Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Keesokan paginya, Angel diberi kabar oleh Bu Dian bahwa ia dapat kembali berangkat ke sekolah dua hari kemudian. Berita-berita yang tersebar di akun-akun gossip sudah dihapus dan perusahaan tidak ada masalah dengan itu. Angel lega luar biasa, awalnya ia takut akan diputuskan kontraknya dan harus menjalani hidup dengan pandangan sinis dari orang lain.
Saat itu juga, William menelponnya dan menawarkan agar Dimas tetap menjaganya hingga keadaan benar-benar mereda yang ditolak olehnya. Angel merasa sudah cukup ia menerima kebaikan William Wijaya demi menghindari kesalahpahaman yang lain di masa depan.
Angel menatap dirinya di dalam cermin, ia menggerai rambut sebahunya dengan jepit berbentuk pita sebagai aksesoris. Ia mengambil blazzer berwarna navy yang merupakan satu set seragam sekolah, memakainya lalu tersenyum.
"Semangat Angel! Kamu bisa!" ucapnya pada diri sendiri. Ia kemudian menyambar kunci mobil lalu melengang keluar.
***
Memasuki area sekolah ia disambut oleh gerbang sekolah yang menjulang tinggi dan ukiran besi bertuliskan Xun Yi High school. Beberapa pohon glodokan tiang menjulang tinggi di samping pagar dan pohon mangga yang mulai tinggi. Angel memakirkan mobilnya. Sebelum keluar ia mengambil bedak dari dalam tasnya, mengaplikasikan ke wajahnya lalu memoleskan lipstik tipis ke bibirnya. Ia keluar dari mobil dengan kepercayaan diri penuh.
Angel melangkahkan kakinya menuju kelas, gedungnya berada lumayan jauh dari tempat parkir. Pada setiap langkah yang ia ambil adalah semangat untuk terus maju. Xun Yi High School adalah salah satu sekolah swasta elit di Indonesia, muridnya berasal dari anak kalangan pengusaha, kolega Xun Yi Group, bahkan para diplomat yang bertugas di Indonesia. Jadi apabila rumor beredar di antara mereka itu pasti akan cepat menyebar dan memengaruhi bisnis orang tua. Karena berkaitan dengan reputasi dan nama baik.
Sepanjang perjalanan menuju kelas Angel selalu merasa diperhatikan oleh anak-anak yang lain. Namun, ketika ia balas menatap mereka bersikap seolah tak acuh. Angel semakin mempercepat langkahnya, ia merasakan firasat buruk yang akan menimpa dirinya.
Suasana ramai mengelilingi mading sekolah, tapi Angel tak peduli. Ia berpikir bahwa itu mungkin pengumuman biasa. Tapi, tiba-tiba saja Avy keluar dari kerumunan itu, kepalanya celingak-celinguk seperti meencari seseorang. Dan yap, ia menemukan targetnya. Dengan wajah yang memerah menahan kesal, ia berlari menuju Angel.
"Kau harus melihat apa yang dilakukan seseorang padamu." Belum sempat Angel merespon keterejutannya atas kedatangan Avy yang tiba-tiba, tangannya dicengkram kuat disertai langkah kakinya yang cepat Avy mengajaknya membelah kerumunan itu.
Angel yang awalnya tak mengerti dan tak peduli tercengang melihat wajahnya bertengger di mading sekolah dengan pose-poese yang begitu menjijikkan. Meskipun ia seorang model, namun ia tak pernah melakukan pose demikian, begitu sensual dengan tanpa busana.
Tangannya mengepal, dadanya naik turun, wajahnya memerah karena menahan amarah. Ia melepaskan foto-foto tersebut dengan paksa yang mendapat tatapan aneh dari murid-murid yang lain.
Meskipun dia bukan berasal dari keluarga berpengaruh seperti teman-temannya yang lain, Angel adalah salah satu murid tercantik di sekolah. Tak hanya cantik, beberapa kali ia juga mewakili sekolah dalam banyak festival dan ajang pemilihan duta pelajar Indonesia. Karenanya, semua orang menatapnya dengan kagum dan penuh penghargaan. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, berbagai ekspresi mencemooh dan merendahkan di arahkan padanya.
Angel mencoba untuk mengabaikan mereka, ia menatap lurus ke depan, menegakkan bahunya, lalu berjalan menuju kelasnya. Tiba-tiba saja hpnya bergetar bertubi-tubi, Avy yang berada di sampingnya berhenti. "Aku tak ingin kau lebih terluka. Sebaiknya kau pulang ke rumah."
Matanya menyipit menatap Avy, "ada apa?" Tangannya merogoh kantong blazernya mengambil handphone yang sedari tadi bergetar.
"Angel...."
Angel menarik napasnya kuat, seolah udara di sekitarnya menipis. Jantungnya berdetak lima kali lebih cepat, keringat dingin perlahan keluar dari kulitnya yang putih, tangannya yang lembab bergetar hingga membuat ponselnya terjatuh.
"Angel.... Apa kau baik-baik saja?" panggil Avy lirih, ia menyentuh pundaknya pelan.
Angel berjengit kaget. "Aku baik-baik saja," jawabnya setengah linglung. Ia mengambil ponselnya yang terjatuh, lalu tersenyum. "Kau benar, lebih baik aku pulang saja." Angel berbalik, dan berlari menuju parkiran.
***
Angel menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. " Satu... Dua... Tiga..." Ia berhitung hingga ketenangan kembali menguasainya lalu menegak air mineral hingga separuh. Mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang, ia sangat membutuhkan seseorang saat ini. Darren adalah satu nama yang langsung terlintas di kepalanya.
Hingga beberapa kali Angel menelponnya namun tetap tidak ada jawaban dari Darren. "Kau dimana Darren?" ia menggerang frustasi. Seharusnya Darren sudah berada di sekolah, namun ia belum melihatnya sedangkan bel sekolah sebentar lagi berbunyi. Mustahil Darren tidak sekolah.
Menyerah untuk menghubungi Darren, Angel menghidupkan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan sekolah. Tidak ada tujuan lain selain ranjangnya, sebaiknya ia bergelung saja dengan selimut.
Ponselnya berdering, mungkin Darren yang balik menelponnya. Kali ini ia tidak akan mudah untuk memafkan Darren. Ia akan membuat laki-laki itu mengabulkan semua keinginannya. Angel menepikan mobilnya dan melihat nama yang tertera di layar.
William
Meskipun dipenuhi dengan perasaan heran, Angel memutuskan untuk mengangkat telpon. "Halo," jawab Angel setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Kau berada di kelas?" tanya suara yang ada di seberang telepon.
Di saat yang sama Angel ingin menjawab 'iya' tapi hati kecilnya seolah memintanya untuk berkata jujur dan menceritakan apa yang ia alami pagi ini. "Ya..." Angel menjawab ragu. "Tidak. Saya di jalan, di dalam mobil," lanjutnya setelah jeda cukup panjang.
"Kau tidak sekolah?"
"Saya tadi ke sekolah, sesuatu terjadi dan memutuskan untuk kembali."
"Apa yang terjadi? Apa kau terluka?"
"Tidak. Saya baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Pak William..."
"Ya?"
"Bisakah saya menemui bapak?"
***
Angel memakirkan mobilnya di basement salah satu apartemen elit di Jakarta. Sebenarnya William tadi menawarkan agar dirinya yang mendatangi Angel. Namun Angel menolak, ia butuh suasana baru yang menenangkan dan tak seorangpun mengenalnya.
"Bapak ada di mana?" tanya Angel ketika William memberikan beberapa opsi tempat yang bisa mereka datangi.
"Aku sedang berada di Apartemenku."
"Bagaimana jika kita bertemu di apartemen bapak saja? Saya sedang tak ingin bertemu dengan orang lain namun saya membutuhkan seseorang untuk menemani. Apakah bapak mengerti apa yang saya katakan?" William langsung menyetujui dan mengirimkan alamat padanya.
Dan di sinilah ia sekarang, di dalam lift menuju apartemen William. Angel paham seharusnya ia tak melakukan ini mengingat apa yang sudah orang itu lakukan padanya kemarin. Namun, entah bagaimana perasaan was-was sekaligus kenyamanan ia rasakan saat bersama William. Ia merasa bahwa bersama William semua akan baik-baik saja. Ini aneh, padahal ia mengenal William baru beberapa hari. Apakah William mempunyai benda semacam magnet yang dapat membuat siapapun mendekat dan nyaman padanya? Atau apapun itu yang bisa menjelaskan keanehan yang ia alami semenjak bertemu William. Namun, satu hal yang pasti ia memutuskan untuk percaya bahwa William akan melindungi dirinya bahkan dari dirinya sendiri.
***