NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GELORA MALAM DAN PENYERAHAN DIRI

Suara gemericik air hujan di luar kamar berpadu dengan ketukan jarum jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Di dalam kamar utama yang temaram oleh pendar lampu tidur kekuningan, Aisyah berdiri di depan cermin besar.

Setelah membersihkan diri, Aisyah berdandan serapi mungkin. Ia memoles wajahnya dengan makeup tipis sedikit pelembab, blush on merah muda yang tipis di pipinya, serta sentuhan lip gloss merah lembut yang membuat bibirnya tampak lembab dan merekah. Rambut hitam panjangnya yang halus dibiarkan terurai bebas, menyebarkan aroma harum sampo melati.

Jantung Aisyah berdegup kencang saat jemarinya meraih lingerie sutra satin premium berwarna merah maroon yang dibelinya bersama Melati sore tadi. Dengan tangan sedikit gemetar, Aisyah mengenakannya. Kain dingin yang teramat halus itu melekat sempurna di tubuhnya. Potongan V-neck rendah dengan renda transparan di bagian dada, punggung yang terbuka lebar, serta panjang gaun yang jauh di atas paha membuat penampilan Aisyah terlihat begitu seksi dan menggoda.

Untuk menutupi rasa gugup dan menyembunyikan penampilannya sebelum waktunya, Aisyah melapisi tubuhnya dengan baju jubah mandi (bathrobe) kain katun tebal berwarna putih, mengikat talinya rapat-rapat di pinggang.

Aisyah menghembuskan napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa, lalu memutar gagang pintu kamar mandi dan melangkah keluar.

Di sudut ruangan, Ammar sedang duduk di sofa kulit. Pria itu mengenakan kaos polos tipis berwarna abu-abu dan celana santai. Ia tampak sedang fokus membaca lembaran catatan di pangkuannya. Namun, menyadari keberadaan Aisyah, Ammar menengadah dan menatap istrinya dengan pandangan teduh.

"Belum tidur, Aisyah?" tanya Ammar dengan suara baritonnya yang tenang.

Aisyah tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berjalan mendekat, menduduki tepi meja kecil di samping sofa, menatap lurus ke dalam mata cokelat Ammar. Tatapan Aisyah yang biasanya lembut kini dibalut keberanian yang nekad dan keputusasaan yang mendalam.

"Mas..." panggil Aisyah, suaranya parau bergetar. "Soal lamaran ke Zahra... yang dibicarakan Ummi tadi sore..."

Ammar menghentikan kegiatannya, mengernyitkan dahi pelan. "Aisyah, soal itu—"

"Jika kamu memang memutuskan untuk melamar Zahra..." potong Aisyah cepat, menahan selapis air mata yang menggenang di sudut matanya, "lebih baik kita cerai, Mas."

DEG!

Kata-kata itu menghantam Ammar seketika. Raut tenang di wajah tampannya menghilang, berganti dengan ketegangan yang nyata.

"Gak ada gunanya pernikahan ini dilanjutkan," lanjut Aisyah dengan suara tercekat. "Pernikahan kita gak ada kemajuan sama sekali. Kita cuma diam di tempat, dan aku gak sanggup kalau harus melihat kamu bersanding dengan wanita lain."

Ammar menghembuskan napas berat. Pria itu menegakkan posisinya, menatap Aisyah dengan raut wajah amat serius dan pandangan mata yang menajam.

"Kamu bicara tentang cerai seolah itu hal sepele, Aisyah," tegur Ammar, suaranya dalam dan berwibawa. "Perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci oleh Allah. Jangan mudah mengucapkan kata itu hanya karena emosi."

"Iya, aku tahu!" sahut Aisyah, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Aku tahu itu dibenci Tuhan! Tapi kalau hubungan ini hanya membuat hati aku sakit dan terus merasa tidak pantas, lebih baik diakhiri dari sekarang, Mas!"

Ammar tertegun menatap kesedihan mendalam di wajah istrinya. Namun sebelum Ammar sempat membalas ucapan itu, Aisyah menyapu air matanya dan menguatkan hatinya.

"Tapi... sebelum kamu memilih jalan cerai atau memutuskan masa depan kita," bisik Aisyah dengan nada menuntut sekaligus pasrah, "malam ini... izinkan aku melayani kamu sebagai seorang istri yang utuh."

Sebelum Ammar sempat mencerna kalimat tersebut, jemari Aisyah bergerak cepat menarik tali pengikat bathrobe putihnya.

SREK!

Jubah mandi tebal itu terlepas dari bahunya dan jatuh bertumpuk di atas lantai marmer.

Seketika itu juga, pemandangan luar biasa terpampang jelas di depan mata Ammar. Aisyah berdiri dalam balutan lingerie seksi berwarna merah maroon. Kulit mulusnya yang putih bersih, lekuk tubuhnya yang indah, bahu serta punggung polosnya yang terekspos sempurna, dipadukan dengan gaun transparan yang minim, terpapar tanpa jarak di bawah pendar lampu temaram.

Mata cokelat Ammar membelalak hebat. Kitab di tangannya terlepas begitu saja. Napas Ammar tertahan di tenggorokan, dadanya naik-turun memburu saat darah di seluruh tubuhnya berdesir hebat hingga wajahnya memerah kaku.

"A-Aisyah... kamu..." bisik Ammar tergagap, kehilangan kata-kata.

Tanpa memberi Ammar kesempatan untuk berpikir atau menolak, Aisyah melangkah maju. Dengan manuver nekad yang dipelajarinya, Aisyah langsung naik dan duduk di atas pangkuan Ammar!

Keduanya menempel rapat tanpa jarak. Aisyah melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Ammar, menundukkan wajahnya, dan langsung mencium bibir suaminya dengan brutal dan penuh gairah!

DEG!

Pertahanan iman dan ketenangan Ammar yang dibangun rapat-rapat selama bertahun-tahun runtuh total dalam satu detik!

Sentuhan bibir Aisyah yang hangat, lembut, dan manis, bercampur aroma harum melati yang menyeruak dari tubuhnya, menghancurkan sisa-sisa akal sehat Ammar. Insting maskulin seorang pria dewasa yang ditahannya berbulan-bulan meledak tanpa terkendali!

Ammar mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Jemari tegapnya menangkup pinggang ramping Aisyah, menarik tubuh istrinya rapat-rapat ke dadanya. Ammar membalas ciuman itu dengan sangat brutal dan mendominasi! Ia memagut, melumat, dan menyesap bibir Aisyah dengan kehangatan yang membakar, menuntut kepasrahan total dari wanita di pangkuannya.

Aisyah melenguh pasrah di dalam ciuman panas itu. Tangannya bergerak turun ke leher tegap Ammar, lalu menggeser kecupannya turun menyusuri rahang tegas suaminya hingga tiba di leher jenjang Ammar.

Dengan dorongan cinta dan gairah yang membara, Aisyah menyesap dan memberi gigitan kecil yang manis di ceruk leher Ammar, meninggalkan tanda merah keunguan (hickey) yang nyata di sana.

"Hsshh... Aisyah..."

Sebuah desahan parau dan serak lolos begitu saja dari bibir Ammar. Sentuhan Aisyah di lehernya mengirimkan sengatan listrik yang membakar seluruh saraf tubuhnya.

Tak berhenti di situ, jemari Aisyah yang gemetar mulai memegang bagian bawah kaos abu-abu Ammar. Dengan gerakan pasti, Aisyah menarik kaos itu ke atas, melewati kepala Ammar, dan melemparkannya ke sembarang arah.

Kini, terhampar jelas di depan mata Aisyah dada bidang dan perut berotot tegap (eight-pack) milik suaminya pemandangan kokoh yang pernah dilihatnya sekilas di hotel waktu lalu, dan kini akhirnya bisa ia sentuh dan belai secara langsung dengan jemarinya.

Ammar sudah benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya. Hasrat cinta dan gairah suami-istri yang membara telah menguasai jiwanya sepenuhnya.

Dengan satu gerakan tegap dan bertenaga, Ammar membopong tubuh Aisyah ke dalam pelukannya, tanpa memutuskan ciuman maut yang terus menautkan bibir mereka. Ammar melangkah cepat menuju kasur king size, lalu merebahkan tubuh Aisyah dengan lembut di atas ranjang empuk.

Ammar menyusul di atasnya, menindih tubuh Aisyah dengan tatapan mata cokelat yang membara penuh gairah dan rasa cinta yang tak lagi tertahankan. Ammar menunduk, mencium leher jenjang Aisyah dengan lembut, menyerap aroma tubuh istrinya hingga Aisyah mendesah pelan seraya meremas kasur.

Di puncak perpaduan rasa dan gairah yang suci itu, Ammar menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap mata Aisyah yang sayu dan penuh kepasrahan. Ammar mendekatkan bibirnya ke telinga Aisyah, berbisik parau namun sangat syahdu.

Ammar menangkup kedua tangan Aisyah, lalu membaca doa sebelum berhubungan suami-istri dengan khusyuk:

“Bismillah, Allahumma jannibnas-syaithana wa jannibis-syaithana maa razaqtana.”

Aisyah mengaminkan doa itu di dalam hatinya dengan mata berkaca-kaca penuh rasa haru.

Usai memanjatkan doa, Ammar menatap istrinya dengan kasih sayang yang mendalam. Jemari tegap Ammar perlahan menyusup ke tali lingerie merah maroon milik Aisyah, melonggarkannya, dan menanggalkannya dengan lembut hingga batas-batas halangan di antara mereka sirna sepenuhnya. Ammar kemudian dengan cepat melepaskan pakaiannya sendiri.

Malam yang dingin dan penuh rintik hujan itu menjadi saksi bisu menyatunya dua insan dalam ikatan pernikahan yang suci dan penuh cinta. Di atas ranjang itu, segala bentuk keraguan, kesalahpahaman, dan rasa minder melebur menjadi satu dalam perpaduan asmara yang membara, brutal, dan penuh kehangatan, mengunci hati Ammar dan Aisyah untuk selamanya.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!