Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Drama Ngidam Lanjutan — Tuan
Hari-hari berlalu, dan perut Grey semakin membesar, begitu besar hingga terlihat seperti menampung tiga buah bola sepak sekaligus di sana. Seiring membesarnya kandungan, selera makan dan keinginan Grey pun semakin liar, semakin tak terduga, dan semakin sulit dimengerti akal sehat. Namun, satu hal yang tetap sama: Davian Argantha, pria paling berkuasa dan ditakuti di seluruh negeri, tetaplah menjadi suami paling penurut, paling sabar, dan paling rela berkorban, seolah harga dirinya sebagai tuan besar sudah dia serahkan sepenuhnya ke tangan istrinya.
Kalau dulu dia harus lari ke pasar tengah malam atau mengejar burung pipit, kali ini permintaan Grey naik level. Bukan lagi urusan makanan, tapi urusan penampilan sang suami, bahkan sampai ke seluruh isi kantor pusat perusahaan raksasa miliknya.
Pagi itu, Grey bangun dengan suasana hati yang sedikit aneh. Dia duduk bersandar di kepala tempat tidur, tangannya mengusap perut besarnya sambil menatap Davian yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Davian sedang berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja putih bersih, dasi hitam elegan, dan jas mahal yang membuatnya terlihat sangat gagah, berwibawa, dan berkarisma.
Namun, pandangan Grey yang menatap suaminya itu tiba-tiba berubah menjadi cemberut. Bibirnya mengerucut, matanya berkaca-kaca, dan napasnya terdengar berat seolah dia menahan penderitaan luar biasa.
"Davian…" panggilnya lirih, nada suaranya manja tapi penuh tuntutan.
Davian seketika berbalik, langsung meninggalkan dasi yang sedang dia pasang. Dia berlari ke sisi tempat tidur dengan wajah panik. "Ada apa, Sayang? Kenapa cemberut begitu? Apa ada yang sakit? Atau kamu mau makan sesuatu lagi? Bilang saja, aku suruh orang ambilkan sekarang."
Grey menggeleng pelan, lalu menunjuk ke arah baju suaminya dengan jari telunjuknya. "Baju itu… putih dan hitam… kok kaku sekali, kok menyeramkan sekali… aku jadi tidak nyaman melihatnya. Bayi-bayi di dalam sini jadi rewel, mereka bilang mereka tidak suka lihat Ayah mereka kelihatan galak…"
Davian terdiam, menatap bajunya sendiri lalu kembali menatap istrinya dengan bingung namun tetap penuh perhatian. "Lalu… kau mau aku pakai baju apa, Sayang? Aku pakai baju santai saja ya? Tidak usah kerja hari ini, aku di rumah saja menemani kamu."
Grey kembali menggeleng, kali ini matanya menatap suaminya dengan pandangan jenaka namun serius. Bibirnya menyunggingkan senyum jahil yang khas ibu hamil yang sedang punya kuasa mutlak.
"Aku mau… Davian pakai baju warna pink. Warna merah muda yang paling cerah, yang paling terang. Aku mau kamu pakai kemeja pink, dasi pink, celana pink… semuanya harus pink! Dan… dan lagi… aku mau kamu pakai bando telinga kelinci. Yang besar, yang lucu, yang terlihat gemas sekali…"
Jantung para pelayan yang mendengar dari luar kamar seolah berhenti berdetak. Pakai baju pink? Dan bando telinga kelinci? Itu Davian Argantha, sang Raja Bisnis yang tatapannya saja bisa membuat pesaing bangkrut! Tapi, saat melihat wajah istrinya yang mulai berkaca-kaca dan siap menangis jika permintaannya ditolak, Davian sama sekali tidak ragu sedetik pun.
Dia malah tersenyum lebar, lalu mendekat mencium hidung mancung istrinya.
"Pink ya? Dan telinga kelinci? Baiklah, Nyonya. Kalau itu yang membuatmu dan anak-anak kita senang, akan aku penuhi. Apakah ada lagi? Mau aku pakai rok bunga-bunga juga? Atau sepatu warna-warni?"
Grey tertawa renyah, senang sekali melihat suaminya yang sama sekali tidak menolak. "Cukup itu saja dulu. Tapi… kamu harus pakai itu ke kantor. Kamu harus kerja, rapat, menandatangani surat, bertemu klien… semuanya pakai baju pink dan bando kelinci itu. Dan… aku mau ikut kamu ke kantor hari ini. Aku mau duduk di kursi besar itu melihat kamu bekerja. Oh iya… dan satu lagi… semua karyawan, dari satpam sampai direktur, semuanya harus pakai bando kelinci juga. Kalau ada yang tidak pakai, aku akan ngambek seharian!"
Perintah itu sudah keluar, dan bagi Davian, itu adalah undang-undang yang tidak boleh dibantah.
Tiga puluh menit kemudian, suasana di kamar tidur berubah total. Davian Argantha, pria yang biasa tampil gagah dan dingin, kini berdiri di depan cermin mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah muda menyala, dipadukan dengan celana bahan warna senada dan dasi pink muda yang manis. Di atas kepalanya yang tegap dan gagah itu, tersangkut sebuah bando besar berwarna putih merah muda dengan dua telinga kelinci yang panjang dan melengkung ke atas.
Pemandangan itu sungguh kontras luar biasa. Wajah di balik bando itu tetaplah wajah tegas sang penguasa, tatapan matanya tetap tajam dan berwibawa, tapi penampilannya… sungguh mengundang tawa. Namun, Davian berdiri tegak dengan bangga, seolah baju pink dan bando kelinci itu adalah seragam militer paling bergengsi di dunia.
Dia berbalik menghadap Grey yang sudah tertawa sampai terguling di atas kasur, perutnya berguncang-guncang karena tawa.
"Gimana, Sayang? Sudah cukup pink dan cukup kelinci belum? Apa perlu aku tambah pita di lengan?" tanya Davian dengan nada serius, sambil membetulkan posisi telinga kelincinya yang sedikit miring.
Grey mengangguk cepat, mengusap air mata tawanya. "Sudah pas sekali! Lucu sekali suamiku ini. Gemas aku lihatnya. Ayo, bawa aku ke kantor sekarang. Aku tidak sabar mau lihat wajah karyawanmu nanti."
Dengan gaya bridal style yang sangat hati-hati seperti biasa, Davian menggendong istrinya yang besar itu keluar kamar. Dia berjalan santai, lenggang kangkung, menuruni tangga besar rumahnya dengan pakaian pink cerah dan telinga kelinci bergoyang-goyang di kepalanya. Para pelayan yang berbaris menyambut mereka semua menunduk dalam, berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak ada yang keluar suaranya, takut dimarahi tapi juga takut pecah.
Perjalanan ke kantor pun sama saja. Di dalam mobil mewah, Davian duduk tegak di sebelah istrinya, bando kelinci masih bertengger kokoh di kepala, sesekali dia membetulkannya saat terasa melorot. Dia terlihat sangat serius membaca berkas-berkas kerjaannya, seolah tidak ada yang aneh sama sekali dengan penampilannya.
Begitu mobil mewah berhenti di lobi gedung pencakar langit milik Argantha Group, para satpam dan resepsionis sudah bersiap. Sesuai perintah yang sudah dikirimkan lewat pesan singkat 15 menit yang lalu, seluruh karyawan, dari yang di lantai dasar sampai direksi di lantai paling atas, sudah berdiri berbaris rapi. Dan pemandangan yang menyambut Davian dan Grey itu sungguh luar biasa.
Ratusan orang, mulai dari wanita, pria muda, hingga bapak-bapak direktur yang sudah tua dan berperawakan gagah, semuanya mengenakan pakaian kerja biasa… tapi di kepala mereka masing-masing, tersangkut sebuah bando telinga kelinci dengan berbagai ukuran dan warna. Gedung perkantoran yang biasanya serius, dingin, dan penuh tekanan kerja itu kini berubah menjadi kandang kelinci raksasa yang lucu dan kacau.
Begitu Davian turun dari mobil dengan pakaian pinknya, lalu menggendong Grey keluar, terdengar suara desahan kagum yang tertahan. Tuan Besar mereka yang ditakuti, kini tampil paling mencolok dari semuanya: satu-satunya yang seragam pink lengkap, dengan telinga kelinci paling besar dan paling indah.
Davian berjalan melewati barisan karyawan itu dengan kepala tegak, wajah serius, seolah sedang melakukan inspeksi militer. Dia mengangguk pelan melihat setiap orang yang memakai bando, dan sesekali dia berhenti di depan direktur tua yang kaku, lalu berkomentar dingin namun terdengar lucu, "Telinganya kurang tegak. Luruskan sedikit."
Grey yang berada di dalam gendongan suaminya menutup mulutnya menahan tawa, hatinya merasa sangat puas dan bahagia. Dia melihat betapa besarnya cinta suaminya padanya. Pria yang biasanya tidak mau diatur sedikit pun, yang kemauannya adalah perintah bagi dunia, kini rela menjadi pusat perhatian dan bahan tawa demi satu senyum istrinya.
Masuk ke ruangan kerja Davian yang sangat luas, mewah, dan beraroma kekuasaan, suasana di sana pun ikut berubah. Di meja kerja besar yang biasanya hanya berisi berkas-berkas penting, kini duduklah Grey di kursi kebesaran itu, kaki-kakinya yang besar terayun santai, sementara Davian berdiri di sebelahnya, tetap dengan pakaian pink dan telinga kelincinya, sambil menandatangani dokumen satu per satu.
Setiap kali Davian berbicara di telepon dengan mitra bisnis besar dari luar negeri, suaranya tetap berat, tegas, dan berwibawa.
"Ya, saya setuju dengan angka itu…" ucap Davian serius, sementara telinga kelinci di kepalanya bergoyang saat dia mengangguk.
Grey yang melihatnya dari kursi utama selalu tertawa kecil setiap kali melihat pemandangan kontras itu.
Ada satu momen lucu saat seorang klien penting datang berkunjung untuk menandatangani kerja sama besar. Klien itu masuk dengan wajah serius, lalu tertegun kaku saat melihat seluruh ruangan penuh orang pakai bando kelinci, dan yang paling parah: sang pemilik perusahaan sendiri berdiri di balik meja dengan kemeja merah muda cerah dan telinga kelinci raksasa di kepalanya.
Klien itu sampai kedap-kedip beberapa kali, mengira dia salah masuk gedung. Tapi Davian menyambutnya dengan tangan terulur, wajah tetap tenang dan serius tanpa ada rasa malu sedikit pun.
"Selamat datang. Maafkan penampilan kami hari ini. Sedang ada… perayaan tema keluarga di kantor. Mari duduk," ucap Davian santai, seolah memakai baju pink dan bando kelinci adalah hal yang paling lumrah di dunia bisnis.
Klien itu hanya bisa mengangguk patuh, duduk, dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menatap telinga kelinci yang bergoyang-goyang setiap kali Davian berbicara. Di sudut ruangan, Grey menonton semua itu dengan senyum puas dan bangga.
Siang harinya, saat istirahat makan siang, Davian duduk di samping istrinya, membawakan makanan khusus yang dia pesan sendiri. Dia baru mau melepas bando kelincinya saat Grey menyuruhnya, tapi Grey menggeleng kuat.
"Jangan dilepas! Pakai terus sampai pulang nanti. Aku masih suka lihatnya. Kamu kelihatan ganteng sekali lho pakai baju pink, kulitmu jadi terlihat cerah. Dan telinga ini… gemas sekali rasanya ingin aku tarik terus," kata Grey sambil sesekali menarik-narik telinga kelinci di kepala suaminya itu dengan jahil.
Davian hanya tertawa kecil, membiarkan kepalanya ditarik ke sana ke mari. Dia memegang tangan istrinya lalu mencium punggungnya.
"Kamu senang, aku senang juga. Tadi saat aku lewat koridor, ada karyawan baru yang sampai pingsan karena kaget melihatku begini. Tapi tidak apa-apa, asal kamu tidak cemberut dan tidak menangis, aku rela pakai baju warna apa saja, bentuk apa saja. Kalau kamu minta aku pakai baju badut sebulan penuh pun, akan aku lakukan dengan senang hati."
Grey menatap suaminya dengan mata berbinar penuh cinta. Dia tahu betapa tingginya harga diri dan wibawa yang dimiliki Davian di luar sana. Dia tahu betapa sulitnya bagi orang sebesar dia untuk melakukan hal konyol seperti ini. Tapi Davian tidak pernah ragu, tidak pernah mengeluh, tidak pernah merasa malu. Baginya, cinta pada istrinya jauh lebih besar daripada gengsi atau pandangan orang lain.
"Kamu tahu, Davian…" bisik Grey pelan sambil menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya yang terbalut kain pink halus. "Dulu aku pikir aku tidak akan pernah bahagia. Dulu aku pikir aku akan hidup penuh penderitaan dan air mata selamanya. Tapi sekarang… melihat kamu begini… aku merasa aku wanita paling beruntung sedunia. Kamu rela melakukan apa saja demi aku. Bahkan hal konyol sekalipun."
Davian mengusap pipi istrinya lembut, lalu menatap manik mata indah itu lekat-lekat. Di belakang bando kelinci lucu itu, ada tatapan cinta yang begitu dalam dan nyata.
"Justru karena kamu dulu terlalu banyak menderita, Sayang. Justru karena dulu kamu terlalu banyak menangis. Maka sekarang, setiap senyummu itu harganya mahal sekali bagiku. Aku rela jadi apa saja, berpakaian apa saja, terlihat konyol atau aneh di mata dunia… asalkan di matamu, aku tetaplah suami yang bisa membuatmu tertawa dan bahagia. Dunia boleh menertawakanku pakai baju kelinci pink, tapi dunia tidak tahu… bahwa aku yang memegang hati wanita paling berharga di muka bumi ini. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Sisa hari itu dihabiskan dengan tawa dan kebahagiaan. Gedung Argantha Group tetap menjadi gedung penuh kelinci seharian itu. Davian tetap bekerja serius dengan penampilan uniknya itu, dan Grey duduk nyaman di kursi kebesaran itu, menikmati setiap detik momen indah di mana suaminya yang dingin berubah menjadi kelinci pink paling setia dan penyayang sedunia.
Dan di dalam perut Grey, ketiga bayi kecil itu seolah ikut merasakan kebahagiaan itu, bergerak-gerak aktif seolah menertawakan Ayah mereka yang sedang gagah-gagahan pakai telinga kelinci. Bagi mereka, Ayah adalah pahlawan terhebat, tidak peduli dia pakai baju hitam gagah atau baju pink lucu, karena Ayah adalah orang yang rela melakukan apa saja demi Ibu dan demi mereka.
(Lanjut ke Bab 20)