NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Gila Serena

Pagi hari yang cerah menyusup masuk melalui celah tirai kamar utama mansion Ziegler. Suasana yang biasanya tenang seketika berubah menjadi medan perang verbal antara pasangan suami istri yang baru saja melewati malam mereka dengan damai atau setidaknya, damai sebelum Serena membuka mulutnya saat sarapan pagi.

​Di meja makan panjang berlapis marmer hitam, berbagai hidangan lezat tersaji rapi. Namun, selera makan Sergio mendadak hilang seketika mendengar permintaan tidak masuk akal yang baru saja dilontarkan oleh istrinya.

​Serena berdiri di samping kursi makannya, menatap suaminya dengan mata berbinar-binar penuh harap, sementara tangannya menangkup di depan dada.

​"Tidak, Serena! Sudah berapa kali kukatakan, kamu tidak boleh pergi ke mana pun dari mansion ini!" ucap Sergio dengan suara baritonnya yang dingin, tegas, dan mutlak. Pria itu meletakkan garpu dan pisau makannya dengan gerakan pelan namun mengintimidasi.

"Kamu sudah kubeli, dan statusmu adalah tetap berada di bawah pengawasanku di sini!"

​Mendengar kalimat 'kamu sudah kubeli' yang diucapkan begitu enteng tanpa filter, dada Serena mendadak sesak. Meskipun ia tahu suaminya itu adalah seorang bos mafia yang arogan, tetap saja mendengarnya langsung terasa menusuk hatinya.

​Wajah ceria Serena seketika berubah cemberut. "Ih, Max! Jangan ngomong begitu dong! Emangnya aku barang obralan apa?!" protes Serena kesal, melipat kedua tangannya di dada.

"Aku bukan barang belanjaan pasar malam yang bisa dibeli seenaknya lalu dikurung di sangkar emas! Aku cuma minta izin pulang sebentar ke rumah ayahku!"

​"Alasanmu tetap sama, dan jawabanku tetap tidak, Serena," balas Sergio datar, menatap istrinya tajam tanpa sedikit pun rasa peduli jika ucapannya barusan melukai perasaan sang istri.

"Rumah itu bukan tempat yang aman untukmu, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana."

​Serena tidak mau menyerah begitu saja. Ia melangkah mendekati kursi Sergio, lalu mencondongkan tubuhnya, memasang wajah melas paling manis yang ia miliki.

​"Tapi Max... kumohon, sebentar saja!" mohon Serena merengek manja, mengerjap-ngerjapkan matanya penuh harap.

"Aku ingin sekali menakuti mereka secara langsung! Coba bayangkan betapa pucat dan lucunya wajah ayah dan ibu tiriku nanti kalau melihat aku datang dengan kemampuan menembak dan memanah yang sudah hebat? Ayolah, pliss izinkan aku pulang!" bujuknya dengan nada merajuk.

​Sergio memijat pelipisnya perlahan, merasa pusing menghadapi jalan pikiran istrinya yang sangat tidak bisa ditebak.

"Kamu hanya ingin membalas perbuatan mereka kan, Serena? Bukan karena rindu pada keluarga toxic itu, kan?" selidik Sergio tajam.

​"Tentu saja mau balas dendam! Kenapa emangnya?" jawab Serena polos tanpa ragu.

​Mendengar jawaban jujur itu, sudut bibir Sergio tertarik membentuk sebuah senyuman miring yang berbahaya.

"Kalau begitu, situasinya mudah," ujar Sergio santai.

"Aku akan memerintahkan Zayden untuk menculik mereka bertiga lalu membawanya ke ruang bawah tanah mansion ini. Kamu bebas menyiksa, memarahi, atau menakuti mereka sepuas hatimu di sana."

​Mendengar ide psikopat yang dilontarkan suaminya dengan sangat tenang itu, mata Serena membelalak lebar. Ia langsung menggelengkan kepalanya panik.

​"Ih, tidak mau! Bukan begitu caranya!" bantah Serena histeris, menolak mentah-mentah usulan suaminya.

"Kalau disiksa di ruang bawah tanah gelap gulita milik mafia sepertimu, itu namanya pembunuhan berencana! Lagian, sensasinya beda, Max!"

​"Lalu, apa bedanya?" tanya Sergio mulai kehilangan kesabaran, sebelah alisnya terangkat tinggi.

​"Beda banget!" seru Serena gemas menjelaskan.

"Kalau mereka dibawa ke sini, mereka tahu aku dilindungi oleh bos mafia sehebat kamu. Jadi mereka pasti mikir aku cuma ngandelin kekuatan suami! Aku mau datang langsung ke rumah mereka sendiri, berdiri tegak di depan muka mereka, dan nunjukkin kalau tanpa bantuanmu pun aku sekarang jauh lebih kuat dan keren!" argumen Serena menggebu-gebu.

​Sergio mendengus kasar. "Tetap tidak, Serena. Jawabanku mutlak."

​"Tapi aku maunya pulang, Max! Hanya sebentar kok... Maksudku, mungkin sekitar satu bulan saja aku tinggal di sana," pinta Serena tanpa dosa, mengacungkan satu jari telunjuknya.

​Suasana di ruang makan itu mendadak hening seketika. Suhu ruangan seolah terjun bebas.

​"Satu... bulan?!" ulang Sergio pelan dengan nada suara yang sangat berbahaya. Pria itu perlahan berdiri dari kursinya, menatap sang istri dengan sorot mata biru terang yang menyala penuh kemarahan tertahan.

"Kamu... kamu benar-benar sedang mencoba membuatku marah ya, Serena?!" teriak Sergio tertahan, rahangnya mengeras sempurna.

​Di sudut ruangan dekat pintu masuk ruang makan, Zayden hanya bisa berdiri diam terpaku. Zayden melipat kedua tangannya di depan dada, menyaksikan perseteruan panas antara atasannya dan sang nyonya muda dengan ekspresi tenang tanpa suara. Di balik wajah ramah Zayden yang tampak seperti pria manis penurut, aslinya ia adalah algojo paling kejam dan tidak berperasaan di organisasi. Namun, melihat tingkah absurd Serena yang berani menantang amukan singa lapar seperti Sergio, Zayden dalam hati mengakui bahwa nyonya muda mereka ini memang memiliki mental baja yang luar biasa.

​"Kenapa jadi marah-marah sih?!" protes Serena tidak mau kalah, melangkah mundur selangkah saat melihat Sergio mulai mendekatinya dengan aura dominan yang mencekam.

"Satu bulan itu sebentar, tahu! Biar aku bisa menikmati proses balas dendamku secara estetik dan perlahan-lahan pada Ivanna dan ibu tirinya yang matre itu!"

​"Sebentar, kamu bilang?!" suara Sergio meninggi, mencengkeram tepi meja makan hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kamu meminta izin untuk pergi meninggalkan ku selama satu bulan penuh hanya demi mengerjai keluarga tidak tahu diuntung itu?! Yang benar saja, Serena!"

​"Iya! Kenapa memangnya? Kangen ya kalau aku nggak ada?!" cecar Serena sengit, sengaja memancing emosi suaminya semakin menjadi-jadi karena merasa gemas dilarang terus.

​Zayden yang menonton di sudut ruangan hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "Ya ampun, Nyonya muda benar-benar mencari mati dengan sengaja mengompori Tuan Sergio seperti itu," batin Zayden meringis ngeri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

​Sergio menarik napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak menerkam istrinya detik itu juga. Pria itu merangsek maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Serena terpojok di tepi meja makan.

​"Dengar baik-baik, Serena Amaryllis," desis Sergio tepat di depan wajah istrinya, suaranya terdengar sangat rendah dan mengancam.

"Jangan pernah bermimpi bisa keluar dari mansion ini, apalagi tinggal di luar selama satu bulan! Jangankan satu bulan, satu hari pun aku tidak akan membiarkanmu jauh dari pandanganku!"

​"Kamu egois banget, Sergio!" teriak Serena kesal.

"Kamu cuma mau menang sendiri! Kamu pikir aku ini apa, boneka pajangan yang cuma bisa didiamkan di kamar terus diajak bikin anak kalau malam?! Aku punya hak buat nentuin mau ke mana!"

​Mendengar kata-kata protes yang meluncur bebas dari bibir Serena, Zayden langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, pura-pura tidak mendengar perdebatan rumah tangga yang semakin vulgar dan panas tersebut.

​Sergio menatap tajam manik mata cokelat istrinya. Cengkeraman tangan pria itu di tepi meja semakin erat.

"Ya, kamu adalah istriku, dan di dunia ini, aturannya adalah apa yang kukatakan adalah mutlak!" tegas Sergio tanpa kompromi.

"Kalau kamu terus membantah dan membahas soal pulang ke rumah keluargamu itu, hukuman tiga puluh ronde atau lima puluh ronde yang kita bicarakan semalam akan kujadikan kenyataan hari ini juga, Serena!"

​Ancaman telak berbau vulgar itu sukses membuat nyali Serena ciut seketika. Wajahnya merona merah padam, antara malu, kesal, dan takut tercampur jadi satu.

​"Mesum! Penjahat! Diktator!" cibir Serena pelan sambil mengerucutkan bibirnya, membuang muka karena kalah telak dan tidak tahu lagi harus membalas dengan argumen apa.

​Sergio mendengus pelan, meraih dagu Serena agar kembali menghadap ke arahnya. "Sudah selesai dramanya, hm? Sekarang duduk manis dan habiskan sarapanmu, atau aku benar-benar akan menyeretmu kembali ke kamar sekarang juga," ancam Sergio mutlak, meski sudut matanya melirik sekilas ke arah Zayden yang masih berdiri mematung di dekat pintu.

​Zayden yang merasa terpanggil langsung membungkuk hormat. "Ada instruksi selanjutnya, Tuan?" tanya Zayden dengan suara tenang dan ramah, meski sorot matanya menyembunyikan kekejaman yang mematikan.

​"Awasi dia ketat, Zayden. Pastikan Nyonya mudamu ini tidak mencoba kabur atau merencanakan hal aneh lewat jendela kamar," perintah Sergio tegas kepada orang kepercayaannya itu.

​"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan dengan baik," jawab Zayden patuh sambil tersenyum ramah kepada Serena.

​Serena mendengus sebal, melirik tajam ke arah Zayden lalu kembali menatap Sergio dengan tatapan penuh dendam kesumat.

"Awas saja ya, suatu hari nanti aku pasti bakal kabur dan bikin keluargaku sujud-sujud di depanku!" gerutunya pelan, kembali menyuap makanannya dengan perasaan dongkol yang luar biasa, sementara Sergio hanya bisa menggelengkan kepala pelan, menghadapi tingkah ajaib istri mudanya yang tidak pernah ada habisnya.

Bersambung...

1
beybi T.Halim
diih serena gak bermain cantik,harusnya hr pertama.kasi makanan pemikat hati,selanjutnya setelah lengah baru dikerjai..,is.issss klo newbi memang perlu diajari jadi bandit kayanya😁😁
Susi Nugroho
Lanjut
Mia Camelia
julia ibu berhati jahat, anak lgi sakit masih aja marah2
Mia Camelia
update nya dikit banget thor🤣🤣🤣
lagi dong🤭🤭🤭
Dessy Rinda
lgian serena nantangin max,siap2 hak bs jln🤭😅
Juna Dong
luar biasa
kurniaasri99
suka banget sama alur ceritanya kak. apalagi tokoh utama wanita
It's me Ri🥕: Terimakasih 🙏🥰
total 1 replies
Mia Camelia
sergio mah ngancem mulu🤭🤭🤭
Mia Camelia
chapter nya kurang banyak thor🤭🤭🤭🤭
It's me Ri🥕: Padahal author up 4 yang terupdate 1, baru di cek🙏
total 1 replies
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!