NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Interaksi kecil

Setelah memastikan kondisi tubuh Fadil sudah jauh membaik dan demamnya surut, Aura melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai atas karena jam dinding di koridor sudah menunjukkan waktu menjelang Subuh.

Dengan sisa tenaga yang melingkupi tubuhnya yang lelah, Aura mengambil wudu, menggelar sajadah, dan menunaikan salat Subuh dengan begitu khusyuk.

Di dalam sujudnya yang panjang, ia menumpahkan segala kepenatan dan kecemasan yang menyiksa batinnya.

Usai mengucap salam dan memanjatkan doa lirih, Aura bergegas melipat mukena dan turun kembali ke lantai bawah.

Firasat dan rasa khawatirnya sebagai seorang istri masih membumbung tinggi, mengingat semalam pria itu terkulai lemas dengan suhu tubuh yang sangat tinggi.

Ia berniat memeriksa kembali keadaan Fadil sekaligus menyiapkan sarapan hangat yang cocok untuk pemulihan kesehatannya.

Namun, saat kakinya menapaki ruang tengah, Aura tersentak kecil. Sofa panjang yang semalam menjadi tempat Fadil terbaring kini sudah kosong melompong. Selimut tebal sudah berlipat rapi di ujung sofa, sementara bantal telah kembali ke posisi semula.

Aura mengernyitkan dahinya dan sedikit panik. "Mas Fadil ke mana? Apa dia nekat pergi dalam keadaan masih lemas?" gumamnya cemas.

Ia lalu melangkah perlahan seraya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Saat melintasi lorong menuju kamar kerja yang pintunya sedikit terbuka, langkah Aura langsung terhenti.

Pandangannya mengunci satu titik di dalam ruangan tersebut.

Di balik celah pintu kayu yang renggang, tampak sosok Fadil berdiri tegap di atas sajadah hitam. Pria itu tengah khusyuk melaksanakan salat Subuh, merapatkan kedua tangannya di dada, lalu bersujud dengan begitu tenang.

Cahaya temaram lampu meja kerja membingkai siluet tubuhnya yang gagah, memancarkan aura kedamaian yang tak pernah Aura lihat sebelumnya dari pria yang biasa bersikap dingin dan keras itu.

Aura mematung selama beberapa detik, dan terpaku oleh pemandangan yang menyentuh sudut hatinya itu. Setitik rasa lega mengalir lembut di hatinya. Pria itu ternyata sudah jauh lebih sehat dan tetap ingat kepada Sang Pencipta di tengah badai emosi yang membakar kehidupannya.

Tak ingin mengganggu kekhusyukan salat suaminya, Aura perlahan mundur dan berbalik menuju dapur.

Dengan gerakan cekatan, Aura mulai menyalakan kompor, menyiapkan panci, dan memasak bubur ayam hangat.

Ia meracik kaldu gurih, menyiapkan irisan daging ayam suwir, daun bawang, serta bawang goreng sebagai taburan di atasnya. Aromanya yang wangi dan menggugah selera perlahan memenuhi area dapur.

Di tengah kesibukan Aura yang sedang mengaduk bubur di atas kompor, langkah kaki teratur terdengar dari arah belakang. Fadil melintas di dekat area dapur menuju lantai atas untuk bersiap-siap.

Aura yang refleks menoleh sudah membuka bibirnya, hendak menyapa dan menanyakan kondisinya. Namun, melihat Fadil berjalan lurus dengan pandangan dingin ke depan dan sama sekali tidak menoleh atau melirik ke arahnya, Aura pun mengurungkan niatnya.

Bibirnya kembali terkatup, dan ia menghela napas tipis seraya kembali fokus pada masakannya.

Beberapa saat kemudian, bubur ayam yang gurih sudah matang sempurna. Aura memindahkan bubur itu ke dalam wadah porselen dan menyajikannya dengan rapi di atas meja makan lengkap dengan mangkuk dan perlengkapnya.

Saat Aura sedang sibuk membilas beberapa peralatan masak di wastafel dapur, gilap sepatu kulit di atas lantai marmer menarik perhatiannya.

Aura membalikkan badan dan sedikit terkejut mendapati Fadil sudah rapi dalam balutan setelan jas kerja berwarna abu-abu gelap, lengkap dengan dasi yang terikat sempurna. Dan, Pria itu kini sudah duduk tegap di salah satu kursi meja makan.

Aura kemudian mengeringkan tangannya pada serbet, lalu bergegas menghampiri meja makan dengan raut wajah yang khawatir.

"Mas mau ke kantor? Apa tidak sebaiknya istirahat dulu di rumah? Semalam panas Mas Fadil tinggi sekali..." ujar Aura penuh perhatian.

"Aku baik-baik saja," potong Fadil. Kemudian, tangannya terulur meraih mangkuk di hadapannya, lalu matanya menyapu sekeliling meja, mencari cara untuk mengambil bubur dari panci porselen karena centong khusus bubur belum tersedia di atas meja.

Melihat kegugupan halus dari gerak-gerik suaminya, Aura dengan sigap mengambil centong kayu dari rak sendok.

Ia melangkah mendekati Fadil, menarik mangkuk porselen pria itu dengan lembut, lalu menyendokkan bubur ayam yang masih mengepulkan uap hangat ke dalamnya.

Dengan telaten dan teliti, Aura menata hidangan itu, menaburkan suwiran ayam yang berlimpah, irisan daun bawang yang segar, sedikit kerupuk, serta menyiramkan sedikit kuah kaldu hangat di pinggirannya.

"Ini Mas, dimakan selagi hangat," tutur Aura seraya meletakkan kembali mangkuk yang sudah terisi sempurna di hadapan Fadil.

Fadil mematung sejenak, dan menatap mangkuk bubur di hadapannya lalu beralih menatap jemari Aura yang baru saja menyajikannya.

Dinding dingin di wajahnya sempat goyah selama sepersekian detik, sebelum akhirnya ia meraih sendok dan mulai menyantap sarapannya dengan tenang.

Denting sendok yang beradu dengan dinding mangkuk porselen menjadi satu-satunya alunan suara yang memecah keheningan di ruang makan pagi itu.

Uap panas dari bubur ayam buatan Aura meliuk-liuk tipis di udara, membawa aroma gurih kaldu yang menyegarkan.

Fadil menyantap sarapannya dengan tenang. Berbeda dari hari-hari sebelumnya di mana ia selalu menolak keras, membiarkan masakan Aura mendingin tak tersentuh, atau sengaja pergi mencari sarapan di luar, tapi kali ini pria itu menghabiskannya hingga sendok terakhir.

Tidak ada bentakan, tidak ada cemoohan, dan tidak ada aksi penolakan secara terang-terangan. Namun, dengan tidak adanya percakapan antara mereka, suasana pun masih terasa tegang.

Aura sendiri duduk di sebrang meja, sambil memangku cangkir teh hangatnya dengan kedua tangan. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah pria di hadapannya, melihat wajah Fadil yang semalam pucat diterpa demam kini mulai kembali merona, yang menandakan staminanya perlahan pulih.

Meski begitu, raut wajah pria itu tetap setenang telaga es yang sulit diterka dan sarat akan jarak.

Hingga...

Saat suapan terakhir selesai, Fadil merapikan sendok dan garpunya di atas mangkuk secara sejajar. Ia menyapu bibirnya dengan serbet kain secara perlahan, lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.

Sensasi kecanggungan yang menggantung membuat Aura menahan napasnya dan menunggu apakah pria itu akan langsung berdiri dan pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun.

Kini, Fadil memajukan tubuhnya sedikit, memegang tepi meja, lalu beranjak dari duduknya. Namun, sebelum membalikkan badan, pria itu menatap ke arah Aura secara langsung.

"Nanti malam ada pesta pernikahan temanku," ujar Fadil. "Jika ada waktu, bersiaplah dan ikut denganku," tegasnya.

Aura sedikit terperanjat mendengar penuturan tersebut. Matanya membelalak pelan, tangannya yang memegang cangkir teh mendadak kaku.

Otaknya berusaha mencerna deretan kata yang baru saja meluncur dari bibir suaminya. Mengajaknya pergi ke sebuah pesta pernikahan? Di hadapan rekan-rekan dan relasi Fadil?

Berbagai keraguan menyergap benak Aura. Bagaimana jika orang-orang di pesta itu mengenali bahwa ia bukanlah Keisya? Bagaimana jika ia justru menjadi beban dan menambah rumit citra Fadil di depan umum?

Rasa ragu dan bingung melingkupi hatinya, hingga membuatnya tertahan untuk memberi jawaban langsung.

Melihat Aura yang terpaku dan tak kunjung bersuara, Fadil lantas menambahkan keterangannya dengan nada dingin yang rasional, hingga mengikis dugaan bahwa ajakan tersebut berasal dari keinginan pribadinya.

"Mereka memintaku mengajakmu, jadi aku tidak bisa menolak."

Setelah melontarkan kalimat itu, Fadil memutarkan tubuhnya dan melangkah tenang menuju ruang kerja. Pria itu masuk untuk mengambil tas dokumen serta berkas pekerjaan yang perlu dibawanya ke kantor hari ini.

Sementara itu, Aura masih duduk mematung di meja makan dalam beberapa saat. Pikirannya berkecamuk hebat. Menghadiri pesta pernikahan sebagai 'istri Fadil' berarti ia harus berpura-pura menjadi pasangan yang bahagia di depan khalayak ramai.

Padahal, di dalam rumah ini, mereka tak ubahnya dua orang asing yang terjebak dalam sangkar penderitaan.

Tap tap tap!!

Saat terdengar derap langkah sepatu kulit Fadil yang keluar dari kamar kerja dan hendak berjalan melintasi ruang tengah menuju pintu depan, Aura mengambil keputusan.

Ia berdiri dari kursinya dan beranjak, kemudian memajukan langkahnya beberapa langkah, lalu menyuarakan keraguannya dengan nada lirih namun terdengar jelas di tengah keheningan rumah.

"Apa aku boleh tidak pergi?"

Pertanyaan sederhana itu langsung menghentikan langkah Fadil secara mendadak tepat di dekat pintu utama. Pria itu memegang gagang pintu, dan mematung selama sepersekian detik, sebelum akhirnya memutar tubuhnya kembali.

Fadil menatap Aura secara tajam. Sorot matanya kembali membeku, seakan menyiratkan kelelahan atas situasi yang serba salah ini.

"Jika aku tidak peduli pada reputasi dan pekerjaanku, aku juga tidak akan memintamu untuk ikut," jawab Fadil lugas dan menusuk.

Tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi Aura untuk membantah atau mengajukan alasan tambahan, Fadil membalikkan badan, membuka pintu utama, dan melangkah keluar menuju garasi.

Suara pintu yang terhempas dan tertutup menjadi tanda mutlak bahwa perintah itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.

Aura berdiri bersandar di balik pintu yang telah tertutup rapat. Suara deru mesin mobil Fadil perlahan menjauh dan menghilang di balik gerbang kompleks, meninggalkan rumah besar itu yang kembali di peluk kesunyian.

Aura menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia menyapu wajahnya yang lelah dengan kedua telapak tangan lalu memejamkan matanya sejenak.

Penolakan bukan lagi pilihan yang ia miliki. Menjadi istri pengganti tidak hanya menuntutnya siap menanggung amarah Fadil di dalam rumah, tetapi juga harus siap menjadi tameng reputasi sang suami di luar sana.

Setelah itu, Aura melangkah kembali ke dapur, merapikan piring kotor dan meletakkannya ke dalam wastafel.

Sembari membilas sisa-sisa bubur, pikirannya terus melayang membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.

Ia lalu melirik ke arah gaun-gaun yang tersimpan di lemari kamar atas. "Haruskah aku memakai gaun milik Kak Keisya nanti malam?" batin Aura bertanya-tara.

Aura mengepalkan tangannya dengan pelan. Tidak. Ia memang menggantikan posisi kakaknya di pelaminan demi menutupi malu keluarga, tetapi ia tidak akan pernah mau hidup sebagai bayang-bayang Keisya dalam kehidupannya sehari-hari.

Jika malam nanti ia harus berdiri mendampingi Fadil sebagai seorang istri, maka ia akan hadir sebagai Aura, bukan sebagai tiruan dari kakaknya yang telah pergi meninggalkan luka.

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga Keisya tau diri dan gak jahat ke Aura karena dapat perhatian dari Fadil 😏
Aurora: /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/ suka suka suka...
total 15 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan.. beneran mencari Keysha... jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu itu.. meskipun Aura bahagia kakaknya ketemu, tapi sebagai seorang istri yg gak dikasih tau dlm mengambil keputusan pasti juga sakit hati😏
Aurora: udah up lagi tuh kak...🤗
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
Aurora: Wkwkwk... sekangen itu juga sama cerita Aura ya 🤭🤗🤗😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!