"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinginnya Trotoar Penyesalan
Malam setelah penggerebekan di gudang itu adalah malam paling hitam dalam hidup Setya. Ia berdiri di depan gerbang gudang yang kini terkunci rapat dengan rantai besar, menatap surat cerai di tangannya yang sudah lecek dan terkena percikan air pemadam. Arumi benar-benar pergi. Bukan hanya pergi dari hatinya, tapi pergi dari statusnya sebagai penyelamat hidup Setya.
Setya berjalan gontai kembali ke kontrakannya. Namun, sesampainya di sana, ia mendapati barang-barangnya—yang hanya tinggal beberapa baju lama—sudah tergeletak di depan pintu. Sang pemilik kontrakan berdiri di sana dengan wajah garang.
"Keluar kamu sekarang! Istrimu sudah ditangkap polisi karena mau membakar gudang orang, dan kamu belum bayar sewa tiga bulan. Saya tidak mau rumah saya kena sial karena dihuni orang macam kalian!" bentak pria paruh baya itu.
"Tolong, Pak ... beri saya satu malam saja. Saya tidak punya tempat tujuan," mohon Setya, suaranya parau.
"Tidak ada! Pergi atau saya panggil warga untuk mengarak kamu!"
Setya terpaksa memunguti baju-bajunya, memasukkannya ke dalam tas punggung yang retsletingnya sudah rusak, dan melangkah pergi tanpa tujuan. Ia menyusuri jalanan kota yang dulu ia lalui dengan mobil dinas kantornya yang nyaman. Kini, ia hanya punya sepasang kaki yang gemetar dan perut yang mulai melilit karena belum makan sejak siang.
Ia mencoba duduk di sebuah halte bus yang sepi. Angin malam menusuk jaket tipisnya. Teringat masa-masa di rumah bersama Arumi. Dulu, jika jam segini ia pulang kerja, Arumi pasti sudah menyiapkan teh hangat dan pisang goreng cokelat kesukaannya. Arumi akan memijat bahunya sambil mendengarkan keluh kesahnya tentang pekerjaan.
"Kenapa aku sebodoh itu?" Setya memukul kepalanya sendiri ke tiang halte. "Hanya demi kemolekan Raya yang ternyata palsu, aku membuang surga yang nyata."
Keesokan paginya, Setya mencoba mencari pekerjaan. Ia mendatangi pelabuhan tempat ia dulu bekerja. Malangnya, saat ia baru sampai di gerbang, petugas keamanan yang dulu selalu memberi hormat padanya, kini menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Pak Setya? Maaf, instruksi dari manajemen sudah jelas. Orang yang diberhentikan karena pelanggaran berat tidak diizinkan masuk ke area ini lagi. Apalagi kami dengar nama Anda terseret kasus percobaan pembakaran gudang sembako kemarin," ujar petugas itu dengan nada dingin.
"Saya tidak terlibat! Itu istri saya!" bela Setya.
"Sama saja. Reputasi Anda sudah habis, Pak. Saran saya, cari kerja di luar kota saja, di sini nama Anda sudah merah."
Setya merasa dunia benar-benar menutup pintu untuknya. Ia mencoba melamar ke gudang-gudang kecil, tapi setiap kali pemilik gudang tahu bahwa ia adalah mantan suami Arumi—si pemilik distributor besar yang kini berpengaruh—mereka langsung menolaknya. Tak ada yang mau mengambil risiko menyinggung Arumi dengan mempekerjakan mantan suaminya yang bermasalah.
Siang itu, dengan rasa lapar yang tak tertahankan, Setya berdiri di depan sebuah warung makan kecil di pinggir jalan. Ia melihat seorang wanita yang sedang berjongkok di belakang warung, mencuci tumpukan piring yang menggunung. Wanita itu tampak sangat payah, rambutnya yang dulu selalu disasak rapi kini lepek dan terikat asal-asalan.
"Mbak Sarah?" panggil Setya ragu.
Sarah menoleh. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang basah. Matanya membelalak melihat Setya. "Setya? Kamu kenapa jadi begini? Mana baju kerjamu?"
Setya duduk di tanah di samping Sarah. "Aku dipecat, Mbak. Raya dipenjara karena mencoba membakar gudang Arumi semalam."
Sarah ternganga. Ia melepaskan spons cuciannya. "Gila! Istri barumu itu benar-benar pembawa sial, Setya! Gara-gara kamu dan dia, aku juga hancur! Mas Bambang menghilang, rumahku disita, dan sekarang aku harus mencuci piring hanya untuk makan sehari-hari!"
"Mbak menyalahkan aku? Bukannya dulu Mbak yang bilang kalau Raya lebih pantas untukku? Mbak yang bilang Arumi itu cuma 'keset kaki' yang tidak perlu dihormati!" Setya mulai emosi.
"Ya karena aku pikir kamu sukses dan bisa bagi-bagi uang ke aku! Kalau tahu jadinya begini, aku nggak bakal mau bantu kamu nikah siri!" balas Sarah tak mau kalah.
Pertengkaran itu menarik perhatian pemilik warung. "Heh! Kalau mau berantem jangan di sini! Sarah, kerja yang benar atau kamu nggak dapet jatah makan siang ini!"
Sarah kembali mencuci piring dengan kasar sambil menangis sesenggukan. Setya hanya bisa menatap kakinya. Ia berharap Sarah akan memberinya sedikit makanan, tapi melihat kakak sepupunya sendiri pun terpuruk, ia tahu tidak ada bantuan di sana.
Sementara itu, di kantor pusat "Berkah Arumi", suasana sangat berbeda. Arumi sedang menerima tamu spesial. Seorang pria muda bertubuh atletis dengan setelan jas abu-abu masuk ke ruangannya.
"Arumi? Benar-benar kamu?" pria itu tersenyum lebar.
Arumi bangkit dari kursinya, tampak sedikit terkejut tapi tetap anggun. "Dhanu? Dhanu Prakasa?"
"Wah, kamu hebat sekali sekarang, Rum. Aku baca berita tentang kesuksesan Bumbu Rahasia-mu di majalah bisnis bulan lalu. Siapa sangka gadis yang dulu paling rajin di kampus sekarang jadi bos besar sembako," ujar Dhanu sambil menjabat tangan Arumi dengan hangat.
Dhanu adalah teman kuliah Arumi yang dulu pernah menyatakan cinta namun ditolak Arumi karena Arumi lebih memilih Setya yang saat itu terlihat lebih mapan. Sekarang, Dhanu adalah seorang konsultan manajemen sukses yang baru kembali dari luar negeri.
"Duduklah, Dhanu. Ada angin apa kamu ke sini?" tanya Arumi ramah.
"Aku mewakili klienku yang ingin berinvestasi di industri pengolahan bumbu instan. Kami mencari mitra yang punya integritas tinggi, dan namamu adalah yang pertama muncul di kepalaku. Tapi, aku dengar kamu baru saja ... bercerai?" tanya Dhanu hati-hati.
Arumi tersenyum tenang. "Iya. Tapi itu tidak akan mengganggu kinerjaku. Justru sekarang aku jauh lebih fokus karena tidak ada lagi benalu yang harus aku urus."
Dhanu mengangguk kagum. "Senang mendengarnya. Bagaimana kalau kita bahas kerjasama ini sambil makan siang? Ada restoran baru yang sangat bagus di pusat kota."
"Boleh, tapi aku yang traktir ya. Sebagai perayaan kebebasanku," canda Arumi.
Mereka keluar dari kantor dengan langkah percaya diri. Arumi tidak tahu, bahwa di seberang jalan, di balik pohon besar, Setya sedang berdiri menatapnya. Setya melihat Arumi tertawa lepas bersama pria tampan itu. Rasa sakit di hatinya jauh lebih perih daripada lambungnya yang kosong.
"Dulu itu posisiku, Arumi ... Harusnya aku yang ada di sampingmu menikmati kesuksesan ini," bisik Setya dengan air mata yang menetes di pipinya yang kotor.
Setya baru menyadari satu hal pahit: Penyesalan adalah hukuman yang tidak akan pernah selesai, karena ia harus menyaksikan orang yang ia sakiti bahagia bersama orang lain, tepat di depan matanya sendiri.
kamu yang bikin semua hancur setya