Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi di langit, memancarkan cahaya perak yang dingin dan samar, cukup untuk menerangi halaman luas rumah Wijaya namun membuat sudut-sudut gelap rumah itu terasa makin misterius. Jam dinding di ruang tengah baru saja berdentang menunjukkan pukul sepuluh malam.
Sesuai rencana yang mereka sepakati sore tadi, Arya datang kembali ke rumah Wijaya, kali ini lewat pintu samping yang tersembunyi di balik rimbunan tanaman hias besar. Naya sudah menunggu di sana, mengenakan baju tidur panjang berwarna abu-abu dan jaket tebal, wajahnya tampak gugup namun bertekad kuat.
"Pak Bi Inah sudah pulang ke rumahnya di belakang. Ayah ada di ruang kerja sejak sore, dia biasanya mengunci diri sampai larut malam dan tidak mau diganggu. Ini kesempatan terbaik kita," bisik Naya pelan, matanya melirik ke arah lorong gelap dengan waspada.
Arya mengangguk. Ia mengikuti langkah ringan Naya menaiki tangga utama menuju lantai dua. Sepatu kets Arya yang sol karet membuat langkahnya nyaris tak bersuara. Suasana rumah besar itu hening mencekam, hanya terdengar suara detak jarum jam besar di ruang tamu dan suara jangkrik dari luar. Setiap lukisan leluhur yang tergantung di dinding seolah menatap tajam ke arah mereka, membuat nuansa menyusup malam ini terasa seperti adegan film thriller.
Tujuan mereka adalah ujung koridor lantai dua, di mana terletak ruang kerja pribadi Hendrawan Wijaya. Ruangan itu dikenal sebagai tempat terlarang. Sejak kecil, Naya selalu dilarang mendekati pintu kayu jati besar berukir naga itu.
Mereka berhenti tepat di depan pintu itu. Udara di sini terasa lebih dingin, lebih kaku. Naya menelan ludah, tangannya gemetar saat ia mengeluarkan seikat kunci kecil dari saku jaketnya.
"Aku curiga Bi Inah menyimpan cadangan kunci di dapur. Aku ambil diam-diam tadi," bisik Naya, matanya berkilat sedikit bangga di balik rasa takutnya.
Arya tersenyum tipis. Gadis ini benar-benar berubah drastis. Dari yang tadinya pasif, takut-takut, dan dingin, kini berani mengambil risiko besar demi kebenaran.
Jari-jemari ramping Naya menggenggam kunci, memasukkannya perlahan ke lubang kunci. Klik. Bunyi mekanisme besi beradu terdengar nyaring di keheningan malam. Naya menahan napas, memutar gagang pintu perlahan. Pintu berat itu terbuka sedikit, menampakkan celah gelap yang memancarkan aroma khas: campuran bau tembakau mahal, kertas tua, dan... sesuatu yang berbau apek, seperti rahasia yang sudah lama dikubur.
Mereka masuk, lalu menutup pintu kembali pelan-pelan. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai jendela besar. Arya menyalakan senter kecil di ponselnya, memancarkan berkas cahaya tipis yang bergerak menyapu isi ruangan.
Ruangan ini sangat luas, dominan warna cokelat gelap dan hitam. Ada meja kerja raksasa dari kayu mahoni di tengah, rak buku yang menjulur sampai langit-langit memenuhi satu sisi dinding, dan brankas besi besar yang tertanam di balik lukisan pemandangan gunung di sisi lain.
"Ini ruangannya..." gumam Naya, suaranya berbisik di dekat telinga Arya. Karena ruangan sempit dan penuh benda, mereka harus berdiri sangat dekat, bahu mereka saling bersentuhan. Panas tubuh Naya yang halus dan aroma melati samar dari rambutnya menyeruak masuk ke indra penciuman Arya, membuat detak jantung pemuda itu tak lagi berpacu karena bahaya, tapi karena alasan lain.
"Kita cari apa, Naya?" tanya Arya, berusaha fokus.
"Surat, buku catatan, dokumen lama, foto, apapun yang bertahun 1995 sampai 2005. Itu masa-masa kejayaan, kehancuran, dan saat aku lahir," jawab Naya, matanya sudah mulai menyapu permukaan meja kerja ayahnya.
Mereka mulai bekerja diam-diam. Naya memeriksa laci-laci meja, sementara Arya memeriksa rak-rak buku tua. Suasana di sana tegang, setiap derit laci atau gesekan kertas membuat keringat dingin bercucuran di pelipis mereka. Rasa takut ketahuan bercampur dengan adrenalin pencari kebenaran.
Di sela-sela ketegangan itu, tanpa sadar tangan mereka bersentuhan saat berebut mengambil sebuah map cokelat tua di sudut meja. Kulit tangan mereka saling bersentuhan, hangat dan halus. Keduanya terlonjak kaget, lalu saling menatap.
Di bawah cahaya remang senter ponsel, wajah mereka terlihat begitu dekat. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Arya bisa melihat jelas setiap inci wajah Naya: bulu matanya yang panjang melengkung, hidung mancung yang sedikit berkeringat, bibir mawar pucat yang sedikit terbuka karena napas terengah. Mata cokelat madu itu menatapnya balik, tidak lagi penuh curiga atau benci, melainkan penuh emosi yang campur aduk—rasa aman, ketergantungan, dan sesuatu yang lembut yang mulai mekar.
Jantung Arya berdegup kencang, begitu kuat sampai ia yakin Naya pasti bisa mendengarnya. Dorongan di dalam dadanya begitu kuat, ia ingin sekali merengkuh bahu mungil itu, menariknya ke dalam pelukan, dan melindunginya dari segala keburukan dunia.
Naya pun merasakan hal yang sama. Di dekat Arya, rasa takutnya hilang. Di dekat Arya, rumah menyeramkan ini terasa hangat. Kehadiran pemuda ini bagaikan jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kekacauan hidupnya. Jari-jemari Naya tidak menarik tangannya menjauh, malah perlahan melingkar, menggenggam jemari Arya erat di atas meja kayu dingin itu.
"Terima kasih..." bisik Naya nyaris tak terdengar. "Karena sudah ada di sini. Bersamaku."
Arya membalas genggaman itu, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya. "Aku janji, Naya. Aku tidak akan pergi. Kita selesaikan ini bareng-bareng, ingat?"
Naya mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tulus yang membuat jantung Arya serasa meledak. Momen intim itu terasa berhenti sejenak, seolah waktu membeku di ruangan terlarang itu. Ada sesuatu yang berubah, melampaui sekadar kerja sama atau ikatan masa lalu. Benih-benih cinta mulai bersemi di tanah yang gersang dan retak, tumbuh cepat disiram oleh bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi bersama.
Namun, momen manis itu terputus secara tiba-tiba.
KRAK!
Suara pintu utama ruang kerja dari arah luar terdengar terbuka! Bunyi engsel tua yang berkarat berdecit panjang dan keras, menembus dinding kayu setebal inci.
Mata Naya membelalak ketakutan. Wajahnya seputih kertas. "Ayah!" bisiknya histeris tanpa suara.
Suara langkah kaki berat dan lambat terdengar mendekat dari koridor. Tap... tap... tap... Langkah kaki orang yang lelah, tua, tapi penuh otoritas dan kemarahan.
"Cepat! Sembunyi!" desis Arya. Ia dengan sigap mematikan senter ponsel, merengkuh pinggang Naya, dan menarik gadis itu lari di kegelapan menuju satu-satunya tempat persembunyian yang cukup besar: di balik tirai tebal di samping jendela, tepat di sebelah lukisan besar yang menutupi brankas.
Baru saja mereka meluncur di balik tirai tebal beludru merah marun itu, pintu ruang kerja terbuka lebar. Lampu ruangan menyala terang seketika, menyilaukan mata yang sudah terbiasa gelap.
Hendrawan Wijaya masuk.
Pria paruh baya itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rambutnya yang hitam sudah banyak memutih, wajahnya keriput, matanya cekung dan merah, dikelilingi lingkaran hitam lebar. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang kancing atasnya terbuka, terlihat tidak rapi dan berantakan, sangat berbeda dari citra seorang tuan rumah yang sopan dan elegan. Aroma alkohol yang kuat tercium dari arahnya.
Hendrawan berjalan terhuyung-huyung mendekati meja kerjanya. Ia berhenti tepat di depan tempat mereka tadi berdiri.
Di balik tirai, napas Naya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia bisa melihat sepatu kulit ayahnya hanya berjarak kurang dari satu meter di depan hidungnya. Ia bisa mendengar napas berat, mendengus, dan suara geraman frustrasi ayahnya. Jika tirai ini tersentuh sedikit saja, nyawa mereka berdua mungkin melayang.
Arya sadar posisi mereka sangat berbahaya. Ruang di balik tirai sempit sekali. Untuk muat dua orang dewasa, mereka terpaksa harus berdiri serapat mungkin, menempel satu sama lain tanpa celah sedikitpun. Tubuh tinggi bidang Arya sepenuhnya melindungi tubuh kecil Naya di depannya. Dada Arya menempel erat ke punggung Naya, lengannya melingkar kuat di pinggang gadis itu, menekan tubuhnya agar tidak bergerak sedikitpun. Dagu Arya nyaris menyentuh puncak kepala Naya.
Dari posisi itu, Arya bisa merasakan detak jantung Naya yang berdegup liar, berpacu secepat kilat di bawah tulang rusuknya. Ia bisa merasakan setiap getaran ketakutan yang menjalar dari tubuh gadis itu.
Untuk menenangkannya, tanpa sadar, Arya menempelkan bibirnya persis di tepi telinga Naya. Napas hangatnya menyapu kulit sensitif di sana, membuat bulu kuduk Naya berdiri tegak bukan karena takut, tapi karena sensasi geli dan panas yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Tenang... aku di sini..." bisik Arya tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya di kulit telinga Naya. Tangannya mempererat pelukan di pinggang, memberikan kekuatan dan perlindungan mutlak.
Di luar tirai, Hendrawan menggeram kesal. Ia menyadari ada sesuatu yang berubah di mejanya. Beberapa buku dipindah posisinya, laci bawah sedikit terbuka.
"Siapa yang berani masuk ke sini?" geram Hendrawan serak. Ia meraba-raba saku celananya, mengeluarkan sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang—sebuah foto lama.
Di balik tirai, mata Arya membelalak kaget. Melalui celah tipis di lipatan kain tirai, ia bisa melihat jelas foto yang dipegang Hendrawan.
Itu foto yang sama persis dengan yang Arya miliki. Foto ibunya Dewi, Ibu Sari, dan Hendrawan muda. Tertawa bahagia, bersandar satu sama lain.
Hendrawan menatap foto itu lama sekali. Matanya yang merah basah oleh air mata alkoholik. Ia menyentuh wajah Dewi di foto itu dengan jari gemetar.
"Dewi... kenapa kamu harus pergi? Kenapa kamu harus mengkhianati aku dan memilih dia? Aku rela menyerahkan segalanya untukmu, Dewi. Bisnisku, nama baikku, nyawaku... semuanya," gumam Hendrawan sendiri, suaranya penuh kepahitan, rindu, tapi juga amarah yang meledak-ledak.
Arya terkejut setengah mati.
Mengkhianati? Memilih dia?
Siapa "dia"? Ayah Arya?
Apakah masalah masa lalu ini bukan sekadar soal bisnis dan uang? Apakah ada segitiga cinta yang rumit di antara orang tua mereka? Apakah ayah Naya dulu mencintai ibunya?
Penemuan ini mengguncang seluruh pemikiran Arya. Ternyata, benang merah ini jauh lebih rumit, lebih sakit, dan lebih berdarah-darah daripada yang ia bayangkan.
Hendrawan tiba-tiba menggeram keras, lalu meremas foto itu di tangannya, hendak merobeknya. Namun di detik terakhir, ia mengurungkan niatnya, menyimpan foto itu kembali ke saku, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Anak sialan itu... anak Dewi... dia sudah mulai mencari, kan? Aku tahu dia ada di sini. Aku tahu dia sudah bertemu Naya," gumam Hendrawan parau, matanya menatap tajam ke arah pintu tertutup, seolah bisa melihat menembus dinding. "Jangan harap aku akan membiarkan kalian mengulang sejarah masa lalu. Aku sudah kehilangan segalanya dulu. Aku tidak akan kehilangan Naya. Dan aku tidak akan membiarkan kamu, anak laki-laki sialan itu, mengambil apapun lagi dariku!"
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penuh kebencian yang murni dan mematikan. Naya di balik tirai menggigil hebat. Ia tidak pernah tahu ayahnya memendam kebencian sedalam ini, bukan hanya pada masa lalu, tapi khususnya pada Arya.
Untungnya, setelah mengumpat panjang lebar dan minum sebotol kecil alkohol, Hendrawan akhirnya berbalik, berjalan terhuyung-huyung keluar ruangan, lalu membanting pintu hingga bergetar. Suara kunci diputar dua kali terdengar jelas dari luar.
Mereka terkunci di dalam.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini terasa jauh lebih berat dan suram.
Lama mereka diam di posisi itu, memastikan langkah kaki ayah Naya benar-benar menghilang di lantai bawah. Napas mereka perlahan teratur kembali, tapi posisi tubuh mereka yang masih saling menempel erat membuat suasana tetap panas dan tegang.
Perlahan, Arya melepaskan pelukannya, namun tangannya masih bertengger lembut di bahu Naya. Naya berbalik menghadapnya. Wajah gadis itu merah padam, matanya berair bercampur rasa takut, lega, dan sesuatu yang tak terlukiskan.
"Dia... dia membencimu, Arya," bisik Naya gemetar, air mata menetes kembali. "Ayah... dia dulu mencintai Ibumu. Itu jelas sekali dari kata-katanya. Semua ini... semua bencana ini... bermula dari cinta yang tak terbalas."
Arya menghela napas berat. Ia merasa pusing, namun juga sadar mereka baru saja mendapatkan petunjuk paling besar malam ini.
"Rupanya, musuh kita bukan sekadar masa lalu, Naya," ucap Arya pelan, matanya tajam menatap pintu terkunci. "Musuh kita adalah cinta yang berubah jadi obsesi, lalu jadi dendam abadi. Dan musuh itu sedang tidur di kamar di bawah kita."
Arya lalu menatap Naya lekat-lekat, mengusap air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Tapi aku tidak peduli, Naya. Biarpun dia benci aku, biarpun dia ayahmu... aku tidak akan mundur. Karena sekarang, bukan cuma ibuku yang aku cari. Sekarang, ada kamu. Dan aku harus melindungimu dari dia, kalau perlu."
Kalimat itu terucap begitu saja, spontan, murni dari lubuk hati terdalam. Naya terdiam, menatap mata hitam Arya yang dalam dan jujur. Di detik itu, ia tahu satu hal: hatinya sudah jatuh. Jatuh sedalam-dalamnya pada pemuda yang dulu ia benci dan curigai.
Malam itu, terkunci di ruangan penuh rahasia dan bahaya, benih cinta itu tumbuh menjadi akar yang kuat, mengikat dua jiwa yang terluka menjadi satu. Namun, mereka juga sadar: perang baru saja dimulai, dan lawan mereka adalah orang terdekat Naya sendiri.
...Wah! Ini makin pelik dan makin bikin deg-degan! Ternyata si Ayah dulu cinta sama Ibu Arya, dendamnya bukan cuma soal uang. Ditambah momen sembunyi di balik tirai yang penuh ketegangan dan momen romantisnya. Gila!...