Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Topeng dan Bayangan Bawah Tanah
Langit di atas Kota Tengah Provinsi Abbu malam itu tidak kelabu seperti biasanya. Untuk sesaat, awan tinta tersibak oleh ribuan lentera kertas yang diterbangkan ke udara, menciptakan sungai cahaya oranye dan emas yang mengalir menuju Paviliun Awan di kejauhan. Ini adalah Festival Bulan Tinta, perayaan terbesar Klan Kaligrafi Naga, di mana kemewahan dipamerkan dengan vulgar dan kekuasaan dirayakan dengan anggur mahal.
Suara gamelan dan tawa riuh rendah bergema dari aula utama paviliun elit, sebuah kontras yang menyakitkan bagi Ren Zexian yang berdiri di balik bayangan pilar batu di sisi timur kompleks. Di sini, udaranya dingin dan sepi, hanya diisi oleh desisan angin yang melewati celah-celah ventilasi tua.
Ren mengenakan jubah pelayan hitam yang ia curi dari ruang penyimpanan linen. Jubah itu terlalu longgar di bahunya, tapi cukup untuk menyembunyikan identitasnya. Di balik kain tebal itu, kuas patahnya terikat erat di pergelangan tangannya, siap ditarik keluar dalam sepersekian detik. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena antisipasi. Malam ini adalah titik balik. Jika ia gagal, Lin akan hilang selamanya. Jika ia berhasil... ia mungkin akan memulai perang yang tidak bisa dihentikan.
"Sekarang," bisik suara Su Yan di telinganya melalui teknik transmisi suara jarak jauh yang samar.
Ren menoleh ke arah sayap barat. Jauh di sana, di tengah keramaian pesta, tiba-tiba terdengar ledakan kecil. Bukan ledakan destruktif, tapi ledakan warna. Kembang api ungu dan hijau meledak di langit, menarik perhatian semua tamu undangan. Para penjaga di gerbang utama panik, berlari ke arah sumber keributan.
Kesempatan.
Ren bergerak cepat. Ia menyusuri dinding timur, menghindari sorotan lampu qi yang berputar-putar. Ia menemukan lubang ventilasi yang dimaksud Su Yan—sebuah celah sempit di dasar dinding batu, tertutup oleh jeruji besi berkarat. Dengan Mata Void-nya, Ren melihat struktur kunci jeruji itu. Ada retakan mikroskopis di engsel kiri.
Ia tidak membutuhkan alat pembuka. Ia hanya perlu menyentuhnya. Dengan ujung jari, ia mengalirkan getaran Qi tipis ke titik retakan tersebut. Karakter "Longgar" ditulis secara mental.
Krek.
Jeruji besi itu melonggar sendiri, terlepas dari tembok tanpa suara. Ren menyelip masuk ke dalam kegelapan saluran ventilasi.
Udara di dalam saluran pengap, berbau debu kering dan tikus mati. Ren merangkak maju, napasnya ditahan. Saluran itu sempit, memaksa tubuhnya menekan ke dinding dingin. Setiap gerakan adalah siksaan bagi otot-ototnya yang masih pegal akibat latihan, tapi ia tidak berhenti. Ia membayangkan wajah Lin. Wajah pucatnya. Matanya yang kosong. Itu adalah bahan bakarnya.
Setelah sepuluh menit merangkak dalam kegelapan total, Ren mencapai kisi-kisi di lantai. Ia mengintip ke bawah.
Ruang Arsip Rahasia.
Ruangan itu luas, diterangi oleh lentera batu jiwa berwarna biru pucat yang memberikan cahaya dingin dan hantu. Rak-rak besi tinggi menjulang dari lantai hingga langit-langit, dipenuhi oleh gulungan-gulungan kulit hitam dan kotak-kotak kayu bersegel. Di tengah ruangan, ada meja besar dengan buku catatan terbuka.
Tidak ada penjaga di dalam. Tapi Ren tahu, di luar pintu besar di ujung ruangan, pasti ada Elder Penjaga yang sedang lengah karena pesta.
Ren mendorong kisi-kisi lantai. Besinya sudah lapuk termakan waktu. Ia jatuh ringan ke lantai batu, kakinya menyerap benturan dengan sempurna. Ia segera bersembunyi di balik rak terdekat, matanya menyapu ruangan.
Di mana daftar itu?
Su Yan mengatakan ada di "Rak Sejarah Eksperimen". Ren menggunakan Mata Void-nya. Ia tidak membaca judul gulungan satu per satu; itu akan memakan waktu terlalu lama. Sebaliknya, ia mencari pola energi. Gulungan yang berisi rahasia gelap biasanya memiliki residu emosi negatif—ketakutan, rasa sakit, penyesalan—yang menempel pada tintanya. Bagi orang normal, itu tak terdeteksi. Bagi Ren, itu bersinar seperti luka bernanah dalam dunia hitam putih.
Di sudut terjauh ruangan, di balik tumpukan peta usang, ada sebuah kotak kayu kecil yang memancarkan aura kelam pekat. Aura itu membuat bulu kuduk Ren berdiri. Itu adalah konsentrasi penderitaan yang murni.
Ren merayap mendekati kotak itu. Tangannya gemetar saat ia membuka segelnya. Di dalamnya, terdapat sebuah buku catatan tebal bersampul kulit manusia—atau setidaknya, sesuatu yang terasa seperti itu.
Ia membukanya. Halaman-halamannya berisi nama-nama. Ratusan nama. Anak-anak dari Provinsi Bawah. Tanggal injeksi. Dosis Tinta Inti. Hasil: Gagal (Meninggal), Gagal (Gila), Berhasil Sebagian (Cacat Permanen).
Jari Ren menelusuri halaman demi halaman, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mencari satu nama. Lin Zexian.
Halaman 42.
Subjek #409: Lin Zexian. Usia: 6 tahun. Dosis: 5 tetes Tinta Inti Murni. Reaksi Awal: Meridian Terbalik. Status Saat Ini: Aktif. Lokasi Penahanan: Laboratorium Bawah Tanah Sektor 9. Catatan: Subjek menunjukkan resistensi tinggi terhadap The Fade. Potensi sebagai Wadah Sempurna.
"Wadah Sempurna..." gumam Ren, suaranya bergetar karena amarah yang membeku. Mereka tidak mencoba menyembuhkan Lin. Mereka menyimpannya. Menunggu saat dia matang untuk dipanen.
Tiba-tiba, pintu besar di ujung ruangan terbuka.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Dua sosok memasuki ruangan. Bukan penjaga biasa. Mereka mengenakan jubah merah darah dengan topeng naga emas. Elder Penjaga.
"Aku mencium bau tikus," kata salah satu Elder, suaranya dalam dan bergema. "Ada seseorang di sini."
Ren membeku. Ia tidak bisa lari. Pintu keluar dijaga. Ventilasi terlalu jauh. Ia terjebak.
Elder itu berjalan perlahan menuju rak tempat Ren bersembunyi. Matanya yang tajam menyapu kegelapan. Ren menekan dirinya lebih dalam ke balik rak, menahan napas hingga paru-parunya terbakar.
Tetap tenang, pikirnya. Jangan menjadi mangsa. Jadilah predator.
Elder itu berhenti tepat di depan rak Ren. Ia mengulurkan tangan, hendak menarik gulungan di sebelah kepala Ren.
Saat itulah, Ren bertindak.
Ia tidak menyerang Elder itu secara langsung. Itu bunuh diri. Sebaliknya, ia menggunakan teknik Jembatan Hampa yang baru ia pelajari, tapi dengan variasi baru. Ia menulis karakter "Geser" di udara, tepat di bawah kaki Elder itu.
Lantai batu di bawah kaki Elder tiba-tiba kehilangan gesekan. Kakinya terpelesot ke belakang. Untuk menjaga keseimbangan, Elder itu terpaksa mengayunkan lengan kanannya ke depan, menghantam rak besi di depannya.
Rrrranggg!
Rak besi itu roboh, menimpa Elder kedua yang baru saja masuk. Kebisingan itu memecah keheningan, memberi Ren kesempatan untuk bergerak.
Ren melompat keluar dari persembunyiannya, bukan untuk lari, tapi untuk menyerang Elder pertama yang masih berusaha bangkit. Dengan kuas patahnya, ia menulis karakter "Bisu" di udara, lalu menamparkannya ke mulut Elder itu.
Energi Qi membungkam suara Elder itu seketika. Teriakannya tertahan di tenggorokan, hanya mengeluarkan desisan frustrasi.
Elder kedua, yang terperangkap di bawah rak, mulai melepaskan aura Qi-nya yang mengerikan. Lantai bergetar. Batu-batu pecah.
"Kau berani!" teriak Elder kedua, meski suaranya teredam oleh debu.
Ren tidak menunggu. Ia meraih buku catatan itu, memasukkannya ke dalam bajunya, lalu berlari menuju pintu samping ruangan yang ia lihat sebelumnya—pintu darurat untuk pembuangan limbah tinta.
"Tangkap dia!" teriak Elder pertama, akhirnya berhasil menghilangkan segel bisu dari mulutnya.
Ren mendobrak pintu darurat itu. Di baliknya, terdapat tangga spiral yang menurun ke kegelapan absolut. Bau busuk dan kimia menyengat hidungnya. Ini bukan jalan keluar ke permukaan. Ini jalan menuju laboratorium.
Tapi Ren tersenyum tipis. Karena di situlah Lin berada.
Ia tidak lari menjauh dari bahaya. Ia lari menuju inti masalah.
Saat ia menuruni tangga, suara langkah kaki para penjaga semakin dekat di belakangnya. Tapi Ren tidak peduli. Ia memiliki daftar nama. Ia memiliki tujuan. Dan kali ini, ia tidak sendirian.
Di kegelapan tangga, ia merasakan getaran halus di sakunya. Pesan dari Su Yan: "Aku mengalihkan mereka. Kau punya 5 menit sebelum pintu utama dikunci. Temukan adikmu. Keluar lewat saluran pembuangan utara. Aku akan menjemputmu di sana."
Ren menggenggam buku catatan itu erat-erat. Lima menit. Cukup waktu untuk menyelamatkan satu nyawa. Cukup waktu untuk memulai revolusi.
Ia menuruni anak tangga terakhir, memasuki koridor bawah tanah yang diterangi lampu merah redup. Di ujung koridor, terdengar suara tangisan lemah seorang anak.
Suara Lin.
Ren mempercepat langkahnya, matanya yang hampa kini bersinar dengan tekad yang membakar. Dunia mungkin retak, tapi ia akan menambalnya dengan darah siapa pun yang menghalangi jalannya.