NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Gaun Malam dan Permainan Baru

Pria asing berjaket hitam itu langsung menaikkan kaca mobilnya dan memacu kendaraan berlalu cepat, meninggalkan kepulan asap tipis di gerbang sekolah.

Cassandra mematung di pinggir jalan, memegang erat surat undangan berstempel perak di tangannya. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang terurai.

Narendra melangkah mendekati Cassandra dengan raut wajah yang sangat tegang. "Cas, apa yang pria itu bilang sama lu?"

Cassandra dengan cepat memasukkan surat undangan perak itu ke dalam saku rok seragamnya. Ia tidak ingin Narendra panik atau membatalkan rencana nekat mereka malam ini.

"Enggak ada apa-apa, Ren," bohong Cassandra seraya melempar senyum tipis yang dipaksakan. "Dia cuma bilang kalau pengawalan pesta malam ini bakal diperketat."

Narendra menatap mata Cassandra dengan penuh curiga selama beberapa detik. Namun, cowok itu akhirnya mengangguk pelan, memilih untuk mempercayai cewek di hadapannya.

"Yaudah, sekarang kita pulang dan siap-siap," kata Narendra seraya mengusap rambut Cassandra dengan lembut. "Gue bakal jemput lu jam tujuh malam."

Pukul 19.00 WIB.

Sebuah mobil sedan putih berhenti di depan rumah Cassandra yang megah. Narendra turun dari pintu pengemudi, mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya yang tegap.

Cassandra melangkah keluar dari teras rumahnya, mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang anggun dengan balutan riasan tipis di wajahnya.

Narendra sempat terpaku beberapa saat di samping pintu mobil, menatap penampilan Cassandra tanpa berkedip sedikit pun.

"Kenapa tatap gue kayak gitu?" tanya Cassandra malu-malu seraya merapikan gaunnya. "Ada yang aneh, ya?"

Narendra tersenyum hangat, membukakan pintu mobil untuk Cassandra dengan sangat sopan. "Enggak ada yang aneh, Cas. Lu malam ini cantik banget."

Pipi Cassandra mendadak memerah merona mendengar pujian jujur tersebut. Ia masuk ke dalam mobil, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang membakar dadanya.

Selama perjalanan menuju kediaman Kakek Subroto, suasana di dalam mobil terasa begitu hangat khas remaja yang sedang berkencan. Narendra memutar lagu-lagu pop favorit mereka di radio, sesekali bernyanyi pelan bersama Cassandra di tengah kemacetan kota.

Mereka sejenak melupakan bahaya besar yang sedang menanti di lokasi pesta.

Pukul 20.00 WIB.

Kediaman Kakek Subroto terlihat luar biasa megah bagaikan istana di kawasan elit Jakarta Selatan. Lampu-lampu hias besar menerangi area taman yang luas, dipenuhi oleh puluhan pengusaha papan atas dan pejabat negara berpakaian mewah.

Cassandra menggandeng lengan kanan Narendra saat mereka memasuki ruangan utama pesta yang dipenuhi alunan musik biola lembut.

"Ingat rencana kita, Cas," bisik Narendra pelan di samping telinganya. "Gue bakal alihkan perhatian para pengawal Kakek di lantai dasar, lu naik ke lantai dua buat ambil sertifikat di ruang kerja."

Cassandra mengangguk pelan, meremas jemari Narendra sebelum mereka memisahkan diri di tengah kerumunan tamu undangan.

Ia mengendap-endap menaiki tangga melingkar menuju lantai dua yang dijaga oleh dua pengawal bertubuh tegap. Cassandra menggunakan sinyal jam tangan pintarnya untuk memicu gangguan suara pada alat komunikasi pengawal tersebut, membuat kedua pria itu terpaksa meninggalkan posnya.

Dengan langkah cepat, Cassandra berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Kakek Subroto yang luas dan terkesan klasik.

Di balik meja kayu jati berukuran besar, sebuah brankas besi tertanam di dinding tembok. Cassandra segera merogoh alat peretas portabel dari saku gaunnya dan menempelkannya pada panel kunci digital brankas.

KLIK!

Pintu brankas terbuka lebar dalam hitungan detik. Cassandra bernapas lega saat melihat amplop cokelat berisi sertifikat tanah milik ayahnya tergeletak tepat di dalam brankas tersebut.

Namun, ketika Cassandra mengulurkan tangannya untuk mengambil amplop cokelat itu, pintu ruang kerja mendadak dikunci keras dari luar.

KLIK! KLIK!

Cassandra berbalik kaget, menatap ke arah pintu kayu tebal yang kini tertutup rapat.

Sebuah layar televisi besar di dinding ruangan mendadak menyala otomatis, menampilkan rekaman kamera pengawas dari area ruang bawah tanah rumah megah tersebut.

Di dalam rekaman siaran langsung itu, terlihat sosok Narendra sedang dikurung di dalam sebuah ruangan kaca kedap udara bersama dua orang pengawal Kakek Subroto yang memegang senjata api.

Suara Kakek Subroto terdengar menggema dari speaker ruangan dengan nada yang amat dingin.

"Pilihan yang sangat berani, Cassandra. Sekarang, mari kita lihat apakah kamu akan membawa keluar sertifikat tanah ayahmu itu, atau menyelamatkan Narendra yang akan kehabisan oksigen dalam waktu lima menit."

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!