"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 POV Danu
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Setiap berada di dekat Dinda, aku seperti kehilangan akal. Apalagi sejak aku merenggut hal paling berharga dalam hidupnya, entah kenapa tubuhku seolah selalu tertarik untuk mendekatinya. Bahkan beberapa kali aku sengaja mencari masalah dengannya hanya agar punya alasan untuk berada di dekatnya. Namun, terakhir kali semuanya justru menjadi kacau. Aku kehilangan kendali sampai mengucapkan talak padanya.
Sampai sekarang, kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Aku bahkan tidak tahu apakah Dinda menganggapnya serius atau justru sudah benar-benar menganggap dirinya bukan lagi istriku.
“Sayang, apa yang kamu pikirkan? Ini sudah malam, ayo tidur,” ucap Belinda.
Aku menoleh padanya. Jujur saja, Belinda selalu memanjakan mataku. Tubuhnya bagus, penampilannya selalu terawat, dan aroma parfumnya begitu wangi. Seharusnya semua itu cukup untuk membuatku tertarik padanya sebagai seorang suami. Namun, entah kenapa sekarang semua itu justru membuatku semakin tidak ingin berdekatan dengannya. Ada sesuatu yang berubah dalam diriku, meskipun aku sendiri tidak tahu sejak kapan.
“Duluan, sayang. Aku masih ada yang perlu aku kerjakan,” ucapku sebelum beranjak dari ranjang yang sejak tadi kududuki.
Aku bisa melihat Belinda mulai kesal dengan penolakanku. Nada suaranya pun berubah ketika kembali berbicara padaku.
“Kamu ini kenapa sih, Sayang? Kamu pasti mikirin istri pertamamu itu kan? Jangan-jangan kamu suka sama dia.”
Aku terdiam sesaat. “Suka? I... itu tidak mungkin, Sayang,” jawabku untuk kesekian kalinya. Namun, bahkan setelah mengucapkannya, aku sendiri tidak yakin dengan jawabanku. Aku tidak tahu apakah yang kurasakan terhadap Dinda benar-benar bisa disebut suka, atau hanya dendam yang perlahan berubah menjadi rasa bersalah. Yang jelas, ada sesuatu tentang perempuan itu yang tidak bisa kuabaikan begitu saja.
“Kalau enggak, kenapa setiap kita sudah di kamar kamu selalu bersikap dingin padaku? Ini sudah hampir satu minggu kita menikah, tapi kamu tidak pernah menyentuhku.”
Aku terdiam mendengar ucapan Belinda. Hampir satu minggu. Baru sekarang aku menyadari betapa cepat waktu berlalu sejak pernikahan kami. Seharusnya aku menikmati kehidupan yang selama ini kuinginkan. Aku sudah menikahi wanita yang kucintai, tetapi mengapa justru ada sesuatu yang membuatku merasa tidak tenang?
“Sayang, bukan begitu. Aku hanya lelah saja dan memang sedang tidak ada keinginan ke sana. Kamu bisa menungguku, kan?”
“Menunggu?” Belinda mengulang perkataanku dengan nada kecewa. “Sampai kapan aku harus menunggu, Sayang? Ini sudah hampir satu minggu kita menikah, tapi kamu selalu menghindar setiap kali kita berada di kamar.”
Aku menghela napas panjang. “Aku cuma butuh waktu, Belinda. Jangan memaksaku.”
Belinda tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan wajah kecewa, sementara aku kembali mengalihkan pandangan. Aku tahu sikapku membuatnya bertanya-tanya, tetapi aku sendiri tidak punya jawaban yang bisa menjelaskan perubahan dalam diriku.
Aku pun tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Sudah dua hari aku tidak melihat Dinda, tetapi bukannya merasa lebih tenang, pikiranku justru semakin kacau. Aku sempat ingin menemuinya, hanya saja keberanianku selalu hilang ketika teringat ucapanku malam itu. Aku telah mengatakan akan menceraikannya, jadi untuk apa sekarang aku mencarinya?
Aku mengusap wajah kasar-kasar. Mungkin seharusnya aku membiarkan semuanya berjalan seperti biasa dan berhenti memikirkan apa pun yang sudah terjadi.
“Sayang, kamu tidur dulu. Aku ingin menemani Mama,” ucapku. Kali ini bukan alasan yang sengaja kubuat. Beberapa menit lalu, Mama memang mengirim pesan agar aku menemuinya.
“Kok aku nggak diajak?”
“Kata Mama, dia ingin membicarakan sesuatu yang penting dan cuma berdua,” jawabku.
Belinda tampak masih ingin bertanya, tetapi aku segera mengambil ponsel dan melangkah keluar dari kamar. Entah apa yang ingin Mama bicarakan sampai memintaku datang sendirian malam-malam seperti ini. Namun, mungkin pertemuan itu bisa memberiku sedikit waktu untuk menjernihkan pikiran.
Hanya dalam waktu beberapa menit, aku sudah sampai di ruang keluarga, aku pikir memang benar hanya mama saja yang bicara denganku tapi di sana ada papa dan juga Ghina.
"Ada apa ini?"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...