Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Tertinggi dan Panggung Baru
Gema suara rekaman yang meledak dari Aula Pengawas ternyata merambat sangat jauh, memicu kegaduhan masif yang menarik perhatian banyak pihak di sekitar wilayah sekte luar. Di saat yang sama, rombongan Shui Xiao Ran bersama beberapa murid elit sekte dalam baru saja kembali untuk menyerahkan dokumen logistik misi mereka sebelumnya. Di koridor luar, melangkah pula Tetua Tie, Kepala Divisi Penegak Hukum Tertinggi dari Sekte Dalam, yang sedang memimpin patroli berkala untuk menegakkan disiplin sekte. Mendengar keributan massal dan suara dari Kristal Perekam, perhatian mereka semua serentak tertuju ke Aula Pengawas.
Shui Xiao Ran dan rekan-rekannya membelah kerumunan murid luar yang sedang panik. Namun, begitu langkah kakinya melewati ambang pintu gerbang kayu aula dan pandangannya tertuju pada sosok pemuda berbaju abu-abu yang sedang berdiri tenang di bawah tekanan Tetua Mo...
Deg!
Mata indah Shui Xiao Ran seketika terbelalak lebar. Otaknya seolah mengalami korsleting sesaat. ‘D-Dia... Orang yang menyelamatkanku dan yang lainnya di Lembah Tulang Putih?!’
Bagaimana mereka tidak syok, monster yang baru saja dihancurkan di lembah itu adalah King Kong Tulang Raksasa yang sebentar lagi mencapai ranah Pembentukan Inti. Bagi Shui Xiao Ran dan rekan-rekan elitnya, makhluk itu adalah mimpi buruk berjalan yang bahkan tidak bisa mereka gores meskipun telah menggabungkan seluruh formasi pedang terbaik sekte dalam. Namun dengan mudahnya itu hancur di hadapan seorang murid, terlebih lagi dari murid luar sekte mereka sendiri.
Melihat "Sosok penyelamat" nyawanya yang luar biasa itu ternyata adalah murid sekte luar yang sedang dijebak dan diancam secara keji oleh seorang tetua korup, rasa keadilan dan amarah Shui Xiao Ran langsung membumbung tinggi. Dirinya pun akhirnya sadar tentang apa yang terjadi saat ini, mengingat ia juga sempat mendengar kabar lalu lalang tentang sosok murid baru yang tengah berseteru dengan seorang tetua.
"Tetua Mo! Beraninya kau bertindak sewenang-wenang dan mengancam murid sekte menggunakan nama klan luar!" sebuah suara yang jernih namun penuh dengan ketegasan memotong kalimat Tetua Mo. Shui Xiao Ran melangkah maju ke tengah aula, matanya menatap tajam ke arah kursi pengawas.
Di belakangnya, Tetua Tie melangkah masuk dengan jubah hitam kelam bersulam pedang keadilan emas. Kehadiran Tetua Tie yang membawa wibawa mutlak penguasa ranah Pemutusan Belenggu tingkat Akhir, langsung membuat seluruh deputi aula buru-buru berlutut dengan tubuh gemetar.
"T-Tetua Tie... Nona Muda Shui?!" Tetua Mo terbata-bata, keringat dingin seketika membanjiri punggungnya.
"Tetua Tie," Shui Xiao Ran menangkupkan tangan dengan hormat namun tegas. "Saya dan rekan-rekan sekte dalam yang ikut melakukan misi dengan saya, menyaksikan sendiri integritas murid ini di Lembah Tulang Putih. Dan bukti dari Kristal Perekam Jiwa itu sudah lebih dari cukup. Tetua Mo telah menyalahgunakan otoritas sekte untuk melakukan pembunuhan terencana terhadap murid baru!" Ucapnya dengan tegas diikuti dengan anggukan setuju murid Sekte Dalam lainnya.
Tetua Tie yang mendengar itu, menatap tajam ke arah pecahan giok kehidupan di atas meja, lalu mendengarkan sisa gema rekaman suara jiwa dari kristal yang melayang. Sepasang matanya berkedip sedingin es, lalu tekanan aura raksasa runtuh dari tubuhnya, langsung menghantam Tetua Mo tanpa ampun.
PRAAAKKK!
"AAAKKKHHH!"
Lutut Tetua Mo seketika remuk menghantam lantai batu hingga hancur. Tubuh tuanya dipaksa tiarap mencium bumi, memuntahkan beberapa teguk darah segar.
"Zhao Mo, kau telah menodai hukum Sekte Langit Abadi," suara Tetua Tie menggelegar bagai guntur batin. "Di hadapan Hukum Tertinggi Sekte, jangankan Keluarga Zhao... bahkan jika Ketua Klan Zhao sendiri yang berdiri di sini hari ini, dia tidak akan bisa berbuat apapun untuk membelamu! Bawa dia pergi! Jebloskan ke Penjara Petir Sembilan Lapis dan hancurkan Kultivasinya. Penyelidikan penuh terhadap jaringan Keluarga Zhao yang menyokongnya akan segera dimulai!"
Dua bayangan jubah hitam dari Divisi Penegak Hukum muncul dari kehampaan, dengan kasar menyeret tubuh Tetua Mo yang sudah lemas dan tak berdaya keluar dari aula bagai seekor anjing mati. Jeritan penyesalan dan ketakutan Tetua Mo perlahan memudar di kejauhan.
Setelah kekacauan mereda, Tetua Tie menatap Ling Yun secara mendalam. Ada kilat ketertarikan di matanya melihat pemuda abu-abu itu tetap berdiri tegak tanpa goyah sedikit pun di bawah tekanan auranya tadi. Tetua Tie tersenyum tipis lalu melangkah memberikan salam kepada Shui Xiao Ran, sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan aula bersama orang-orangnya.
Kini, hanya tersisa Shui Xiao Ran yang berdiri di depan Ling Yun. Gadis itu menatap Ling Yun dengan pandangan campuran antara rasa takjub yang mendalam dan rasa canggung yang tidak bisa disembunyikan. Dia berjalan mendekat, lalu mengeluarkan sebuah token perak resmi bersulam lambang naga langit kecil dari balik lengan bajunya.
"Misi kalian... dinyatakan selesai dengan nilai sempurna oleh sekte," ucap Shui Xiao Ran dengan suara yang jauh lebih lembut, matanya melirik sekilas ke arah Lu Han lalu kembali ke Ling Yun. "Ini adalah Token Perak Ujian Promosi Sekte Dalam. Sebagai bentuk... apresiasi atas jasamu pada sekte dan juga ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkanku dan rekan-rekanku. Enam Bulan lagi, ujian masuk ke Sekte Dalam akan dimulai. Aku akan menunggumu di Sekte Dalam... Senior."
Shui Xiao Ran memberikan token tersebut ke tangan Ling Yun, memberikan seulas senyuman tipis yang memikat, sebelum akhirnya berbalik berjalan pergi bersama rekan-rekannya yang masih menatap Ling Yun dengan sisa rasa ngeri.
Aula Pengawas kini telah sunyi dari otoritas lamanya. Ling Yun menatap token perak di tangan, lalu melirik ke luar gerbang di mana ratusan murid sekte luar menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa takjub, hormat, dan ngeri. Hari ini, dengan memanfaatkan bukti tak terbantahkan dan kehadiran tidak sengaja dari Shui Xiao Ran, Ling Yun tidak hanya meremukkan Tetua Mo, tetapi juga mengamankan jalan tol menuju Sekte Dalam.
Menyentuh kantong penyimpanannya yang berisi Tanaman Obat Tulang Hitam kualitas puncak, seulas senyuman dingin yang penuh kepuasan terukir di wajah tampan Ling Yun. Penghalang terbesar di sekte luar telah disingkirkan, dan dengan obat ini di tangannya, terobosan ranah yang sesungguhnya kini berada di depan mata.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak. semoga sehat selalu untuk saudara-saudaraku.