Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Ciuman Pertama di Ujung Mata
Bara membungkuk dan menempelkan kain hangat ke leher Arum.
Gadis itu menggeliat. "Jangan... saya belum selesai..."
"Tidak ada yang harus kamu selesaikan."
"Nanti Ibu marah."
Bara memeras kain perlahan. "Tidak ada yang boleh memarahimu di sini."
Arum tidak mendengar. Ia kembali tenggelam dalam demam, jemarinya tetap melilit dua jari Bara seolah takut ditinggalkan.
Setiap lima belas menit, Bara mengganti kompres. Nia datang memeriksa cairan dan suhu. Setelah satu jam, angka termometer turun menjadi 38,9. Napas Arum stabil, tidak ada sesak atau tanda bahaya lain.
Handoko melakukan pemeriksaan ulang. "Obatnya mulai bekerja. Dia boleh dipantau di rumah dinas karena jaraknya dekat, tapi harus ada pendamping perempuan dan pintu mudah diakses. Kalau suhu naik lagi atau kesadarannya menurun, bawa kembali segera."
Bu Inah mengangguk. "Saya tidur di kamar belakang Blok C-3 malam ini."
Bara tidak membantah. Ia membungkus Arum dengan selimut, lalu membawanya pulang menggunakan kendaraan jaga yang sudah kembali. Bu Inah duduk di samping Arum sepanjang perjalanan, sementara Bara di depan terus menoleh setiap kali gadis itu mengerang.
Di Blok C-3, Arum dibaringkan di kamar utama. Pintu kamar dibiarkan terbuka. Bu Inah menyiapkan air hangat dan berbaring di ruang belakang, hanya beberapa langkah dari sana.
Bara duduk di kursi samping ranjang.
Malam bergerak lambat.
Ia mengganti kompres di dahi, menyeka leher dan lengan, lalu mencatat suhu sesuai pesan Handoko. 38,8. Lalu 38,6. Kemudian naik lagi menjadi 38,9.
Setiap angka kecil terasa seperti ancaman.
Arum kembali mengigau.
"Saya bangun... saya sudah bangun..."
Bara memegang bahunya. "Arum."
"Jangan kunci dapurnya. Saya belum mencuci seragam Reyhan."
"Kamu tidak perlu mencuci apa pun."
"Maaf, Bu... nasinya terlalu lembek... jangan pukul..."
Tubuh Arum meringkuk. Tangannya melindungi kepala, persis seperti ketika Hartono mengangkat telapak tangan di dekat pintu.
Bara menahan kedua pergelangan tangannya dengan lembut agar infus bekas klinik dan balutan kaki tidak terganggu. "Tidak ada yang memukulmu. Lihat aku."
Kelopak mata Arum terbuka sedikit, tetapi pandangannya melewati wajah Bara.
"Saya bukan pembawa sial," bisiknya. "Ayah tidak meninggal karena saya. Ibu juga tidak."
Sesuatu yang dingin terbentuk di dada Bara.
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Saya bisa bekerja. Jangan usir saya. Saya makan sedikit saja. Saya tidur di dapur juga tidak apa-apa."
Arum menarik tangannya dari genggaman Bara dan menggerakkan jari seperti sedang memeras pakaian.
"Airnya dingin... nanti seragamnya tidak kering..."
"Tidak ada seragam. Kamu sedang sakit."
"Kalau Reyhan terlambat, Ibu bilang salah saya. Kalau Bapak marah di kantor, salah saya. Waktu bantuan Ayah datang, saya tidak boleh bertanya. Katanya anak kecil tidak tahu urusan uang."
Bara berhenti memeras kain.
"Bantuan apa?"
Arum hanya menggeleng dalam tidur. "Jangan ambil selendang Ibu. Itu satu-satunya..."
Tangannya meraba bantal. Bara mengambil selendang yang disimpan Arum di lemari dan meletakkannya di dekat jemari gadis itu. Arum langsung menggenggam kain tersebut. Tubuhnya berhenti meringkuk, meski air mata masih keluar dari mata tertutup.
Bara melihat kapalan di telapak tangannya, bekas luka minyak di pergelangan, dan kuku yang aus karena sabun. Bukti delapan tahun kerja itu lebih jujur daripada catatan keluarga mana pun.
Kalimat tentang bantuan ayahnya masuk ke tempat paling gelap dalam pikiran Bara. Seorang anak prajurit gugur seharusnya tidak hanya menerima belas kasihan rumah lama. Ada santunan, pencatatan ahli waris, dan jalur bantuan yang dapat ditelusuri. Hartono bekerja di bekang. Ia pasti tahu prosesnya.
Bara menutup mata sesaat. Delapan tahun penderitaan keluar dalam potongan kalimat yang bahkan Arum sehat tak berani ucapkan. Makan sedikit. Tidur di dapur. Bekerja agar tidak dibuang.
Tangan Bara menggenggam tepi ranjang sampai ruas jarinya memutih.
Hartono.
Nama itu menjadi keputusan.
Ia akan mencari tahu ke mana bantuan untuk anak seorang prajurit pergi. Ia akan membuka catatan lama, bertanya kepada orang yang selama ini diam, dan memaksa setiap kebohongan keluarga Prasetyo muncul ke permukaan. Bukan karena Arum miliknya, bukan pula karena harga diri seorang Danyon.
Karena tak ada anak sepuluh tahun yang pantas membayar atap dengan hidup sebagai pelayan.
"Dengar aku," kata Bara di dekat telinga Arum. "Kamu tidak akan kembali ke sana. Mereka tidak akan menyentuhmu lagi."
Arum terus gelisah.
Bara mengambil kain baru. Saat ia menyeka pelipis, gadis itu tiba-tiba memegang tangannya.
"Jangan pergi seperti Ayah."
Suara itu nyaris tidak ada.
Bara membalik telapak dan menggenggamnya. "Aku di sini."
"Janji?"
Seorang prajurit tidak boleh menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Namun, malam itu Bara menunduk pada tangan kecil yang panas di dalam genggamannya.
"Aku di sini sampai kamu bangun."
Jawaban tersebut membuat kerutan di dahi Arum perlahan lepas.
Menjelang pukul tiga, suhu turun menjadi 38,1. Bu Inah bangun dan mengganti baskom air. Ia menyentuh dahi Arum, lalu melihat Bara yang masih mengenakan pakaian basah setengah kering.
"Pak Mayor juga harus istirahat."
"Nanti."
"Kalau sakit, Arum akan menyalahkan dirinya sendiri."
Bara terdiam. Ia akhirnya mengganti kaus di kamar sebelah dan menelan obat untuk punggungnya, tetapi kembali ke kursi kurang dari lima menit kemudian.
Bu Inah menatapnya lama. "Dia tidak pernah punya orang yang menungguinya saat sakit. Di rumah Prasetyo, kalau demam dia tetap mencuci."
"Sekarang punya."
Dua kata itu keluar tanpa ragu.
Bu Inah mengangguk dan kembali ke kamar belakang, meninggalkan pintu terbuka.
Pukul empat lewat, hujan berubah menjadi gerimis. Suhu Arum turun ke 37,6. Keringat muncul di pelipisnya. Napasnya lebih teratur.
Bara menyeka keringat itu dengan kain bersih. Untuk pertama kalinya sepanjang malam, bahunya turun.
Arum tampak sangat muda saat tidur. Bukan karena usianya, melainkan karena ketakutan yang tadi keluar dari mulutnya adalah ketakutan seorang anak yang tak pernah benar-benar dibela.
Ada jejak air mata di sudut matanya.
Bara mengusapnya dengan ibu jari.
Ia seharusnya berhenti di sana.
Namun, kepala lelaki itu menunduk. Bibirnya menyentuh sangat ringan ujung mata Arum, tepat di tempat air mata mengering.
Satu detik.
Tidak lebih.
Sebuah ciuman yang bukan untuk mengambil apa pun, hanya untuk menutup luka yang tak bisa dijangkau obat.
Bara segera menarik diri. Ia menatap wajah Arum, memastikan gadis itu tetap tidur. Rasa bersalah dan kelembutan bertabrakan di dadanya.
"Maaf," bisiknya. "Aku seharusnya meminta izin saat kamu bangun."
Ia tidak mengulanginya.
Bara duduk kembali di kursi dan menjaga jarak. Tangannya tetap berada di tepi ranjang, cukup dekat jika Arum membutuhkan sesuatu, tetapi tidak menyentuhnya lagi.
Azan subuh terdengar dari masjid kompleks. Udara yang basah membawa suara itu melewati jendela. Bu Inah bangun untuk salat dan mengecek suhu Arum sekali lagi. Normal.
"Tidurlah sebentar," katanya kepada Bara.
Lelaki itu menyandarkan kepala ke kursi, masih dengan pakaian lengkap. "Bangunkan aku kalau dia bergerak."
"Iya."
Mata Bara akhirnya tertutup.
Ketika cahaya pagi masuk, Arum perlahan membuka mata. Kepalanya berat, tenggorokannya kering. Hal pertama yang dilihatnya adalah baskom air, tumpukan kain kompres, catatan suhu yang memenuhi satu halaman, dan Bara tertidur dalam posisi duduk.
Perban di punggung lelaki itu tampak dari balik kerah. Tongkatnya tergeletak di lantai. Salah satu tangannya masih terbuka di tepi ranjang, seolah bahkan dalam tidur ia menunggu Arum menggenggamnya.
Arum menyentuh sudut matanya yang terasa hangat tanpa tahu mengapa.
Jarinya lalu bergerak ke tangan Bara.
Saat kulit mereka bersentuhan, Sang Macan langsung terbangun.
"Kamu sudah bangun?"
Kekhawatiran telanjang di wajahnya membuat dada Arum sesak.
Bu Inah masuk membawa air minum hangat. Melihat Arum sadar, ia tersenyum lega dan segera memanggil Handoko melalui telepon poliklinik.
"Minum sedikit dulu, Nduk. Pelan-pelan."
Bara menopang bahu Arum sementara Bu Inah menyodorkan gelas. Arum hanya mampu menelan tiga teguk sebelum lelah. Bara menurunkannya kembali, merapikan selimut sampai ke bahu.
"Bagaimana saya pulang dari poliklinik?" tanya Arum.
Bu Inah menunjuk Bara dengan dagu. "Pak Mayor menggendongmu dari sini ke poliklinik, lalu menggendongmu lagi saat pulang. Kakinya sendiri hampir tidak kuat."
"Bu," tegur Bara.
"Dia harus tahu supaya tidak merasa merepotkan orang tanpa alasan."
Arum menatap perban yang mengintip dari kerah Bara. "Punggung Mayor terbuka lagi karena saya?"
"Karena aku jatuh kemarin, bukan karena kamu."
"Mayor selalu mengubah kalimat supaya saya tidak merasa bersalah."
Bara tak punya jawaban. Bu Inah menyembunyikan senyum sambil membawa baskom keluar.
Handoko datang tak lama kemudian. Ia memeriksa suhu, nadi, dan napas Arum, lalu menyatakan demamnya telah lewat tetapi tubuhnya harus beristirahat penuh. Sebelum pergi, ia menatap Bara.
"Pasien tidak boleh mencuci, memasak, atau mengejar jemuran selama tiga hari. Pastikan itu dipatuhi."
"Siap."
"Dan penjaganya tidak boleh menggendong siapa pun sampai luka punggung menutup."
Bara diam.
"Itu juga perintah dokter, Mayor."
"Siap."
Setelah Handoko pergi, Arum melihat catatan suhu sekali lagi. Ia baru memahami bahwa sepanjang malam, Bara bukan sekadar duduk di sana. Lelaki itu menghitung menit, mengganti air, mencatat angka, dan menahan lukanya sendiri agar ia bisa bernapas tenang.
"Mayor menjaga saya semalaman?"
Bara melirik kain kompres, seolah semua bukti di kamar itu bisa disembunyikan. "Aku hanya memastikan demammu turun."
Arum menggenggam tangannya.
"Terima kasih sudah tidak pergi."
Bara menatap jari-jari mereka yang bertaut.
Di dalam hatinya, sumpah untuk membongkar semua dosa keluarga Prasetyo menjadi lebih keras daripada suara hujan semalam.