Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran atau Kebohongan?
Hujan turun semakin deras, membasahi jalanan kota yang mulai sepi. Di dalam mobilnya, Citra menyetir dengan pikiran kacau, air mata tak henti mengalir membasahi pipinya. Kata-kata Rania dan rekaman suara itu terus berputar di kepalanya, menghancurkan keyakinan yang baru saja ia bangun. Baginya, semua pengakuan cinta Putra belakangan ini terasa kosong hanya rasa kasihan dan tanggung jawab, bukan perasaan tulus. Ia merasa menjadi wanita paling naif, yang jatuh cinta pada suami yang hatinya ternyata sudah dimiliki orang lain.
Sementara itu, Putra melesat dengan kecepatan tinggi menerobos tirai hujan. Wajahnya tegang, penuh amarah sekaligus kekhawatiran luar biasa. Fakta yang baru saja ia dengar dari Kolonel Bayu sungguh menggunjang dunianya. Wanita yang dulu ia cintai dan ia lindungi dengan segala pengorbanan, ternyata hanyalah alat dan mata-mata musuh. Hubungan mereka, kenangan indah, hingga pertunangan itu... semuanya direncanakan oleh Jenderal Adi untuk menguasai dirinya. Rania mendekat bukan karena cinta, tapi untuk tugas. Dan saat ia memutuskan hubungan demi keselamatan wanita itu, Rania justru menyimpan dendam karena gagal menjalankan misi. Kini ia kembali, bukan untuk cinta, tapi untuk balas dendam dan menghancurkan kebahagiaan Putra.
"Rania, kau sudah melampaui batas," geram Putra pelan, tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Ia sangat tahu wanita itu berbahaya, dan jika Rania sudah berani menemui Citra, berarti ia sudah menyiapkan jebakan yang mematikan.
Putra mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit, berharap Citra masih ada di sana, namun saat ia tiba, rekan kerja Citra mengatakan istrinya sudah pulang dengan keadaan menangis. Ia kemudian teringat alamat kafe yang disebut Kolonel Bayu sebagai tempat pertemuan mereka. Tanpa buang waktu, ia kembali memacu kendaraannya ke sana.
Di sisi lain kota, Citra memarkir mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi, dekat taman kota. Ia turun sebentar, berjalan di bawah guyuran hujan, membiarkan air dingin itu membasuh rasa sakit di hatinya. Ia merasa lelah-lelah dibohongi, lelah dibawa-bawa dalam permainan kekuasaan, dan lelah mencintai pria yang masa lalunya begitu rumit dan kelam.
"Kenapa... kenapa semuanya harus serumit ini?" bisiknya parau, suara tenggelam dalam suara hujan. "Apa salahku hingga harus membayar semua dosa orang lain?"
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, dan Rania turun sambil membawa payung, diikuti dua orang pria berbadan besar yang langsung mengepung Citra. Senyum wanita itu kembali menyeringai, dingin dan penuh ancaman.
"Kau ternyata polos sekali, Dokter. Aku pikir kau akan langsung pulang, ternyata kau malah berdiri di sini seperti anak kecil yang patah hati," ucap Rania sinis. Ia memberi isyarat, dua pria itu langsung mendekap lengan Citra kuat-kuat, mencegah wanita itu lari atau berteriak.
"Lepaskan aku! Apa maumu?!" seru Citra berjuang sekuat tenaga, namun tenaganya kalah jauh.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak mau berbuat kasar, tapi kau keras kepala. Aku sudah memberimu kesempatan untuk mundur secara terhormat, tapi kau tetap bertahan. Artinya aku harus menggunakan cara lain agar Putra kembali padaku sepenuhnya." Rania mendekat, menatap Citra dengan pandangan membunuh.
"Selama kau ada, dia tidak akan pernah melihatku lagi. Jadi, kau harus hilang. Sama seperti ayahmu yang harus dikorbankan, sama seperti Jenderal Adi yang gagal, kau juga harus menyingkir. Setelah kau tiada, aku akan bercerita padanya bahwa kau pergi sendiri karena tidak tahan dengan masa lalunya. Dia akan sedih, dia akan merasa bersalah, dan dia akan lari kembali ke pelukanku. Seperti rencana awal bertahun lalu."
Jantung Citra berdegup kencang karena ketakutan. Ia sadar, Rania bukan sekadar wanita yang patah hati, melainkan penjahat berdarah dingin yang terlibat dalam semua kejahatan masa lalu.
"Kau... kau bagian dari kejahatan itu juga, kan?" tuduh Citra di sela napas beratnya. "Kau sama jahatnya dengan Adi!"
Rania tertawa keras. "Tentu saja! Kami satu tim. Dan kau serta suamimu telah menghancurkan kerja keras kami bertahun-tahun. Sekarang giliranku menghancurkanmu."
Mereka berusaha menarik Citra masuk ke dalam mobil, namun naluri dokter dan tekad bertahan hidup membuat Citra berjuang mati-matian. Ia menggigit tangan salah satu pengawalnya hingga pria itu meringis kesakitan dan melepaskan cengkeraman. Citra langsung berlari menjauh, berteriak meminta tolong di tengah derasnya hujan.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia kabur!" teriak Rania marah.
Saat kedua pria itu hendak mengejar, sebuah mobil meluncur kencang dan berhenti mendadak tepat di antara Citra dan para pengejar itu. Pintu terbuka, dan sosok tegap dengan seragam militer basah kuyup melompat keluar dengan wajah yang menakutkan campuran amarah, ketakutan, dan tekad baja.
"JANGAN SENTUH ISTRIKU!" raung Putra menggelegar, suaranya terdengar hingga ke seberang jalan. Ia langsung menarik Citra ke belakang punggungnya, melindungi wanita itu sepenuhnya. Tangannya mencabut senjata dinasnya, mengarahkannya tepat ke dada Rania yang terkejut luar biasa.
"Putra... kau... kau ada di sini?" gumam Rania, wajahnya pucat namun masih berusaha menyembunyikan rasa takut. "Dia... dia yang mendekatiku, aku hanya ingin menenangkannya..."
"Cukup! Berhenti berbohong!" bentak Putra keras. Matanya menatap tajam tepat ke manik mata Rania. "Aku sudah tahu semuanya. Kolonel Bayu sudah memberitahuku kebenaran. Kau bukan cinta pertamaku, kau hanya mata-mata murahan yang dikirim Adi untuk menggerogoti hidupku. Hubungan kita bukan cinta, melainkan jebakan. Kau mendekatiku atas perintah, kau mencuri rahasia negara, dan kau yang membuatku membenci keluarga Lestari bertahun-tahun karena kau yang menanamkan fitnah itu!"
Rania mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Topeng manisnya runtuh seketika, berganti menjadi wajah penuh kebencian yang asli.
"Siapa yang bilang itu bohong? Aku memang mendekatimu atas perintah, tapi lama-kelamaan aku benar-benar mencintaimu! Kau lelaki terbaik yang pernah kutemui, dan kau malah membuangku demi wanita biasa ini!" seru Rania histeris, menunjuk Citra dengan pandangan membunuh. "Dia tidak sepadan denganmu! Dia hanya anak dari orang yang kau benci! Dia hanya pengganti!"
"Dia istriku! Dan dia satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa selain dendam!" potong Putra tegas. Ia merangkul bahu Citra erat, merasakan tubuh istrinya yang gemetar ketakutan.
"Semua kejahatan yang terjadi, semua penderitaanku, semua rasa sakit Citra... sebagian besar karena ulahmu dan Adi. Kau pikir aku masih akan percaya kata-katamu? Kau pikir rekaman suara itu, foto-foto itu, masih punya arti bagiku? Itu semua palsu, dibangun di atas kebohongan!" Putra mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi.
"Kau sudah terlibat banyak dosa, Rania. Dan malam ini, semuanya berakhir. Kau tidak akan menyakiti Citra lagi, dan kau tidak akan mengancam hidup kami lagi."
Di kejauhan, terdengar suara sirine mobil patroli yang mendekat, dipanggil Putra lewat radio komunikasi sejak ia menyadari bahaya yang mengancam. Rania menoleh panik, sadar bahwa jalan keluarnya sudah tertutup. Ia terkepung, baik oleh kebenaran maupun hukum.
Namun di detik terakhir, saat ia sadar dirinya kalah, Rania tersenyum miring yang mengerikan. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku gaunnya sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Kau pikir semuanya sudah berakhir, Putra? Kau pikir menangkapku akan membuatmu bahagia selamanya? Kau salah besar. Aku kehilangan segalanya karenamu, jadi kau juga harus merasakan hal yang sama."
Rania mengarahkan botol itu ke arah Citra.
"Di sini ada racun yang sangat berbahaya. Jika aku masuk penjara, jika aku tidak bisa memilikimu, maka aku pastikan wanita ini juga tidak akan pernah bisa bersamamu lagi selamanya. Dia akan hidup, tapi dia akan menderita lebih lama daripada kematian!"
Putra terkejut, hendak melompat mencegah, namun Rania bertindak lebih cepat. Ia melempar isi botol itu ke arah wajah Citra.
"JANGAN!" teriak Putra ngeri.
Namun, di detik kritis itu, Citra yang terlatih sebagai dokter dan sering menghadapi situasi darurat, dengan cepat menunduk dan mendorong tubuh Putra menjauh. Cairan itu tidak mengenai wajahnya, melainkan jatuh ke lengan kiri Putra yang terulur melindunginya.
"Ahhh!" Putra meringis kesakitan hebat, rasa panas dan terbakar seketika menjalar dari kulitnya.
Sirine semakin keras terdengar. Petugas kepolisian dan pasukan keamanan akhirnya tiba, langsung menangkap Rania dan kedua anak buahnya yang berusaha kabur. Rania berjuang, berteriak histeris, namun akhirnya ditarik masuk ke dalam mobil tahanan, meninggalkan ancaman terakhirnya yang menusuk hati.
"Ini belum selesai! Kebenaran yang sesungguhnya belum kau ketahui, Putra! Ada satu rahasia terakhir yang akan membuatmu menyesal seumur hidup! Kau akan menyesal telah memilihnya!"
Suara Rania lenyap dibawa kendaraan patroli. Suasana kembali hening, hanya terdengar suara hujan dan napas berat mereka berdua.
Citra langsung berlutut di samping Putra yang jatuh berpegangan pada tiang lampu. Wajah wanita itu pucat pasi, ketakutan luar biasa melihat kulit lengan suaminya yang mulai melepuh dan berubah warna.
"Mas! Tuhan... lenganmu!" seru Citra panik, seketika naluri medisnya mengambil alih. Ia merobek kain bajunya, mengikat bagian atas lengan untuk memperlambat penyebaran racun. "Tahan, Mas! Kita harus ke rumah sakit sekarang! Jangan tidur, tetap sadar!"
Putra menatap wajah Citra yang basah kuyup oleh air hujan dan air mata. Meski kesakitan luar biasa, ia tersenyum tipis, mengusap pipi istrinya dengan tangan kanannya yang masih utuh.
"Maafkan aku... Maafkan aku karena membawamu ke dalam bahaya ini lagi," bisik Putra lemah. "Tapi aku senang... senang itu bukan kamu. Asalkan kau selamat... aku rela apa pun."
Citra menggeleng kuat, menahan tangis agar bisa fokus menolong suaminya. "Jangan bicara seperti itu! Kau harus sembuh, Mas! Kita baru saja mulai... kita baru saja akan bahagia. Kau tidak boleh pergi!"
Mereka segera dibawa ambulans yang tiba di lokasi, meluncur kencang menuju rumah sakit. Di dalam perjalanan, Putra semakin lemah, namun matanya tak lepas menatap Citra. Di tengah kabut kesadarannya, kata-kata terakhir Rania terus bergaung di telinganya.
Bersambung...