NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Tanah yang Bergerak

Mereka belum sempat kembali ke pos malam itu.

Maria selesai operasi menjelang dini hari. Bayinya, perempuan kecil dengan napas lemah, dipindahkan ke ruang observasi neonatal. Maria sendiri masih pucat, tapi hidup.

Alya berdiri di balik kaca ruang bayi, menatap tubuh kecil yang bergerak pelan di dalam inkubator.

"Dia kuat," kata Rina di sampingnya.

"Ibunya juga."

"Dokter juga."

Alya menoleh, ingin membantah, tapi Rina sudah mengangkat tangan.

"Sekali saja, Dok. Terima pujian."

Alya menghela napas.

"Baik. Terima kasih."

Rina tersenyum puas, lalu pergi mengurus administrasi rujukan. Tinggal Alya dan Damar di lorong rumah sakit.

Damar menyodorkan segelas teh hangat.

"Minum."

Alya menatap gelas itu.

"Permohonan atau perintah?"

"Permohonan yang sudah lelah."

Dia menerimanya.

Mereka duduk di kursi panjang lorong. Di luar jendela, hujan masih turun. Lampu rumah sakit membuat genangan di halaman tampak seperti cermin pecah.

Untuk beberapa menit, tidak ada yang bicara.

Alya terlalu lelah untuk menjaga semua temboknya. Damar juga tampak terlalu lelah untuk menyusun kalimat yang aman.

"Tadi," kata Alya akhirnya, "di depan pintu operasi, Anda bilang ingin berdiri di depan."

Damar menoleh.

"Iya."

"Jangan berdiri terlalu jauh."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Damar diam.

Alya menatap teh di tangannya, merasa wajahnya mulai panas.

"Maksud saya, kalau Anda berdiri terlalu depan, saya tidak bisa melihat apa yang Anda lakukan. Saya tidak suka orang mengambil alih tanpa memberi tahu."

Penjelasan itu buruk.

Damar tidak menertawakannya.

"Kalau begitu aku berdiri di samping."

Alya menggenggam gelas lebih erat.

"Itu lebih baik."

Mereka saling diam lagi.

Lalu lantai bergerak.

Awalnya sangat halus, seperti pusing setelah terlalu lama tidak tidur. Gelas di tangan Alya bergetar. Air teh membuat lingkaran kecil.

Dia mengerutkan kening.

"Damar..."

Sebelum kalimatnya selesai, getaran membesar.

Lampu berkedip.

Seseorang menjerit dari ujung lorong.

Kemudian seluruh bangunan berguncang keras.

"Gempa!" teriak seseorang.

Damar langsung berdiri, menarik Alya dari kursi.

"Menjauh dari kaca!"

Kaca jendela bergetar hebat. Alarm rumah sakit menyala. Perawat berlari. Pasien berteriak. Langit-langit mengeluarkan debu.

Alya hampir tersandung, tapi Damar menahan punggungnya.

"Rina!" Alya berteriak.

Dari arah ruang administrasi, Rina muncul dengan wajah pucat. "Dok!"

"Ke area aman! Bantu evakuasi pasien yang bisa jalan!"

Damar sudah berbicara melalui radio.

"Semua personel siaga. Gempa kuat terasa di RSUD. Cek pos, cek desa bawah, laporkan kerusakan!"

Getaran belum berhenti.

Alya melihat seorang pasien tua di kursi roda panik di dekat lorong. Perawat yang mendorongnya terjatuh. Tanpa berpikir, Alya berlari ke sana.

"Alya!" Damar memanggil.

Dia tidak berhenti.

Plafon di atas lorong retak. Debu jatuh. Alya mendorong kursi roda menjauh dari lampu gantung yang berayun. Damar menyusul, meraih pegangan kursi, membantu mendorong lebih cepat.

"Aku bilang menjauh dari kaca!"

"Saya sedang menjauhkan pasien!"

Mereka mencapai area dekat tangga darurat. Getaran mulai melemah, tapi kepanikan tidak.

Di lantai bawah, suara benda jatuh terdengar bertubi-tubi.

Alya membantu perawat memindahkan pasien ke titik kumpul. Damar mengatur jalur keluar, memecah kerumunan, dan menenangkan keluarga pasien yang berusaha masuk kembali ke ruang perawatan.

"Tidak ada yang masuk sebelum struktur dicek!" suara Damar menggema.

"Anak saya di dalam!" seorang ibu menangis.

Alya langsung menoleh.

"Ruang anak?"

"Iya! Lantai dua!"

Seorang perawat berteriak dari tangga, "Ada dua anak masih di ruang observasi! Rak obat roboh, pintu tersangkut!"

Alya bergerak.

Damar menangkap lengannya.

"Jangan."

"Anak-anak itu tidak bisa keluar sendiri."

"Tim keamanan masuk."

"Mereka tidak tahu kondisi medisnya."

"Alya, aftershock bisa datang."

Dia menatap Damar.

"Kalau itu anak kita?"

Kalimat itu membuat Damar terdiam setengah detik.

Alya menarik lengannya.

"Saya masuk dengan helm dan senter. Anda boleh ikut atau larang saya di tangga. Pilih cepat."

Damar mengumpat pelan.

"Rendra!" dia berteriak ke radio. "Aku masuk lantai dua dengan Dokter Alya. Siapkan evakuasi di tangga timur!"

Mereka memakai helm darurat dari petugas rumah sakit. Damar berjalan di depan, memeriksa retakan dan puing. Alya mengikuti dengan tas medis kecil.

Di lantai dua, bau obat tumpah bercampur debu. Beberapa pintu terbuka. Satu lampu pecah di lantai.

Ruang observasi anak tersangkut lemari obat yang roboh. Dari dalam terdengar tangisan.

"Tolong..."

Alya menempel ke pintu.

"Adik, dengar Kakak?"

"Iya..."

"Jauh dari pintu. Kami buka."

Damar dan dua petugas mendorong lemari dari luar. Pintu akhirnya terbuka cukup untuk Alya menyelinap masuk.

Di dalam ada dua anak. Satu laki-laki sekitar delapan tahun dengan infus masih terpasang, satu bayi di boks kecil yang rodanya terkunci oleh puing. Seorang perawat muda terjebak di sudut, kakinya tertimpa rak ringan.

"Saya tidak bisa jalan, Dok," kata perawat itu, menahan tangis.

"Tidak apa-apa. Kita keluarkan anak-anak dulu, lalu kamu."

Alya memeriksa cepat. Anak laki-laki sadar, ketakutan, tapi stabil. Bayi menangis kuat, tanda baik. Damar masuk setelah ruang cukup aman.

"Aku bawa anak laki-laki."

"Infusnya."

"Lepas?"

"Tidak. Angkat kantongnya juga."

Damar menggendong anak itu dengan hati-hati. Alya mengambil bayi, membungkusnya dengan selimut. Mereka menyerahkan keduanya ke petugas di luar.

Saat Alya kembali untuk perawat muda, getaran susulan datang.

Tidak sebesar yang pertama, tapi cukup membuat bangunan mengerang.

"Keluar!" Damar berteriak.

"Kakinya terjepit!"

Alya berlutut, mengangkat rak bersama Damar. Perawat itu menangis kesakitan saat kakinya ditarik keluar.

Retakan di dinding melebar.

Damar mengangkat perawat itu.

"Alya, keluar sekarang!"

Mereka berlari ke lorong.

Satu bagian plafon runtuh di belakang mereka.

Debu menelan udara. Alya batuk, matanya perih. Damar menariknya ke tangga darurat. Mereka turun bersama pasien, petugas, dan keluarga yang masih gemetar.

Di titik kumpul halaman, hujan sudah berubah jadi gerimis.

Orang-orang berkumpul di bawah terpal. Tangis, doa, suara radio, sirene, semuanya bercampur.

Alya berdiri di tengah halaman, memeluk bayi yang baru diselamatkan sampai ibunya datang berlari.

"Anak saya!"

Alya menyerahkan bayi itu.

Perempuan itu menangis sambil memeluknya.

Damar berdiri beberapa langkah dari Alya, wajahnya tertutup debu. Mata mereka bertemu.

Tidak ada waktu untuk bicara.

Radio Damar berbunyi.

"Dan! Laporan dari pos. Longsor di jalan menuju Fatukoa. Beberapa rumah rusak. Pos bawah kehilangan kontak dengan tim patroli."

Wajah Damar berubah.

Alya mendengar.

Tubuh lelahnya seperti ditarik kembali ke medan perang.

"Korban?"

"Belum jelas. Warga minta bantuan medis."

Damar menatap Alya.

Alya sudah tahu apa yang akan dia katakan.

"Kamu tinggal di sini."

Dia menggeleng.

"Tidak."

"Alya."

"Anda bilang berdiri di samping."

"Ini bukan—"

"Di sana ada pasien."

Mereka saling menatap di bawah gerimis, dikelilingi orang-orang yang baru saja lolos dari gempa.

Damar akhirnya berkata ke radio, "Siapkan kendaraan dan tim medis. Kita berangkat setelah RSUD aman."

Alya menarik napas.

Tidak ada kemenangan dalam situasi seperti ini.

Hanya pilihan untuk terus bergerak.

Di halaman, seorang ibu muda memanggil-manggil nama anaknya sambil memeluk kantong infus. Seorang prajurit ingin membantunya berdiri, tapi perempuan itu menolak karena takut ranjang suaminya ditinggal. Alya melihat pemandangan itu dan dadanya terasa sempit. Rumah sakit yang biasanya penuh aturan tiba-tiba berubah menjadi tempat semua orang menggenggam apa pun yang tersisa.

Damar berdiri di sampingnya, bahunya basah oleh gerimis. "Kau yakin masih sanggup ke Fatukoa?"

"Kalau aku bilang tidak, pasien di sana tetap menunggu."

"Aku bertanya sebagai suamimu."

Alya menoleh. Kata itu jatuh pelan, tapi tidak bisa pura-pura tidak terdengar.

"Kalau begitu jawabanku sama," katanya. "Aku takut. Tapi aku pergi."

Damar tidak membantah. Dia hanya mengangkat jaket lapangannya dan menaruhnya di bahu Alya.

"Pakai. Di sana angin lebih jahat."

Alya ingin menolak, namun jari Damar sudah menarik ritsletingnya setengah naik. Di tengah kepanikan, sikap kecil itu terasa terlalu pribadi. Ia menunduk, pura-pura memeriksa tas medis.

Sirene ambulans berbunyi lagi.

Mereka berlari bersamaan.

Di belakang mereka, nama Fatukoa terus disebut lewat radio.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!