Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi di Balik Pintu Tertutup
Pintu lift eksekutif berdenting terbuka di lantai lima puluh lima, namun keheningan di antara Devan dan Anya tetap terasa mencekam sepanjang perjalanan naik. Pegangan tangan Devan di pinggang Anya sudah terlepas sejak mereka memasuki lift, namun hawa panas dari sentuhannya seolah masih tertinggal di kulit Anya.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO, Devan langsung menutup pintu jati besar itu dengan hentakan yang cukup keras. Ia berbalik, melonggarkan dasinya dengan satu tangan, sementara sepasang mata elangnya langsung mengunci sosok Anya yang berdiri kaku di tengah ruangan.
"Bisa jelaskan apa yang terjadi di bawah tadi?" tanya Devan, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, mengintimidasi seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis.
Anya meremas jemarinya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Saya tidak tahu kalau Rendra akan datang, Devan. Mbak Siska bilang ada tamu pribadi yang mendesak, jadi saya turun. Saya sama sekali tidak berniat membuat keributan di kantor Anda, apalagi memberi celah untuk Dion."
"Kau masih punya perasaan pada pria pecundang itu?"
Pertanyaan Devan meluncur begitu saja, memotong kalimat Anya dengan tajam. Ada nada ketegangan yang tidak biasa dalam suara baritonnya. Itu bukan suara seorang CEO yang mengkhawatirkan reputasi bisnisnya, melainkan suara seorang pria yang egonya terusik.
Anya mendongak, menatap Devan dengan mata yang membelalak tidak percaya. "Apa? Tentu saja tidak! Dia mencampakkan saya saat ibu saya sekarat di rumah sakit. Bagaimana mungkin saya masih punya perasaan pada pria seperti itu?" Anya menarik napas pendek, merasa terhina dengan tuduhan Devan. "Lagipula, di dalam kontrak kita sudah jelas tertulis bahwa masa lalu saya tidak boleh mengganggu pekerjaan ini. Saya sudah menjaga batasan itu dengan baik."
Devan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Anya bisa mencium aroma parfum *woody* maskulin pria itu. Devan menunduk, menatap lekat-lekat mata Anya, mencari kebohongan di sana.
"Bagus kalau kau sadar," ucap Devan, suaranya melembut namun tetap terasa menuntut. "Karena mulai hari ini, kau tidak boleh menemui pria mana pun tanpa sepengetahuanku. Aku tidak ingin melihat ada pria lain yang menyentuhmu atau membuatmu menangis seperti tadi."
Anya tertegun. Jantungnya kembali melakukan lompatan gila di dalam dadanya. "Kenapa Anda sampai sejauh ini? Ini hanya pernikahan kontrak, Devan. Mengapa Anda bersikap seolah... seolah Anda benar-benar cemburu?"
Tantangan dari kalimat Anya membuat Devan terdiam sesaat. Di dalam kepalanya, Devan merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia merasa sangat murka saat melihat tangan pria lain mencengkeram lengan Anya tadi? Mengapa ia merasa harus menegaskan bahwa Anya adalah
'miliknya' di depan Dion?
Devan berdeham, mencoba mengembalikan topeng dinginnya yang sempat retak. Ia membuang muka sejenak sebelum kembali menatap Anya dengan datar.
"Ini demi reputasi. Jika publik atau media melihat calon istri Devan Alfarezel ditarik-tarik oleh pria lain di lobi perusahaannya sendiri, saham Alfarezel Group bisa terpengaruh," kilas Devan, memberikan alasan logis korporat yang terdengar sangat dipaksakan.
Ia berjalan kembali ke balik meja kerjanya, mengambil selembar kertas memo dan menuliskan sesuatu di sana. "Malam ini, batalkan semua rencana pribadimu. Kakek meminta kita datang ke makan malam keluarga inti di kediaman utama. Karina dan Dion pasti ada di sana, dan mereka akan menggunakan insiden lobi tadi untuk menyudutkan kita."
Devan memberikan memo itu kepada Anya. "Bersiaplah. Malam ini, sandiwara kita harus jauh lebih sempurna dari sebelumnya."
Anya menerima memo itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia menatap Devan yang sudah kembali fokus pada layar komputernya, seolah percakapan intim nan tegang yang baru saja terjadi di antara mereka tidak pernah ada. Anya tahu, makan malam nanti akan menjadi medan perang yang sesungguhnya.