NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Malam kian larut nampak menyelimuti barak militer, di tambah dengan hujan yang rintik-rintik turun.

Di dalam mess prajurit, langit-langit kayu barak warna coklat kusam memantul dengan buram dari pantulan lampu bohlam yang menggantung.

Di sudut ruangan suasana tampak santai karena sedang tak bertugas, meski masih diliputi akan kedisiplinan.

Di antaranya masih ada beberapa para prajurit, Kapten dan Letnan yang masih mengenakan seragam dinas lapangan loreng-loreng TNI.

Mereka tampak sibuk---di luar jam tugas mereka bersikap selayaknya teman dekat, terlihat para TNI ini tengah berkumpul di meja-meja kayu yang panjang, dengan kursi yang panjang juga.

Para prajurit satu dan Prajurit dua nampak tekun mempelajari panduan taktis, untuk sekolah lagi agar pangkat mereka lebih naik.

Ada pula diantara mereka seorang kapten TNI dan Sersan tengah bergosip sambil meminum kopinya, membicarakan soal politik dan negara---apalagi perihal demo kemarin di depan gedung DPR.

Selain itu, Di antara mereka bahkan ada yang memeriksa perlengkapan dinas untuk besok, karena akan ada apel pagi---yang melibatkan Mayor Jendral Hussen Simanjuntak.

Aktivitas para TNI ini menciptakan suara dengung di belakang Mayor Angga yang duduk santai, di ujung bangku panjang sendirian.

Mayor Angga Pratama sedang terdiam dengan mata tertuju ke arah lantai semen, di sertai senyuman tipis.

Pagi tadi dirinya melewati momen perpisahan dengan Asri, wajahnya Asri selalu terbayang dalam ingatannya----entah rasa bersalah yang menghimpit dadanya perlahan menghilang, atau ada hal lain.

Langkah sepatu lars dinas militer nampak terdengar, langkahnya tegap mendekati meja Angga---Sosok perwira menengah dengan postur tubuh tegap, terlihat heran melihat sahabatnya.

"Kenapa nih orang, senyum sendiri koyo wong gemblung," gumam Bima melihat sahabatnya dengan heran.

Mayor Bima Adiyatna, juga mengenakan seragam PDL loreng Malvinas yang senada dengan Angga, lengkap dengan nametag yang tersemat rapi di dada kirinya.

Bima menghentikan langkahnya tepat di samping bangku dimana Angga sedang duduk sambil tersenyum sendiri.

Bima merasa heran karena Angga yang biasanya terlihat gelisah dan ketakutan, malah senyum-senyum sendiri.

Melihat perubahan mendadak pada Angga membuat kening Bima berkerut----Angga selalu memikirkan soal kasus Asri dan pertunangannya yang terancam di batalkan bersama Alina, tak pernah tersenyum seperti ini.

"Apa jangan-jangan udah gemblung karena mikirin masalah soal Alina sama Asri ya," pikirnya lagi.

Bima memanggil Angga dengan suara bariton khasnya, sarat akan keheranan.

"Kenapa kowe?" tanya Bima, seketika lamunan Angga terbuyar.

Secara refleks Angga langsung menoleh ke arah Bima, lalu menggelengkan kepalanya pelan, dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.

"Nggak kok Bim," jawab Angga singkat.

Padahal dari tadi Angga selalu memikirkan soal Asri, dan pria itu mencoba menyembunyikan soal isi hatinya.

Bima hanya mendengus, sebagai teman tentu dirinya bisa mengenal betul akan sikap Angga---keduanya selain berteman sejak SMA, baik Angga atau Bima menjadi teman main masa kecil.

Keduanya tumbuh di lingkungan adat kejawen, karena kedua orangtua mereka ini adalah abdi dalem keraton Yogyakarta.

"Ojo bohong, aku dengar dari Sersan Nicolas Manopo. Dia bilang kau keluar markas katanya kau menemui Asri di rumahnya," ucap Bima dengan nada penuh selidik.

Bima duduk tepat di sebelah Angga, terlihat wajah Angga senyumnya memudar di gantikan kerutan tipis di keningnya.

Angga sadar jika di lingkungan militer, setiap gerak-geriknya pasti akan di awasi oleh anak buahnya.

"Inggih Bim, aku menemuinya tadi pagi untuk terakhir kalinya," aku Angga dengan nada lirih.

Bima yang duduk di sampingnya, langsung mendengarkan lebih seksama.

"Terus? untuk apa kau temui dia?" tanyanya lagi.

"Aku ke rumahnya mau minta maaf dan yahh janji tak akan ganggu kehidupannya, aku akan tugas di Kodam di Tasikmalaya dan dia akan ke Inggris," lanjutnya.

Mendengar itu, Bima terdiam membisu.

"Aku tak mengatakan kemana aku akan bertugas, aku hanya bilang kalo aku tak akan usik hidupnya lagi dan akan pindah tugas lalu minta maaf...," ungkap Angga terbuka pada sahabatnya ini.

Bima hanya menghela napas, dan menatap Angga dengan serius.

"Apa pertunangan kau dengan Alina?" tanya Bima.

Angga hanya terkekeh sembari tersenyum pahit, lalu menatap nanar ke arah deretan para TNI yang masih sibuk akan aktivitas masing-masing.

"Yahh kita ikutin saja Bim, biar yang di atas atur hidupku. Alina akan membatalkan pertunangan ini karena dirinya bersikeras dengan pacarnya orang bule itu," jelas Angga dengan nada yang putus asa.

"Jika kau memilih menerima tugas di wilayah kodim Tasikmalaya, aku akan ikut dengan kau," ucap Bima dengan nada yang kekeh.

Mendengar itu, Angga hanya menggelengkan kepalanya---karena wilayahnya sangat pelosok di wilayah pegunungan terpencil jauh dari kementerian dan pusat hiburan.

"Hah serius kau?" tanya Angga dengan mata membulat.

"Ga, kau dan aku ini sejak dulu selalu bersama...jika kau tugas di kodim itu aku akan mengajukan diri kepada Jendral Hussen Simanjuntak buat ikut kau," kata Bima meremas bahu sahabatnya, seolah menyalurkan kekuatan.

Mendengar perkataan Angga, yang kini memancarkan ketulusan dan keikhlasan untuk membayar dosa masa lalunya, batin Bima bergejolak hebat.

Rasa setia kawan yang telah mereka pupuk sejak kecil di Yogyakarta seketika meleburkan segala ego kedinasannya.

"Jika itu memang keputusan kau, yah aku sangat senang dengarnya. Aku disana tak akan sendirian," ujar Angga dengan nada lirih.

Angga memegang hatinya, matanya berkaca-kaca---terlihat jika Angga saat ini butuh sekali sandaran, hatinya yang rapuh dan bimbang.

Pria itu kini mulai bingung, antara Asri atau Alina---karena semenjak dirinya kenal dengan Asri, seolah wanita ini selalu terbayang akan di pikiran Angga.

"Aku mau mengajukan satu pertanyaan untuk kau," ucap Bima dengan nada serius, melepaskan tangannya di bahu Angga.

Angga menaikan alisnya dan mengangguk siap akan pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya.

"Apa kau mencintai Asri?" tanya Bima.

Sontak pertanyaan itu membuat Angga langsung tersentak kaget, hampir terjengkang ke belakang---namun Bima menahannya.

Kegaduhan itu membuat para TNI yang lain melihat ke arah Angga dan Bima.

Sejenak para prajurit melihat kedua perwira itu, Bima hanya berusaha tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

"Yang benarlah kau duduknya, jatuh 'kan?" ucap Bima.

Bima yang berhasil mengalihkan perhatian itu, langsung tersenyum kepada para TNI di belakang mereka.

Para TNI langsung kembali ke aktivitas mereka, sementara Angga masih terdiam---bimbang akan pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang mengguncang akan hatinya.

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
Putri Sabina: udah lanjut kak, sehari sekali yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!