NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Gema ucapan Gabriel siang itu terus berputar tanpa henti di dalam benak Aurora, bagaikan gema tak bertepi yang menggetarkan seluruh saraf kesadarannya.

Mengapa harus rahimnya?

Puri dan kediaman rahasia Gabriel di berbagai penjuru kota bahkan di negara sebelah dipenuhi oleh deretan wanita jelita yang siap menyerahkan tubuh dan seluruh hidup mereka demi sepeser perhatian sang Don. Mereka adalah wanita-wanita yang dilatih untuk patuh, yang tidak memiliki jejak perlawanan atau dendam masa lalu. Namun, mengapa dari sekian banyak selir yang bisa dipillih dengan mudah, pria itu justru menginginkan rahim seorang wanita yang dulu pernah diremukkannya? Mengapa rahim buronan yang sedang merencanakan pelarian ini yang dipilih untuk meneruskan takhta dan garis darah Moretti yang agung?

Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari liar di dalam kepala Aurora. Posisi ini sungguh berbahaya. Di satu sisi, status ini menjadikannya figur paling berpengaruh di mata Gabriel, tetapi di sisi lain, ini adalah perangkap waktu yang mematikan.

“Aku harus lebih bersabar,” bisik Aurora dalam benaknya, mencoba menenangkan debar dadanya yang terlalu kencang. “Garis pelarianku sudah makin dekat. Paspor palsu itu sedang dibuat. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi, mengikuti permainannya, dan tidak membiarkan rasa panik menghancurkan segalanya.”

Namun, Gabriel tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu membuktikan setiap kata yang keluar dari bibirnya dengan kesungguhan yang gila.

Hari yang dimulai dari pagi itu bertransformasi menjadi maraton gairah yang seolah tak mengenal kata akhir. Kamar utama Puri Moretti menjadi saksi bagaimana sang Don menyerahkan seluruh waktu, tenaga, dan dominasinya hanya untuk satu misi: menanamkan benihnya di dalam rahim Aurora.

Penyatuan mereka berlangsung berkali-kali tanpa jeda yang berarti. Peraduan berukuran king-size itu saksi bisu dari pertarungan gairah yang menguras seluruh tenaga. Satu-satunya saat permainan panas itu terhenti hanyalah ketika Bi Mien mengetuk pintu dengan tangan gemetar untuk mengantarkan nampan berisi hidangan makan siang dan makan malam yang mewah, atau ketika tubuh mereka berdua sudah benar-benar lemas kehabisan napas di atas sprai sutra yang kusut dan basah oleh keringat.

Namun, di balik intensitas yang gila-gilaan itu, ada satu hal yang membuat pertahanan batin Aurora runtuh secara perlahan: kelembutan Gabriel.

Pria yang biasanya bertindak bagai iblis tanpa rasa iba itu tidak pernah menggunakan kekerasan fisik sedikit pun. Dalam setiap adegan panas yang membakar ruangan, Gabriel selalu memanjakan Aurora dengan kesabaran yang tak masuk akal. Ia tak pernah memaksa, tak pernah terburu-buru, dan yang paling membuat dada Aurora berdesir aneh Gabriel selalu memberikan kendali penuh di tangan Aurora.

Gabriel membiarkan Aurora mendominasi permainan. Pria bertubuh tegap dengan tato raksasa di punggungnya itu dengan senang hati berbaring pasrah di bawah tubuh kecil Aurora, membiarkan Aurora yang mengatur tempo, kedalaman, dan ritme tarian mereka di atas peraduan. Gabriel hanya menahan pinggul wanita itu dengan cengkeraman hangat, memandangi raut wajah Aurora yang merona di bawah paparan sinar matahari sore hingga lampu malam berganti.

Tatapan mata Gabriel saat berada di bawah kekuasaan Aurora dipenuhi oleh kepasrahan murni sebuah pementasan kelemahan dari seorang raja mafia yang rela bertekuk lutut di hadapan selirnya.

"Kau pemenangku, Cara mia..." bisik Gabriel serak di tengah desahan napasnya yang memburu, ketika Aurora bergerak di atas tubuhnya di bawah pendar lampu kamar yang temaram. "Ambil apa pun yang kau inginkan dari tubuh ini..."

Sensasi diakui, dihormati, dan dilumat oleh kelembutan yang teramat pekat itu merayap masuk ke dalam setiap jengkal saraf Aurora.

Entah sejak kapan... Aurora mulai menyadari sebuah kenyataan yang menakutkan: ia mulai menikmati adegan dewasa ini.

Tubuhnya yang dulu selalu menegang dingin setiap kali disentuh Gabriel, kini secara otomatis merespons setiap cumbu rayu dan usapan hangat pria itu. Rasa nikmat yang menjalar di seluruh aliran darahnya bukan lagi sekadar sandiwara untuk membuai Gabriel, melainkan reaksi jujur dari jiwanya yang terbuai oleh tarian lembut sang iblis. Setiap kecupan Gabriel di sepanjang lehernya, setiap bisikan manis di telinganya, dan cara pria itu menatapnya bagaikan satu-satunya wanita di muka bumi, telah menciptakan candu baru yang sulit untuk ditolak oleh fisiknya.

Ketika malam makin larut dan kelelahan akhirnya benar-benar melumpuhkan tubuh mereka, Gabriel merengkuh tubuh Aurora ke dalam pelukannya dari belakang. Tangan besarnya yang hangat menyusup ke bawah selimut, kembali bertengger dan mengelus lembut perut rata Aurora dengan ritme yang teratur.

Napas Gabriel yang hangat dan teratur membelai tengkuk Aurora, menandakan sang Don mulai terlelap dalam kedamaian murni.

Di dalam kegelapan malam, Aurora terbaring kaku dengan mata terbuka lebar. Rasa hangat dari telapak tangan Gabriel di perutnya terasa begitu nyata dan membakar.

Pergulatan batin yang dahsyat berkecamuk hebat di dalam dadanya. Ia benci kenyataan bahwa tubuhnya telah terbiasa dan menikmati sentuhan Gabriel. Ia takut pada kelembutan pria ini, karena kelembutan inilah yang jauh lebih berbahaya daripada rantai besi atau bentakan kasar. Rantai bisa dipotong, tetapi kelembutan yang membuai ini perlahan-lahan meracuni akal sehatnya, membuatnya ragu dan mempertanyakan rencana pelarian yang telah ia susun dengan darah dan air mata.

“Tidak,” bisik Aurora mantap di dalam hatinya, mengepalkan jemarinya di atas selimut. “Aku tidak boleh kalah oleh rasa nikmat ini. Ini adalah racun berbalut madu. Gabriel melakukan semua kelembutan ini hanya karena ia ingin mengikatku dengan seorang anak. Aku harus tetap bersabar... dan aku harus pergi sebelum rahim ini benar-benar terisi oleh benih sang iblis.”

Aurora menghembuskan napas pelan, membiarkan matanya perlahan terpejam dalam dekapan hangat Gabriel sebuah dekapan surga duniawi yang sewaktu-waktu siap berubah menjadi penjara abadi jika ia terlambat melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!