Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Damai 28.
Jarum jam dinding di koridor lantai dua sudah melewati angka sebelas malam. Rumah terasa begitu lengang, menyisakan suara dengung halus dari pendingin ruangan dan deru angin yang sesekali mengetuk kaca jendela. Langit berdiri di depan sebuah pintu kayu berwarna putih gading. Tangannya menggantung di udara, ragu antara mengetuk atau berbalik arah ke kamarnya sendiri.
Sejak sore tadi, setelah kepulangannya yang memicu badai senyap di rumah ini, Ulfa mengurung diri. Tidak ada suara, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam sana.
Langit mengembuskan napas panjang. Gengsi nya runtuh demi melihat sekelebat bayangan Ulfa yang tampak begitu terluka beberapa jam lalu. Ia memberanikan diri mengetuk pintu itu dua kali, pelan dan berhati-hati.
"Ulfa? Lo udah tidur?" Panggilnya setengah berbisik.
Tidak ada jawaban. Langit mendekatkan telinganya ke daun pintu. Samar-samar, ia mendengar bunyi gesekan kain—tanda bahwa orang di dalam sana sebenarnya terjaga.
"Gue tahu lo belum tidur. Gue... mau ngomong sebentar," pancing Langit lagi. Namun, keheningan kembali menelan koridor itu. Ulfa keras kepala, dan Langit tahu betul bagaimana cara menghadapi batu jika ia tidak ingin tangannya hancur.
Menghadapi Ulfa dengan amarah hanya akan membuat gadis itu semakin menutup diri.
Langit mundur dua langkah. Alih-alih menyerah, otaknya berputar mencari cara. Ia melirik jam tangan. Tengah malam. Perutnya sendiri mulai berbunyi, dan ia tebak, Ulfa yang melewatkan makan malam pasti juga merasakan lapar yang sama, terlepas dari seberapa besar rasa kesal yang menyumbat dadanya.
Cowok itu melangkah turun ke lantai bawah menuju dapur. Ia membuka kabinet, mengambil dua bungkus mi instan rasa soto, beberapa butir telur, dan potongan cabai rawit. Gerakannya sengaja dibuat sedikit berisik. Bunyi lentingan panci yang beradu dengan kompor gas sengaja ia keraskan, berharap suaranya sampai ke lantai dua dan memicu rasa penasaran gadis itu.
Asap tipis mulai mengepul dari air yang mendidih. Langit memasukkan mie instan tersebut, mengaduknya perlahan dengan garpu. Wangi gurih khas bumbu mi instan segera memenuhi seluruh penjuru dapur, menciptakan atmosfer hangat yang kontras dengan dinginnya hubungan mereka saat ini.
Saat ia sedang menuangkan mie yang sudah matang ke dalam satu mangkuk besar, sebuah langkah kaki yang sangat halus terdengar mendekat.
Langit tidak menoleh, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Ulfa berdiri di ambang pintu dapur dengan piyama kedodoran bergambar beruang sedang nyengir. Rambutnya diikat asal-asalan, meninggalkan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang pucat. Matanya agak sembap, namun tatapannya tetap tajam tertuju pada mangkuk di tangan Langit.
"Bau minyaknya mengganggu," ketus Ulfa, mencari alasan paling logis untuk membenarkan kehadirannya di dapur pada jam satu malam.
"Gue tahu lo lapar. Sini," ajak Langit santai. Ia tidak menuju meja makan. Alih-alih duduk di kursi yang formal dan kaku, Langit justru meletakkan mangkuk panas itu di atas lantai marmer dapur yang dingin, tepat di samping konter. Ia lalu duduk bersila di sana, mendongak menatap Ulfa. "Gak usah jaim. Di sini gak ada Papa sama Mama. Cuma ada mi instan panas dan dua orang yang sama-sama belum makan."
Ulfa bimbang. Perutnya berkhianat dengan mengeluarkan bunyi keroncongan yang cukup jelas di dapur yang sepi itu. Dengan helaan napas pasrah, ia melangkah mendekat. Ia duduk bersila di hadapan Langit, menyisakan jarak sekitar satu meter di antara mereka.
Lantai marmer yang dingin terasa kontras dengan kehangatan mangkuk mi di tengah-tengah mereka.
Langit menyodorkan sebuah garpu ke arah Ulfa. "Gue gak pakai racun. Pegang."
Ulfa menerima garpu itu tanpa suara. Untuk beberapa menit pertama, hanya ada suara dentingan garpu yang beradu dengan mangkuk. Mereka makan bergantian dari wadah yang sama. Rasa hangat dari kuah mi perlahan mulai menjalar, meredakan ketegangan fisik yang sejak sore tadi mengikat pundak mereka.
Interaksi tanpa kata itu terasa begitu nyata. Langit sengaja menyisakan bagian telur yang setengah matang untuk Ulfa, kebiasaan kecil yang sudah ia hafal sejak mereka masih sering bermain bersama di halaman belakang. Ulfa menyadarinya, dan kekakuannya perlahan mengendur.
"Gue gak suka," ucap Ulfa tiba-tiba, memecah keheningan setelah ia menelan kunyahan terakhirnya. Suaranya rendah, tidak ada nada melengking atau emosi menggebu-gebu. Ia berbicara tanpa urat leher yang tegang, murni menyuarakan apa yang mengganjal di hatinya.
Langit meletakkan garpunya di tepi mangkuk. Ia menatap Ulfa lekat-lekat, siap mendengarkan. "Gak suka apa?"
"Gara-gara lo, gue jadi kelihatan kayak orang tolol malam ini," kata Ulfa, matanya menatap lurus ke dalam kuah mi yang mulai mendingin. "Gue gak suka cara Zara mencium pipi lo pas dia turun dari mobil sore tadi. Dan lo... lo cuma diam kayak patung yang menikmati itu."
Langit tertegun. Ia bisa melihat kilatan luka di mata Ulfa, bukan sekadar cemburu buta ala remaja umumnya, melainkan rasa tidak dihargai yang mendalam.
Kebungkaman Ulfa sejak sore tadi ternyata adalah cara gadis itu meredam rasa sakitnya agar tidak meledak menjadi makian yang tidak logis.
"Ulfa, dengerin gue," Langit memajukan tubuhnya, suaranya melembut, mencoba membangun kembali jembatan kepercayaan yang sempat retak. "Gue gak ada maksud buat bikin lo ngerasa kayak gitu."
"Tapi lo membiarkannya, Langit!" bentak Ulfa, tapi nadanya masih tetap datar namun sarat akan penekanan. "Lo selalu punya kendali atas diri lo sendiri. Kalau lo gak mau, lo bisa menghindar. Tapi lo milih diam. Itu yang bikin gue mikir kalau selama ini... apa yang kita punya di rumah ini gak ada artinya buat lo di luar sana."
Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu ia harus jujur, sejujur-jujurnya, tanpa ada yang ditutupi karena atmosfer damai di lantai dapur ini terlalu berharga untuk dirusak oleh kebohongan standar.
"Kejadian itu benar-benar di luar ekspektasi gue, Ul," jawab Langit, menatap langsung ke manik mata Ulfa dengan kesungguhan yang ia punya. "Gue sumpah, gue gak tahu kalau Zara bakal nekat cium gue sore tadi. Sepanjang jalan di mobil...Gue minta maaf, tapi Pas dia mau turun, dia bilang makasih, dan sebelum gue sempat ngerespons apa-apa, dia langsung condongin badan. Gue syok. Otak gue nge-stuck, makanya gue kelihatan diam aja."
Ulfa terdiam beberapa saat, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut cowok di hadapannya. Ia mencari kebohongan di mata Langit, namun yang ia temukan hanyalah kepanikan dan kejujuran yang telanjang.
Namun, bagi remaja perempuan yang hatinya sudah terlanjur tergores, alasan "di luar ekspektasi" dan "tidak tahu" terasa begitu klise dan tidak cukup untuk menyembuhkan ego yang terluka.
Di luar ekspektasi berarti Langit tidak punya benteng yang cukup kuat untuk menjaga perasaan Yang ada di rumah ini.
Ulfa meletakkan garpunya di atas lantai dengan bunyi ting yang cukup nyaring. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang membuat Langit mendadak merinding.
"Gak tahu, ya?" gumam Ulfa pelan. Ia perlahan bangkit berdiri, merapikan piyamanya yang sedikit kusut akibat duduk bersila terlalu lama. "Klasik banget jawaban lo, Lang."
Langit ikut berdiri dengan tergesa-gesa. "Ul, gue serius. Gue gak bohong!"
"Gue tahu lo gak bohong," Ulfa menatap Langit untuk terakhir kalinya malam itu. "Tapi fakta kalau lo gak bisa memprediksi atau menolak hal kayak gitu dari cewek lain, bikin gue sadar satu hal. Lo emang belum siap buat jaga perasaan siapa-siapa."
Tanpa menunggu balasan, Ulfa berbalik. Langkah kakinya yang tadinya ragu kini terdengar tegas menjauh dari dapur, meninggalkan meja makan dan area memasak begitu saja. Suara langkahnya terdengar menaiki tangga satu demi satu, hingga akhirnya terdengar bunyi pintu kamar yang tertutup rapat dan dikunci dari dalam.
Langit berdiri mematung di tengah dapur yang mendadak kembali dingin. Mangkuk mi instan yang tersisa setengah di lantai menjadi saksi bisu. Upaya perdamaian tengah malam yang sempat terasa begitu dekat dan hangat, kini menguap tak berbekas, menyisakan kegagalan yang terasa jauh lebih menyesakkan dada.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳