Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN SEPARUH HATI.
Malam itu terasa panjang dan sunyi bagi Ardiah. Kata-kata Bu Astuti masih bergema di kepalanya, bercampur dengan rasa takut yang mendalam. Di satu sisi, ia merasa iba pada kondisi Kakek Haikal. Seorang kakek tua yang berjuang demi melihat cucunya bahagia sebelum ajal menjemput. Di sisi lain, trauma masa lalunya berteriak keras. Pernikahan adalah penjara baginya. Label "mandul" adalah cap aib yang menghancurkannya. Bagaimana mungkin ia bisa masuk kembali ke dalam institusi yang pernah menyakitinya sedemikian rupa?
Ardiah terbangun pukul tiga pagi. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia duduk di tepi kasur, memejamkan mata, lalu bangkit menuju sajadah. Ia membutuhkan jawaban. Bukan dari logika, bukan dari uang lima puluh miliar, tapi dari Sang Pencipta. Dengan air mata yang mengalir deras, ia melaksanakan shalat Istikharah, memohon petunjuk agar hatinya diberi ketenangan dan jalan terbaik ditunjukkan.
Setelah salam, Ardiah tetap bersujud, berdoa hingga lelah menghampirinya. Ia tertidur pulas di atas sajadah. Dalam tidurnya, ia bermimpi aneh. Ia berada di sebuah ruang makan besar yang hangat. Ada cahaya kuning lembut. Di sana, ia melihat dirinya sendiri, Haikal, Bu Astuti, Pak Rizal, dan seorang kakek tua yang tersenyum ramah. Mereka tertawa. Haikal menyuapinya sesuap nasi dengan senyuman tulus, bukan senyuman tengil. Tidak ada penghakiman. Tidak ada label mandul. Hanya kehangatan keluarga yang selama ini ia idamkan. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu damai, hingga Ardiah menangis dalam tidurnya.
Bip-bip-bip!
Suara alarm ponsel membangunkannya. Waktu Subuh telah tiba. Ardiah membuka matanya, napasnya tersengal-sengal. Ia terpaku, mengingat mimpi itu dengan jelas. Apakah ini pertanda? Bisikan halus bertanya-tanya di benaknya. Tanpa membuang waktu, ia segera bangkit, berwudhu, dan melaksanakan shalat Subuh dengan khusyuk. Setelah selesai, hatinya terasa lebih ringan. Beban yang tadi malam menindih dadanya seolah berkurang separuh.
Ardiah bersiap-siap untuk kerja. Ia memilih pakaian kantor yang rapi namun nyaman. Di dapur mungil apartemennya, ia membuat teh hangat dan memanggang dua lembar roti. Sarapan sederhana itu ia nikmati sambil merenung. Wajahnya yang biasanya suram pagi ini tampak lebih cerah. Ada keputusan yang mulai terbentuk, meski belum sepenuhnya bulat. Ia akan bekerja hari ini dengan hati yang lebih terbuka.
Pukul sepuluh pagi, Ardiah sedang asik mengedit desain ketika Haikal muncul di depan mejanya. Pria itu mengenakan jas abu-abu gelap yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa.
“Siapkan dokumen proyek Gedung Serbaguna,” perintah Haikal singkat. “Kita akan bertemu klien potensial di gedung sebelah. Sekarang.”
Ardiah mengangguk, mengambil tablet dan folder dokumennya. Ia mengikuti Haikal menuju lift khusus eksekutif di ujung koridor. Lift itu luas, berlapis kaca, dan memantulkan diri mereka yang berdiri menjaga jarak. Pintu tertutup, dan lift mulai turun dengan mulus.
“Klien ini penting, Diah,” kata Haikal tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya menatap lurus ke depan, pantulan wajahnya terlihat di kaca lift. “Jangan sampai ada kesalahan.”
“Saya selalu profesional, Pak,” jawab Ardiah dingin.
Tiba-tiba, lampu di dalam lift berkedip sekali, lalu padam total. Gelap gulita. Lift berhenti mendadak dengan sentakan kasar yang membuat Ardiah kehilangan keseimbangan.
“Astaghfirullah!” seru Ardiah panik. Ia meraba-raba dinding, napasnya mulai cepat. Claustrophobianya kambuh. Ruang sempit, gelap, dan hening adalah momok terbesarnya sejak kecil.
“Diah? Kamu oke?” suara Haikal terdengar dekat.
“Gelap... saya tidak bisa napas...” Ardiah terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Ia merosot ke lantai, memeluk lututnya. Napasnya menjadi pendek-pendek, hiperventilasi menyerang.
Haikal tidak panik. Dalam kegelapan, indra pendengarannya bekerja maksimal. Ia mendengar napas Ardiah yang tersengal. Dengan tenang, ia berjongkok di samping Ardiah.
“Dengarkan suaraku, Diah,” bisik Haikal lembut. Suaranya stabil, menenangkan. “Tarik napas pelan. Hembuskan. Ikuti irama suaraku.”
Ardiah mencoba, tapi tangannya masih gemetar. Haikal kemudian melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia memeluk Ardiah dari belakang, menempelkan dadanya ke punggung Ardiah, dan menahan tangan wanita itu yang mencakar-cakar udara. Pelukan itu kuat, hangat, dan melindungi.
“Aku di sini. Kamu aman,” bisik Haikal tepat di telinga Ardiah. Aroma parfum woody-nya menyelimuti Ardiah, memberikan rasa familiar yang anehnya menenangkan.
Dalam kegelapan total, tanpa tatapan mata yang bisa saling menilai, pertahanan Ardiah runtuh. Ia merasakan detak jantung Haikal yang teratur di punggungnya. Perlahan, napasnya mulai melambat.
“Maaf...” bisik Ardiah lirih. “Saya takut tempat sempit.”
“Tidak apa-apa,” jawab Haikal. Suaranya berubah menjadi lebih personal, lebih rentan. “Sebenarnya... aku juga gugup, Diah.”
Ardiah mengerutkan kening, meski dalam gelap. “Gugup? Kamu? CEO Artha Design?”
“Iya,” aku Haikal jujur. “Aku jahil padamu, sering mengejek, sering membuat masalah... itu semua karena aku canggung. Aku tidak tahu cara mendekati wanita yang aku sukai selain dengan mencari perhatianmu. Bahkan jika itu perhatian yang kesal.”
Jantung Ardiah berhenti berdetak sesaat. Pengakuan itu keluar begitu saja, polos dan tulus. “Haikal...”
“Aku ingin kamu melihatku, Diah. Bukan sebagai bos, tapi sebagai pria yang peduli padamu,” lanjut Haikal pelan. Napasnya terasa hangat di leher Ardiah. “Dan aku berjanji, aku tidak akan memaksamu. Apapun keputusanmu tentang... tentang usulan pernikahan itu, aku akan mendukungmu.”
Ardiah terdiam. Air matanya kering. Hatinya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan asing. Ia hampir berkata sesuatu, namun bibirnya terasa kelu, hingga akhirnya.
Klik.
Tiba-tiba, lampu lift menyala terang benderang. Cahaya putih menyilaukan mata mereka. Momen intim itu pecah seketika.
Ardiah terlonjak kaget, melepaskan diri dari pelukan Haikal. Ia menoleh ke belakang. Haikal sudah berdiri, namun posisinya sangat aneh. Kakinya menyilang, satu tangannya terjulur ke sudut lantai lift, dan wajahnya merah padam.
Ternyata, saat lampu mati, Haikal tidak hanya memeluk Ardiah. Dia juga sedang berusaha mengambil koin seribu rupiah yang jatuh dari saku celananya di sudut lift, sehingga postur tubuhnya terlihat seperti sedang memeluk Ardiah dengan gaya kaku dan lucu, mirip pose patung yang salah cetak.
Ardiah menatap Haikal, lalu menatap koin di tangan Haikal, lalu kembali ke wajah Haikal yang malu setengah mati. Tawa meledak dari mulut Ardiah. Tawa lepas, renyah, dan tanpa beban. Ia tertawa sampai perutnya sakit.
Haikal yang tadinya berusaha memasang wajah dingin dan berwibawa, akhirnya menyerah. Ia ikut tertawa kecil, meski telinganya masih merah.
“Itu... itu koin keberuntungan,” alasan Haikal gagap, mencoba menyelamatkan harga dirinya.
Ardiah mengelap air mata akibat tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar bahagia. Dan di balik kelucuan momen itu, pengakuan Haikal tadi terus bergema di hatinya. Lift mungkin sudah terbuka, tapi pintu hati Ardiah justru baru saja mulai retak, memungkinkan cahaya yang baru masuk kesana.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...