Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Tirani Berjas Hitam
Anya menatap pantulan dirinya di cermin toilet lantai dasar Alfarezel Group. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas akibat kurang tidur, namun ia berhasil menutupinya dengan polesan *makeup* tipis yang natural. Kemeja putih dan rok span hitamnya disetrika serapi mungkin, menyembunyikan fakta bahwa pakaian itu adalah satu-satunya setelan formal terbaik yang ia miliki.
"Kau pasti bisa, Anya. Ini demi Ibu, demi utang rumah sakit," bisiknya pada diri sendiri, menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa gugup yang merayap.
Dua belas jam setelah insiden memalukan di lobi hotel, Anya secara ajaib mendapat panggilan wawancara darurat dari perusahaan properti terbesar di Jakarta ini. Posisi yang ditawarkan adalah Asisten Pribadi Jr. untuk jajaran direksi. Gajinya tiga kali lipat dari kantor lamanya cukup untuk mencicil biaya rumah sakit bulan ini jika ia diterima.
Ketika namanya dipanggil oleh sekretaris senior bernama Linda, jantung Anya berdegup dua kali lebih cepat.
"Silakan masuk, Nona Anya. Pak CEO sudah menunggu di dalam," ujar Linda dengan senyum formal yang misterius.
CEO? Anya agak terkejut. Bukankah untuk posisi junior biasanya hanya diwawancarai oleh HRD atau Manajer? Mengapa langsung oleh orang nomor satu di perusahaan?
Anya menepis keraguannya. Ia menegakkan bahu, mengetuk pintu jati besar itu tiga kali, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang teramat luas. Ruangan itu didominasi warna abu-abu gelap dan dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gedung pencakar langit Jakarta.
Di balik meja kerja marmer hitam yang mewah, seorang pria sedang duduk membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca.
"Selamat pagi, Pak. Saya Anya Anandita, pelamar untuk posisi..."
"Duduk."
Satu kata itu memotong kalimat Anya. Pendek, dingin, dan memiliki frekuensi bariton yang anehnya terasa tidak asing di telinga Anya. Bulu kuduk Anya mendadak meremang.
Pria itu memutar kursi kerjanya secara perlahan.
Begitu wajah sang CEO terlihat sepenuhnya di bawah cahaya lampu ruangan, napas Anya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna. Seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya seolah tersedot keluar dalam sekejap.
Rambut hitam yang ditata rapi, rahang tegas yang kokoh, dan sepasang mata elang yang menatapnya dengan binar dingin sekaligus meremehkan.
Pria itu adalah iblis berjas hitam dari lobi hotel tadi malam.
"Kau..." Anya refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan pekikan syok yang hampir lolos dari bibirnya.
Devan Alfarezel bersedekah dada. Ia tidak mengenakan jas wol mahal yang dirusak Anya semalam, melainkan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan kronograf mewah yang berkilau. Di atas mejanya, terdapat berkas CV milik Anya yang sudah terbuka.
"Senang melihatmu lagi, Nona Penumpah Kopi," desis Devan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum seringai tipis yang terlihat sangat mengintimidasi.
Anya merasakan seluruh tubuhnya mendingin. Habislah giliranku, ratapnya dalam hati. Dari jutaan gedung di Jakarta, mengapa ia harus melamar ke perusahaan milik pria arogan ini?
"P-Pak... Saya benar-benar tidak tahu kalau Anda adalah..." Anya terbata-bata, mencoba menyelamatkan harga diri sekaligus peluang kerjanya yang berada di ujung tanduk.
"Kau tidak tahu kalau aku adalah orang yang memegang kendali atas hidup dan matarmu di perusahaan ini?" Devan memotong ketus. Ia mengambil lembaran CV Anya, mengangkatnya tinggi-tinggi dengan dua jari, lalu menjatuhkannya kembali ke meja seperti membuang kertas tak berguna.
"IPK-mu bagus. Pengalaman kerjamu sebagai sekretaris di perusahaan sebelumnya juga tidak buruk. Tapi..." Devan memajukan tubuhnya, menatap Anya lekat-lekat dengan pandangan menindas. "Aku tidak butuh asisten yang ceroboh, jalannya menunduk, dan merusak barang milik atasannya. Bagaimana kau bisa mengurus jadwalku jika mengurus langkah kakimu sendiri saja kau tidak becus?"
Kata-kata Devan bagaikan belati yang menusuk tepat ke harga diri Anya. Rasa takut Anya perlahan menguap, digantikan oleh rasa panas yang menjalar ke dadanya. Rasa kesal dan amarah yang ia tahan sejak semalam mulai mendidih.
Anya mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Devan tanpa rasa takut lagi.
"Jika Anda ingin menolak saya karena sentimen pribadi atas kejadian tidak sengaja tadi malam, silakan, Pak Devan yang Terhormat," ujar Anya dengan nada suara yang ditekan, namun terdengar sangat tegas dan berani. "Tapi tolong jangan menghina profesionalitas saya. Saya berkompeten, dan saya di sini untuk bekerja secara profesional, bukan untuk dinilai berdasarkan satu kemalangan di tengah badai hujan."
Ruangan itu mendadak hening. Devan sedikit menaikkan sebelah alisnya. Ia tampak terkejut atau mungkin tidak menyangka bahwa wanita yang tadi malam menangis tersedu-sedu di lobi hotel kini berani menentang tatapannya dengan begitu berani.
Selama ini, tidak ada satu pun karyawan atau pelamar kerja yang berani menatap matanya, apalagi membalas perkataannya dengan nada menyindir seperti itu.
Devan menyandarkan kembali punggungnya ke kursi. Matanya menyipit, mengamati setiap jengkal ekspresi di wajah Anya yang kemerahan karena menahan amarah. Sebuah kilatan ketertarikan yang asing melintas cepat di mata elang pria itu, sebelum kembali berubah menjadi dingin dalam sekejap.
"Berani sekali kau bicara seperti itu di depanku," ucap Devan dengan nada rendah yang berbahaya. Ia meraih gagang telepon kabel di mejanya, menekan satu tombol ekstensi. "Linda, bawa wanita ini keluar dari ruanganku sekarang."
Anya memejamkan mata sesaat. Harapannya pupus. Ia bangkit berdiri, merapikan roknya, lalu membungkuk formal sekilas tanpa kehangatan sedikit pun.
"Terima kasih atas waktunya, Pak Devan. Semoga Anda menemukan asisten yang tidak pernah berbuat salah seumur hidupnya," sindir Anya tajam sebelum berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar.
Saat jemari Anya baru saja menyentuh gagang pintu, suara Devan kembali terdengar dari belakang, menghentikan gerakannya.
"Kau diterima, Anya Anandita. Masuk kerja besok jam tujuh pagi. Terlambat satu menit, kau keluar."