Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Aldo menuangkan air matang ke dalam tumisan bumbunya dan membiarkannya mendidih dengan perlahan.
Blub blub blub.
Dia memasukkan potongan tomat hijau, cabai rawit utuh, dan belimbing wuluh untuk memberikan rasa asam segar alami.
Setelah kuahnya terasa pas dan seimbang, Aldo perlahan meletakkan fillet bandeng utuh ke dalam panci.
"Jangan sering diaduk agar daging bandengnya tidak hancur," batin Aldo memberikan instruksi pada dirinya sendiri.
Ikan bandeng sangat rapuh apalagi setelah semua duri penopangnya dicabut habis.
Sementara itu ketiga juri mulai berjalan menyusuri lorong meja untuk memantau penderitaan para peserta.
Chef Arya berhenti di depan meja Kevin dan menatap jijik ke arah talenan pemuda tersebut.
"Apa yang kau lakukan pada ikan itu Kevin? Kau sedang membedah mayat atau sedang memasak?" sindir Chef Arya tajam.
Wajah Kevin langsung memerah padam menahan malu karena daging ikannya benar benar sudah tidak berbentuk fillet lagi.
"Duri ikan ini menempel sangat kuat di ototnya Chef, saya kesulitan menariknya tanpa merusak daging," alasan Kevin mencari pembenaran.
"Duri itu menempel kuat karena kau menariknya dengan emosi bukan dengan teknik," balas Chef Arya telak.
Chef Renata yang berdiri di sebelah Chef Arya ikut menggelengkan kepalanya kecewa.
"Kalau kau menyajikan daging hancur ini kepada pelanggan restoran, mereka akan melemparkannya kembali ke wajahmu Kevin."
"Saya akan menyiasatinya dengan saus yang kental Chef, saya jamin rasanya tetap enak," ucap Kevin mencoba membela diri.
"Kami akan buktikan nanti omong kosongmu itu, pastikan tidak ada duri yang lolos," ancam Chef Bram berlalu pergi.
Kevin menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah karena rasa kesal yang sudah memuncak di ubun ubun.
Dia segera mengambil pan teflon dan memanaskan mentega dalam jumlah yang sangat banyak.
"Aku akan membuat Bandeng Pan Seared dengan saus Beurre Blanc, masa bodoh dengan bentuknya yang hancur," gumam Kevin nekat.
Di sisi lain ruangan, Chef Arya kini berdiri tepat di depan meja masak Aldo.
Juri berwajah galak itu melipat tangannya dan menatap ke dalam panci kuah kuning bening milik Aldo.
"Kau terlihat sangat santai hari ini Aldo, sepertinya kau sangat menikmati penderitaan teman temanmu," ucap Chef Arya memecah konsentrasi Aldo.
"Saya tidak menikmati penderitaan siapapun Chef, saya hanya fokus pada pekerjaan saya sendiri," jawab Aldo sopan sambil mengecilkan api kompor.
Chef Arya menunjuk ke arah potongan ikan bandeng di dalam kuah mendidih tersebut.
"Daging bandengmu terlihat sangat utuh dan rapi, kau membelahnya dari punggung?"
"Benar Chef, membelah dari punggung memudahkan saya mencabut duri Y tanpa merusak dinding perut yang penuh lemak gurih."
Chef Arya mengangguk pelan mengagumi penjelasan teknis yang sangat akurat dari pemuda berpenampilan sederhana ini.
"Kau memasak Pindang Serani?" tanya Chef Arya lagi saat mencium aroma belimbing wuluh.
"Tepat sekali Chef, kuah bening ini akan membersihkan rasa amis bandeng tanpa menutupi rasa manis alami dagingnya."
"Menarik, pastikan saja kau tidak meninggalkan satu duri pun untuk merusak tenggorokanku nanti."
Chef Arya membalikkan badannya dan berjalan kembali ke arah podium meninggalkan Aldo dalam ketenangan dapurnya.
"Tiga puluh menit tersisa!" teriak panitia mengingatkan batas waktu.
Banyak peserta yang masih berkutat dengan pinset dan keringat sebesar biji jagung karena kesulitan mencari sisa duri.
Jojo yang meja masaknya agak jauh dari Aldo terlihat menangis pelan sambil terus meraba raba ikan bandengnya.
"Dagingnya hancur semua, aku pasti masuk Pressure Test hari ini," isak Jojo dengan hidung memerah.
Aldo yang mendengar isakan Jojo hanya bisa menghela nafas panjang karena dia tidak bisa turun tangan membantu lagi.
Ini adalah pertarungan individu murni di mana setiap koki harus bertanggung jawab atas kelemahan tangannya sendiri.
"Sepuluh menit terakhir, mulailah plating hidangan kalian sekarang juga!" komando Chef Renata menggunakan mikrofon.
Aldo mematikan kompornya dan mengambil sebuah mangkuk keramik lebar berwarna putih tulang.
Dia memindahkan fillet bandeng itu dengan sangat hati hati menggunakan dua buah spatula datar agar tidak patah di tengah jalan.
Plop.
Ikan bandeng mendarat sempurna di tengah mangkuk putih tersebut memancarkan warna daging keputihan yang sangat lembut.
Lalu Aldo menyiramkan kuah pindang kuning bening itu dari bagian pinggir mangkok agar tidak merusak tekstur daging.
Beberapa irisan tomat hijau, cabai rawit utuh, dan potongan belimbing wuluh ditata rapi di sekeliling ikan.
Asap panas mengepul ke udara membawa aroma segar yang langsung membuat perut siapapun berbunyi kelaparan.
"Selesai, ini adalah penampilan terbaik yang bisa aku berikan dari seekor ikan pinggiran," batin Aldo tersenyum lega.
Dia menggunakan lap bersih untuk mengelap sedikit cipratan kuah kuning di bibir mangkuknya.
Kebersihan piring adalah nilai estetika paling dasar yang selalu ditekankan oleh ibunya dulu saat melayani pelanggan katering.
Di seberang sana, Kevin sedang menyiram saus mentega kental berwarna putih kekuningan di atas tumpukan daging bandengnya yang hancur.
"Tampilannya mengerikan sekali Kevin, seperti makanan muntahan," komentar Leo yang kebetulan melihat piring Kevin.
"Tutup mulutmu Leo, urus saja ikanmu sendiri yang gosong itu!" bentak Kevin panik dan emosi.
Kevin mencoba menutupi daging hancur itu dengan beberapa lembar daun parsley segar namun hasilnya tetap tidak memuaskan.
Waktu terus berdetak mundur dan ketegangan di udara terasa sangat padat mencekik leher.
"Lima."
"Empat."
"Tiga."
Semua peserta memundurkan langkah mereka menjauhi meja masak dengan nafas terengah engah.
"Dua."
"Satu."
Teeet.
"Waktu habis, jatuhkan alat masak kalian dan angkat tangan sekarang juga!" teriak Chef Arya mutlak.
Suara desahan lega sekaligus putus asa berbaur menjadi satu dari dua belas peserta yang tersisa.
Ada yang terduduk lemas di lantai, ada yang menangis, dan ada yang tersenyum lega.
Aldo mengangkat tangannya dan menatap tajam ke arah Kevin yang terlihat sangat gelisah di tempatnya.
"Kau mungkin bisa menyuap orang dengan uangmu Kevin, tapi kau tidak akan pernah bisa menyuap duri ikan untuk mencabut dirinya sendiri," gumam Aldo pelan.
Momen pembuktian paling kejam akan segera dimulai di depan meja penjurian kayu jati tersebut.
"Kalian sudah merasakan sendiri betapa berharganya kemampuan pisau dasar di dapur ini," ucap Chef Bram.
"Kami akan memanggil kalian satu per satu ke depan."
"Jika kami tersedak oleh duri kalian, maka bersiaplah untuk memakai celemek hitam malam ini juga."
Suasana galeri mendadak sunyi senyap seolah malaikat pencabut nyawa sedang berjalan di antara mereka.
"Panggilan pertama, Jojo, bawa hidanganmu ke depan," panggil Chef Renata dengan nada datar.
Jojo memucat dan berjalan gemetar membawa piringnya yang berisi daging ikan tidak beraturan.
Penjurian hari ini akan menjadi pembantaian massal yang belum pernah terjadi sebelumnya di galeri Master Chef Nusantara.
makasi crazy up nya