Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~10
Di saat hati Zia sedang berbunga-bunga akibat pertemuan tanpa sengaja dengan Mas Charis, ia kembali ke kamar dengan senyum yang masih merekah lebar.
Beruntung, di kamar hanya ada Salsa yang sedang duduk selonjoran layaknya bos besar sambil melipat baju.
"Assalamu'alaikum!" sapa Zia dengan raut wajah semringah yang sama sekali tidak bisa berbohong.
"Waalaikumsalam. Wah, mencurigakan nih. Kayanya ada yang aneh dengan spek wajah seorang Zia yang baru pulang ngajar," selidik Salsa keheranan, matanya menyipit penuh curiga.
"Apa sih? Enggak apa-apa, kok," elak Zia.
"Kenapa, nih? Cerita sini, jangan dipendam sendiri, nanti jadi jerawat!" Salsa menepuk karpet di sebelahnya, mempersilakan Zia duduk sambil menggeser tumpukan baju yang tingginya sudah sangat tinggi.
"Ada apa? Buruan cerita!" desak Salsa, beralih mode menjadi detektif interogasi.
Zia yang sejak tadi senyum-senyum sendiri, akhirnya mencoba menahan tawanya demi menjawab pertanyaan sang sahabat.
"Aku habis ketemu Mas Charis! Enggak sengaja tadi pas pulang ngajar," bisik Zia. Ia langsung menyambar boneka beruang kesayangannya, memeluknya erat-erat, dan mulai mengoceh heboh layaknya remaja yang baru pertama kali kenal cinta.
"Cieee! Pantesan kelakuannya minus begini, ternyata udah ketemu sumber asupan kebahagiaan toh," goda Salsa menyikut lengan Zia.
Zia hanya menghela napas panjang, mendadak jadi puitis. "Aku enggak sabar deh menunggu momen indah itu datang..."
Sambil terus mendekap erat si beruang malang, Zia merebahkan tubuhnya di karpet hijau yang sudah terbentang. Matanya menatap langit-langit kamar, membayangkan masa depan yang indahnya mengalahkan pemandangan di ujung dunia.
"Iya, aku juga ikut senang. Semoga semua jalannya dipermudah, ya," doa Salsa tulus. Sebagai sahabat sejati, ia berada di garda terdepan untuk mendukung perjodohan ini.
Namun, mode romantis Salsa tidak bertahan lama. Ia langsung melemparkan sebuah kaus tepat ke wajah Zia.
"Udah, udah! Jangan kelamaan halunya, nanti keburu kesamber jin. Mending sekarang bantu aku lipat baju-baju ini, mumpung masih pagi. Tumpukan yang ini punya kamu semua, ya, jangan amnesia!" cetus Salsa menunjuk segunung pakaian milik Zia.
"Enggak mau, ah. Kamu aja, Mbak. Aku mau lanjut bertamasya ke alam halu dulu," tolak Zia santai, menutup wajahnya dengan boneka.
"Yee, dasar bucin kuadrat!" ketus Salsa sambil geleng-geleng kepala, kembali melanjutkan melipat baju yang sempat tertunda.
Zia hanya tersenyum simpul. Ia memilih abai dan melanjutkan imajinasi indahnya sembari menyandarkan tubuh dengan nyaman di tumpukan bantal.
Selang beberapa menit berlalu, keheningan itu mendadak pecah. Salsa menepuk jidatnya keras-keras setelah teringat sesuatu.
"Eh, Zi! Hampir lupa aku. Kamu dipanggil Abah, disuruh ke ruang tengah nanti sekitar jam sembilan.
"Seketika, balon-balon cinta di sekitar Zia meletus. Ia menghela napas berat.
"Oke, deh, setengah jam lagi." Dalam sekejap, aura kasmaran Zia hilang entah ke mana. Tubuhnya langsung lemas tak bertenaga, merosot di atas kasur seperti kehilangan seluruh gairah hidupnya.
***
Beberapa menit kemudian.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Zia pun bersiap atas panggilan Abah.
Jantung Zia berdegup sedikit lebih kencang saat dia melangkah ke ruang tengah.
Beberapa menit kemudian, Zizan menyusul. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai, seolah membawa beban pikiran yang sama. Sudah bisa diprediksi bahwa apa yang akan disampaikan Abah pasti mengenai perlombaan kemarin. Suasana di ruangan itu seketika terasa canggung dan mencekam.
Akhirnya, mereka berdua memilih duduk di satu ruangan yang sama, tidak terpisah seperti kemarin, meski jarak di antara mereka berdua tetap sangat jauh.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Setiap detik terasa berjalan begitu lambat bagi Zia dan Zizan yang didera kegelisahan.
Setelah selesai mengajar, Abah akhirnya datang. Langkah kakinya yang berwibawa memecah kesunyian, lalu beliau duduk di kursi tepat di hadapan mereka.
Abah menatap mereka berdua satu per satu dengan pandangan yang dalam dan tajam. Beliau bisa membaca dengan jelas titik ketegangan yang ada di raut wajah kedua santri hebat di depannya itu.
"Jadi, tujuan Abah memanggil kalian ke sini dikarenakan ada pemberitahuan mendadak tadi malam dari ketua panitia lomba," ujar Abah, memutus keheningan dengan suara yang berat.
Zia menahan napasnya, sementara jemari Zizan diam-diam saling bertautan erat, bersiap mendengar keputusan buruk.
"Lomba tersebut akan diundur tiga minggu lagi dikarenakan ada sebuah udzur syar'i yang mengharuskan perpindahan jadwal. Maka dari itu, untuk seleksinya juga diundur menjadi dua minggu lagi. Jadi, kalian punya waktu selama dua minggu untuk mempersiapkan diri," jelas Abah.
Mendengar penjelasan dari Abah barusan, ketegangan yang sedari tadi mengikat dada kedua santri itu seketika mengendur. Mereka mampu menarik napas lega, seakan separuh beban berat yang menggelayuti pundak hilang dalam sekejap.
"Alhamdulillah ya Allah, aku masih punya banyak waktu," batin Zia penuh rasa syukur, meremas ujung khimarnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Begitu pula dengan Zizan yang merasakan gelombang semangat baru mengalir dalam tubuhnya. "Alhamdulillah, aman, aman. Tenang Zizan, waktunya masih lama," ia mencoba menenangkan gejolak di dadanya yang kini melanda.
"Baik, Bah," jawab Zizan tegas, namun tetap penuh takzim.
"Kalau untuk pendaftarannya tetap sama, ya, besok hari Senin. Kamu ya, Zan, yang mendaftar. Nanti biar ditemani Charis. Sekalian daftarkan Zia. Jadi, datanya kolektif menjadi satu di bawah nama pesantren," lanjut Abah.
"Baik, Bah," jawab Zizan patuh. "Terus, nanti kamu berikan data dirimu ke Zizan ya, Zi, untuk diisi di formulirnya besok," ucap Abah beralih pada Zia.
"Baik, Bah," jawab Zia tak kalah tegas dan takzim.
"Baiklah, Abah kira sudah cukup, ya. Untuk informasi lebih lanjut, nanti biar diberitahukan dari pihak pengurus saja ke nomor telepon yang mau diisi di pendaftaran besok. Pakai nomor pondok ya, jangan nomor pribadi di rumah," pesan Abah, menyelipkan gurauan ringan yang seketika mencairkan sisa-sisa ketegangan di antara mereka.
"Baik, Bah," jawab Zizan sambil menyunggingkan sedikit senyuman.
"Ya sudah, silakan lanjutkan aktivitas kalian."
Zizan melangkah pergi terlebih dahulu dengan perasaan yang jauh lebih tenang, disusul oleh Zia beberapa menit kemudian dengan langkah yang terasa lebih ringan.
***
Sementara itu, suasana kerja bakti di bagian belakang kompleks pesantren putri sedang berlangsung dengan ramai. Sesuai perintah Abah, Charis ditugaskan untuk mengawasi para santri.
Berada di kawasan santri putri tentu memerlukan perhatian ekstra, demi mengantisipasi adanya santriwan atau santriwati yang melewati batas syariat jika tidak diawasi.
Charis hanya memantau dari jarak aman. Pakaiannya tetap rapi dan bersih, sebab ia harus bersiap jika sewaktu-waktu jadwalnya mengajar tiba atau ada tamu pesantren yang datang mendadak.
Ia memang jarang terjun langsung dalam kerja bakti fisik, bukan karena enggan, melainkan demi mematuhi perintah Abah.
Pesona Charis yang dingin dan karismatik memang tidak bisa dimungkiri. Hanya dengan berdiri tegak dalam balutan koko dan sarung yang rapi, aura kepemimpinannya sudah terpancar kuat.
Di saat fokus mata Charis tertuju pada para santri, dua orang santriwati berjalan mendekat. Mereka membawa nampan berisi mendoan hangat dan potongan semangka merah yang terlihat sangat segar. Hidangan itu bersanding dengan teko berisi es jeruk yang tampak begitu menyejukkan di bawah terik matahari yang menyengat.
"Assalamu’alaikum, Mas," sapa Salsa, yang kini berdiri tepat di belakang Charis.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Charis seraya membalikkan tubuhnya. Kini, mereka saling berhadapan dengan pandangan yang tetap terjaga.
"Mau ditaruh di mana, Mas?" tanya Salsa lembut.
"Sini, biar saya bantu bawa." Charis mengambil alih nampan dari tangan Salsa dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas meja kayu di pinggir area kerja bakti.
Sementara itu, Sinta masih memegangi nampan yang berisi teko es jeruk. Setelah hidangan diletakkan, Charis mendekat dan memperhatikan bahwa potongan semangkanya terlalu besar dan jumlahnya sepertinya kurang untuk semua orang. Khawatir konsumsi tidak mencukupi, Salsa berinisiatif untuk memotongnya lagi menjadi bagian yang lebih kecil.
"Saya potong kembali saja, Mas," tawar Salsa.
"Oh iya, sebentar. Saya ambilkan pisau di dekat sana." Charis melangkah cepat mengambil sebilah pisau, lalu mencucinya terlebih dahulu di pancuran air sebelum menyerahkannya kepada Salsa.
"Ini, Mbak."
"Terima kasih, Mas." Salsa menerima pisau tersebut dan mulai mengiris kembali semangka merah itu agar semua santri kebagian.
Sambil menata buah, Salsa menoleh ke arah temannya. "Oh ya, Sinta. Di mana gelasnya?"
Sinta menepuk dahinya pelan. "Astaghfirullah, saya lupa membawa gelas, Mas. Saya ambil dulu sebentar, ya. Mbak Salsa, aku tinggal dulu," pamit Sinta tergesa-gesa.
"Iya, jangan lama-lama, ya." Kepergian Sinta menyisakan kecanggungan yang perlahan mencair. Charis, yang biasanya terkenal kaku dan irit bicara, mulai mendekat untuk membantu memilah semangka mana yang harus dipotong. Di sela-sela kegiatan itu, obrolan kecil dan candaan ringan tercipta di antara mereka. Keheningan siang itu pecah oleh tawa tipis Charis yang sangat jarang didengar oleh orang lain.
"Nah, kalau seperti ini memotongnya, semua pasti kebagian, Mbak," ujar Charis memamerkan hasil potongannya sendiri yang justru terlihat acak-acakan mirip mainan anak kecil.
Salsa tertahan menahan senyum. "Yang benar dong, Mas. Sini, biar saya saja pisaunya." Salsa berusaha mengambil alih pisau dari tangan Charis. Namun, karena Charis berniat menahannya sambil bercanda, gesekan yang tidak terduga terjadi.
Kresss!
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca