"Ternyata aku ... istri kedua?"
Mendapatkan sosok suami yang nyaris sempurna seperti Azzam Naufal Ardana membuat Azra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, terlebih mengingat masa lalunya yang kelam. Namun, delapan tahun menikah dan dikaruniai dua anak, Azzam tetap menyembunyikannya dari dunia luar dan enggan mengenalkannya pada keluarga besar.
Azra memilih patuh dan bungkam, sampai sebuah fakta pahit mengoyak paksa kesabarannya.
"Ini kesakitan paling hebat yang pernah kurasakan seumur hidupku. Kamu menipuku, Mas!"
"Lampiaskan amarahmu, Azra. Asal jangan pernah meminta cerai."
Azra didera bimbang. Di satu sisi, anak-anaknya butuh sosok ayah. Di sisi lain, ia enggan menjadi orang ketiga. Namun, Hana ... istri pertama Azzam justru melontarkan kalimat yang membuat Azra tercengang.
"Aku tahu semua tentangmu, Azra. Tetaplah menjadi istri Mas Azzam."
"Kau gila?"
Saat cinta berubah menjadi penipuan yang rumit, haruskah Azra bertahan demi kebahagiaan anak-anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Maryam
"Nah Mai, malam ini tidur sama Ibrahim ya," ucap Haikal lembut sembari mendudukkan Maira di ranjang putra keduanya itu. Ranjang Ibrahim memang terbilang cukup besar, jadi jika dipakai tidur untuk dua anak kecil sekaligus rasanya tidak akan menjadi masalah. Lagipula, usia mereka masih sama-sama empat tahun. Sangat wajar bagi anak seusia itu untuk tidur bersama dalam satu kamar. Haikal hanya khawatir jika Maira dipaksa tidur sendirian di kamar tamu, anak itu akan merasa asing lalu ketakutan tengah malam.
"Kenapa bunda Malia ini tidul cama Iblahim?" protes Ibrahim seketika dengan wajah cemberut, membuat Haikal langsung membelalakkan matanya heran.
"Kok Bunda Maria sih? Amiraaaa ...," seru Haikal gemas, mengoreksi pelafalan putranya yang semakin ngawur. Sementara itu, Maira yang namanya terus-menerus diganti hanya bisa memasang raut wajah yang luar biasa datar dan dingin.
"Mailaaaaaa!" pekik Maira kesal, namanya selalu di ganti.
"Ceteles Maila, jangklik cemua!" desis anak itu kesal karena kepalanya mendadak pening mendengarkan perdebatan bapak dan anak di hadapannya. "Kau juga cempak jangklik, nda ucah banyak bicalaaaa! Mai mau tidul dicini, kalau nda mau cana pelgi. Lepot kali jadi manucia belnapas!" omel Maira ketus.
Maira sudah terlampau kenyang dan lelah setelah perjalanan panjang hari ini. Ia hanya ingin segera memejamkan mata dan tidur dengan tenang. Namun, Haikal dan Ibrahim justru seolah mengibarkan bendera perang di atas ranjangnya.
Ibrahim mengerutkan keningnya, menatap Maira dengan pandangan sok tahu. "Yaudah boleh tidul dicini, tapi emang nda papa? Kata Abi nda boleeee belduaaa laki laki cama pelempuan, beldoca."
Maira mendengus remeh. "Maila walia, nda ucah takut. Yang halam cuman babi," ucap Maira santai, lalu dengan cuek langsung membalikkan badannya memunggungi Ibrahim.
Ibrahim seketika menganga lebar dengan tatapan tidak percaya, begitu pula dengan Haikal yang langsung syok di tempatnya berdiri. Ia mematung, menyadari bahwa kosakata keponakan barunya ini ternyata jauh lebih ekstrem dan berbahaya dibandingkan putranya sendiri.
"Apa itu walia, Abi?" tanya Ibrahim polos dan bingung, mendongak menatap sang ayah demi mencari jawaban.
Haikal memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. "Dari mana pulalah anak Azzam bisa tahu istilah waria? Ck, Azzam ... bagaimana bisa dia mendidik anak perempuannya sampai sekreatif ini?" batin Haikal mengeluh pasrah.
"Sudah, sudah, tidak usah banyak tanya. Ayo tidur, Abi sudah mengantuk mau tidur juga." Haikal buru-buru mematikan lampu kamar dan melangkah keluar, tidak mau terjebak lebih lama dalam labirin pertanyaan aneh dari putranya.
Sementara di dalam kamar yang kini gelap, Ibrahim menarik selimutnya ke atas dada. Ia menatap punggung Maira yang masih setia memunggunginya.
"Malia, jangan ngolok ya. Iblahim nda bica dengel olang ngolok. Kalau kamu ngolooook, Iblahim cumpel mukutnya pake ... pake ... telaci!" ancam Ibrahim dengan mata terpejam erat.
Tak butuh waktu lama bagi Ibrahim untuk menjemput mimpinya. Beberapa menit kemudian, bocah gempal itu sudah tertidur sangat lelap, lengkap dengan suara dengkuran halus yang cukup berisik di dalam keheningan kamar.
Maira mendengus kesal, membuka matanya kembali di tengah kegelapan. "Dia bilang jangan ngolooook, cendilinya ngolooook! Jangklik!" omel Maira berbisik jengkel.
Ia mencoba memejamkan matanya kembali, berusaha mengabaikan suara dengkuran Ibrahim dan tertidur. Namun sia-sia, matanya justru mendadak kembali segar benderang. Ada satu kebiasaan malam yang hilang dan tidak ia dapatkan saat ini. Maira akhirnya beranjak duduk di atas ranjang, mengusap kedua lengan gembulnya yang terasa dingin, dan tiba-tiba saja ia didera rasa rindu yang teramat sangat pada sosok abinya.
"Abi ... Mai nda bica bobo," gumamnya sedih. "Belum dengal culat Malyam, gimana Maila mau bobo," bisik anak itu lirih.
Tanpa berpikir panjang, Maira perlahan menurunkan kedua kaki pendeknya dari atas ranjang. Dengan langkah kaki yang sangat pelan agar tidak membangunkan Ibrahim, ia berjalan keluar dari kamar. Tangan kecilnya berusaha keras meraih knop pintu, menekannya ke bawah, lalu melangkahkan kaki mungilnya keluar menyusuri koridor rumah utama keluarga Ardana yang tampak sepi, sunyi, dan remang-remang.
Tiba-tiba, telinga mungil Maira menangkap sayup-sayup suara dari sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang teramat familier di telinganya itu mengalun indah membelah keheningan malam. Langkah kaki Maira secara refleks menuntunnya mendekat ke arah sumber suara tersebut. Suara itu terdengar begitu merdu dan menenangkan, hingga tangan gembul Maira perlahan mendorong daun pintu yang tidak terkunci rapat itu agar terbuka lebih lebar.
"Qoola robbi inni wahanal 'adzmu minnii wasyta'alarrosu syaiba walam akun bidu'aaika robbi syaqiyaa ...,"
Di dalam kamar yang bersih dan rapi itu, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun sedang duduk bersila di atas sajadahnya dengan mata terpejam rapat, khusyuk melantunkan hafalan ayat demi ayat dari surah Maryam. Kehadiran Maira yang berdiri mematung di ambang pintu sama sekali tidak disadari oleh anak itu. Ia terus melanjutkan hafalannya hingga tiba pada ayat terakhir.
"wa kam ahlakna qablahum min qarn, hal tuhissu min-hum min ahadin au tasma'u lahum rikza ...,"
Begitu selesai melafalkan ayat terakhir tersebut, sang anak laki-laki perlahan membuka matanya sembari mengembuskan napas lega. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendapati sesosok anak kecil perempuan berkuncir dua sudah berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan mata bulat tanpa berkedip.
Saking terkejutnya karena tidak mendengar suara langkah kaki sama sekali, anak laki-laki itu secara refleks menyentak tubuhnya ke belakang hingga kehilangan keseimbangan.
BRUGH!
"Astagfirullahaladzim!" serunya dengan dada kembang kempis menahan detak jantung yang berdegup kencang karena kaget setengah mati.
Maira memiringkan kepalanya sedikit, menatap sepupu tertuanya itu dengan pandangan polos tanpa dosa. "Kenapa? Maila bukan cetan," ucap Maira santai, sementara anak laki-laki itu masih memegangi dadanya, berusaha menetralkan rasa syok akibat kedatangannya yang tiba-tiba seperti hantu di tengah malam.
_______________________
Azzam jangan sia-siakan perjuangan Abi bawa anak istrimu kerumah utama,kamu harus pintar-pintar menghindari ratu Dajjal hana😬😬
klau ktemu nenek patonah