa saat di rumah sakit waktu itu.

"Lama!" sambut Ayana saat Reyhan membuka pintu kosan.

"Welcome back Sayang, mau makan nasi apa makan aku? Nah, harusnya kamu gitu nyambut suami pulang kerja." Reyhan terkekeh, melempar tas kerjanya sembarang.

"Kebiasaan," cibir Ayana sembari mengambil tas Reyhan kemudian digantungkan di pintu. "Emang makan aku gimana?"

Reyhan melirik Ayana, memastikan dia tidak tahu apa sedang menggodanya. Tapi raut wajah gadis itu, seolah benar-benar tidak tahu. "Beneran nanya gak tahu?"

"Hah, emang ada nanya yang tahu? Aku nanya karena gak tahu. Apa sih, gak jelas!"

Reyhan menggeser duduknya mendekat ke Ayana. "Mau dicontohkan, gak?"

"Apaan?" Tiba-tiba, Ayana menutupi mulutnya terkejut. "Jangan bilang kamu vampir, tapi kan vampir minum darah. Apa jangan-jangan kamu serigala? Serigala kan, makan daging. Kamu mau koyak-koyak daging aku?"

Reyhan tertawa. "Drama banget sih, emang vampir sama serigala beneran ada? Itu kan, cuman cerita imajinasi seseorang aja."

"Iya, mana ada, kan? Terus kamu mau makan aku gimana?"

"Menurut kamu gimana?" Reyhan menarik turunkan kedua alisnya.

"Apaan dah?"

Melihat respon Ayana membuat Reyhan tertantang. Awalnya, dia ingin menggoda Ayana tapi saat melihat wajah polos gadis itu, membuatnya ingin melakukannya.

Reyhan semakin dekat, membuat tubuh mereka menempel tidak ada jarak.

"Mau ngapain? Jangan macem-macem, Rey?" Ayana terlihat panik.

Reyhan terkekeh, menarik dagu Ayana sehingga mereka saling bertatapan. "Kamu tahu kan, istilah aku mau makan kamu apa?"

Ayana menggeleng, terlihat semakin panik. "Engg--gak!"

"Bohong banget!"

"Enggak bohong!"

"Bohong lah, jelas!"

"Engg--!"

Reyhan langsung mencium bibir gadis yang sedang mau mengomel itu.

Sejak pertama menyentuh bibir ini sampai beberapa kali mereka sudah berciuman, Reyhan selalu suka sensasinya. Rasa bibir setiap wanita memang semua sama, tidak ada yang beda tapi mungkin karena ini wanita halalnya terus tidak ada yang pernah menyentuh bibir ini selain dirinya, rasanya itu yang menjadi spesial.

"Emmm ... Rey ...."

Reyhan membaringkan tubuh Ayana, seperti memang sudah naluri semua lelaki dia berbaring di atas gadis itu, dengan kedua tangannya menahan agar tidak benar-benar menindihnya.

Seperti biasa, Reyhan mencium Ayana seolah tidak ada hari esok, melumat, mengecap, menggigit, saling bermain lidah.

"Rey, aku ... mau ... napas ...."..Reyhan beralih menciumi leher Ayana.

"Jangan bikin tanda apa-apa, kita kan mau ke rumah orangtuamu."

Ayana tidak mau seperti kejadian waktu itu, Reyhan memberikan banyak tanda sehingga dia kesusahan memakai baju yang bisa menutupi leher saat bekerja. Untungnya, waktu itu dia ingat kalau sedang datang bulan, jadi tidak terjadi apa-apa. Tapi hari ini bagaimana?

Reyhan tiba-tiba melepaskan ciumannya dengan tidak rela. Setelah mengecup bibir merah alami yang sudah bengkak atas ulahnya itu, Reyhan bangun. Dia hampir saja lupa jika mereka akan pergi hari ini.

"Aku mandi dulu," kata Reyhan terlihat lesu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

"Hah ...." Ayana menarik napas lega. Dia akhirnya bisa bernafas dengan tenang. 

Ayana sebenarnya merasa bersalah, saat dia merasa senang saat setiap kali Reyhan akan melakukan lebih selalu saja ada gangguan. Entah kenapa, dia selalu merasa tidak siap, padahal hubungan mereka sekarang sudah lebih membaik. Dia saja sudah menceritakan masa lalunya pada lelaki itu. Tapi jika menunggu siap, entah sejak kapan? Mungkin karena sering mendengar nasihat bibinya tentang tanggungjawab seorang istri, Ayana seperti terdoktrin ingin memberikan hak Reyhan sebagai suaminya. Dia seperti merasa bersalah dan dikejar dosa tapi masih ada takutnya.

"Gak papa, kan?"

Reyhan terkekeh. "Mereka gak gigit, gak nyakar, gak cium juga. Lagian, yang boleh cium kamu cuma aku doang."

"Rey, serius!" Ayana kesal, sudah tahu dia merasa takut malah diajak bercanda terus. "Kamu tahu sendiri, ibu kamu gak suka sama aku?"

Reyhan melirik sekitar, beruntung sepi. Mereka sekarang sedang berada di ujung gang rumah orangtua Reyhan. Ayana meminta berhenti, katanya dia mau menyiapkan mental. Padahal dari semalam berbicara seperti itu, anehnya itu mental gak siap-siap?

Reyhan berbalik, jadi duduk menghadap Ayana. Wajah gadis itu terlihat pucat, Reyhan jadi tidak tega.

"Ay, selama niat kamu udah baik, apapun yang terjadi nanti sudah bukan urusan kamu."

"Tapi ini orangtua kamu, masa mereka harus terus gak suka aku, terus aku diam aja." Ayana mendongak, kembali bertatapan dengan Reyhan. "Ini bukan orang lain yang bisa aku abaikan kayak biasanya, ini orangtua kamu alias mertua aku."

Reyhan tersenyum. Menggenggam kedua tangan Ayana. "Kamu udah ada niat baik mau diterima mereka, walaupun hari ini mereka belum terima kamu, bukan berarti semua berakhir, kan? Masih ada hari-hari yang lain, aku yakin ibu suatu hari nanti akan luluh juga. Siapa juga yang gak luluh punya mantu cantik kaya gini?"

"Rey!" Ayana kesal, tapi pipinya merona. "Aku yatim piatu."

"Aku juga miskin, Ay. Keluarga aku juga miskin. Keterlaluan banget orang miskin terus banyak pilih, udah dikasih yang cantik dan baik kaya gini."

Entah sejak kapan, mereka jadi seterbuka ini. Ayana juga lupa, kapan dia dan Reyhan berbicara seolah-olah sudah menerima pernikahan ini seutuhnya, seolah mereka tidak akan pernah berpisah.

"Aku masih takut."

"Kamu nikah sama aku, hidup sama aku bukan orangtuaku. Toh, kita pisah rumah juga sama mereka, paling ke sini sebulan sekali juga jarang. Maaf yah, jika kamu harus nahan satu hari dari sebulan untuk bertemu kedua orangtuaku terutama ibuku, harus menahan diperlakukan tidak baik. Aku janji, akan selalu membela dan mendukung kamu. Akan sebisanya mengurangi perlakuan jahat ibu, biar ke aku aja jangan kamu. Gak papa, yah?"

Ayana merasa tenang melihat betapa tulusnya Reyhan. Dia kemudian tersenyum dan mengangguk. "Makasih, Rey."

"Sama-sama. Maaf yah, sama aku banyak menderitanya."

Ayana menggeleng. "Enggak kok!"

Reyhan tersenyum, kemudian memeluk gadis itu sebentar, kemudian melepaskannya. Akhirnya, dia kembali menjalankan motornya.

Aku pastikan, kamu akan selalu aman, Ay. Aku janji.

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!