NovelToon NovelToon
The Quite Predator In Class

The Quite Predator In Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yan Hidayat

"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."

Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ksatria Baja Hitam

​Dreeett... dreeett...!

​Langkah kaki mereka di koridor lantai dua mendadak terhenti oleh getaran beruntun dari dalam saku celana Bagas.

​"Eeh, ponsel gue geter nih," ucap Bagas sembari menghentikan langkahnya sebentar. Tangan kirinya yang bebas langsung merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan sebuah ponsel yang layarnya menyala menampilkan notifikasi pesan masuk dari grup WhatsApp kelas.

​Bagas mendekatkan layar ponsel ke wajahnya, membaca baris demi baris pesan yang baru saja dikirim oleh ketua kelas mereka. Sepasang matanya langsung berbinar jenaka. "Wah, wah! Kayanya Pak Jaka, guru geografi, gak ngajar deh hari ini. Kabarnya dia lagi sakit," seru Bagas dengan nada riang yang tidak bisa disembunyikan. Bagi anak SMA, kabar guru berhalangan hadir adalah sebuah berkah tiada tara.

​"Hmmp... gitu," jawab Alvin sesantai biasanya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi, seolah ada atau tidak adanya guru di dalam kelas tidak akan memengaruhi ketenangannya sedikit pun.

​Sembari terus berjalan menjinjing tongkat pel, Alvin melirik ke arah sahabat sebangkunya itu. "Gas, lo sendiri sebenarnya suka pelajaran apa?" tanya Alvin, sekadar mencari topik obrolan ringan untuk membunuh waktu di koridor.

​"Gue?" timpal Bagas menunjuk dirinya sendiri. Dia tampak berpikir sejenak sambil menimang-nimang ember plastik di tangannya. "Macem-macem sih... tergantung siapa yang ngajar."

​"Oh, gitu..." Alvin manggut-manggut kecil. Sudut matanya kembali melirik Bagas dengan tatapan menyelidik yang penuh arti. "Hmm... kayanya lo anak teladan ya. Gak ada beban, penurut."

​Mendengar penilaian yang tiba-tiba itu, langkah kaki Bagas langsung tersendat. Dia menoleh ke arah Alvin dengan dahi yang berkerut dalam dan wajah yang kebingungan. "Lah? Kok lo bisa kesimpulan gitu?" tanya Bagas, merasa dirinya jauh dari definisi "anak teladan" yang sesungguhnya.

​Alvin melempar senyum tipis yang sarat akan ledekan rahasia. "Iya... buktinya tadi gue bilang lo tunggu di atas pohon, lo mantep aja ngerujak di atas pohon kan?"

​Deg!

​Kata-kata Alvin langsung menghantam telak ego Bagas. Detik itu juga, wajah Bagas seketika memerah padam menahan malu. Mulutnya mendadak terkunci, megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen karena bingung harus membalas apa.

​Bagas langsung menepuk jidatnya sendiri dengan tangan kiri sampai menimbulkan suara plak yang cukup nyaring. 'Sialan! Bener juga kata si Alvin! Kenapa tadi gue nurut-nurut aja pas disuruh naik ke pohon jambu ya?!' jerit Bagas merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.

​Dia baru tersadar, pesona kepemimpinan dan aura predator Alvin tadi secara tidak sadar membuat tubuhnya bergerak sendiri mengikuti perintah cowok pendiam itu tanpa protes sedikit pun. Di atas pohon tadi, dia bahkan dengan sangat "teladan" menikmati jambu air sambil menonton baku hantam seperti penonton bioskop yang patuh.

​Bagas langsung mendengus pasrah, lalu tertawa renyah untuk menutupi rasa malunya yang meledak. Dia menyenggol lengan Alvin menggunakan sikunya dengan gemas. "Sialan lo, Vin! Itu mah namanya gue setia kawan, bukan penurut! Lagian, rujak jambu di atas dahan pohon itu sensasinya beda, lebih estetik!" bela Bagas dengan alasan yang dipaksakan, membuat Alvin yang mendengarnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala heran.

Alvin hanya tertawa kecil melihat tingkah membela diri sahabat sebangkunya itu.

Melihat Alvin yang mulai bisa diajak bercanda, Bagas kembali berjalan santai di sampingnya lalu bertanya penasaran, "Kalau lo sendiri gimana, Vin? Suka pelajaran apa?"

"Hmmm... cuma satu aja sih," jawab Alvin singkat dengan ekspresi wajah yang teramat santai.

"Cuma satu?" tanya Bagas dengan dahi mengkerut bingung. Sebagai anak baru, dia mengira Alvin punya satu mata pelajaran favorit yang sangat dikuasainya.

"Iya... pelajaran kosong. Haha," timpal Alvin lalu tertawa renyah.

"Pelajaran kosong?!" ulang Bagas yang sempat tertegun, sebelum akhirnya ikut tertawa lepas bersama Alvin. "Sialan, ternyata kita sefrekuensi, Vin! Semua anak sekolah juga paling doyan pelajaran itu!"

Alvin tersenyum lebar, lalu menyenggol pelan bahu Bagas dengan tongkat pelnya. "Kan katanya tadi... berat sama dijinjing, ringan sama dipikul."

Hahaha!

Tawa Bagas kembali meledak mendengar banyolannya sendiri dipakai Alvin untuk membenarkan kemalasan mereka terhadap jam pelajaran. Bagas tertawa geli sambil menepuk-nepuk bahu Alvin dengan akrab. "Bisa aja lo, Vin! Masuk akal, masuk akal!"

Langkah kaki Alvin dan Bagas akhirnya terhenti tepat di depan pintu kelas 10-2. Pemandangan di ambang pintu itu terlihat sedikit unik: Alvin berdiri tegap memegang tongkat kain pel di tangan kanannya, sementara Bagas berada di sebelahnya sembari menjinjing ember plastik kotor.

Melihat Alvin yang sama sekali tidak terlihat malu atau terbeban membawa peralatan bersih-bersih, Bagas tidak tahan untuk tidak menyeletuk pelan. "Kayanya... yang pantes dibilang anak teladan itu lo deh, Vin," bisik Bagas geli, membalikkan kata-kata Alvin yang menyindirnya di koridor tadi.

Alvin tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya melirik Bagas sekilas dengan sudut matanya, lalu melangkah lebar masuk ke dalam ruang kelas. Tujuannya hanya satu: langsung menuju ke arah meja mereka, di mana genangan cairan soda yang meledak tadi kini mulai mengering dan membuat lantai ubin putih itu berubah menjadi lengket serta kecokelatan.

Bagas mengekor di belakang, lalu meletakkan ember plastik di dekat kaki meja. "Ini... lo beneran mau ngepel, Vin?" tanya Bagas setengah tidak percaya.

Tanpa banyak bicara, Alvin mulai menggosokkan kain pel basah itu di atas lantai ubin yang lengket. Gerakannya sangat cekatan, rapi, dan terlihat sangat terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga.

"Gak tahu gue juga, Gas. Mungkin udah jadi kebiasaan gue dari dulu," jawab Alvin santai sembari terus menggerakkan tongkat pelnya maju mundur.

Alvin menghentikan gerakannya sejenak, bertumpu pada gagang pel lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada yang berwibawa, "Kata om-om gue dulu... anak laki-laki itu harus taat kebersihan, taat tata krama, dan sikap. Di sekolah itu kita bukan cuma harus pinter ngitung sama baca aja, tapi semua itu harus dipelajari dari hal yang paling kecil dulu... yaitu kebersihan."

Seketika itu juga, suasana di dalam kelas 10-2 yang tadinya bising dan ricuh karena jam kosong, mendadak senyap seketika. Gema suara Alvin yang berat dan tenang barusan terdengar begitu jelas di telinga siswa-siswi yang duduk di barisan depan dan tengah.

Reaksi seisi kelas benar-benar beragam, campur aduk antara syok, bingung, dan takjub.

Beberapa siswi perempuan yang sedang berkumpul di pojok kelas langsung menghentikan obrolan mereka. Mereka menatap Alvin tanpa berkedip dengan pipi yang merona tipis. 'Gila... cowok baru itu ternyata sensitif banget sama kebersihan. Udah ganteng, jago berantem, tapi gak gengsi buat ngepel. Idaman banget...' bisik salah satu siswi berkacamata kepada temannya dengan mata berbinar-binar. Ucapan Alvin tentang tata krama dan sikap seorang laki-laki benar-benar membuat standar cowok keren di mata para siswi langsung bergeser mutlak ke arah Alvin.

Sementara itu, gerombolan siswa laki-laki yang biasanya suka bikin onar di pojokan kelas langsung terdiam seribu bahasa. Mereka saling pandang dengan raut wajah yang kikuk dan agak tersindir. Kata-kata Alvin tentang "sekolah bukan cuma pinter ngitung dan baca, tapi harus belajar dari hal kecil" seolah menampar ego mereka yang sering abai dengan kebersihan kelas. Mereka yang tadinya mengira Alvin adalah tipe berandalan sombong yang kasar, kini harus menelan ludah dengan segan. Aura kepemimpinan Alvin terasa begitu pekat, membuat mereka secara sukarela menghormati aturan tak tertulis yang dibawa murid baru itu.

Bagas yang berdiri paling dekat dengan Alvin hanya bisa melongo, menatap sahabat sebangkunya itu dengan pandangan mata yang semakin bergetar takjub. 'Sial... om-omnya si Alvin pasti bukan orang sembarangan. Nasihatnya bener-bener berkelas. Nih anak makin lama makin keliatan kayak bos besar yang lagi menyamar jadi anak sekolahan,' batin Bagas dengan dada yang bergemuruh penuh rasa hormat. Tanpa diminta, Bagas langsung bergerak membantu Alvin memeras kain pel,

tidak ingin terlihat "tidak punya tata krama" di depan sahabatnya yang luar biasa ini.

Di barisan bangku dekat jendela, Luna yang sedari tadi hanya diam sembari membaca buku pelajarannya, ternyata memperhatikan segalanya. Sepasang matanya melihat dengan jelas dan telinganya mendengar dengan saksama apa pun yang Alvin katakan dan lakukan sejak pertama kali cowok itu menginjakkan kaki di kelas ini.

Luna melirik Alvin yang masih sibuk menggosok lantai ubin, lalu bergumam bingung di dalam hatinya. 'Om-om lagi... seperti tadi yang dia ucapkan pas bahas bersih pangkal sehat. Om-omnya? Kenapa bukan kata kakak, ayah, atau kakek?'

Luna terus menatap Alvin dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada gejolak emosi dan keraguan yang besar di dalam dadanya. 'Apa... apa mungkin ini sepupu ku yang hilang sepuluh tahun yang lalu? Apa mungkin dia...?' Luna menggelengkan kepalanya kecil. 'Ah, gak mungkin. Hanya namanya yang sama, mungkin ini juga cuma kebetulan. Gak mungkin dia tiba-tiba ada di sini...'

Luna memejamkan matanya erat-erat, mencoba mengusir pikiran gila yang mendadak muncul di kepalanya.

Tepat pada saat itu, di dekat meja ubin yang lengket, Alvin terdengar sedang bercanda santai dengan Bagas untuk mencairkan suasana ngepel mereka. "Gue kan Ksatria Baja Hitam!" ucap Alvin sembari terkekeh pelan.

Deg!

Seketika itu juga, Luna langsung membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya menegang saking terkejutnya. Dia langsung menolehkan kepalanya cepat, menatap lurus ke arah Alvin dengan tatapan syok yang tidak bisa disembunyikan.

Jantung Luna berdegup kencang, ingatan masa kecilnya mendadak berputar seperti kaset rusak. 'Satria Baja Hitam... itu kan...?' batin Luna tertahan, benar-benar tidak menyangka kalimat masa kecil itu akan keluar dari mulut murid pindahan misterius di depannya ini.

1
Bollong
tanda kutip/tanda bacanya di perhatikan lagi trus jangan pake kata gue elo/sebagainya pake kata saya saja.kalo pake kata GUE terlalu tidak enak pas di bacanya...
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
Yayan Hidayat
iya Kak
terima banyak,udah baca karya saya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!