Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 : uji nyali dan sepotong pedang bagus
Kaisar Yan tidak langsung menjawab ucapan Ara tentang casting atau bahasa-bahasa asing lainnya. Pria itu justru melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Ara bisa mencium aroma kayu cendana campuran maskulin yang menguar dari tubuh sang Kaisar. Atmosfer di dalam kamar kembali mendingin dalam sekejap.
Sreeet!
Tanpa ada aba-aba, tangan kanan Kaisar Yan bergerak secepat kilat. Gerakannya hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Detik berikutnya, sebuah pedang tipis berhias giok sudah keluar sepenuhnya dari sarungnya. Mata pedang yang berkilau perak itu berhenti tepat satu milimeter di depan batang hidung mancung Ara.
Yuan-er yang mengira badai sudah berlalu, langsung memekik histeris sebelum akhirnya jatuh pingsan di lantai marmer karena tidak kuat menahan syok jantung.
Ara sendiri hanya berkedip sekali. Dia tidak mundur selangkah pun. Jangankan menjerit ketakutan atau bersujud memohon ampunan, sepasang mata bulatnya justru berbinar terang saat menatap bilah pedang di depan wajahnya.
Sebagai mantan cewek tomboi yang hobi mengoleksi rantai gir, sangkur, dan senjata tajam buat tawuran, melihat pedang sekeren ini jelas membuatnya terpukau.
"Wih..." gumam Ara, matanya bergerak mengikuti lekukan pola naga yang terukir halus di sepanjang bilah besi pedang tersebut. "Gila, ini pedang asli besi pilihan, kan? Tempan nya rapi banget, gak ada cacatnya pisan. Keseimbangannya juga pasti dapet banget nih pas diayun."
Kaisar Yan yang tadinya sengaja ingin menguji nyali wanita ini agar dia mengaku kalah, justru dibuat melongo secara internal. Alis tebal sang Kaisar bertaut heran.
"Kau... tidak takut?"
"Takut ngapain?" Ara mendongak, menatap mata elang Kaisar Yan dengan santai. Dia bahkan dengan berani mengangkat tangan kanannya, lalu menggunakan ujung jari telunjuknya yang lentik untuk menyentil pelan sisi bilah pedang tersebut.
Tinggg!
Suara berdenging nyaring yang bersih terdengar di dalam ruangan, menandakan bahwa baja pedang itu memiliki kualitas nomor satu di kekaisaran.
"Pedang bagus begini kalau cuma dipake buat ngancem cewek lemah di dalem kamar mah namanya mubazir, Mas Bro," cibir Ara ceplas-ceplos sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Harusnya dipake di medan perang, buat menebas musuh yang beneran ngajak ribut. Sini, coba gua pinjem bentar, mau liat beratnya pas apa kagak."
Ara menjulurkan tangannya, berniat merebut gagang pedang tersebut dari tangan Kaisar Yan.
Melihat kenekatan Permaisurinya yang sudah di luar nalar sehat manusia biasa, Kaisar Yan dengan cepat memutar pergelangan tangannya dan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya dengan bunyi klik yang tegas.
Pria itu menatap Ara dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa jengkel, heran, tapi juga ketertarikan yang sangat besar.
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Xia Ruo," desis Kaisar Yan, meskipun kali ini suaranya tidak sedingin biasanya.
"Udah gua bilang nama gua..." Ara hampir saja keceplosan menyebut nama aslinya, namun dia buru-buru berdeham keras. "Ehem! Maksud gua, gua sehat lahir batin. Yang kagak sehat tuh orang-orang di istana lu. Dah ah, gua mau bangunin si vitamin dulu. Kasihan pingsan mulu dari tadi kayak kurang darah."
Ara melengos begitu saja melewati tubuh tegap Kaisar Yan untuk menghampiri Yuan-er yang tergeletak di lantai. Kaisar Yan hanya berdiri diam di tempatnya, memandangi punggung wanita barbar itu dengan senyuman miring yang perlahan muncul kembali di wajah tegasnya.
Wanita ini... benar-benar menarik.
Sambil berjongkok dan menepuk-nepuk pipi Yuan-er agar pelayannya itu sadar, Ara diam-diam melirik jubah hitam Kaisar Yan yang mulai menjauh keluar dari paviliun. Dia menyeringai tipis, merasa tantangan hidup di zaman purba ini ternyata tidak membosankan yang dia kira.
"Oke, Mas Bro, lu boleh punya pedang keren. Tapi liat aja nanti, begitu badan triplek basah ini udah gua latih jadi bertenaga, lu yang bakal gua bikin sujud ampun-ampun di depan gua!"
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣