CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xiaoqi Bangga Berkata "Itu Ayahku!"
Hari itu cuaca sangat cerah. Langit biru bersih tanpa awan, matahari bersinar hangat namun tidak menyengat, angin sepoi-sepoi berhembus lembut membawa aroma bunga dari taman sekolah. Jam menunjukkan pukul satu siang — waktu pulang sekolah. Yicheng sudah berdiri di depan gerbang sejak pukul dua belas lewat empat puluh lima, berdiri di tempat yang mudah dilihat, tidak terlalu mencolok namun tidak tersembunyi. Ia mengenakan kemeja putih sederhana, rambutnya tersisir rapi, tangannya memegang botol minum dan tisu basah yang sudah disiapkan sejak pagi. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, tapi ia ingin terlihat siap — siap menyambut anaknya, siap menjadi ayah yang bisa dibanggakan.
Bel pulang berbunyi, dan tak lama kemudian, gerbang sekolah terbuka lebar. Anak-anak berlarian keluar dengan wajah ceria, memanggil nama orang tua mereka, bercerita dengan antusias tentang apa yang mereka pelajari hari ini. Yicheng berdiri tegak, matanya menatap lekat-lekat ke arah kerumunan anak-anak yang berjalan beriringan, mencari sosok kecil yang selalu ia rindukan — Xiaoqi.
Tak lama, ia melihatnya. Xiaoqi berjalan bersama dua teman sekelasnya, bercerita dengan gerakan tangan yang aktif, wajahnya berseri-seri penuh semangat. Saat melihat Yicheng berdiri di depan gerbang, langkahnya terhenti sejenak, lalu matanya membelalak bahagia. Tanpa berpamitan pada teman-temannya dulu, ia langsung berlari kecil ke arah Yicheng, tas punggungnya bergoyang-goyang di punggung kecilnya.
"Ayah!" teriaknya dengan suara keras, tidak peduli siapa yang mendengar.
Yicheng berlutut dan menangkap tubuh kecil itu dalam pelukannya, memeluknya erat, merasakan kehangatan tubuh anaknya, aroma sabun mandi dan kertas buku yang melekat di bajunya. "Xiaoqi. Ayah sudah menunggu dari tadi. Bagaimana sekolahmu hari ini?"
Xiaoqi melepaskan pelukannya, lalu menggenggam tangan Yicheng erat, menatap teman-temannya yang kini berdiri di dekat mereka dengan mata penuh rasa ingin tahu. Xiaoqi menarik tangan Yicheng ke depan, dada dibusungkan sedikit, wajahnya penuh kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.
"Ini Ayahku!" seru Xiaoqi dengan suara lantang, menunjuk Yicheng dengan jari telunjuknya. "Namanya Ayah Yicheng! Mulai sekarang Ayah yang akan sering menjemputku pulang sekolah!"
Dua temannya, seorang anak laki-laki dan seorang perempuan, melangkah maju sedikit, menatap Yicheng dengan kagum. "Wah, ayahmu tampan, Xiaoqi! Dan datang tepat waktu setiap hari!" kata anak perempuan itu.
Xiaoqi tersenyum lebar, menggenggam tangan Yicheng lebih erat lagi. "Iya! Ayahku hebat! Dia bekerja di gedung tertinggi di kota, tapi dia selalu punya waktu untukku! Ayah tidak pernah terlambat!"
Yicheng menatap anaknya dengan hati yang meluap-luap. Setiap kata yang keluar dari mulut Xiaoqi terasa seperti melukiskan kebahagiaan yang murni dan tulus — kebahagiaan yang begitu sederhana namun begitu berharga. Ia tidak menyangka bahwa kehadirannya saja sudah cukup membuat Xiaoqi merasa begitu istimewa, begitu bangga. Ia menunduk menatap anak itu, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari, lalu tersenyum lembut.
"Terima kasih, Xiaoqi. Ayah senang bisa menjemputmu," katanya pelan, namun penuh makna. "Dan Ayah akan selalu datang tepat waktu, seperti yang Ayah janjikan."
Saat mereka berjalan menuju mobil, Xiaoqi berjalan di samping Yicheng, tangannya tidak pernah melepaskan genggaman ayahnya. Sesekali ia menoleh ke teman-temannya yang berjalan di belakang, lalu kembali menatap Yicheng dengan senyum yang tak pernah hilang. Di sepanjang jalan menuju mobil, setiap kali ada anak lain yang menoleh ke arah mereka, Xiaoqi akan menegakkan punggungnya, menggenggam tangan Yicheng lebih erat, seakan ingin memberi tahu seluruh dunia — Ini Ayahku. Dia milikku. Dan dia ada di sini untukku.
Sesampainya di mobil, Yicheng membukakan pintu untuk Xiaoqi, memastikan sabuk pengamannya terpasang dengan benar sebelum duduk di kursi pengemudi. "Jalan pulang kita lewat taman sebentar ya? Mau lihat bunga mawar yang sedang mekar? Atau langsung pulang?"
"Mau lewat taman! Tapi Ayah…" Xiaoqi menatapnya dengan mata berbinar, ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun ia menunduk sejenak seakan malu. "Boleh Ayah pegang tanganku sampai kita pulang? Tadi teman-temanku bilang ayah mereka jarang memegang tangan mereka saat pulang sekolah. Tapi aku suka Ayah pegang tanganku. Rasanya aman."
Yicheng merasakan hatinya diremas lembut — permintaan yang begitu sederhana, namun begitu penuh makna. Ia mengulurkan tangan kanannya ke kursi belakang, menggenggam tangan kecil Xiaoqi yang langsung menyambutnya erat. "Tentu saja boleh. Ayah akan selalu memegang tanganmu, Xiaoqi. Kapan pun kau mau. Sampai kau besar nanti, sampai kau tidak butuh lagi, Ayah akan selalu ada di sini, siap memegang tanganmu."
Sepanjang perjalanan pulang, Xiaoqi tidak berhenti bercerita — tentang apa yang ia pelajari di kelas, tentang teman yang berbagi pensil dengannya, tentang lagu baru yang diajarkan guru, tentang gambar yang ia buat. Yicheng mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali bertanya, tersenyum, menanggapi setiap cerita seakan itu adalah hal paling penting di dunia. Ia tidak memegang kemudi dengan tangan kirinya saja, tangan kanannya tetap menggenggam tangan Xiaoqi sepanjang jalan — tidak pernah melepaskannya, tidak terganggu oleh ponsel, tidak terburu-buru. Hanya mereka berdua, berbagi ruang dan waktu, terhubung oleh genggaman tangan yang begitu kecil namun begitu kuat.
Sesampainya di rumah, Su Wan sudah menunggu di teras. Saat melihat mereka berjalan masuk — Xiaoqi berjalan di samping Yicheng, tangan mereka saling menggenggam, wajah keduanya sama-sama berseri-seri — Su Wan tersenyum lega. Ia tahu momen ini berarti banyak bagi Xiaoqi, dan melihat Yicheng begitu lembut dan penuh perhatian, hatinya terasa sedikit lebih tenang.
"Ibu!" seru Xiaoqi, berlari mendekat namun tangannya masih menggenggam tangan Yicheng, tidak mau melepaskannya. "Ayah menjemputku! Tadi di sekolah aku bilang pada semua temanku bahwa itu Ayahku! Mereka semua iri padaku!"
Su Wan mengusap kepala anaknya, lalu menatap Yicheng dengan senyum lembut. "Ibu dengar ceritanya dari Bu Guru. Xiaoqi sangat bangga hari ini. Terima kasih sudah menjemputnya tepat waktu."
Yicheng tersenyum, melepaskan tangan Xiaoqi perlahan agar anak itu bisa memeluk Su Wan, namun tetap berdiri di dekatnya. "Itu hal paling sederhana yang bisa kulakukan, Su Wan. Melihatnya begitu bangga… itu hadiah terbesar bagiku. Aku tidak akan pernah melewatkan satu pun hari jemputan sekolahnya. Tidak akan."
Sore itu, saat mereka duduk di halaman rumah, Xiaoqi duduk di antara Yicheng dan Su Wan, menggambar di atas kertas dengan krayon berwarna-warni. Ia menggambar tiga sosok — satu tinggi besar, satu sedang, satu kecil — semuanya bergandengan tangan, di bawah matahari yang melingkar sempurna. Di bawah gambar itu, dengan tulisan tangan yang masih belajar, ia menulis: Ayah, Ibu, dan Xiaoqi — Keluargaku.
Saat menunjukkan gambar itu kepada mereka, Xiaoqi menunjuk sosok tertinggi di sebelah kanan. "Ini Ayah. Karena Ayah paling tinggi dan paling kuat. Dan Ayah selalu memegang tanganku. Aku suka bilang pada semua orang bahwa itu Ayahku. Rasanya seperti aku punya pelindung paling hebat di dunia."
Yicheng menerima gambar itu dengan tangan yang sedikit bergetar, menatapnya lama, lalu menatap Xiaoqi dengan mata berkaca-kaca. "Ayah akan menyimpan gambar ini di meja kerja Ayah. Setiap hari Ayah akan melihatnya, dan Ayah akan ingat — Ayah punya anak yang paling hebat, yang paling bangga pada Ayah. Terima kasih, Xiaoqi. Terima kasih sudah bangga pada Ayah, padahal Ayah terlambat datang."
Xiaoqi memanjat ke pangkuan Yicheng, memeluk lehernya erat. "Tidak terlambat, Ayah. Yang penting Ayah datang. Dan Ayah tidak pergi lagi. Itu sudah cukup."
Su Wan menonton mereka dari samping, merasakan kehangatan yang perlahan mengisi ruang di antara mereka. Xiaoqi menemukan kebahagiaannya dalam hal-hal sederhana — genggaman tangan, kata-kata pengenalan yang penuh kebanggaan, kehadiran yang konsisten. Dan Yicheng, ia akhirnya mengerti — menjadi ayah bukan tentang seberapa besar kekayaan yang kau berikan, tapi tentang seberapa sering kau hadir, seberapa teguh kau berdiri di samping anakmu, dan seberapa bangga kau membuatnya merasa setiap kali ia berkata pada dunia: Itu Ayahku.