NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Topeng yang Tersisa

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Isak tangis Elvara perlahan mulai mereda, menyisakan helaan napas yang putus-putus. Ia menyeka air mata di pipinya dengan ujung jemari yang gemetar. Kesadaran bahwa ia masih berada di tempat kerja tiba-tiba menghantamnya. Jam dinding terus berdetik, dan tumpukan kain di atas meja seolah mengingatkannya bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena hatinya sedang hancur.

Elvara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa harga diri dan kekuatannya yang tersisa. Ia mendongak, menatap Kael dengan pandangan yang kini jauh lebih tenang, meski matanya masih merah meradang.

"Kael... tolong pulang," ucap Elvara, suaranya terdengar serak namun ada nada ketegasan yang tidak bisa dibantah.

Kael tertegun. Ia menatap Elvara dengan dahi berkerut, tampak tidak tega meninggalkan wanita itu dalam kondisi sekacau ini. "El, tapi kamu—"

"Aku nggak apa-apa," potong Elvara cepat sebelum Kael menyelesaikan kalimatnya. Ia melangkah mundur, menciptakan jarak yang kentara di antara mereka. "Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Hari ini jadwal butik padat banget, dan para pelanggan nggak mau tahu soal urusan pribadiku. Aku butuh waktu sendiri."

Kael mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ada rasa kecewa yang mendalam karena desakannya untuk meminta Elvara berpisah dari Arsen ditolak mentah-mentah. Namun, melihat sorot mata Elvara yang begitu terluka sekaligus keras kepala, Kael tahu bahwa bertahan di sini hanya akan membuat wanita itu semakin tertekan.

"Okey," Kael akhirnya mengalah. Ia mengembuskan napas berat. "Aku pulang. Tapi tolong ingat kata-kataku, El. Jangan biarkan dirimu diinjak-injak oleh laki-laki yang bahkan nggak tahu cara menghargai ketulusanmu."

Kael membalikkan badan dan melangkah menuju pintu keluar. Bunyi lonceng di atas pintu berdenting nyaring saat pria itu mendorong pintu dan menghilang di balik kaca butik.

Begitu Kael pergi, keheningan kembali menguasai ruangan. Elvara perlahan berjalan menuju cermin besar tempat para pelanggannya biasa berkaca. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pias, matanya sembab, tampak seperti wanita malang yang baru saja dikhianati oleh dunianya sendiri.

Namun, Elvara menolak untuk menyerah pada rasa sakit itu sekarang. Ia berjalan ke toilet, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, lalu memoles kembali riasan tipis di wajahnya untuk menyembunyikan jejak air mata.

Saat ia keluar, Nayla dan karyawan lainnya sudah kembali ke dalam butik. Elvara memaksakan sebuah senyuman tipis, kembali meraih pensil sketsanya, dan mulai menggambar lagi. Di luar, jemarinya bergerak profesional menciptakan keindahan gaun pernikahan untuk orang lain, sementara di dalam dada, hatinya sedang berdarah-darah memikirkan rumah tangganya yang berada di ambang kehancuran.

Jemari Elvara bergerak lebih cepat dari biasanya di atas kertas sketsa. Fokusnya dipaksa bekerja dua kali lipat, mengabaikan denyut nyeri di kepalanya yang kian menghebat. Setiap detail payet, potongan kain, dan ukuran pelanggan ia periksa dengan ketelitian yang luar biasa, seolah-olah pekerjaan ini adalah satu-satunya pelampiasan agar ia tidak gila saat itu juga.

​Aku harus menyelesaikannya sekarang, batin Elvara meyakinkan diri sendiri. Butik ini adalah hidupku, dan aku tidak akan membiarkan kesalahan Arsen menghancurkan profesionalismeku.

​Menjelang malam, satu per satu pelanggan akhirnya meninggalkan butik dengan puas. Begitu Nayla dan karyawan lainnya berpamitan pulang, keheningan malam langsung menyelimuti ruangan. Elvara perlahan meletakkan pensilnya, lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke sandaran kursi.

​Topeng ketegaran yang ia pakai sejak siang tadi akhirnya runtuh.

​Elvara menatap kosong ke arah ruangan butik yang sepi. Keputusan telah bulat di kepalanya. Ia tidak bisa hidup dalam bayang-bayang kecurigaan dan kebohongan. Malam ini, begitu tiba di rumah, ia harus bertanya langsung pada Arsen. Ia butuh jawaban jujur, dari mulut suaminya sendiri, bukan dari orang lain.

​Elvara memejamkan mata erat-erat, merasakan dadanya yang kembali sesak.

​Jika semua tuduhan Kael terbukti benar... jika Arsen benar-benar masih mengkhianatinya dengan Vivian, maka Elvara tidak punya pilihan lain. Ia akan meminta cerai. Walaupun kenyataan itu terasa sangat sulit, meskipun mencabut rasa cintanya pada Arsen akan terasa seperti menguliti jantungnya sendiri, Elvara tahu dia masih memiliki harga diri yang harus dijaga. Ia tidak sudi menjadi istri yang terus-menerus diberi makan kebohongan manis oleh suami yang jiwanya berada di pelukan wanita lain.

​Dengan tangan gemetar, Elvara membereskan tasnya, mematikan lampu butik, dan melangkah keluar menuju mobilnya. Malam ini, badai besar itu harus segera ia hadapi.

Elvara memasuki mobilnya dengan tubuh yang terasa begitu dingin. Tangannya yang gemetar perlahan mencengkeram kemudi, menyalakan mesin, dan mulai menjalankan kendaraannya membelah jalanan malam kota yang mulai lengang. 

Sepanjang perjalanan, fokusnya terpecah. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya tertinggal pada setiap kalimat Kael dan bayangan pengkhianatan Arsen.

Tidak terasa, roda mobilnya sudah memasuki area basemen apartemen. Perjalanan yang biasanya terasa lama, kali ini terasa begitu singkat, seolah-olah takdir sedang mempercepat waktunya untuk menghadapi kenyataan.

Dengan langkah yang terasa berat seperti digelantungi timah, Elvara menaiki lift menuju unit apartemennya. Begitu tiba di depan pintu, jemarinya menekan deretan angka sandi dengan gerakan mekanis.

Bip. Bip. Bip.

Klik— Pintu terbuka. Elvara melangkah masuk ke dalam. Suasana di dalam apartemen begitu gelap dan sunyi, hanya menyisakan pendar lampu koridor yang temaram.

"Arsen?" panggil Elvara, suaranya sedikit bergetar memecah keheningan.

Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.

Elvara berjalan lebih dalam, 

menyalakan sakelar lampu ruang tengah dan melangkah cepat menuju kamar tidur mereka. Kosong. Ranjang mereka masih tertata rapi seperti saat ia tinggalkan tadi pagi. Kamar mandi pun kering. Rumah mewah ini benar-benar kosong, menyuarakan kesepian yang mendadak mencekik dada Elvara.

Rasa panik dan amarah yang bercampur aduk mulai membakar benaknya. Di mana Arsen jam segini? Apakah suaminya itu masih berada di tempat Vivian, mendekap cinta pertamanya seperti yang dikatakan Kael?

Elvara segera merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel dengan tergesa-gesa. Ia langsung mencari kontak sang suami dan menekan tombol panggilan.

Tut... Tut... Tut…

Panggilan tersambung, namun hingga nada dering terakhir habis, Arsen tidak juga mengangkatnya. Elvara mencoba meneleponnya kembali. Dua kali, tiga kali, hingga panggilan kelima, hasilnya tetap sama. Nihil. Nomor Arsen aktif, namun sang pemilik sengaja mengabaikannya atau mungkin terlalu sibuk dengan "urusan lain" hingga tidak sudi menyentuh ponselnya.

Elvara perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Ia terduduk di tepi ranjang yang dingin, meremas benda pipih itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ketidakhadiran Arsen malam ini di saat ia siap menuntut kebenaran justru menjadi jawaban tidak langsung yang kian menyayat hatinya.

… 

Keesokan paginya, cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden apartemen Vivian memaksa Arsen untuk membuka mata. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya saat ia meraba nakas, mencari keberadaan ponselnya yang sengaja ia ubah ke mode senyap sejak sore kemarin agar tidak mengusik ketenangannya bersama Vivian.

Namun, begitu layar ponsel menyala, rasa kantuk Arsen seketika menguap tanpa sisa. Tubuhnya menegang kaku di atas ranjang.

Layar ponselnya dipenuhi oleh barisan notifikasi berwarna merah 15 Panggilan Tidak Terjawab dari Elvara, lengkap dengan beberapa pesan singkat yang menanyakan keberadaannya semalam.

Jantung Arsen mendadak berpacu dua kali lipat lebih cepat. Hatinya seketika dirayapi rasa was-was yang luar biasa besar. Elvara adalah tipe istri yang sangat pengertian; wanita itu jarang sekali meneleponnya berkali-kali hingga belasan panggilan jika tidak ada urusan yang benar-benar darurat atau mencurigakan.

Arsen melirik Vivian yang masih terlelap di sampingnya, lalu perlahan menyibak selimut dan bangkit berdiri dengan langkah tergesa. Ia berjalan menjauh ke arah balkon apartemen, memandangi ponselnya dengan rahang yang mengeras.

Kenapa Elvara menelepon sebanyak ini? Apa dia sudah tahu sesuatu? Atau Kael benar-benar sudah menepati ancamannya?

Pikiran-pikiran buruk itu mulai berputar di kepala Arsen, menciptakan efek domino yang merusak ketenangannya. Rasa lega yang ia rasakan kemarin karena berhasil meredakan tangis Vivian, kini berganti menjadi kepanikan moral yang mencekik. Arsen tahu, dia telah melakukan kesalahan fatal dengan tidak pulang ke rumah semalam tanpa memberikan alasan yang logis pada istrinya. Kini, ia harus memutar otak secepat mungkin untuk menyusun kebohongan baru sebelum ia melangkah pulang dan menghadapi Elvara.

Arsen melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu terus berjalan, dan setiap menit yang ia buang di tempat ini hanya akan memperburuk posisinya di mata Elvara.

​Ia menoleh ke arah ranjang, memastikan Vivian masih terlelap dalam tidur nyenyaknya. Dengan sangat hati-hati, Arsen bergerak tanpa suara. Ia menyambar kemeja dan jasnya yang tersampir di kursi, lalu memakainya dengan gerakan secepat mungkin namun tetap senyap. Ia bahkan menahan napas saat melangkah melewati ranjang, tidak ingin menimbulkan bunyi sekecil apa pun yang bisa membuat wanita itu terbangun dan menahannya lebih lama.

​Fokus utamanya sekarang hanya satu: pulang ke apartemennya dan menemui Elvara.

​Setelah berhasil keluar dari unit Vivian tanpa menimbulkan kegaduhan, Arsen langsung setengah berlari menuju basemen. Begitu berada di dalam mobil, ia segera menancap gas, membiarkan sedan hitamnya melesat membelah jalanan pagi yang mulai sibuk.

​Sepanjang perjalanan, cengkeraman tangan Arsen pada kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai skenario buruk. Ia harus menyusun alasan yang sangat meyakinkan tentang mengapa ponselnya mati dan mengapa ia tidak pulang semalam.

​Rasa was-was di dadanya kian bergemuruh kencang. Arsen tahu, ia sedang bermain dengan waktu. Jika Elvara sudah mengetahui kedoknya dari Kael, maka kepulangannya pagi ini mungkin bukan lagi untuk meredakan kecurigaan, melainkan untuk menghadapi badai yang siap menghancurkan seluruh hidupnya.

Bersambung….. 

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!