Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Langkah Pertama
Deru mesin kereta api kelas ekonomi perlahan melambat, berganti dengan suara decitan kencang besi yang bergesekan dengan rel. Pengeras suara di dalam gerbong mengumumkan dengan nada monoton bahwa kereta fajar telah tiba di tujuan akhir: Stasiun Pasar Senen, Jakarta.
Andra tersentak dari tidur ayamnya. Ia mengerjapkan mata yang terasa perih, lalu meregangkan otot lehernya yang kaku karena semalaman terpaksa bersandar pada kursi gerbong yang tegak dan keras. Melalui kaca jendela gerbong yang buram oleh debu jelaga, matanya langsung disambut oleh pemandangan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya. Lautan manusia yang saling berdesakan membawa kardus dan koper, jembatan penyeberangan yang kokoh, serta di kejauhan, siluet gedung-gedung tinggi mencakar langit yang tampak angkuh membelah langit subuh Jakarta yang kelabu keunguan.
Andra menyandang ransel hitamnya, memastikan peniti besar yang mengunci ritsleting rusaknya terpasang kuat, lalu melangkah turun membaur dengan ribuan perantau lain. Hawa udara Jakarta langsung menyergapnya tanpa ampun—panas, pengap, dan pekat oleh aroma asap solar.
"Andra! Sini, Ndra!"
Sebuah lambaian tangan dari seorang pria berbadan tegap dengan seragam safari biru tua memecah kebingungan Andra di tengah peron. Itu Mas Joko, anak Pak RT dari desanya yang sudah lima tahun merantau menjadi sekuriti di ibu kota.
"Astaga, makin gagah saja kamu, Ndra. Tambah tinggi sekarang," ujar Mas Joko sambil menepuk pundak tegap Andra dengan akrab setelah mereka bersalaman.
"Maturnuwun, Mas Joko. Maaf ya, malah jadi merepotkan Mas Subuh-subuh begini," jawab Andra dengan senyum tulus yang membuat wajah lelahnya kembali terlihat segar.
"Halah, seperti sama siapa saja. Ayo, kita ke kontrakan dulu naik motor. Kamu mandi, istirahat biar segar. Besok pagi-pagi sekali baru kita ke kantor tempatku kerja.
Kebetulan divisinya Ibu... ah, pokoknya bos besar di lantai atas lagi butuh asisten administrasi cepat," kata Mas Joko penuh semangat.
Kontrakan Mas Joko terletak di sebuah gang sempit di daerah petakan Palmerah. Rumah itu berukuran sangat kecil, di mana ruang tamu, kasur lipat, dan kompor menyatu tanpa sekat. Kamar mandinya pun berada di luar, harus berbagi dengan penghuni petakan lain. Bagi Andra, ini adalah sebuah kejutan budaya awal. Di desa, meski rumahnya sederhana, mereka setidaknya memiliki halaman luas dan udara yang bersih untuk dihirup. Di sini, matahari bahkan kesulitan menembus celah-celah atap seng yang rapat dan berkarat. Namun, Andra tidak mengeluh sedikit pun. Di dalam hatinya, ia justru makin memantapkan niat: ia harus bertahan demi Ibu dan Sekar.
Keesokan harinya, pukul tujuh pagi, Andra sudah berdiri di depan cermin seukuran telapak tangan yang menempel di dinding tripleks kontrakan Mas Joko. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang terbaiknya yang sudah disetrika rapi—walaupun kainnya agak tipis dan murah—serta celana bahan hitam longgar konvensional. Rambut hitamnya yang lurus disisir rapi menggunakan minyak rambut murah yang dibelinya di warung depan gang.
Ketika ia menatap pantulan dirinya, cermin itu menampilkan seorang pemuda dengan rahang tegas yang kokoh, sepasang mata hitam yang teduh namun memancarkan binar tekad yang tajam, serta postur tubuh tegap proporsional setinggi 180 cm.
Ketampanannya sangat murni dan maskulin, tipe ketampanan yang tidak dibentuk oleh perawatan mahal, melainkan dipahat oleh matahari dan kerja keras di sawah pedesaan.
"Wah, kalau begini caranya, kamu bukan cocok jadi staf admin, Ndra. Cocoknya jadi bintang iklan!" goda Mas Joko saat melihat Andra keluar dari kontrakan. Andra hanya tersenyum malu, wajah sawo matangnya sedikit merona mendengarnya.
Perjalanan menggunakan motor menuju kawasan Sudirman memakan waktu hampir satu jam karena macetnya jalanan Jakarta yang gila. Ketika motor Mas Joko akhirnya berhenti di area parkir bawah tanah sebuah gedung pencakar langit yang megah, jantung Andra mulai berdegup kencang. Gedung bertingkat ini adalah tempat bernaungnya **Apex Media**, salah satu raksasa agensi periklanan paling prestisius dan elite di Jakarta.
Mas Joko mengantar Andra hingga ke lobi lantai 17 menggunakan lift khusus karyawan.
Begitu pintu lift terbuka, Andra merasa seolah-olah dirinya baru saja melompat ke dunia yang sepenuhnya berbeda. Tidak ada dinding beton kaku berwarna cat putih membosankan seperti di kantor kecamatan.
Kantor Apex Media didesain dengan konsep *industrial modern* yang sangat estetik dan berkelas. Dindingnya berupa kaca-kaca masif yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, lantainya semen ekspos yang dipoles mengilap, dan di beberapa sudut terdapat lampu gantung berbentuk unik serta sofa-sofa kulit minimalis.
Orang-orang yang berlalu-lalang di sana pun seketika membuat Andra merasa kerdil.
Mereka adalah para pekerja kreatif—desainer grafis, *copywriter*, dan *account executive*.
Gaya pakaian mereka sangat modis, ekspresif, dan berkelas. Ada yang memakai sepatu bot kulit, jaket denim mahal, celana kulot trendi, dan hampir semuanya memegang tumbler kopi dari kafe waralaba terkenal sambil sibuk berbicara dengan campuran istilah bahasa Inggris yang tidak Andra pahami sama sekali.
Di tengah lingkungan yang serba gemerlap dan penuh gaya itu, Andra berdiri kaku dengan kemeja putih polosnya yang murah dan sepatu pantofel yang ujungnya sedikit terkelupas. Ia terlihat sangat kontras dan asing. Namun justru karena perbedaan itulah, beberapa karyawan wanita yang berjalan melewatinya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arahnya. Wajah tampannya yang bersih, garis wajahnya yang jantan, serta tatapan matanya yang polos dan jujur tanpa kepura-puraan membuat Andra terlihat sangat menarik secara alami, jauh berbeda dari pria-pria kota yang terlalu banyak bersolek.
"Saudara Andra? Silakan masuk, ruangan Managing Director ada di sebelah sana,"
panggil seorang sekretaris wanita berpenampilan sangat modis dengan senyum ramah.
Andra menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk meredakan gemuruh di dadanya. Ia menggenggam map cokelat berisi ijazahnya erat-erat, lalu melangkah menuju pintu kaca besar di ujung koridor. Langkah kaki pertamanya di Apex Media baru saja dimulai, dan ia tidak pernah tahu bahwa di balik pintu kaca itulah, takdir hidupnya sebagai pemuda desa akan diuji oleh godaan terbesar dari kota ini.