Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENUJU KOTA DEPOK
"Kalau tidak salah ingat, sekelompok orang ber-hoodie dengan logo ular di punggungnya adalah kelompok Black Snake."
"Di kehidupan lalu, mereka menguasai wilayah timur dan utara. Sementara wilayah selatan dan barat dipegang oleh Morgan dan Levelin dari Sekte Panglong."
Rian bergumam dalam hati. Dahinya mengkerut seiring ingatan pahit yang mendesak keluar. Di kehidupan sebelumnya, dia bodoh karena sudi bekerja sama memperluas wilayah Sekte Panglong, yang berujung pada pengkhianatan fatal terhadap dirinya.
"Tempat ini sudah tidak aman. Kita harus cari tempat baru, lebih bagus kalau ada basement-nya," pikir Rian.
Dia memutar otak. Wilayah dataran Bogor yang tinggi membuat mayoritas bangunannya berbeda dengan Jakarta yang penuh apartemen mewah ber-basement dalam. Bogor belum sepadat Depok atau Manggarai saat ini.
"Di masa lalu, wilayah barat dan utara memang paling aman. Tapi di daerah Depok dan Pondok Cina, ada wilayah yang dipegang oleh gang bernama Black Rock. Mereka sempat menguasai jalur Depok sampai Pasar Minggu, sebelum akhirnya digilas Sekte Panglong," Rian berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Rian, sepertinya mereka sudah pergi." Suara Budi memecah lamunan. Pria itu masih mengintai dari balik toren air, bersiap dengan mental bertarung jika seandainya kelompok Black Snake menyadari keberadaan mereka.
"Bagus. Kita juga bergerak sekarang. Kita menuju Depok di arah utara."
"Depok?" Ridho yang sejak tadi menyimak langsung memotong. "Bukankah lebih aman kalau kita ke arah timur? Di sana banyak pedesaan, kita bisa sembunyi dan berkebun dengan tenang."
Sebagai mantan ojek online, Ridho tentu tahu betul seluk-beluk jalanan. Logikanya masuk akal. Namun, dia tidak tahu bahwa adiknya telah mati sekali dan kembali dengan ingatan masa depan.
"Aku sudah memperhitungkannya, Kak. Depok itu perkotaan, pasokan logistiknya melimpah. Minimarket jauh lebih menjamur di sana ketimbang di pelosok utara," jawab Rian mantap.
Mumpung kiamat baru dimulai dan Depok belum dikuasai faksi mana pun, ini adalah kesempatan emas.
"Benar juga, aku tidak berpikir sampai ke sana. Baiklah, ayo ke Depok!" seru Ridho setuju.
Kelompok kecil itu bergegas. Mereka mengepak pakaian yang tersisa ke dalam tas.
"Kita pergi pakai mobil. Terlalu bunuh diri kalau lewat jalur kereta," perintah Rian.
Para perempuan di kelompok itu langsung menoleh cemas. "Mobil? Bukankah boros bensin? Kalau habis di tengah jalan bagaimana?"
Rian menatap mereka dingin. "Ini hari kiamat. Kita tinggal menyedot bensin dari mobil telantar atau menjarah pom bensin terdekat. Jangan cemaskan hal kecil seperti bensin, cemaskan nyawa kalian sendiri."
Kalimatnya menusuk, tapi tak ada yang berani membantah. Realitas dunia sudah berubah.
Rian segera pergi ke garasi dan menyalakan mobil tua mereka. Begitu roda berputar keluar dari area perumahan, pemandangan ngeri langsung menyambut: rumah-rumah hancur dan deretan minimarket yang jebol dijarah.
"Kak, apa sisa logistik kita cukup untuk satu bulan? Kita berlima sekarang," tanya Rian memastikan kekuatan stok mereka.
"Tidak, paling lama dua minggu. Waktu menjarah tadi sangat sempit," jawab Ridho agak menyesal. Namun bagi Rian, bisa mendapat pasokan dua minggu di awal kiamat sudah lebih dari cukup.
"Kalau begitu, kita memutar sedikit. Kita ambil jalur berbahaya lewat utara," Rian menginjak gas dalam-dalam, mengarahkan mobil membelah jalanan rawan macet yang kini lengang sekaligus mencekam.
Target pertama: Pasar Cibinong.
Mobil tua itu akhirnya berhenti tepat di depan pasar terbesar di Cibinong, tak jauh dari sebuah mal yang berdiri kokoh.
"Kalian para perempuan suka belanja, kan? Hari ini kita belanja daging segar di sini," ujar Rian datar. Di dunia baru ini, moralitas lama sudah runtuh. Wanita, nyawa, kemanusiaan—semuanya kelak bisa dihargai semurah sebotol air minum. Jika bukan karena rasa bersalah di masa lalu akibat kehilangan keluarga, Rian mungkin sudah memilih jadi solo player.
"Pasar ini... kenapa bersih sekali? Apa sudah ada tim evakuasi?" Ridho heran saat mereka turun. Tak ada genangan darah, tak ada mayat berjalan. Kosong melompong.
Rian melangkah masuk ke dalam pasar. Sepi. Namun tiba-tiba, cincin di jari manis tangan kirinya berdenyut dan memanas.
Matanya menangkap pendaran cahaya putih samar di pojok dinding beton. Bersamaan dengan itu, sebuah kotak teks semi-transparan mengambang di udara.
[Anda telah memasuki wilayah Safe Zone (Zona Aman). Dilarang keras melakukan kontak fisik, perkelahian, atau pembunuhan. Pelanggaran akan dikenakan sanksi eksekusi mati secara instan.]
Rian tersenyum tipis di balik kerah jaketnya. "Pantas saja tidak ada zombie. Kita benar-benar beruntung."