Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Malam makin larut saat jarum jam menunjukkan tepat pukul sembilan.
Mobil sports mengkilap milik Kaetos Ashford perlahan memelankan lajunya, lalu berhenti sempurna di pinggir jalan raya yang tampak sepi, sekitar dua ratus meter sebelum kompleks perumahan elite tempat kediaman utama keluarga Ford berdiri.
"Sampai di sini saja, Kae," ucap Parrie pelan seraya memutar tubuhnya menghadap Kaetos.
Parrie belum siap menceritakan kebenaran pahit bahwa dirinya adalah anak haram yang baru saja diakui oleh keluarga Ford—keluarga yang sama yang melahirkan Glenmore Ford.
Mereka baru saja melewati malam yang begitu emosional, membongkar luka trauma dan ketakutan terbesar Kaetos. Parrie tidak ingin membebani pikiran pria yang sangat dicintainya itu dengan drama keluarganya yang rumit dan penuh intrik.
Kaetos menatap jalanan gelap di sekeliling mereka, lalu mengalihkan pandangannya pada Parrie dengan kening berkerut dalam. Manik mata kelamnya memancarkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Apa yang kau sembunyikan dari padaku, Parrie?" tanya Kaetos dengan nada suara rendah penuh selidik, namun tak lagi dingin seperti biasanya. "Kenapa kau minta turun di tempat sepi begini? Aku hanya ingin tahu di mana kau tinggal sebulan terakhir. Apakah lingkungannya aman untukmu? Kumohon, honey... biarkan aku mengantarmu sampai depan pintu."
Panggilan manis yang keluar begitu alami dari bibir Kaetos membuat dada Parrie berdesir hangat. Rasa bahagia membuncah di hatinya. Namun, Parrie tetap menggelengkan kepalanya dengan lembut namun tegas.
"Tidak sekarang, Kae... Percayalah padaku, lingkunganku sangat aman," bisik Parrie tulus seraya mengusap rahang tegap Kaetos dengan jemarinya. "Suatu hari nanti, aku sendiri yang akan membawamu ke tempat tinggalku. Tapi tidak malam ini, ya?"
Kaetos menatap mata jernih Parrie yang memohon. Pria angkuh itu menghela napas panjang, mengalah pada ketetapan hati gadisnya.
"Baiklah..." gumam Kaetos pasrah.
Sebelum Parrie benar-benar membuka pintu mobil, Kaetos menarik tengkuk Parrie pelan, mendaratkan sebuah ciuman perpisahan yang dalam, hangat, dan sarat akan rasa posesif di bibir Parrie. Ciuman itu berlangsung beberapa detik, menyalurkan rasa berat hati untuk berpisah.
"Telepon aku begitu kau sampai di dalam," pesan Kaetos dengan tatapan intens setelah melepas ciumannya.
Parrie mengangguk anggun. "Pasti. Hati-hati di jalan, Kae."
Dengan senyuman hangat yang tak lepas dari wajahnya, Parrie melangkah keluar dari mobil. Ia berdiri di trotoar, melambaikan tangan hingga mobil sports hitam itu melaju menghilang di belokan jalan raya.
Parrie menarik napas panjang, menetralkan degup jantungnya seraya berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju gerbang besi raksasa kediaman keluarga Ford.
Langkah kakinya agak lambat dan sedikit tertahan.
Ada rasa nyeri dan pegal di area sensitifnya akibat hentakan gila dan penyatuan emosional bersama Kaetos beberapa jam yang lalu di penthouse. Parrie membetulkan letak kerah bajunya, mengukir wajah tenang saat melewati para penjaga gerbang.
Namun, begitu Parrie melangkah masuk ke dalam ruang tamu megah berkubah tinggi milik keluarga Ford, suasana hangat yang tadi ia rasakan seketika menguap tanpa sisa.
Di atas sofa kulit mewah di tengah ruangan, berdiri Maeve Ford—Nyonya rumah yang selalu tampil anggun itu kini berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, menatap Parrie dari atas ke bawah dengan pandangan yang teramat jijik dan menghina.
"Wah, wah... lihat siapa yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah ini," sindir Maeve dengan suara tajam dan melengking. "Kau kira mansionku ini hotel penginapan, Parrie? Kau pergi seharian, tidak pulang semalaman, dan baru muncul jam sembilan malam?!"
Parrie tidak menjawab, hanya berjalan lurus berniat melewati ruang tamu menuju kamarnya di lantai dua.
Namun, mata tajam Maeve yang lihai mendadak menangkap cara berjalan Parrie yang perlahan dan sedikit kaku, seolah menahan rasa sakit di area bawah tubuhnya.
Tak hanya itu, saat cahaya lampu gantung kristal menerpa leher halus Parrie, Maeve menangkap beberapa bercak merah keunguan yang sangat jelas melingkari leher gadis itu—jejak ciuman panas Kaetos yang tidak disadari oleh Parrie!
Sebuah seringai iblis yang sangat sinis dan puas seketika terukir di wajah Maeve.
"Oho... pantas saja berjalan seperti orang lumpuh," cibir Maeve seraya melangkah cepat memotong jalan Parrie. Matanya menunjuk bercak merah di leher Parrie dengan raut wajah penuh kejijikan. "Wanita murahan sepertimu ternyata habis dijual di luar sana, huh? Seorang jalang... memang akan selalu berakhir menjadi jalang!"
Parrie menghentikan langkahnya. Matanya menyipit dingin menatap wanita di hadapannya.
Maeve terkekeh jahat, melangkah mendekat seraya berbisik dengan nada penuh racun. "Kau lahir dari rahim seorang wanita jalang yang berusaha merebut suamiku, dan tentu saja darah jalang itu mengalir deras di tubuhmu! Kau tidak ada bedanya dengan ibumu yang murahan itu!"
DUARRRRRR!
Hinaan busuk yang membawa-bawa nama almarhumah ibunya seketika meledakkan seluruh dinding kesabaran di dalam dada Parrie Rose!
"TUTUP MULUTMU, MAEVE!!!!" teriak Parrie dengan suara lantang yang menggelegar menembus seluruh sudut mansion mewah itu!
Maeve tersentak kaget, melangkah mundur satu langkah akibat gertakan mendadak dari gadis yang ia kira penakut itu.
Parrie melangkah maju dengan mata membara oleh rasa murka yang luar biasa. "Kau tidak punya hak sedikit pun untuk mengatai ibuku! Ya! Aku memang seorang jalang di luar sana! Lalu kenapa?! Berhati-hatilah, Maeve... karena anak laki-lakimu yang sombong itu adalah target yang sangat menarik untuk aku hancurkan berikutnya!"
"ARGGGH! KAU WANITA MURAHAN! DASAR SAMPAH TAK TAHU DIRI!" teriak Maeve histeris, wajah cantiknya mendadak merah padam oleh amarah dan ketakutan.
"KAU YANG MURAHAN!"
Namun, sebelum keributan itu berlanjut lebih jauh—
PLAKKKKK!
Sebuah tamparan yang luar biasa keras dan bertenaga mendadak mendarat telak di pipi kiri Parrie!
Hantaman tangan tegap itu begitu kuat hingga membuat tubuh Parrie terlempar ke samping dan tersungkur di atas karpet bulu. Rasa amis darah seketika memenuhi mulut Parrie saat bibir bagian dalamnya robek menghantam gigi.
Parrie perlahan mendongak, memegang pipinya yang panas dan berdarah.
Di hadapannya, berdiri Tuan Ford—ayah kandungnya sendiri yang baru saja tiba dari kantor. Pria paruh baya berjas rapi itu berdiri dengan dada naik turun terengah-engah oleh emosi yang membakar. Tangannya yang baru saja menampar Parrie masih bergetar kaku di udara.
"Kau... kau berani membentak dan mengatai istriku?!" bentak Tuan Ford dengan suara gemetar oleh rasa kecewa dan amarah yang meluap.
Tuan Ford menatap Parrie dengan pandangan mata yang terluka sekaligus murka. "Aku menyayangimu selama seminggu ini selayaknya seorang ayah yang baru saja mendapatkan kembali putrinya, Parrie! Aku melakukan segala hal demi menebus puluhan tahun waktu yang hilang untuk membahagiakanmu! Tapi apa yang baru saja kudengar dari mulutmu sendiri?! Kau... kau menjadi jalang di luar sana?!"
Tuan Ford menunjuk wajah Parrie dengan jari gemetar, matanya merah berkaca-kaca. "Kau melempari kotoran paling hina tepat ke wajah Daddymu sendiri, Parrie! Kau menghancurkan nama baik keluarga ini!"
Di balik rasa sakit di pipinya dan lelehan darah di sudut bibirnya... Parrie Rose tidak menangis. Ia tidak memohon ampun, dan sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah.
Parrie justru mengukir sebuah senyuman sinis yang dingin dan menyayat hati di wajahnya yang berdarah.
Parrie perlahan berdiri tegap kembali, menegakkan punggungnya secara anggun. Ia menghapus lelehan darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu melangkah maju satu langkah—menatap lurus ke dalam mata ayah kandungnya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Kau bilang kau menyayangiku, Dad?" balas Parrie dengan suara tenang namun bergetar oleh kepahitan yang teramat dalam. "Kau tidak pernah tahu penderitaan apa saja yang sudah kujalani selama puluhan tahun tanpa dirimu... Kau tidak pernah ada saat aku dan ibuku hampir mati kelaparan di jalanan!"
Parrie menatap Tuan Ford dengan kilatan mata yang begitu tajam dan menusuk.
"Jadi..." desis Parrie sinis, meremehkan kata-kata manis pria yang mengaku sebagai ayahnya itu. "...jangan pernah berlagak sok suci dan mengajariku bagaimana caranya hidup, Dad!"