NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Kalimat barusan meluncur begitu tenang dari bibir Grayson, namun efeknya bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Aurelia. Jantung gadis itu seolah berhenti berdetak sedetik, digantikan oleh debaran kencang yang menghantam rongga dadanya. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke dalam sepasang bola mata amber yang kini memantulkan bayangannya dengan jelas—bukan sekadar pantulan biasa, melainkan tatapan seorang predator yang telah menemukan mangsa utamanya dan bersiap menguncinya dalam kurungan tak kasat mata.

"Apa... apa kamu bilang?" cicit Aurelia tertahan, suaranya hampir berbisik karena keterkejutan yang teramat sangat. Sekujur tubuhnya mendadak kaku, seolah aliran darah di nadinya membeku seketika mendengar klaim gila dan lancang dari pemuda di sampingnya itu.

Grayson tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya semakin tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan senyuman miring yang terlihat begitu memikat sekaligus mengerikan. Jari-jarinya yang kokoh mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme lambat, seolah menikmati detik-detik saat akal sehat Aurelia perlahan goyah karena ulahnya.

"Kamu dengar dengan jelas, Aurelia Calista," bisik Grayson kian mendekat, hingga helaan napas hangat pemuda itu menyapu permukaan kulit lehernya yang terekspos kerah baju. "Jangan pernah coba-coba lari atau pura-pura tuli."

Seketika itu juga, gelombang amarah yang sejak kemarin tertahan di dalam dada Aurelia meledak begitu saja. Rasa takut yang sempat singgah di hatinya seketika tersapu oleh rasa geram, jengkel, dan harga diri yang merasa diinjak-injak. Gadis itu menegakkan punggungnya dengan kasar, menepis segala rasa sungkan atau sopan santun yang selama ini diajarkan oleh kedua orang tuanya.

"Hei! Kamu benar-benar sudah gila, ya?!" seru Aurelia setengah berbisik namun dengan penekanan emosi yang begitu pekat. Kedua bola matanya menatap tajam penuh murka. "Siapa kamu berani ngomong kayak gitu ke aku?! Kita ini baru kenal kemarin! Jangan sembarangan mengklaim hidup orang lain sesuka hati kamu, Tuan Grayson!"

Alih-alih merasa terintimidasi atau tersinggung oleh bentakan tertahan itu, Grayson justru terkekeh pelan. Suara tawa rendah yang renyah itu justru membuat Aurelia semakin naik pitam. Bagi Grayson, reaksi penolakan dan amarah Aurelia bukanlah sebuah hambatan, melainkan bahan bakar yang semakin menyulut obsesi gila di dalam kepalanya.

"Gila? Bisa jadi," balas Grayson santai, sama sekali tidak menarik mundur wajahnya. "Tapi yang jelas, aku tahu apa yang aku mau. Dan aku nggak peduli seberapa banyak kamu membantah atau marah-marah sekarang. Cepat atau lambat, kamu bakal sadar kalau tempat paling aman di dunia ini cuma ada di dekat aku."

"Cih! Omong kosong!" maki Aurelia dengan napas memburu. Ia sudah tidak tahan lagi berada di dekat sumber malapetaka ini sedetik pun. "Kalau kamu betah duduk di sini, silakan! Tapi aku yang nggak akan sudi duduk sebangku sama orang arogan, psikopat, dan kurang waras kayak kamu!"

Tanpa pikir panjang lagi, Aurelia langsung menyambar buku-buku catatan, tempat pensil, dan tas ranselnya dari atas meja dengan gerakan kasar. Kursi kayunya didorong ke belakang hingga menimbulkan suara decitan bergesekan dengan lantai kelas yang cukup nyaring, mengundang beberapa pasang mata anak sekelas menoleh ke arah mereka.

"Aurelia? Kamu mau ke mana?" panggil Aluna dari bangku depannya dengan wajah bingung bercampur kaget melihat sahabatnya mendadak membereskan barang-barang.

"Aku pindah!" jawab Aurelia ketus, tanpa memperdulikan tatapan heran teman-teman sekelasnya.

Dengan langkah hentakan kaki penuh kekesalan, Aurelia membawa seluruh barangnya dan langsung melangkah pergi meninggalkan bangku barisan tengah dekat jendela itu. Ia menyapu pandangan ke seluruh penjuru kelas, mencari meja kosong lain yang bisa ia tempati untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman psikologis Grayson.

Sialnya, pagi ini kondisi kelas tampak sangat penuh. Hampir seluruh bangku di setiap barisan terisi penuh oleh murid-murid. Hanya ada satu meja kosong di sudut paling belakang dekat pintu masuk—meja milik seorang anak laki-laki yang hari ini dikabarkan izin karena sakit. Tanpa banyak pilihan, Aurelia langsung berjalan ke arah sana, meletakkan tasnya dengan kasar di atas kursi, lalu duduk dengan melipat kedua tangan di depan dada sambil mendengus kesal. Wajah cantiknya tampak merah padam karena menahan amarah yang meluap-luap.

Di barisan tengah, Grayson tidak beranjak dari tempat duduknya. Pemuda itu hanya menoleh ke belakang, memperhatikan setiap gerak-gerik Aurelia yang kabur darinya. Alih-alih merasa marah karena ditinggal begitu saja, sorot mata amber Grayson justru menyipit membentuk tatapan penuh minat yang semakin menjadi-jadi. Seringai tipis terukir di bibirnya.

Silakan lari sejauh yang kamu mau, Aurelia, batin Grayson dingin penuh keyakinan. Karena pada akhirnya, kamu nggak akan bisa ke mana-mana.

Jam pelajaran demi pelajaran berlalu dengan sangat lambat bagi Aurelia. Sepanjang pagi hingga menjelang istirahat, pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada penjelasan guru di depan kelas. Bayangan wajah Grayson, tatapan mata amber yang tajam itu, serta kata-kata posesif yang dilontarkan sang pemuda terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang diputar ulang.

"Sumpah ya, anak itu benar-benar titisan iblis!" gerutu Aurelia pelan sambil mencoret-coret buku catatannya dengan bulpen hingga kertasnya hampir robek.

Begitu bel istirahat berbunyi nyaring, Aluna dan Aruna langsung berlari kecil menghampiri meja Aurelia di pojok belakang dengan wajah penuh rasa penasaran tingkat tinggi.

"Ya ampun, Li! Kamu kenapa mendadak pindah tempat duduk ke belakang? Terus tadi pagi, kita bertiga lihat sendiri kamu ngomel-ngomel sambil bawa tas dari sebelah si anak baru itu. Ada apa sebenarnya? Kalian bertengkar?" cecar Aluna bertubi-tubi begitu sampai di depan meja Aurelia.

Aruna mengangguk-angguk setuju dengan mata membelalak. "Iya, Li! Heboh banget tahu anak-anak sekelas tadi ngomongin kalian. Katanya kamu ngamuk ke Grayson gara-gara dia modusin kamu ya?"

Aurelia menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa frustrasi luar biasa. Ia menarik tangan kedua sahabatnya untuk duduk di bangku kosong di sekitar meja tersebut agar obrolan mereka tidak terlalu menjadi tontonan seisi kelas.

"Duh, dengar nama dia disebut lagi aja bikin darah aku mendidih," keluh Aurelia dengan suara tertahan. Ia menatap Aluna dan Aruna bergantian dengan ekspresi ngeri. "Asal kalian tahu ya, anak baru itu bukan cuma nyebelin atau arogan... tapi dia itu bener-bener nggak beres! Psikopat!"

"Hah?! Psikopat?!" teriak Aluna dan Aruna kompak, membuat beberapa anak yang hendak keluar kelas sontak menoleh ke arah mereka.

"Sstt! Jangan kencang-kencang!" sergah Aurelia panik sambil menutup mulut Aluna dengan tangannya. Setelah memastikan keadaan sekitar aman, ia melanjutkan dengan nada berbisik namun bergetar emosi. "Iya! Bayangin aja, tadi pagi tiba-tiba dia bilang kalau dunia aku sekarang sepenuhnya adalah milik dia! Dia ngomong gitu dengan tatapan serius tanpa kedip sedikit pun. Sumpah, bulu kuduk aku langsung merinding sekujur badan. Makanya aku langsung kabur pindah ke sini karena nggak sanggup semobil... eh, sebangku sama dia!"

Aluna dan Aruna saling berpandangan mendengar cerita tersebut. Alih-alih merasa takut seperti yang dirasakan Aurelia, Aluna justru mengerjap-ngerjapkan matanya, sementara Aruna menutup mulutnya dengan sebelah tangan sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Ehm... Li," panggil Aruna hati-hati sambil menyenggol lengan Aurelia. "Jangan-jangan... si Grayson itu sebenarnya naksir berat sama kamu?"

"Naksir?! Naksir dari hongkong?!" potong Aurelia sewot setengah mati. "Itu bukan naksir, Aruna! Itu namanya teror! Obsesi gila! Mana ada orang naksir tapi gayanya kayak prempasan hak asasi manusia gitu?!"

"Ya ampun, Aurelia... tapi kalau dipikir-pikir dari sudut pandang novel romance atau wattpad, tipe-tipe badboy posesif kayak Grayson itu justru yang paling banyak dicari pembaca tahu!" timpal Aluna membela dengan mata berbinar-binar penuh dramatisasi khas remaja masa kini. "Ganteng iya, kaya raya, badannya atletis, sorot matanya misterius... aduh, kalau dia ngomong gitu ke aku, mungkin aku udah pingsan di tempat karena baper!"

Aurelia menatap tajam kedua sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. "Kalian ini waras nggak sih?! Teman kalian lagi stres berat diancam sama cowok separuh psikopat, malah kalian bayangin adegan novel! Kalau kalian mau, tukeran aja sana! Biar kalian berdua yang duduk sebangku sama singa kelaparan itu!"

Mendengar ancaman setengah bergurau itu, Aluna dan Aruna langsung tertawa geli.

"Iya deh, iya, ampun tuan putri! Kita nggak bakal rebutan cowok seram itu kok," ujar Aluna menyerah sambil mengangkat kedua tangan ke atas. "Tapi serius, Li. Kalau dia beneran berani ganggu kamu lebih jauh atau berbuat macam-macam di sekolah, jangan dipendam sendiri. Kita laporin aja langsung ke Pak Joko atau ke Kak Galang sang ketua OSIS pembela kebenaran!"

Mendengar nama Galang disebut, Aurelia mendadak terdiam sejenak. Ingatannya melayang pada kebaikan pemuda itu kemarin sore saat membantunya membetulkan rantai sepeda dan mengawalnya pulang sampai depan rumah. Setidaknya, masih ada sosok hangat dan rasional di sekolah ini yang bisa diandalkan jika sewaktu-waktu situasi dengan Grayson menjadi semakin tidak terkendali.

"Iya... nanti aku pikirkan," jawab Aurelia pelan, menghela napas pasrah. "Yang penting sekarang aku mau tenang dulu, jauh-jauh dari meja anak itu."

Sementara itu, di kantin sekolah yang riuh dan padat, Grayson duduk di sebuah meja sudut yang cukup privat bersama ketiga temannya—Rian, Satya, dan Bima. Keempat pemuda itu memesan banyak makanan, namun atensi Grayson sama sekali tidak tertuju pada piring di hadapannya.

Jari telunjuknya memutar-mutar gelas berisi es teh manis, sementara bola mata amber-nya menatap lurus ke arah gerombolan siswi di seberang sana, di mana Aurelia tampak sedang duduk bersama kedua temannya.

Melihat ekspresi wajah Grayson yang sejak tadi dingin namun menyunggingkan senyuman miring penuh rahasia, Rian yang sedang melahap batagornya mendadak menghentikan kunyahannya. Pemuda berambut ikal itu menyenggol lengan Satya di sampingnya sambil terkekeh pelan.

"Wih, lihat tuh bos kita. Dari tadi matanya nggak kedip ngeliatin mangsanya di sana," bisik Rian menyindir. "Kayaknya ada yang lagi ngambek nih, bos. Si Aurelia kan tadi pagi kabur pindah bangku ke belakang gara-gara lu teror omongan maut."

Grayson menoleh perlahan menatap Rian dengan tatapan tajam nan dingin, membuat Rian sedikit meneguk ludahnya sendiri meskipun masih mempertahankan cengirannya.

"Biarin dia main-main dulu," ucap Grayson dengan suara berat yang bernada rendah namun mutlak. "Semakin dia lari, semakin seru juga proses pengejarannya."

Satya ikut terkekeh sambil menyeruput minumannya. "Tapi serius, Gray. Data yang semalam gua suruh cari sama anak-anak udah lengkap banget. Lu yakin mau langsung bergerak selangkah lebih maju? Soalnya si cewek itu kelihatannya anak baik-baik banget, dijagain ketat sama orang tuanya, terus kemarin sore sempat keliatan akrab banget bareng si Galang ketua OSIS."

Mendengar nama Galang disebut, rahang Grayson seketika mengeras. Kilatan tajam dan gelap memancar jelas dari bola mata amber-nya. Suhu di sekitar meja mereka mendadak terasa lebih dingin.

"Ketua OSIS itu..." gumam Grayson pelan penuh penekanan, gigi-gigi gerahamnya bergemeretak pelan. "...cuma anak bawang yang nggak tahu diri. Kalau dia berani coba-coba ikut campur atau mendekati Aurelia lebih dari batas wajar, gua sendiri yang bakal pastikan dia menyesal pernah sekolah di sini."

Bima yang sedari tadi diam memainkan rokok elektriknya mengangkat alis mendengar ancaman itu. "Wah, mulai keluar nih sifat aslinya. Pelan-pelan, Bos. Jangan sampai sekolah baru kita ini langsung gempar karena kasus kriminal hari pertama."

"Gua nggak peduli," potong Grayson mutlak. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berdiri dari kursi dengan gerakan tegap. "Waktu istirahat habis. Gua mau kasih 'pelajaran kecil' buat gadis keras kepala itu supaya dia tahu, di mana pun dia pindah tempat duduk di kelas, dia tetap milik gua."

Tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Grayson melangkah pergi meninggalkan meja kantin dengan postur tubuh mendominasi dan auranya yang berbahaya, berjalan mantap kembali ke gedung kelas lantai dua—menuju tempat di mana Aurelia sedang berusaha keras menghindari bayangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!