Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi buta menyingsing di Kota Senja. Langit masih kelabu, kabut tipis menyelimuti jalanan kosong, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Matahari belum terbit sepenuhnya, hanya ada bias cahaya oranye pucat di ufuk timur.
Sejak subuh, Arya dan Naya sudah bangun. Tak ada yang tidur semalam. Bagaimana mungkin memejamkan mata setelah membaca pengakuan mengerikan di buku harian Sari Wijaya? Di rumah kecil itu, suasana masih berat, sarat dengan kesedihan, kemarahan, dan tekad yang membara.
Naya sudah mandi dan berganti pakaian dengan baju milik Arya—kemeja flanel kebesaran dan celana jeans lama yang digulung di mata kaki. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, tapi sorot matanya tajam, dingin, dan tidak lagi ragu. Ia sudah bukan gadis manja yang dulu takut pada bayangan sendiri. Ia adalah anak dari Sari, wanita yang tegar yang mati demi kebenaran, dan ia akan meneruskan perjuangan ibunya.
Mereka berjalan kaki berdua menyusuri jalanan sepi menuju kawasan pasar loak di dekat stasiun tua. Arya memegang erat kaset VHS itu di dalam jaketnya, seolah memegang nyawanya sendiri. Setiap orang yang lewat, setiap mobil yang melintas, membuat mereka waspada. Mereka tahu, saat ini seluruh kota mungkin sedang diburu oleh anak buah Bimo—orang yang mereka dengar namanya semalam, tangan kanan yang selama ini melakukan kerja kotor Hendrawan.
Setelah berjalan dua puluh menit, mereka sampai di gang sempit di belakang stasiun kereta tua. Di sini udara bau debu, besi berkarat, dan oli. Deretan kios barang bekas berjejer, sebagian masih tertutup terpal. Di ujung gang, ada sebuah bangunan kayu reyot yang berderit terkena angin, dengan papan tulisan cat putih yang sudah pudar: PERBAIKAN ELEKTRONIK & BARANG ANTIK - PAK HADI.
"Di sini," bisik Arya, mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk itu tiga kali, diikuti dua ketukan cepat—kode rahasia yang dulu diajarkan ayahnya.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah keriput seorang kakek berambut putih tipis, berkacamata tebal, dengan tatapan mata elang yang tajam. Begitu melihat Arya, mata tua itu melebar kaget, lalu dengan cepat menarik mereka masuk ke dalam, menutup dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Arya? Ya Tuhan, kamu masih hidup!" seru Pak Hadi parau, napasnya terengah-engah karena kaget. Ia menatap Arya dari ujung kepala sampai kaki, lalu matanya jatuh pada Naya yang berdiri di belakang Arya. Kakek itu menyipitkan mata, menatap wajah Naya lekat-lekat, lalu terkejut bukan main. "Dan kamu... wajah itu... kamu mirip sekali... mirip Sari..."
"Pak Hadi, kami tidak punya banyak waktu," potong Arya cepat, suaranya rendah namun tegas. Ia langsung ke inti masalah. "Kami butuh bantuan Bapak. Kami harus menonton ini. Sekarang."
Arya mengeluarkan kaset VHS kuning pudar itu dari balik bajunya, meletakkannya di meja kerja berdebu yang penuh kabel dan sekrup. Mata Pak Hadi terbelalak. Ia mengenali label tulisan tangan itu. Tangan Sari Wijaya.
"Kaset ini... saya tahu kaset ini," gumam Pak Hadi gemetar, tangannya tua keriput menyentuh plastik kaset itu seolah menyentuh benda keramat. "Dua puluh delapan tahun lalu... Sari datang ke sini malam-malam. Dia panik luar biasa, wajahnya pucat, dia hamil besar waktu itu. Dia bilang, 'Pak Hadi, tolong simpan ini. Kalau aku mati, pastikan kaset ini sampai ke tangan orang yang benar.' Tapi dia takut kaset ini ditemukan, jadi dia bawa lagi pulang, bilang dia mau sembunyikan di tempat yang lebih aman. Saya pikir kaset ini sudah hancur lenyap saat rumah mereka digeledah dulu. Ternyata kamu yang temukan, Nak?"
Naya mengangguk pelan, air mata kembali menggenang, tapi kali ini ia menahannya. "Iya, Kakek. Ini milik Ibuku. Dan kami harus tahu isinya. Demi kebenaran."
Pak Hadi menatap kedua anak muda itu bergantian. Ia melihat luka, rasa sakit, dan api pembalasan di mata mereka. Kakek itu menghela napas panjang, lalu mengangguk berat.
"Baik. Ikut saya."
Pak Hadi membawa mereka masuk ke ruangan belakang, gudang sempit yang berbau apek dan kertas tua. Di sudut ruangan, tertumpuk tumpukan barang elektronik jadul—radio tabung, televisi tabung besar, dan satu set pemutar VHS model lama merek Sony yang besar dan berat, masih tertutup lapisan debu tebal.
Kakek itu membersihkan debu dengan kain lap kasar, lalu menyambungkan kabel-kabelnya ke televisi tabung 21 inci yang gambarnya melengkung.
"Alat ini sudah lama tidak nyala. Semoga masih berfungsi," gumam Pak Hadi. Ia memasukkan kaset VHS itu ke dalam lubang mesin. Krak... wung. Kaset masuk. Ia menekan tombol PLAY.
Suara desis statis terdengar keras di ruangan sunyi. Layar televisi yang dulu hitam kini menyala, memancarkan cahaya biru kelabu yang berkedip-kedip. Garis-garis putih melintang di layar, lalu perlahan gambar mulai terbentuk, meski kualitasnya buram, bergaris, dan warnanya sudah memudar menjadi kecokelatan.
Waktu di layar menunjukkan: 12 OKTOBER 1998 - 23.15 WIB.
Malam itu. Malam kematian Sari. Malam kelahiran Naya.
Gambar pertama menampilkan ruangan yang familiar. Ruang kerja rumah Wijaya. Sudut pandang kamera diletakkan tinggi di atas rak buku, tersembunyi di balik tumpukan buku, merekam seluruh isi ruangan secara diam-diam. Cahaya ruangan redup, hanya diterangi lampu meja kerja.
Di dalam gambar, terlihat jelas sosok Sari Wijaya.
Ia duduk di sofa, perutnya besar membuncit karena hamil tua, wajahnya cantik namun terlihat sangat lelah, stres, dan pucat. Ia memegang kamera genggam kecil di tangannya—yang ternyata adalah sumber rekaman ini—lalu meletakkannya diam-diam di atas rak, mengarahkan lensanya ke tengah ruangan. Ia berjalan kembali duduk, lalu menunggu. Napasnya terdengar berat dan cepat lewat rekaman audio yang mendesis.
Tak lama kemudian, pintu terbuka kasar.
Masuklah Hendrawan Wijaya.
Masih muda, tampan, berpakaian rapi setelan jas mahal, tapi wajahnya kucel, matanya liar, rambutnya berantakan, bajunya kotor terkena lumpur dan debu. Ia terhuyung-huyung, jelas sekali habis minum alkohol banyak. Di belakangnya, masuk juga dua pria bertubuh besar, berwajah garang, berpakaian serba gelap. Salah satunya... wajahnya terlihat samar namun cukup jelas untuk dikenali.
"Bimo..." bisik Arya pelan, genggaman tangannya pada Naya makin erat.
Iya. Pria tua jahat yang menahan Hendrawan semalam itu. Dua puluh delapan tahun lalu, dia sudah ada di sana. Sudah jadi tangan kanan kepercayaan Hendrawan.
"Kamu tunggu apa lagi, hah?!" bentak Hendrawan dengan suara serak basah, membanting tas kulit besar ke atas meja kerja. "Bungkus semuanya! Kita harus pergi sekarang juga sebelum polisi datang!"
Dua orang anak buah itu segera bergerak cepat, mengambil map-map dokumen, memasukkan ke dalam tas, mengambil uang tunai, dan barang berharga.
Sari berdiri perlahan dari sofa, meski kakinya berat. Wajahnya tegang, matanya tajam menatap suaminya.
"Kamu tidak akan ke mana-mana, Hendrawan," suara Sari terdengar tenang namun dingin lewat pita rekaman. Suaranya sendiri, suara ibunya, membuat Naya bergidik hebat. "Saya sudah telepon polisi. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini."
Gerakan di ruangan itu terhenti total. Hendrawan perlahan berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang mengerikan—campuran antara tidak percaya, amarah, dan kebencian murni. Tatapan monster.
"Kamu... kamu lakukan apa?" desis Hendrawan pelan, melangkah mendekati Sari dengan langkah berat dan mengancam.
"Saya sudah cukup, Hendrawan. Saya sudah muak hidup dalam kebohongan. Saya sudah muak jadi istri boneka kamu. Saya tahu semuanya. Kamu yang curi uang investor. Kamu yang jebak Andi. Kamu yang mau bunuh Andi supaya kamu bisa ambil Dewi. Kamu penjahat. Kamu pembunuh karakter. Dan sekarang, kamu akan dipenjara," ucap Sari mantap, meski perutnya membesar, ia berdiri tegak bagai pahlawan.
Hendrawan tertawa. Tawa keras, kering, dan gila. Ia tertawa sampai air mata keluar, lalu tiba-tiba berhenti mendadak.
"Kamu pikir polisi akan percaya sama kamu, hah?! Kamu istriku! Siapa yang akan percaya omongan istri melawan suami?! Aku punya segalanya, Sari. Uang, kuasa, koneksi. Kamu cuma wanita lemah yang sedang hamil, yang orang-orang pikir sedang stres parah! Siapa yang akan percaya kamu?!" teriak Hendrawan, wajahnya merah padam, ludahnya menyembur.
"Saya punya bukti," ucap Sari tenang. Ia menyentuh perutnya dengan tangan. "Dan saya sudah kirim salinan semua dokumen transaksi, surat-surat, dan bukti percakapan kamu ke alamat aman. Kalau saya mati atau ditahan, surat itu akan terbuka dan dikirim ke semua media dan polisi. Kamu hancur, Hendrawan. Kamu sudah kalah."
Kalimat itu adalah pukulan terakhir. Itu mematikan harapan Hendrawan. Wajah Hendrawan berubah menjadi merah ungu, urat lehernya menonjol. Ia hilang kendali. Benar-benar gila.
"KAMU BETINA PENGKHIANAT!!!" raung Hendrawan.
Ia menerjang maju. Tanpa belas kasihan, tangan kekar Hendrawan mencengkeram lengan kurus Sari, memutarnya kasar.
"Sakit... Hendrawan, lepaskan! Bayinya... bayinya!" jerit Sari, berusaha melepaskan diri, tapi kekuatan fisik mereka terlalu jauh bedanya.
"Bayi?! Bayi sialan ini! Aku bahkan tidak yakin ini anakku! Kamu pasti selingkuh sama Andi juga kan?! Sama seperti Dewi!" teriak Hendrawan histeris, otaknya sudah dipenuhi paranoia dan cemburu buta.
DUARRR!!!
Tangan besar Hendrawan mendorong dada Sari sekuat tenaga. Tubuh hamil besar Sari terlempar mundur, punggungnya menghantam ujung tajam meja kerja kayu keras dengan keras, lalu jatuh terguling ke lantai ubin dingin dengan suara BRAK yang mengerikan.
"IBU!!!" jerit Naya histeris di ruang belakang toko itu, tangannya menutup mulutnya keras-keras, tubuhnya gemetar tak terkendali. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia melihat pembunuhan ibunya secara langsung.
Di layar televisi, Sari tergeletak meringkuk di lantai, mulutnya terbuka lebar tapi tak bisa bersuara, matanya melotot penuh rasa sakit luar biasa. Darah segar mulai merembes keluar di bawah gaunnya, membasahi lantai putih bersih.
Hendrawan terengah-engah, napasnya memburu, menatap tubuh istrinya yang tergeletak tak berdaya itu. Kesadaran perlahan kembali ke matanya. Ia sadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia baru saja membunuh iburu anaknya sendiri.
"Sa... Sari..." bisik Hendrawan lemah, mundur selangkah, tangannya gemetar.
Bimo, si tangan kanan, yang tadi diam saja melihat, kini maju mendekat, berjongkok mengecek nadi leher Sari. Ia menggeleng ke arah Hendrawan.
"Dia mati, Bos. Atau sebentar lagi mati. Tekanan darahnya turun drastis, pendarahan dalam parah. Bayinya juga lemah sekali," suara Bimo terdengar dingin, tanpa emosi, persis seperti semalam.
Hendrawan jatuh berlutut, memegangi kepalanya. "Apa yang aku lakukan... Ya Tuhan, apa yang aku lakukan..."
"Sudah terlambat buat penyesalan, Bos," potong Bimo tajam. Ia menunjuk ke arah kamera di atas rak. "Dan lihat itu. Dia merekam semuanya."
Jantung Arya serasa berhenti. Di layar, kamera yang tersembunyi itu terus merekam, menangkap setiap detik, setiap kata, setiap ekspresi wajah pembunuhnya.
Bimo berdiri, berjalan mendekati kamera, lalu mendongak menatap lensa seolah menatap masa depan. Wajahnya yang jahat itu terlihat sangat jelas.
"Rekaman ini bukti mati kita, Bos. Kalau kaset ini sampai keluar, kita berdua digantung. Kita harus cari dan hancurkan kaset ini sampai kapanpun, di manapun. Jangan biarkan siapa pun melihatnya. Siapa pun yang pegang kaset ini... harus mati."
Bimo lalu mengangkat tangan, hendak memecahkan kamera itu.
"JANGAN!!!" teriak Hendrawan tiba-tiba, mencekal tangan Bimo. Hendrawan mendongak, matanya basah, tatapannya kosong namun anehnya tajam. "Jangan hancurkan. Biarkan saja di sana. Biarkan dia rekam sampai habis."
"Tapi Bos?!" protes Bimo.
"Dia bilang dia kirim salinan bukti ke tempat aman. Kita tidak tahu di mana. Kalau kita hancurkan ini, belum tentu kita aman. Tapi... ada cara lain," Hendrawan bangkit berdiri perlahan, darah di wajahnya digantikan ekspresi dingin, licik, dan penuh perhitungan—ekspresi iblis yang sudah bangkit sepenuhnya. Ia berjalan mendekati tubuh Sari yang masih menggeliat lemah di lantai. Ia berjongkok di samping kepala istrinya.
Sari masih sadar samar-samar. Matanya yang sudah mulai berkabut menatap suaminya, penuh kebencian dan air mata.
"Dengar aku, istriku sayang," bisik Hendrawan tepat di depan wajah Sari, suaranya halus dan mengerikan. "Kamu mau main kotor sama aku? Kamu mau hancurkan aku? Oke. Kita lihat siapa yang menang. Kamu mau selamatkan anakmu? Kamu mau Dewi aman? Baiklah. Tapi ingat, Sari... kematianmu ini, sejarah ini, rahasia ini... akan terkubur selamanya. Dan anak perempuanmu, Naya... dia akan tumbuh besar membenci ibunya sendiri. Dia akan tumbuh besar mengira aku pahlawan. Dia akan jadi milikku sepenuhnya. Dia akan jadi pengganti kamu, pengganti Dewi. Dia akan jadi bonekaku sampai kapanpun."
Sari mencoba berteriak, mencoba memaki, tapi suaranya hanya keluar rongrongan darah. Tubuhnya kejang-kejang, lalu perlahan gerakannya berhenti. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah kamera.
Sari Wijaya meninggal dunia.
"Angkat dia. Bawa ke rumah sakit. Bilang dia kecelakaan jatuh dari tangga. Bilang dia pendarahan karena stres berat. Dokter sudah dibayar, polisi sudah dibayar. Semuanya akan lancar," perintah Hendrawan dingin pada anak buahnya. Ia lalu menatap lensa kamera itu terakhir kali, tersenyum miring yang sangat seram.
"Selamat tinggal, Sari. Terima kasih untuk anaknya. Dia cantik persis seperti kamu... dan persis seperti Dewi."
Layar televisi tiba-tiba menjadi statis total. Garis-garis putih bergoyang, suara desis keras memenuhi ruangan, lalu layar menjadi hitam pekat.
Keheningan mutlak menyelimuti ruang belakang toko barang antik itu.
Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya suara napas berat dan tercekik.
Naya berdiri kaku, matanya terbuka lebar tapi tidak melihat apa-apa. Jiwanya hancur berkeping-keping. Ia baru saja menyaksikan pembunuhan ibunya. Ia baru saja mendengar ayahnya sendiri dengan mulutnya sendiri mengatakan bahwa ia sengaja membesarkan Naya bukan sebagai anak, melainkan sebagai pengganti, sebagai mainan obsesinya, sebagai gambaran wanita yang sebenarnya ia cintai—ibunya Arya, Dewi.
"Dia... dia gila..." bisik Naya parau, suaranya hilang, nadanya datar dan kosong. "Ayahku bukan manusia. Dia monster. Dia orang sakit jiwa."
Pak Hadi yang berdiri di samping mereka juga menangis diam-diam, menyeka air mata keriputnya. "Aku curiga. Aku selalu curiga. Tapi aku tidak punya bukti. Hendrawan itu orangnya licik, kejam, dan tidak punya hati. Kasihan kamu, Naya. Kamu tumbuh di bawah atap pembunuh ibumu sendiri. Kamu hidup di neraka tanpa kamu sadari."
Arya memegang bahu Naya dengan kedua tangannya, mengguncang pelan tubuh gadis itu agar sadar kembali. Air mata Arya juga mengalir deras. Ia marah, ia sedih, tapi yang paling besar... ia takut. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi pada Naya selama dua puluh satu tahun ini.
"Naya, dengar aku," ucap Arya tegas, memaksa Naya menatap matanya. "Apa yang dia bilang... kamu bukan pengganti. Kamu bukan boneka. Kamu adalah Naya. Kamu adalah anak Sari. Kamu punya kebaikan, kekuatan, dan jiwa indah ibumu. Dia gagal. Dia gagal mengubahmu jadi boneka. Lihatlah kamu sekarang. Kamu berani. Kamu kuat. Kamu mencari kebenaran. Kamu buktikan dia salah."
Naya menatap Arya, perlahan cahaya kehidupan kembali ke matanya, meski di baliknya tersimpan luka yang takkan pernah sembuh. Ia sadar. Selama ini, meski Hendrawan mencoba mengontrolnya, memanipulasinya, dan menanamkan kebohongan, ada satu hal yang tidak bisa dihapus Hendrawan: Darah Sari mengalir di tubuhnya. Insting ibunya, keberanian ibunya, warisan ibunya.
"Iya," gumam Naya, suaranya perlahan kembali kuat. "Dia salah. Dia pikir dia menang karena dia sembunyikan kebenaran. Dia pikir dia menang karena dia punya kuasa dan uang. Tapi dia lupa... dia tidak bunuh Ibu sepenuhnya. Ibu meninggalkan aku. Dan Ibu meninggalkan rekaman ini."
Naya menunjuk layar TV yang gelap itu dengan pandangan membunuh.
"Dan sekarang, rekaman ini ada di tangan aku. Bukti mutlak. Dia pikir dia hancurkan salinan bukti di tahun 98. Dia pikir dia aman. Tapi dia lupa Ibu lebih pintar dari dia. Ibu simpan bukti aslinya. Ibu rekam semuanya. Dan sekarang, senjata terbesar Ibu... aku gunakan untuk menghancurkan dia."
Arya tersenyum bangga. Di saat seperti ini, Naya justru terlihat paling cantik dan paling kuat. Ia bangkit dari puing-puing kehancurannya sendiri.
"Dan ada lagi, Naya," ucap Arya, matanya bersinar tajam. Ia mengeluarkan ponselnya. "Saat kita tadi menonton... aku rekam ulang seluruh isi kaset itu lewat layar TV. Kualitasnya mungkin buram, tapi suaranya jelas, wajah mereka jelas. Sekarang, bukti ini bukan cuma satu fisik kaset. Sekarang bukti ini ada di ponselku. Aku bisa kirim ke mana saja, aku bisa sebar ke media, aku bisa kirim ke polisi, ke jaksa, ke mana saja. Dia tidak akan bisa ambil lagi."
Pak Hadi mengangguk setuju. "Benar. Dan aku punya koneksi dengan jurnalis lama, orang yang jujur, yang dulu juga difitnah Hendrawan. Kita bisa bongkar semua ini. Tapi ingat, Nak. Hendrawan sekarang tidak sendirian. Bimo dan anak buahnya masih berkeliaran. Mereka tidak akan diam saja. Begitu kita keluarkan bukti ini, perang akan pecah sepenuhnya. Nyawa kalian dalam bahaya besar."
"Kami tahu, Kakek," jawab Arya mantap. "Tapi kami tidak punya pilihan. Selama Hendrawan dan Bimo bebas, selama kebenaran tertutup, kami tidak akan pernah aman. Ibu Naya tidak akan pernah tenang. Ayahku tidak akan pernah mendapat keadilan. Ibuku tidak akan pernah bisa pulang."
Naya menggenggam tangan Arya, jari-jemari mereka saling bertautan erat.
"Kita selesaikan ini, Arya. Sekarang juga. Kita bawa bukti ini ke polisi, ke media, dan kita pastikan monster itu masuk penjara seumur hidup. Atau mati, sama seperti dia membunuh Ibu."
Namun, tepat saat mereka hendak bergerak, Pak Hadi tiba-tiba mengangkat telunjuknya ke mulut, memberi isyarat DIAM. Wajah kakek itu berubah pucat pasi. Ia menunjuk ke arah jendela kaca kecil yang tertutup tirai di bagian depan toko.
Suara mesin mobil berat terdengar mendekat. Suara ban berdecit di jalan kerikil. Pintu mobil dibanting. Suara langkah kaki berat, banyak orang, mendekat ke arah toko barang antik itu.
Krak... krak...
Pintu depan toko digedor keras.
"BUKA!!! KITA TAHU KAMU DI DALAM, ANAK-ANAK BEGO!!!"
Suara itu. Suara serak, parau, dan dingin yang sama persis yang terdengar di rekaman kaset 28 tahun lalu.
Suara Bimo.
"Mereka melacak kita!" bisik Arya kaget, sadar terlambat. "Mereka pasti mengikuti kami dari jauh sejak dari rumahku."
"Lewat belakang! Cepat!" seru Pak Hadi, mendorong mereka ke arah pintu darurat kecil di dinding belakang yang menghadap ke semak belukar pinggir rel kereta api.
"Kakek! Ikut kami!" pinta Naya panik.
Pak Hadi tersenyum sedih, menggeleng. Ia mendorong tubuh Naya keluar pintu. "Jangan khawatirkan aku. Aku sudah tua, hidupku sudah selesai. Tapi hidup kalian baru saja mulai. Lari! Bawa kebenaran itu keluar! Jangan biarkan usaha Sari sia-sia! Aku akan tahan mereka di sini!"
"KAKEK!!!" jerit Naya, tapi pintu sudah tertutup dan dikunci dari dalam.
Terdengar suara pintu depan didobrak terbuka. Teriakan-teriakan kasar, suara kaca pecah, dan barang-barang toko dihancurkan.
"CARIII! CARI KASETNYA! BUNUH SIAPAPUN YANG ADA DI SINI!!!" raung Bimo.
Arya tak punya waktu lagi. Ia menarik tangan Naya, menyeret gadis itu lari tergopoh-gopoh masuk ke semak belukar di belakang toko, menuju rel kereta api tua yang berumput tinggi. Di belakang mereka, terdengar suara tembakan memecah udara.
DOR!!! DOR!!!
"KAKEK!!!" jerit Naya histeris, air mata kembali membanjir, tapi ia terpaksa lari, lari demi nyawanya, lari demi misinya, lari demi janjinya pada ibunya dan kakek tua yang rela mengorbankan dirinya demi mereka.
Di belakang sana, di toko reyot itu, Pak Hadi berdiri tegak di depan pintu ruang belakang, memegang sebatang besi tua di tangan, menghadapi gerombolan pembunuh yang masuk. Ia tersenyum puas. Ia sudah lama menunggu momen ini.
"Kalian tidak akan dapat apa-apa, bajingan!" seru Pak Hadi lantang.
DORRR!!!
Suara tembakan keras menggema lagi, diikuti tubuh tua yang jatuh bergumpal ke lantai.
Mereka kehilangan satu orang baik lagi. Tapi harga mahal itu telah dibayar agar kebenaran bisa lolos.
Arya dan Naya berlari sekuat tenaga di atas rel kereta yang berkarat, di antara rumput tinggi yang mencakar kaki mereka. Napas mereka tersengal, dada mereka sakit, hati mereka hancur. Musuh mereka tidak hanya kuat, kaya, dan kejam. Musuh mereka juga cerdas, cepat, dan tidak ragu membunuh siapa saja yang menghalangi jalan.
Tapi di tangan mereka, terselip erat di saku, ada satu-satunya senjata yang bisa mengalahkan segalanya: Kebenaran.
Dan di dada mereka, membara satu hal yang tidak dimiliki musuh mereka: Cinta dan Keadilan.