Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 4
Maya menatap pria di depannya dengan tatapan penuh selidik. Jawaban itu terdengar begitu ringan, tetapi ada beban tersirat di balik intonasi suaranya. Ia mencoba mencerna setiap kata, mencari kepalsuan atau keraguan di mata Leo, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang sangat pekat.
"Jangan berpura-pura, Leo," tegas Maya, mengambil satu langkah mendekati suaminya. Suaranya kembali menajam, mengambil alih posisinya sebagai pimpinan tertinggi Maheswari Group. "Cara kamu membaca arah serangan mereka, cara kamu mengunci titik saraf tanpa keraguan sedikit pun... itu bukan cuma refleks prajurit biasa. Kamu menyimpan rahasia besar dariku, kan?"
Leo tidak menghindar dari tatapan tajam itu. Ia merapikan sedikit kerah kemeja hitamnya yang agak mengendor, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman khas yang selalu berhasil membuat Maya merasa gemas sekaligus penasaran.
Setiap orang punya masa lalu, Maya," sahut Leo pelan. Tangannya terulur ke samping, menunjuk secara halus ke arah pintu penumpang sedan lapis baja yang sudah ia bukakan. "Tetapi rahasia apa pun yang saya punya, fokus saya saat ini cuma satu: memastikan istri sah saya aman sampai di rumah. Masuklah. Udara basement ini makin dingin, dan kita tidak punya waktu untuk berdebat di depan lima orang yang baru saja pingsan."
Maya menghembuskan napas keras melalui hidungnya, merasa gusar karena lagi-lagi gagal menembus pertahanan verbal Leo. Namun, logika bisnis dan akal sehatnya mengakui ucapan pria itu. Berlama-lama di area parkir bawah tanah setelah insiden penyerangan adalah tindakan amatir yang konyol. Jika ada gelombang penyerang kedua, atau jika pihak keamanan gedung memergoki mereka sebelum situasi terkendali, skandal ini akan merusak RUPS besok pagi.
Dengan langkah anggun namun tergesa, Maya melangkah masuk ke kursi belakang sedan hitam tersebut.
Leo menutup pintu penumpang dengan ketukan halus yang mantap. Begitu pintu terkunci rapat dari luar, ekspresi tenang di wajahnya mendadak meluap. Sorot matanya kembali menajam bagaikan sembilu.
Ia menarik sebuah ponsel berlayar gelap tanpa kartu SIM dari saku dalam jasnya. Tanpa perlu menatap layar, jemarinya bergerak cepat menekan serangkaian kode perintah terenkripsi.
Hanya dalam hitungan tiga detik, lampu indikator merah pada empat kamera CCTV yang mengawasi sudut area parkir B2 mati secara bersamaan. Seluruh rekaman lima belas menit terakhir terhapus permanen dari server pusat Maheswari Tower, digantikan secara otomatis oleh rekaman berulang situasi parkir yang kosong dan tenang.
"Pembersihan area B2. Amankan lima orang di lokasi, lacak jalur dana transaksi mereka," ucap Leo pelan ke arah mikrofon tersembunyi di kerah kemejanya.
"Diterima, Komandan. Tim bayangan bergerak sepuluh detik lagi," sahut suara jernih beraksen asing melalui earpiece nirkabel yang terpasang di telinganya.
Leo memasukkan kembali ponselnya, memutari bagian depan mobil, dan masuk ke kursi pengemudi. Ia mengunci seluruh sistem pintu secara otomatis, lalu menyalakan mesin V8 yang terdengar halus namun bertenaga. Mobil sedan lapis baja itu meluncur mulus meninggalkan area parkir bawah tanah, membelah rintik hujan malam Jakarta yang mulai turun membasahi aspal.
Di kursi belakang, Maya menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kulit yang empuk. Matanya memperhatikan punggung tegap Leo dari cermin tengah.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Maya, mencoba mencairkan keheningan yang tegang di dalam kabin mobil.
"Ke penthouse Anda," jawab Leo sambil memantau kaca spion sisi kanan dan kiri secara berkala. "Area tempat tinggal Anda memiliki sistem keamanan biometrik tiga lapis. Itu tempat paling aman untuk menyusun strategi sebelum RUPS besok."
"Bagaimana dengan orang-orang tadi? Siapa yang mengirim mereka?"