NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Gosip Kantor

"Mbak Liana datang!"

Seruan Rizal membuat percakapan di area asisten berhenti terlalu cepat.

Selasa pagi, Liana keluar dari lift dengan setelan biru tua miliknya sendiri. Di belakangnya, Agus membawa tas kertas berisi kemeja hitam Renard yang sudah dikirim ke laundry ekspres semalam. Semua kepala yang tadi membungkuk di atas ponsel kini pura-pura sibuk dengan layar komputer.

"Pagi," sapa Liana.

Jawaban datang tidak serempak.

"Pagi, Mbak."

"Selamat pagi."

"Pagi sekali, ya."

Grup WhatsApp lantai dua puluh delapan sudah meledak sejak malam. Ada foto Liana dibungkus jas Renard. Ada cerita tentang kemeja hitam. Ada versi yang mengatakan ia diusir dari ruang istirahat, lalu dipeluk di lorong. Setengahnya benar, yang membuat setengah lainnya semakin sulit dibantah.

Liana meletakkan tas di meja. "Kalau ada yang mau ditanyakan, sekarang saja. Pukul delapan kita rapat."

Seorang staf junior mengangkat tangan ragu-ragu. "Mbak benar pakai kemeja Pak Renard?"

"Benar. Pakaian saya basah karena melindungi beliau dari serangan. Baju pengganti yang dikirim salah ukuran. Saya memakai kemeja yang tersedia."

"Terus diusir?"

"Pak Renard sedang tidak sehat dan butuh ruang sendiri."

"Dipeluk juga?" Rizal menyelipkan pertanyaan yang paling ingin diketahui semua orang.

Liana menatapnya. "Mas Rizal, laporan pengeluaran bulan ini sudah selesai?"

"Belum."

"Kalau begitu, rasa ingin tahu Mas belum punya anggaran."

Tawa pecah di area kerja. Ketegangan turun. Liana tidak menyangkal fakta, tetapi juga tidak memberikan ruang untuk menjadikan kondisi medis Renard sebagai hiburan.

Bayu mengangkat cangkir kopi seperti bersulang. "Jawaban diterima. Kembali bekerja sebelum kita semua diusir."

Di pantry, Rizal mengikuti Liana sambil membawa dua potong martabak.

"Mbak marah?"

"Sedikit."

"Saya cuma memastikan gosipnya tidak lebih liar."

"Dengan bertanya di depan satu lantai?"

"Strategi komunikasi terbuka."

Bayu masuk dan mengambil satu potong martabak dari tangannya. "Nama lainnya kepo."

Liana tertawa. "Saya baik-baik saja. Ibu Irene sudah didampingi. Audit juga dimulai. Itu yang penting."

"Dan Pak Renard?" Rizal tak belajar dari kesalahan.

"Masih bos kita."

Pintu pantry terbuka. Renard berdiri di sana.

Rizal hampir tersedak.

"Rapat lima menit lagi," kata Renard. Tatapannya melewati kedua asistennya dan berhenti pada Liana. "Kamu sudah sarapan?"

"Sudah, Pak."

"Bagus."

Ia pergi tanpa melihat tas kertas berisi kemejanya.

Begitu pintu tertutup, Rizal berbisik, "Bos tanya sarapan. Saya kerja tiga tahun, tidak pernah ditanya."

"Mungkin karena beliau tahu kamu selalu makan," kata Bayu sambil mengambil martabak kedua.

Rizal membuka ponsel dan menunjukkan pesan dari grup kantor. Foto paling memalukan sudah hilang, diganti pengumuman resmi bahwa pengaduan keluarga Irene sedang diperiksa auditor eksternal. Pegawai diminta tidak menyebarkan identitas atau spekulasi.

"Ternyata ada dua mantan staf lain yang mau memberi keterangan," katanya. "Mereka melihat Irene ditekan atasannya."

Liana membaca pengumuman itu sampai selesai. "Jangan sebar nama mereka."

"Saya tahu."

"Dan jangan jadikan kematian Irene bahan obrolan pantry."

Rizal menurunkan ponsel. Nada bercandanya hilang. "Iya, Mbak. Maaf."

Bayu mengangguk. "Kita tunggu hasil audit."

Untuk beberapa saat, mereka makan tanpa bergosip. Liana menghargai diam itu. Di kantor yang segala hal dapat berubah menjadi tontonan, dua orang ini masih mampu memahami kapan sebuah cerita bukan milik mereka.

***

Hari berjalan normal setelah rapat. Liana menyelesaikan laporan, mengatur pertemuan, dan mengirim ringkasan audit kepada Renard. Gosip perlahan kalah oleh pekerjaan.

Menjelang makan siang, Renard memanggil Liana hanya untuk memeriksa matanya. Ia berdiri dekat jendela sambil mengarahkan wajah Liana ke cahaya.

"Masih perih?"

"Tidak."

"Pusing?"

"Tidak."

"Mual?"

"Juga tidak. Pak Renard, saya bukan pasien Bapak."

"Aku sedang memastikan."

"Bapak sudah memastikan empat kali."

Renard melepaskan dagunya. Ujung jarinya sempat menyentuh kulit Liana, lalu berhenti seakan baru sadar betapa dekat mereka berdiri. "Ini terakhir."

"Hari ini?"

"Jangan banyak bicara."

Liana keluar sambil menyembunyikan senyum. Di balik meja, Renard menatap jari yang tadi menyentuh dagunya. Tidak ada rasa jijik. Hanya keinginan bodoh untuk memanggilnya kembali.

Menjelang pukul lima, petugas GoSend datang membawa paket besar tanpa nama pengirim.

"Untuk Mbak Liana."

Di dalamnya ada tiga set pakaian kerja lengkap, semuanya tepat ukuran. Warna netral, potongan sederhana, kualitas kain terlalu bagus untuk disebut seragam biasa.

Sebuah kartu putih terselip di atasnya.

Liana mengenali tulisan tangan yang tegak dan hemat.

Lain kali simpan pakaian ganti di kantor. R.

Rizal melongok dari balik monitor. "Dari siapa?"

Liana membalik kartu. "Administrasi."

"Administrasi sekarang tanda tangannya R?"

Bayu mendorong kursi Rizal menjauh dengan kaki.

Liana menyentuh kain blazer paling atas. Kemarin Renard mengusirnya demi menjaga batas. Hari ini, tanpa meminta maaf dengan kata-kata, ia memastikan Liana tak akan kembali dipermalukan oleh ukuran yang salah.

Ia mengangkat mata ke dinding kaca.

Di dalam kantor, Renard sedang membaca dokumen. Tak sekali pun menoleh ke arahnya.

Namun ketika Liana tersenyum pada kartu kecil itu, pena di tangan Renard berhenti bergerak.

Ponsel kerja Liana berbunyi satu kali.

Renard: Ukurannya benar?

Liana menahan senyum dan membalas.

Benar, Pak. Terima kasih.

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi. Jawaban akhirnya hanya satu kata.

Bagus.

Di balik kaca, Renard kembali menulis seakan percakapan kecil itu tidak penting. Kartu putih tetap hangat di telapak Liana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!