Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 10 Nyaman yang tidak Seharusnya
Setelah semua tamu pulang, kata ucapan selamat selesai, dan puluhan foto bersama keluarga besar berhasil diabadikan dengan tingkat kepalsuan senyum yang nyaris profesional, Rania Azarina akhirnya menyadari satu fakta mengerikan.
Ia sekarang resmi tinggal serumah dengan Gavin Mahendra.
Bukan teori.
Bukan isi kontrak.
Bukan simulasi.
Tapi nyata.
Sangat nyata.
Dan sedang terjadi sekarang.
Mobil Gavin melaju pelan memasuki area apartemen mewah tempat pria itu tinggal.
Sejak meninggalkan gedung akad tiga puluh menit lalu, tidak banyak percakapan di antara mereka.
Rania duduk kaku di kursi penumpang sambil menatap lurus ke depan.
Masih mengenakan kebaya akadnya.
Masih memakai riasan pengantin.
Masih membawa buku nikah yang terasa seperti barang bukti tindak kriminal.
Sementara Gavin terlihat fokus menyetir.
Terlalu fokus.
Keheningan di antara mereka terasa aneh.
Bukan canggung biasa.
Lebih seperti dua orang yang baru saja melakukan keputusan terbesar dalam hidup tanpa sempat membaca syarat dan ketentuan secara detail.
Akhirnya Gavin berdeham.
“Jadi…”
Rania menoleh.
“Jadi?”
Gavin mengetuk pelan buku nikah di dashboard.
“Kayaknya kita baru bikin keputusan paling tidak profesional dalam hidup.”
“Saya menyebutnya tindakan kriminal terstruktur.”
Gavin terkekeh kecil.
Syukurlah.
Sarkasme Rania masih utuh.
Itu pertanda dunia belum benar-benar berakhir.
Mobil berhenti di basement.
Mereka turun.
Lalu berdiri canggung di depan lift.
Masih dengan pakaian pengantin.
Masih diam.
Seorang ibu paruh baya yang membawa belanjaan masuk ke lift yang sama.
Beliau menatap mereka.
Lalu tersenyum lebar.
“Wah, pengantin baru ya?”
Rania dan Gavin saling melirik.
“Sayangnya iya,” jawab Rania refleks.
Ibu itu terkekeh.
“Masih malu-malu, ya. Wajar.”
Rania memejamkan mata.
Bagus.
Sekarang ia bahkan terdengar seperti pengantin yang sedang denial.
Begitu lift sampai di lantai dua puluh tiga, Gavin membuka pintu apartemennya.
Dan untuk beberapa detik, Rania hanya berdiri di ambang pintu.
Apartemen itu luas.
Minimalis.
Rapi.
Terlalu rapi.
Dominasi warna abu-abu, hitam, dan putih membuat tempat itu terlihat seperti katalog interior premium.
Tidak ada foto keluarga.
Tidak ada dekorasi aneh.
Semuanya terlihat terlalu teratur.
Seperti showroom.
Dan tidak ada tanda-tanda kehidupan selain aroma kopi dan deretan buku bisnis di rak.
“Rumah atau katalog furnitur?” gumam Rania.
Gavin meletakkan kunci di meja.
“Saya suka yang simple.”
“Tentu saja.”
Ia masuk pelan.
Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai marmer.
Entah kenapa, begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, suasana langsung berubah.
Lebih sunyi.
Lebih sempit.
Lebih... pribadi.
Dan itu membuat jantung Rania berdetak sedikit lebih cepat.
Gavin berbalik.
“Oke. Kita bahas aturan serumah.”
Rania langsung lega.
Bagus.
Bahas aturan.
Itu aman.
Profesional.
Tidak melibatkan hal-hal yang membuatnya gugup tanpa alasan jelas.
“Pertama,” kata Gavin, “kamarmu di sebelah kanan lorong.”
“Bagus.”
“Kedua, kamar saya di ujung.”
“Lebih bagus.”
“Ketiga, jangan masuk kamar saya tanpa izin.”
Rania mengangkat alis.
“Lucu. Saya justru mau bilang hal yang sama.”
“Keempat, kulkas dibagi dua.”
“Deal.”
“Kelima, jangan sentuh mesin kopi saya.”
Rania menatapnya datar.
“Kenapa?”
“Itu mesin kopi limited edition.”
“Kalau saya sentuh, meledak?”
“Lebih buruk. Bisa berubah setting.”
Rania mendecak.
“Protektif sekali.”
“Kamu juga begitu sama laptopmu.”
“Valid.”
Saat Gavin sedang menjelaskan aturan, Rania tiba-tiba hampir terpeleset karena sepatu heelsnya yang menginjak gaun pengantin.
Gavin refleks menangkap pinggangnya.
Mereka terlalu dekat.
Tatapan ketemu.
Untuk beberapa saat, mereka saling menatap.
Bunyi kode digital terdengar dari pintu utama.
Gavin langsung menoleh tajam.
Lalu—
BRAK.
Suara keras dari lorong membuat keduanya tersentak.
Pintu apartemen mendadak terbuka.
Ratna Mawarni masuk dengan semangat seorang komandan operasi militer.
Di belakangnya ada Ambar Mahendra.
Masing-masing membawa koper.
Rania membeku.
“Mama?”
Ratna tersenyum cerah.
“Surprise!”
Wajah Gavin langsung pucat.
“...Mama?”
Ambar tersenyum elegan.
“Kami pikir malam pertama kalian akan lebih mudah kalau ada bantuan menata rumah.”
Sunyi.
Rania berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu menoleh ke Gavin.
Ekspresinya sama kosongnya.
“Mereka ngapain di sini?” bisik Rania.
“Saya juga baru tahu.”
Ratna sudah melangkah masuk lebih dulu.
“Mama bawa sprei baru!”
Ambar menyusul.
“Saya bawa lilin aromaterapi. Penting untuk kualitas tidur pasangan baru.”
Rania merasa migrainnya datang.
Dan itu belum seberapa.
Karena detik berikutnya Ratna berkata,
“Malam ini Mama dan Tante Ambar akan menginap di sini.”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Rania perlahan menoleh.
“Apartemen ini... cuma punya dua kamar.”
“Betul,” jawab Gavin pelan.
Ratna tersenyum terlalu lebar.
“Makanya kalian tidur sekamar.”
Hening total.
Jantung Rania seperti berhenti.
“Apa?” suaranya nyaris tercekat.
Ambar menyesap teh yang entah sejak kapan sudah disiapkan ART apartemen.
“Bukankah itu wajar?”
Wajar?
Wajar katanya.
Rania menoleh ke Gavin.
Pria itu juga tampak seperti baru saja mendengar pengumuman kiamat.
Ratna menepuk tangan.
“Oke! Sekarang kalian ganti baju, lalu istirahat. Jangan begadang.”
Lalu, dengan nada penuh arti, beliau menambahkan,
“Besok pagi Mama mau lihat wajah pengantin baru yang bahagia.”
Rania nyaris pingsan.
Satu jam kemudian, Rania berdiri kaku di depan pintu kamar Gavin.
Sudah berganti piyama.
Sudah menghapus makeup.
Sudah mencoba menerima takdir.
Tetap gagal.
Ia mengetuk pintu.
Gavin membukanya.
Kaos hitam polos.
Celana training.
Rambut sedikit berantakan.
Dan entah kenapa, penampilan santai itu justru jauh lebih berbahaya daripada beskap pengantin tadi pagi.
“Apa?” tanya Gavin pelan.
Rania menelan ludah.
“Kita benar-benar harus tidur sekamar?”
“Kalau kamu punya ide lain, saya terbuka.”
“Bunuh diri massal?”
“Kurang praktis.”
Rania mendesah.
Lalu masuk.
Untuk sesaat— Gavin membenci fakta bahwa Rania terlihat terlalu cocok berada di kamarnya.
Seolah perempuan itu memang seharusnya ada di sana.
Dan pikiran itu…
mengganggunya.
Kamar Gavin luas.
Terlalu rapi.
Dan hanya ada satu tempat tidur king-size di tengah.
Rania menatap ranjang itu seperti sedang menatap bom aktif.
“Kita bikin batas.”
Gavin mengernyit.
“Batas?”
Ia mengambil dua bantal sofa lalu meletakkannya memanjang di tengah ranjang.
“Garis pemisah.”
Gavin menatap hasil kerja itu.
Lalu terkekeh.
“Kamu pikir ini zona perang?”
“Ini lebih serius dari perang.”
“Dramatis.”
“Profesional.”
Gavin menggeleng sambil mematikan lampu utama.
Kini hanya lampu tidur yang menyala redup.
Rania berdiri terlalu lama di dekat ranjang.
Karena masalahnya bukan ukuran kasur.
Tapi fakta bahwa—
untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun,
ia harus tidur cukup dekat dengan seseorang.
Lelaki.
Yang bukan keluarga.
Dan anehnya—
justru Gavin.
Mereka berbaring.
Terpisah oleh benteng bantal.
Sama-sama kaku.
Sama-sama diam.
Sama-sama terlalu sadar bahwa beberapa jam lalu mereka mengucap akad.
“Rania.”
“Apa?”
“Kamu masih bangun?”
“Jelas.”
Hening sebentar.
Lalu Gavin berkata pelan,
“Kamu menyesal?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Rania menatap langit-langit.
Memikirkan semuanya.
Kontrak.
Pernikahan.
Keluarga.
Risiko.
Dan pria di sebelahnya.
Aneh.
Sangat aneh.
Tapi—
“Belum,” jawabnya jujur.
Ia mendengar Gavin mengembuskan napas kecil.
Seperti lega.
“Bagus.”
“Kalau kamu?”
“Belum juga.”
Sunyi lagi.
Namun kali ini tidak secanggung sebelumnya.
Justru terasa... tenang.
Sampai beberapa menit kemudian, Rania yang hampir terlelap mendadak merasakan sesuatu.
Benteng bantal di tengah ranjang runtuh.
Dan sesaat kemudian—
Sebuah lengan hangat melingkar di pinggangnya.
Tubuhnya langsung menegang.
Ia menoleh pelan.
Gavin tertidur.
Wajahnya tenang.
Napasnya teratur.
Jelas tidak sadar.
Tapi lengannya masih memeluknya.
Erat.
Embusan napas hangatnya menyentuh kulit leher Rania.
Jantung Rania berdetak liar.
“Gavin,” bisiknya.
Tidak ada respons.
Ia mencoba melepaskan tangan pria itu.
Gagal.
Pelukan itu justru makin erat.
Selama bertahun-tahun— Rania terbiasa tidur sendiri.
Terbiasa menghadapi semuanya sendiri.
Terbiasa menjaga jarak.
Tapi malam ini—
di apartemen yang terlalu sepi,
untuk pertama kalinya…
seseorang memeluknya tanpa meminta apa pun.
Tanpa pergi.
Tanpa menjanjikan apa pun.
Yang paling mengganggu adalah—
ia tidak merasa ingin mendorong Gavin menjauh.
Dan hal paling mengerikan adalah—
Rania sadar satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada kontrak mereka.
Ia merasa... nyaman.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.