NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa kabar

Arman perlahan merenggangkan pelukannya, mengusap air mata yang terlanjur membasahi pipinya dengan punggung tangan. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu getir di mata ibunya.

​Melihat tatapan penuh selidik dan kekhawatiran dari wanita paruh baya di depannya, keberanian Arman untuk jujur mendadak surut. Lidahnya kelu. Ego dan ketakutannya kembali mengambil alih. Ia tidak siap jika harus melihat kekecewaan di mata ibunya—satu-satunya tempat ia menaruh rasa hormat yang tulus. Maka, Arman memilih untuk menyembunyikan kebenaran di balik sebuah kebohongan yang terdengar manis.

​"Aku nggak apa-apa, Bu," ujar Arman, suaranya masih agak parau. "Arman cuma... cuma kangen banget sama Ibu."

​Ibu Arman menatap putranya dalam-dalam, mencoba mencari celah di balik mata merah itu. "Kangen sampai menangis begini, Man? Nggak biasanya."

​Arman mengangguk cepat, mencoba meyakinkan. "Iya, Bu. Akhir-akhir ini tugas kuliah lagi padat banget, terus pas tadi lewat daerah sini, Arman mendadak sadar kalau Arman udah lama banget nggak jenguk Ibu. Arman merasa bersalah."

​Kalimat itu tidak sepenuhnya bohong, dan justru karena itulah kebohongan Arman terasa begitu meyakinkan. Semenjak perceraian orang tuanya saat ia masih duduk di bangku SMP, Arman memang sangat jarang berkunjung. Pak Baskoro mengontrol ketat jadwalnya, mendiktenya untuk fokus belajar, dan secara halus selalu menghalangi Arman untuk bertemu sang ibu. Hingga akhirnya Arman tumbuh dewasa dan kuliah, intensitas pertemuannya dengan ibunya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan dalam setahun.

​Mendengar pengakuan itu, guratan khawatir di wajah ibunya perlahan melunak, digantikan oleh binar haru. Wanita itu tersenyum teduh, lalu mengusap lembut rambut Arman yang masih agak lembap sisa air hujan tadi.

​"Ya ampun, anak Ibu sudah besar tapi ternyata masih manja," goda ibunya lembut, mencoba mencairkan suasana. "Ibu nggak pernah marah, Man. Ibu tahu kamu sibuk.

Sudah, ayo masuk ke dalam. Ibu buatkan teh hangat, ya? Kebetulan tadi Ibu baru goreng pisang."

​Arman mengangguk pelan dan melangkah mengekor di belakang ibunya masuk ke dalam rumah sederhana itu. Saat pintu rumah ditutup, rasa hangat teh dan kasih sayang ibu sempat meredakan dingin di tubuhnya. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa bersalah yang teramat besar justru kian mencengkeram.

​Arman tahu, sementara ia di sini menikmati kehangatan dan menyembunyikan diri di balik kebohongan, di sudut kota yang lain, ada Kanaya yang sedang hancur sendirian di kamar kosnya, menanggung beban dari dosa yang mereka lakukan bersama.

Dua hari terasa berjalan begitu lambat bagi Arman. Sejak sore yang kacau di rumah ibunya, jemarinya tidak bisa berhenti memeriksa layar ponsel setiap beberapa menit sekali.

​Puluhan pesan WhatsApp sudah ia kirimkan. Mulai dari kata maaf yang panjang, penjelasan yang berputar-putar, hingga sekadar pertanyaan apakah Kanaya sudah makan atau belum. Namun, semua pesan itu bernasib sama: hanya menyisakan tanda centang dua abu-abu yang dingin, atau bahkan beralih menjadi centang satu. Panggilan teleponnya pun langsung dialihkan ke nada sibuk sebelum sempat berdering.

​Kanaya benar-benar menutup rapat semua akses. Perempuan itu sedang membangun dinding yang tinggi untuk menghindari Arman.

​Setiap kali Arman menatap ruang obrolan mereka yang sepi, rasa cemasnya kian memuncak. Di satu sisi, ego dan ketakutannya pada sang ayah masih membayangi. Namun di sisi lain, ketidakhadiran Kanaya justru memicu ketakutan baru yang jauh lebih besar: ketakutan bahwa ia telah benar-benar kehilangan perempuan yang dicintainya, sekaligus rasa bersalah karena tahu ia telah bertindak seperti seorang pengecut.

​Sore itu, Arman kembali duduk di atas motornya di seberang jalan, beberapa puluh meter dari gerbang kos Kanaya. Ia tidak berani masuk, takut jika kedatangannya justru akan membuat Kanaya semakin histeris atau membencinya.

​Dari kejauhan, ia hanya bisa menatap jendela kamar lantai dua yang tertutup rapat dengan gorden yang tak pernah tersingkap. Kanaya ada di dalam sana, berjuang sendirian melawan badai hidup dan keputusan besar yang harus diambilnya, sementara Arman hanya bisa berdiri di luar dinding itu, terasingkan oleh kesalahannya sendiri.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!