perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
foto
aji tak bisa memejamkan matanya, ingin sekali dia menanyakan perihal foto itu
"lan... " panggil aji "kamu sudah tidur" tak ada sahutan dari wulan
malam kian larut
"awww... mass... " Tiba-tiba wulan berteriak, aji terbangun
"kenapa? kamu kenapa?" aji panik
"ketuban ku pecah... " ujar wulan menunjuk cairan yang keluar dari jalan lahirnya
aji panik "trus gimana?"
"panggil bik asih... cepat! "
aji memanggil bik asih yang tengah tertidur pulas
"bik.. bik... bangun bik"
"ada apa mas?" mata bik asih belum terbuka sempurna
"wulan anu... itu, ketubannya bik. banjir"
bik asih bergegas ke kamar wulan, mendapati wulan berdiri di sudut ranjangnya
"jangan berdiri non... duduk! " perintah bik asih
"mas aji, tolong ambil barang-barang di tas atas lemari, cepat bawa ke rumah sakit"
aji yang masih shock menurut perintah pembantunya itu. tak berapa lama kemudian wulan di bawa ke rumah sakit
"ma.... wulan mau melahirkan ma" aji menghubungi mamanya di tengah malam
"melahirkan? dimana?"
aji memberikan alamat rumah sakit itu. dengan wajah panik aji mondar mandir di depan kamar bersalin
"bagaimana wulan? sudah melahirkan?" ujar bu Lina
"belum ma... masih kontraksi katanya"
"trus bu yuni sudah kamu hubungi?"
"sudah ma, mungkin sebentar lagi sampai"
Bu Lina, pak izam, teguh dan Monik mendatangi rumah sakit itu
"kamu ndak ikut masuk ji?" tanya Monik
"ndak mbak..."
"mas, biar aku yang nemani wulan ya"
Monik hilang di balik pintu kamar bersalin itu
"ma... Kira-kira berapa lama ya" ujar aji
"ndak pasti ji, kadang cepat kadang lama. kalau anak pertama seperti ini biasanya lama"
"ngopi yuk mas, pusing kepalaku" ajak aji
aji dan teguh pergi ke cafetaria rumah sakit ibu dan anak tersebut
"wah jadi bapak nih"
"apaan sih mas, aku baru aja tidur, eh wulan sudah teriak seperti itu, pusing kepalaku mas"
"ya namanya juga panik... ji... gimana? aku belum tanya kamu sejak kamu menikah. berapa ronde?" goda teguh
"ronde apanya? megang aja ndak.. mau beronde-ronde dari mana"
"apa? kamu ndak... itu... "
"iya... ndak"
"wah kelainan kamu ji, barang enak seperti itu kamu sia-siakan"
"ndak nafsu" ucap aji sambil menyeruput kopi panas di cangkir.
Ponsel aji berdering
"ya ma.. kenapa?"
"sini cepat, anakmu sudah lahir" tukas bu Lina
aji dan teguh meninggalkan kopi yang masih dia minum sedikit
"anaknya cowok" ujar Monik "selamat ya ji"
Aji masuk ke kamar pulih sadar, wulan melahirkan secara normal
"anaknya di azani ya pak" pinta salah satu perawat
"anaknya ganteng... kamu kasih nama siapa mas?" ujar wulan
"firman adriansyah"
"firman adriansyah?" ucap wulan bingung dengan nama yang di berikan aji "kenapa harus nama itu"
"yang terfikir saat ini firman adriansyah"
"ya sudah, aku Nurut saja" tukas wulan
******
Hari itu menjadi hari yang membahagiakan untuk dua keluarga aji dan wulan, kelahiran cucu pertama.
Kedua orang tua wulan tak kalah senang mendapatkan cucu laki-laki, tapi yang di inginkan keluarga pak izam adalah cucu perempuan
"laki perempuan sama aja bu... yang penting anaknya sehat" ucap bu Lina menghibur diri sendiri
Setelah beberapa hari di rumah
"lan, aku mau bicara" ujar aji
"bicara aja mas, kenapa?"
"tolong kamu jelaskan maksud dari foto ini" aji menyodorkan ponsel miliknya, seketika wajah wulan berubah memerah
"apa maksud foto itu? ada hubungan apa kamu sama Adrian?"
"anu.. anu mas" ujar wulan gelagapan "waktu itu aku jemput teman ku di stasiun, waktu aku nunggu ada Adrian, mau pergi ndak tau kemana gitu. aku lupa"
"oke... trus kalau foto ini?" aji menyodorkan lagi satu foto yang membuat wulan semakin gelagapan
"ini.. ini Adrian megang perut ku mas"
"iya aku tau, aku ndak buta" aji naik pitam
"aku bisa jelaskan mas, tolong jangan marah"
"aku ndak marah lan, kalau kamu ndak ada hubungan apa-apa dengan dia, apa bisa sampai mengelus perutmu seperti ini? ya... seperti sepasang suami istri yang sedang ngantar suaminya berangkat entah kemana"
Wulan terdiam
"foto seperti itu kamu permasalahan? sedang aku yang tak pernah kau sentuh sama sekali sejak menikah sampai sekarang"
"jelas aku mempermasalahkan foto-foto itu, dari awal aku sudah ragu kalau anak itu bukan anakku, tapi anaknya Adrian" bentak aji
"cukup ya mas.. jangan keterlaluan kamu"
"berapa kali kamu tidur dengan dia? jawab!!!!"
"plakkkkkk..." wulan menampar wajah aji dengan kuat
"tampar.. tampar aku" aji menyodorkan wajahnya ke arah wulan
"jangan keterlaluan kamu mas"
"suatu saat pasti akan terbongkar, lihat saja nanti" ujar aji pergi dari hadapan wulan
wulan menangis sejadi-jadinya, bik asih mendengarkan pertengkaran itu, tak berani bicara sedikitpun. bik asih memegang kartu As milik wulan, rahasia besar wulan ada di tangan bik asih.
aji pergi dari rumahnya, pergi entah kemana.
Wulan berkali-kali mencoba menghubungi aji tapi tidak ada jawaban. dari dalam kamar wulan berteriak teriak seperti orang kesurupan
"non.. sadar non..."
"pergi bik... pergi... bawa anak ini keluar!!!!" marah wulan
Bik asih membawa firman keluar dari kamarnya
"siapa? siapa yang mengirim foto-foto itu... siapaaaa... " marah wulan semakin memuncak, mengacak-ngacak kamarnya
******
Malam itu aji tak pulang ke rumahnya.
Ponsel aji berdering
"mas, sibuk ta?" tanya Mela
"endak Mel.. kenapa?"
"kamu kenapa mas? suaramu parau"
"ndak pa-pa Mel, wulan sudah melahirkan. laki-laki"
"selamat ya mas... pasti ganteng seperti kamu"
"besok aku pulang, besok jadwal kamu kontrol kan? "
"jangan fikirkan aku mas, tungguin dulu mbak wulan, dia habis melahirkan"
"sudah ada bik asih di sini"
"kalau ada masalah, aku siap mendengarkan mas"
"terimakasih, jaga dirimu dan anakmu baik-baik, jangan telat makan"
"iya mas"
aji menyudahi pembicaraan mereka.
malam itu aji tidur di hotel tak berbintang, dia hanya ingin tidur biar besok bisa segar untuk kembali ke malang.
Sebelum subuh aji kembali ke rumahnya, mengemasi barang-barangnya. bik asik sudah sibuk membersihkan rumah
"bik... wulan masih tidur?"
"iya mas"
Aji masuk kedalam kamar dengan pelan-pelan takut membangunkan wulan. aji mengambil gunting, dengan hati-hati memotong rambut firman. setelah mengambil barang miliknya, aji pergi dari rumah itu
"bik, kalau wulan tanya, aku sudah kembali ke malang"
"baik mas. Hati-hati dijalan"
aji melajukan mobilnya, meningalkan rumah itu.
******
"bik... mas aji belum pulang?" tanya wulan
"sudah non... tadi pagi langsung kembali ke malang"
wulan semakin kacau, dia takut aji akan benar-benar pergi meninggalkannya. wulan beberapa kali menghubungi aji namun tak ada jawaban