NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Suka Dia

Penthouse Madoc gelap total ketika dia masuk, dan dia tidak repot-repot menyalakan lampu utama—hanya lampu meja kecil di sudut ruang tamu, cukup untuk melihat jalan tanpa menabrak apa pun.

Dia melepas jasnya, melemparkannya sembarangan ke sofa—kebiasaan yang tidak pernah dia lakukan kalau ada orang lain di sekitarnya, tapi malam ini penthouse itu kosong seperti biasa, sunyi dengan cara yang baru terasa sangat jelas setelah dua jam terakhir dihabiskan di ruangan penuh cahaya lilin dan suara seseorang yang bicara dengan penuh semangat soal burn rate kompetitor.

Dia berjalan ke dapur, mengambil segelas air, dan berdiri di sana beberapa menit, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.

Kenapa gue ngerasa kecewa?

Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya, jujur dan tidak berusaha dia hindari lagi seperti yang biasa dia lakukan selama berbulan-bulan terakhir. Dia sudah cukup pintar untuk tahu ada sesuatu yang salah dengan reaksinya sendiri terhadap malam tadi—kekecewaan yang tidak masuk akal untuk sebuah makan malam kerja yang, secara objektif, berjalan sangat produktif. Analisis Gwen soal Aditama solid, strategi yang mereka diskusikan matang, dan dia mendapat semua informasi yang dia butuhkan untuk rapat board minggu depan.

Tapi dia pulang dengan perasaan hampa, seperti ada sesuatu yang seharusnya terjadi malam itu tapi tidak pernah terwujud.

---

Dia duduk di sofa, masih dengan kemeja yang belum dilepas kancingnya, dan mulai mengingat ulang malam itu dari awal—cara Gwen datang tepat waktu dengan laptop di tangan, cara dia langsung membuka file analisisnya begitu duduk, cara dia mengucapkan terima kasih atas makan malamnya di sela suapan steak sebelum kembali ke spreadsheet.

Ada satu momen, waktu Gwen tersenyum sambil bilang "steaknya enak, Pak", yang membuat dadanya terasa hangat dengan cara yang tidak sebanding dengan konteks kalimat itu sendiri. Satu senyum sederhana, satu komentar biasa soal makanan, dan dia merespons dengan antusiasme berlebihan seolah kalimat itu berarti jauh lebih dari yang sebenarnya.

Dia mengingat lagi—retreat di Bandung, cara dia panik kecil waktu ditanya level pedas di warung nasi, dan bagaimana Gwen membantunya tanpa mengejek, cuma menahan tawa geli yang justru membuatnya merasa nyaman, bukan malu. Dia mengingat kemacetan di tol, cerita soal bapaknya yang jarang dia bagikan ke siapa pun, dan respons Gwen yang tepat sasaran tanpa berlebihan. Dia mengingat malam hujan, kepanikan kecil yang dia rasakan begitu membaca pesan di grup, dan bagaimana dia langsung meninggalkan laporan pentingnya tanpa berpikir dua kali untuk menjemput seseorang yang sebenarnya bisa saja menunggu ojek online.

Semua momen itu, satu per satu, mulai tersusun jadi pola yang tidak bisa lagi dia sangkal.

---

Dia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota, tempat dia biasa berdiri kalau sedang memikirkan keputusan bisnis besar—akuisisi, ekspansi, strategi jangka panjang yang butuh kejernihan pikiran maksimal.

Tapi malam ini, yang dia pikirkan bukan soal bisnis.

Kopi susu tiap pagi. Rapat progress yang dibikin lebih sering dari yang perlu. Nawarin anter pulang padahal arahnya beda total. Jemput sendiri di tengah hujan cuma karena baca satu pesan di grup. Restoran mahal buat sekadar bahas spreadsheet.

Setiap keputusan itu, kalau dilihat satu per satu, punya alasan yang masuk akal di permukaannya. Tapi digabungkan semua, pola itu terlalu jelas untuk terus disangkal—dia sudah melakukan semua itu bukan karena tanggung jawab profesional semata, melainkan karena dia mencari alasan apa pun untuk bisa lebih dekat dengan satu orang, berulang kali, tanpa pernah benar-benar mengakuinya pada dirinya sendiri.

Dia menutup mata, menyandarkan dahi ke kaca jendela yang dingin, membiarkan pikirannya berhenti mencari alasan lain untuk kali ini.

Aku suka dia.

Kalimat itu muncul begitu saja, sederhana, tanpa embel-embel penjelasan lebih lanjut, dan begitu dia mengakuinya dalam kepalanya sendiri, ada semacam kelegaan aneh yang menyertainya—seperti beban yang selama ini dia bawa tanpa sadar, akhirnya diberi nama yang tepat.

Aku suka Gwen.

Dia membuka mata, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela, samar-samar tertimpa lampu kota di belakangnya. Wajah yang dia lihat terlihat sama seperti biasa—CEO Kane Group, orang yang mengontrol ratusan keputusan besar tiap harinya, yang jarang sekali terlihat ragu di depan siapa pun.

Tapi di dalam, dia merasa seperti orang yang benar-benar berbeda—canggung, gugup, kehilangan kendali atas sesuatu yang tidak bisa dia selesaikan dengan strategi atau analisis data, seperti yang biasa dia lakukan untuk setiap masalah lain dalam hidupnya.

---

Dia duduk kembali di sofa, menatap langit-langit ruangan yang gelap, membiarkan pikirannya mengalir bebas untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.

Dia sudah jatuh cinta sebelumnya, atau setidaknya dia pikir begitu—beberapa hubungan singkat semasa kuliah, satu hubungan yang cukup serius sekitar lima tahun lalu yang berakhir karena tekanan keluarga soal calon yang "lebih sesuai". Tapi tidak satu pun dari itu terasa seperti ini—perasaan yang tumbuh diam-diam tanpa dia sadari, dari hal-hal sekecil selera kopi dan rasa gelisah saat hujan turun, sampai akhirnya jadi sesuatu yang tidak bisa lagi dia sangkal.

Yang membuatnya lebih rumit adalah kesadaran lain yang muncul bersamaan: dia CEO perusahaan tempat Gwen bekerja. Ada hierarki, ada kekuatan yang tidak seimbang antara mereka, ada risiko yang bisa merusak karier Gwen kalau perasaan ini terungkap dengan cara yang salah.

Dan yang paling penting—Gwen sendiri sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda merasakan hal yang sama.

Dia mengingat lagi malam tadi, bagaimana Gwen terus fokus pada spreadsheet dan angka sepanjang makan malam, sepenuhnya tidak terpengaruh oleh suasana romantis restoran mahal yang dengan sengaja dia pilih. Bukan karena Gwen jutek atau tidak peka secara umum—justru sebaliknya, dia salah satu orang paling tajam yang pernah Madoc temui. Tapi soal ini, soal dirinya, Gwen terlihat benar-benar buta.

Ada semacam ironi pahit dalam kenyataan itu—seseorang yang bisa membaca pola bisnis kompleks dalam hitungan menit, memprediksi strategi kompetitor dengan akurasi mengagumkan, tapi tidak bisa membaca sinyal sederhana yang, bagi orang lain di sekitar mereka, sudah cukup jelas terlihat sejak berbulan-bulan lalu.

---

Di sisi lain kota, di apartemen kecilnya yang jauh lebih sederhana dari penthouse Madoc, Gwen sedang duduk di meja kerjanya sendiri, laptop masih menyala, menyusun ulang catatan hasil diskusi malam itu ke dalam dokumen resmi yang akan dia kirim ke tim besok pagi.

Dia mengetik cepat, mengorganisir poin-poin strategi Aditama yang sudah semakin matang berkat diskusi tadi, sesekali berhenti untuk mengecek ulang angka yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Makan malam tadi terasa produktif, pikirnya, menutup satu bagian dokumen dan membuka bagian baru. Restorannya mewah, jauh di atas standar yang biasa dia kunjungi, tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu lebih jauh—mungkin memang begitu caranya CEO mengadakan rapat kerja informal, dan dia cukup beruntung dapat kesempatan mendiskusikan strategi langsung dengan orang yang punya keputusan akhir di perusahaan.

Dia menguap sekali, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, lalu memutuskan untuk menyelesaikan dokumen itu besok pagi saja. Dia menutup laptopnya, berdiri, dan berjalan ke kamar untuk tidur, pikirannya masih dipenuhi angka-angka burn rate dan proyeksi pasar—sepenuhnya kosong dari pikiran lain yang, sejak beberapa jam lalu, sudah menguasai penuh pikiran orang yang baru saja mengajaknya makan malam itu.

Dia tidak tahu, dan tidak akan tahu untuk waktu yang cukup lama ke depan, bahwa malam itu jadi titik balik yang tidak akan pernah bisa diputar kembali bagi satu orang lain—seseorang yang sekarang duduk sendirian di penthouse mewahnya, menatap langit-langit gelap, mencoba memahami bagaimana caranya menjalani hari-hari berikutnya dengan kesadaran baru yang tidak bisa lagi dia sangkal, sambil tahu persis bahwa orang yang menjadi pusat dari semua perasaan itu bahkan tidak menyadari dia ada di dalamnya sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!