NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Undangan Gala Malam

​Gaun malam berwarna biru tua terbentang sempurna di atas sofa ruang kerja, berdampingan dengan sepasang sepatu tumit tinggi yang menawan.

​Kain sutra gaun itu memantulkan cahaya lampu pilar dengan kilau yang sangat mewah. Potongannya terlihat elegan, menuntut postur tubuh yang sempurna bagi siapa pun yang berani mengenakannya.

​Aku berdiri mematung di tengah ruangan, menatap benda-benda tersebut dengan dahi berkerut tajam.

​Di balik meja kayu mahoninya, Sakti duduk dengan postur tegak. Tangannya sibuk menandatangani setumpuk dokumen persetujuan proyek, sama sekali tidak menatap ke arahku.

​"Pak Sakti," panggilku memecah keheningan. "Apakah ini semacam seragam baru untuk tugas lapangan saya?"

​Sakti menghentikan pergerakan penanya. Pria itu mengangkat wajahnya. Kacamata peraknya memantulkan kilat ketegasan mutlak.

​"Itu adalah pakaianmu untuk malam ini, Tera," jawab Sakti dengan nada bariton yang rendah. "Kosongkan jadwal analisismu. Kau akan mendampingiku menghadiri Gala Bisnis Tahunan korporasi malam ini."

​Aku melangkah maju mendekati mejanya. "Gala Bisnis? Itu adalah acara untuk jajaran direksi dan investor kelas atas, Pak. Saya hanyalah seorang asisten khusus. Kehadiran saya di sana melanggar protokol level manajemen."

​Sakti meletakkan penanya di atas meja. Ia menyandarkan punggung ke kursi kulitnya, menatapku lurus.

​"Protokol di perusahaan ini adalah apa pun yang aku tetapkan," ucap Sakti tanpa ruang untuk bantahan. "Kau sudah melihat sendiri bagaimana para eksekutif berupaya menjatuhkanku dari dalam. Aku butuh ketajaman matamu untuk memindai setiap kebohongan di ruangan itu malam ini."

​Antarmuka hijau mendadak menyala di sudut mataku.

​[Memindai Mikro Ekspresi Subjek: Sakti.]

[Status Emosi: Dominan, Protektif, Menyembunyikan Antisipasi Tinggi.]

[Analisis Tindakan: Subjek membutuhkan kehadiran Inang bukan hanya untuk keamanan data, melainkan untuk pendampingan personal.]

​Aku menekan bibirku rapat-rapat, mengabaikan analisis sistem yang mengarah pada urusan personal.

​"Saya tidak memiliki pengalaman menghadiri acara sosial kelas atas, Pak," aku mencoba memberikan alasan terakhir. "Saya bisa mempermalukan Anda jika saya salah melangkah atau salah berbicara di depan para miliarder itu."

​"Aku merekrutmu karena ketajaman logikamu, bukan karena keahlian sosialmu," potong Sakti cepat. "Kau hanya perlu berdiri di sisiku. Sisanya, biarkan aku yang mengurusnya."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Pintu ganda ruang kerja terbuka. Luis melangkah masuk dengan senyum lebar yang selalu menghiasi wajahnya.

​"Waktunya perombakan, Tera," sapa Luis riang, menepuk tangannya sekali. "Mobil sudah siap di lobi bawah. Kita memiliki waktu tepat tiga jam sebelum acara dimulai."

​Aku menoleh ke arah Luis dengan kebingungan. "Perombakan?"

​"Pak Sakti tidak mungkin membiarkan asisten khususnya datang ke Gala Bisnis dengan wajah kelelahan akibat menganalisis data seharian," jelas Luis. Ia mengambil gaun dan sepatu dari atas sofa dengan sangat hati-hati.

​Sakti kembali menunduk pada dokumennya, memberikan isyarat pengusiran secara halus. "Bawa dia, Luis. Pastikan dia siap tepat waktu."

​"Siap laksanakan, Bos," jawab Luis.

​Pria berkacamata itu memberikan isyarat agar aku mengikutinya keluar dari ruangan. Aku tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah mutlak dari CEO Vanguard Corp tersebut.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Luis membawaku ke sebuah salon dan butik kelas atas yang terletak di pusat distrik perbelanjaan elit.

​Lantai marmer putih, kaca-kaca raksasa berbingkai emas, dan deretan gaun desainer ternama menyambut kedatanganku. Beberapa staf salon langsung menghampiriku dengan postur tubuh membungkuk hormat.

​"Nona Tera, kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk Anda," ucap salah satu staf wanita dengan senyum profesional.

​Aku didudukkan di depan cermin rias yang dikelilingi lampu-lampu terang. Tiga orang penata gaya langsung bergerak serentak mengerubungiku.

​Sistem A.U.R.A di dalam kepalaku langsung bereaksi terhadap perubahan lingkungan yang drastis ini.

​[Mengaktifkan Mode Pemindaian Visual.]

[Mendeteksi Alat Rias dan Formulasi Kosmetik: Aman.]

​Seorang penata rias mulai mengaplikasikan alas bedak ke wajahku. Pergerakannya sangat cepat dan presisi.

​[Memindai Struktur Anatomi Wajah Inang.]

[Mengkalkulasi Palet Warna Optimal. Rekomendasi: Kontras riasan mata tajam dengan warna bibir netral untuk meningkatkan otoritas visual sebesar 45%.]

​Penata rias itu seolah mengikuti panduan dari sistemku tanpa menyadarinya. Riasannya menonjolkan ketajaman mataku, menyembunyikan seluruh gurat kelelahan akibat kurang tidur. Rambut hitamku ditata membentuk sanggul modern yang elegan, menyisakan beberapa helai anak rambut membingkai wajahku dengan sempurna.

​Proses perombakan itu memakan waktu hampir dua jam penuh.

​"Silakan ganti pakaian Anda dengan gaun ini, Nona," instruksi staf butik seraya membimbingku ke ruang ganti.

​Aku masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan gaun malam berwarna biru tua tersebut.

​Kainnya melekat sempurna di tubuhku, seolah memang dijahit khusus mengikuti lekuk tubuhku. Tidak ada bagian yang terlalu ketat atau terlalu longgar. Sepatu tumit tinggi setinggi dua belas sentimeter menjadi sentuhan terakhir.

​Saat aku melangkah keluar dari ruang ganti, aku nyaris kehilangan keseimbangan karena tidak terbiasa dengan hak setinggi ini.

​Sistem langsung memberikan intervensi instan.

​[Mengkalkulasi Titik Berat Gravitasi Inang.]

[Menyesuaikan Postur Tulang Belakang. Mengunci Otot Betis dan Paha untuk Keseimbangan Maksimal.]

​Sensasi hangat menjalar di sepanjang kakiku. Otot-ototku mendadak bergerak secara otomatis, menyesuaikan postur tubuhku menjadi sangat tegak. Langkah kakiku yang awalnya goyah kini berubah menjadi sangat mantap dan anggun layaknya seorang model profesional.

​Aku menatap pantulan diriku di cermin raksasa salon tersebut.

​Aku tertegun. Wanita yang menatap balik dari dalam cermin itu sama sekali tidak terlihat seperti Tera si staf administrasi rendahan yang terlilit hutang.

​Gaun biru tua itu memancarkan aura kemewahan yang tenang. Riasan wajahku menghapus seluruh jejak keputusasaan, menggantinya dengan ketegasan yang memukau. Aku terlihat seperti seorang eksekutif sejati.

​Luis yang sedang duduk di sofa ruang tunggu langsung berdiri saat melihatku keluar. Mulut pria itu sedikit terbuka.

​"Luar biasa," gumam Luis takjub. "Pak Sakti tidak pernah salah memilih investasi. Kau benar-benar siap untuk medan perang malam ini, Tera."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Mobil sedan mewah kami tiba di lobi hotel bintang lima tempat perhelatan Gala Bisnis berlangsung.

​Luis membukakan pintu mobil untukku. Aku melangkah keluar dengan postur sempurna, mengabaikan kilatan blitz kamera dari beberapa jurnalis bisnis yang meliput kedatangan para tamu VIP di area lobi.

​"Pak Sakti menunggu di ujung tangga utama. Aku hanya mengantarmu sampai di sini," ucap Luis memberikan arahan.

​Aku mengangguk pelan. Aku melangkah masuk ke dalam lobi hotel yang sangat megah. Langit-langitnya menjulang tinggi. Lantai pualamnya memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan mata.

​Di ujung tangga melingkar berlapis karpet merah, Sakti berdiri membelakangiku.

​Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan dasi kupu-kupu yang melingkar sempurna di kerahnya. Bahunya yang tegap dan posturnya yang menjulang tinggi membuat setiap pria lain di sekitarnya terlihat kerdil.

​Aku melangkahkan kakiku menaiki anak tangga satu per satu. Suara ketukan hak sepatuku menarik perhatiannya.

​Sakti memutar tubuhnya perlahan.

​Tatapannya langsung mengunci sosokku yang sedang berjalan naik ke arahnya.

​[Memindai Subjek: Sakti.]

[Peringatan: Terdeteksi Lonjakan Detak Jantung Subjek Sebesar 60%.]

[Status Emosi: Kekaguman Absolut, Posesif Tingkat Maksimal, Terpesona.]

​Wajah Sakti yang selalu keras dan sedingin es itu mendadak membeku. Mata elangnya di balik kacamata perak melebar sepersekian milimeter. Rahangnya sedikit mengendur.

​Pria yang mengendalikan ribuan karyawan dan triliunan aset itu kehilangan seluruh kata-katanya.

​Sakti membisu tanpa sepatah kata pun saat mengamatiku berjalan turun menuju arahnya.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!